Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Acara Peresmian Hotel


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan, hari ini Jordan's Group resmi membuka satu lagi hotel di tengah kota. Cuaca yang mendukung pagi ini benar-benar membuat Jordan dan yang lain menjadi tambah semangat. Apalagi, peresmian hotel kali ini akan dihadiri oleh banyak pembisnis hebat sekelas Ayahnya.


" Sudah siap, sayang? " Tanya Gaby yang hari ini tidak membantu Jordan bersiap karena Mike dan Mark agar rewel, tidak tahu kenapa, dari semalam kedua bocah itu sangat gelisah dan terus saja menangis tidak jelas apa alasannya.


" Sudah, bagaimana denganmu? " Jordan berjalan mendekati Gaby yang masih memperbaiki tatanan rambutnya yang tergerai dengan curly di ujung rambut. Jordan memeluk Gaby dari belakang, lalu mencium pucuk kepala sang istri tercinta.


" Sudah, ini sudah selesai. Bagaimana penampilanku? " tanya Gaby menatap serius bola mata suaminya yang nampak terpesona oleh penampilannya hari ini.


" Tentu saja cantik. "


Setelah semuanya beres, Jordan dan Gaby bergegas berangkat ke kantor karena Ron dan Norita juga sudah menunggu di depan rumah mereka.


" Ibu! " Teriak Mike dan Mark bersamaan. Entah sampai kapan mereka sudah mengintai Ibu mereka, karena sepertinya mereka sengaja menunggu Gaby keluar dari kamar, barulah mereka berlari menggelayut di kedua kaki jenjang Ibunya.


" Ibu, jangan pergi! aku ingin bermain bersama dengan Ibu. " Rengek Mike dan Mark kompak.


" Jagoan Ayah, Ayah dan Ibu tidak akan lama. Hanya sekitar tiga jam saja, Ayah janji akan segera membawa Ibu pulang. " Bujuk Jordan dengan menyesuaikan tinggi badannya dengan kedua putranya itu. Bukanya mereda, mereka justru kompak menangis dan tangan mereka sampai mencengkram kuat kaki Gaby. Tentu Gaby tidak tega, tapi tidak mungkin kalau tidak datang di acara ini. Baiklah, mungkin ini waktunya memberikan pengertian yang logis kepada dua putranya. Gaby membenahi posisi kedua anaknya bergantian, dia tersenyum sembari mengusap kepala anaknya dengan satu satu tangannya.


" Sayang, dengarkan Ibu. Ibu janji tidak akan lama, hanya sebentar ok? Ibu janji akan pulang sebelum makan siang. "


" Tida boleh! aku ingin bermain bersama Ibu, Ibu tidak boleh bekerja. " Pinta Mark seraya menarik lalu mencengkram kuat ujung baju Gaby.


" Nanti kalau Ibu tidak pulang bagaimana? kami tidak mau kalau tidak ada Ibu. " Ucap Mike yang tak mau kalah dari Mark.


Gaby menghela nafas panjangnya karena tidak bisa menahan sedih saat anaknya merengek seperti ini. Sama seperti Ibu lainya, meninggalkan anak untuk bekerja tentulah berat, tapi apa yang dia lakukan adalah sebuah bentuk kerja kerasnya untuk membangun tembok pertahanan agar anak-anaknya tidak akan mengalami masa menyedihkan dan menyakitkan seperti kedua dirinya dan Jordan.


" Sayang, Ibu tahu kalian ingin bermain dengan Ibu. Tapi, setelah satu penjahat yamg tersisa tertangkap, Ibu janji akan sering membawa kalian pergi mengunjungi taman bermain bersama-sama, bagaimana? " Bujuk Gaby sembari menghapus air mata kedua putranya. Jordan yang tidak tahu bagaimana membujuk anak-anaknya hanya bisa mengangguk menyetujui saja apa yang dikatakan Gaby. Cukup lama Gaby dan Jordan membujuk, hingga akhirnya mereka setuju untuk ditinggal pergi. Tapi saat Gaby dan Jordan masuk kedalam mobil, Mike dan Mark kembali histeris. Bahkan, ini adalah kali pertama Mark dan Mike memanggil nama Ayahnya dengan begitu menyedihkan. Tentulah Jordan merasa terenyuh, tapi dia juga tidak bisa membawa Mike dan Mark ke tempat yang akan didatangi banyak orang, takutnya akan membahayakan nyawa mereka berdua.


" Ada apa dengan anak-anak hari ini ya? " Tanya Jordan dengan raut yang khawatir.


" Mungkin, dia merasa tidak rela. Seminggu ini kita kan selalu sibuk. Bahkan, hari minggu kemarin juga kan pergi menghadiri acara. " Jawab Gaby yang selalu berpikir secara logis, dia tidak mau mempengaruhi suasana hatinya dan juga Jordan saat ini. Bukan niat untuk mengesampingkan anak, tapi mereka memang sudah berniat akan mengambil libur dua hari agar anak-anak tidak merasa kekurangan waktu bersama orang tua mereka lagi.

__ADS_1


Sedari asik berbicara, Gaby baru menyadari jika Ron dan Norita yang duduk didepan mereka itu tengah malu-malu seperti orang yang baru saja menjalin cinta.


" Ehem! " Gaby berdehem mengamati gerak gerik keduanya untuk memastikan.


" Norita? " Panggil Gaby.


" Iya, Nyonya? " Jawabnya.


" Kau sedang jatuh cinta ya? " Tanya Gaby terus terang.


" Ti, tidak kok, Nyonya. "


" Berarti iya jawabannya. "


Norita tertunduk tanpa kata, begitu juga dengan Ron yang melakukan gerak gerik tidak biasa. Kenapa? karena sedari tadi Norita dan Ron saling mencuri pandang.


Sesampainya disana, Gaby dan Jordan langung menyambut hangat para tamu undangan. Dari jarak yang lumayan jauh, Tuan Edward tersenyum haru melihat kesuksesan putranya. Iya, dia memang datang, tapi dia tidak berani mendatangi Jordan untuk mengucapkan selamat. Tapi setidaknya dia sudah cukup bahagia melihat bagaimana Jordan tersenyum seperti sekarang ini. Sungguh dia tidak menginginkan apapun lagi selain kebahagiaan keluarga Jordan dan Diana. Yah, Diana memang berbeda dengan Jordan. Anak perempuannya itu sangat mudah luluh dan langsung memberikan maaf padanya. Hubungan mereka juga semakin baik dan dekat beberapa hari belakangan. Tidak ia bayangkan sebelumnya jika ada masanya ia tidak lagi memiliki obsesi yang membara seperti beberapa saat lalu.


" Ayah? " Sapa Diana yang baru saja tiba bersama Rendy dan putri mereka.


" Diana? " Diana tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh Ayahnya. Seperti kebanyakan Ayah dan anak, mereka saling mengobrol dan melepaskan rindu dengan saling berbincang.


***


" Bagaimana? " Tanya Sammy setelah menerima sambungan telepon.


Gawat, Tuan!


" Katakan! "


Ada informasi bahwa Tuan Arnold terlihat disekitar hotel yang Tuan Jordan akan resmikan.

__ADS_1


" Kerahkan semua penjaga yang tersisa untuk menyusul kesana! "


Sudah Tuan, ada satu lagi masalah Tuan.


" Apa? "


Tuan Arnold memesan dua senjata api. Satu Machine Gun, satu lagi pistol biasa.


Sammy tersentak kaget.


" Kerahkan orang-orang Ron juga. Cari di seluruh gedung tinggi yang bisa di gunakan untuk menembak dari jarak jauh!. "


Baik, Tuan.


Setelah mendapatkan informasi itu, Sammy dengan cepat berjalan mendekati mobilnya untuk segera menuju kesana. Didalam perjalanan dia mencoba menghubungi Ron, tapi sayangnya tidak mendapatkan respon.


" Sial!! " Sammy memukul setir kemudinya, dia juga semakin menekan pedal gasnya agar lebih cepat melesat menuju Jordan dam Gaby berada.


***


Tuan Edward yang masih berbincang dengan Diana terhenti saat salah satu pengawalnya membisikan sesuatu.


" Apa?! " Tuan Edward melotot kaget mendengar bahwa Tua Arnold sedang merencanakan pembunuhan yang targetnya pasti adalah Jordan dan Gaby. Dengan langkah cepat Tuan Edward berjalan mendekati Jordan dan Gaby yang berada lumayan jauh darinya.


Deg....


Tuan Edward semakin mempercepat langkahnya saat titik merah berada tepat di dada Jordan.


" Jordan! "


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2