
Satu minggu telah terlewati. Jordan dan Gaby juga semakin kompak dalam merawat Ele. Memang agak lain dari sebelum Ele sakit. Tapi inilah kehidupan yang tidak akan semulus harapan. Selama satu minggu ini Ele terus saja menangis. Saat malam apa lagi, tubuhnya berkeringat dingin dan itu sangat banyak. Ditambah lagi, Ele juga selalu merintih yang sering kali membuat Gaby tidak tahan untuk keluar dari kamar lalu menangis. Ayah, Ibu tenggorokan ku sakit, kepala ku sakit, Ayah. Ayah, kenapa aku tidak bisa berlari lagi? Ayah kaki ku lemas, Ayah, makanan nya tidak ada rasanya. Ibu aku mau bermain di pinggir pantai seperti biasa. Ibu, aku ingin mencari bintang laut. Itu adalah secuil dari apa yang sebenarnya terjadi.
Pagi ini Gaby, Ele dan Jordan berjalan menelusuri pesisir pantai yang menghembuskan angin laut yang segar. Ele juga terlihat senang meski terus berada di gendongan Ayahnya. Sebenarnya berjalan juga tidak masalah ucap Dokter, tapi tubuh Ele benar-benar tidak bertenaga. Sudah beberapa kali Jordan dan Gaby memberinya Izin untuk berjalan, tapi yang ada Ele terus saja terjatuh setelah beberapa langkah. Lututnya juga merah karena nya.
" Bagaimana Ele? kau senang? " Tanya Gaby dan di angguki oleh Ele. Iya, gadis kecil itu memang tampak sekali tidak puas, tapi mau bagaimana lagi? dia sudah empat kali jatuh saat mencoba berjalan tadi.
" Ele, Ayah tahu kau ingin berlari seperti dulu. Tapi untuk sekarang, Ayah dan Ibu mohon, bersabar ya nak? tunggu sampai virus jahat ditubuh mu sudah dikalahkan, kau akan segera berlari kemana pun kau suka? " Ujar Jordan lalu tersenyum kepada putrinya agar Ele bersemangat. Tapi sepertinya Ele Mash terlihat kecewa. Karena dia enggan untuk tersenyum seperti biasanya.
" Ayah, bagaimana kalau Virusnya tidak bisa kalah? " Jordan dan Gaby serempak menghentikan langkahnya dengan tatapan yang sama.
" Bagaimana kalau virusnya lebih kuat dari pada aku? " Tanya lagi Ele. Sakit! itulah yang dirasakan oleh Jordan dan Gaby. Sekuat tenaga Gaby menahan dirinya agar tidak menangis, dan sekuat tenaga pula Jordan membentuk bibirnya agar tersenyum.
" Kau adalah anak Ayah. Tentu saja kau kuat. Kau adalah gadis hebat seperti Supergirl. Bagaimana mungkin kau kalah? " Jordan benar-benar kesulitan untuk berpura-pura tersenyum kali ini.
" Ayah, Supergirl tidak ada di dunia nyata. Kaka Deon dan Kaka Leon yang mengatakannya. " Bantah Ele.
" Mereka pasti tidak tahu. Kalau kau adalah Supergirl itu. "
" Ayah, aku tidak mau menjadi Supergirl lagi. Aku tidak mau kalau Dokter menyuntik ku lagi. Ayah, rasanya sakit. Aku tidak mau. '' Ele mulai mencebik karena ingin menangis. Dengan cepat Jordan memeluk putrinya dan di susul Gaby memeluk mereka berdua. Gaby sengaja menghadapkan wajahnya di punggung Jordan agar bisa leluasa menangis. Sungguh dia sangat hancur saat ini. Mendengar kata-kata Ele yang begitu ingin menyerah tidak mampu membuatnya untuk berpura-pura kuat.
" Ele, kau bilang ingin membeli banyak baju kan? kalau kau menyerah, baju-baju yang ingin di kau beli, pasti akan di ambil oleh virus jahat itu. Apa kau akan membiarkan nya saja? "
" Tidak apa-apa Ayah. Aku akan memberikannya kepada Virus jahat. Asalkan aku tidak sakit lagi. "
Benar, sepintar apapun Jordan mengelabuhi Ele, Ele tetaplah gadis kecil yang masih bum paham dengan kondisinya sendiri. Entah alasan apa lagi yang akan mereka gunakan untuk membuat semangat Ele kembali bangkit, semoga saja Tuhan memberikan jalan pada mereka yang tengah buntu itu.
Satu jam sudah mereka terus berjalan dengan perasaan pilu. Ele juga tertidur di gendongan Jordan.
__ADS_1
" Baringkan dia di kamar, aku akan segera membuat makanan untuk Ele saat sudah bangun tidur nanti. " Ucap Gaby sembari membantu Jordan merebahkan tubuh putrinya.
" Iya. Aku akan keluar sebentar untuk menghubungi Dokter Isabelle. Kalau aku melakukanya di dalam, takutnya Ele akan bangun. " Gaby mengangguk segera.
Setelah sampai di luar, Jordan langsung merogoh ponsel nya untuk menghubungi Dokter Isabelle.
Selamat pagi, Tuan Jordan.
" Selamat pagi, Dokter Isabelle. "
Bagaimana perkembangan putri anda?
Jordan menghela nafas lalu mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.
" Begini Dok, keadaan putri ku benar-benar jauh dari perkiraan. Sepertinya Kemoterapi membuat putriku sangat sengsara. "
Jordan kembali menghela nafas. Bukanya merasa lelah karena harus mengurus Ele, tapi melihat Ele merintih kesakitan benar-benar membuatnya tidak berdaya.
" Apa tidak ada cara lain? "
Ada, tapi saya kurang yakin.
" Apa Dok? "
Donor sum-sum tulang belakang.
" Kalau begitu, mari kita coba itu saja. "
__ADS_1
Tidak semuda itu, Tuan Jordan. Masalahnya, meski anda adalah orang tua kandungnya, belum tentu cocok juga dengan pasien. Dan juga, rasanya akan sangat menyakitkan bagi anda.
" Kita coba saja dulu, Dok. Jangan pikirkan bagaimana saya. Saya tidak perduli seberapa sakit nantinya. Asalkan bisa melihat putri ku sehat, rasa sakit itu juga akan menghilang. "
Baiklah, Tuan. Saya akan membuat kan jadwal untuk pencocokan sum-sum tulang anda dengan putri anda. Apa nyonya juga akan melakukan pencocokan sum-sum tulang belakang?
" Aku belum bertanya, tapi sudah pasti dia kan setuju. Dia sangat mencintai anaknya. Jangan kan hanya sum-sum tulang belakang, nyawa pun pasti akan dia berikan untuk putri kami. "
Baiklah, Tian Jordan. Akan saya atur jadwalnya sesegera mungkin.
" Baiklah. Terimakasih. "
Jordan menutup sambungan teleponnya. Dia kembali mengusap wajahnya yang terus saja berkeringat.
" Sebenarnya, seberapa parah penyakit putriku? "
Jordan membeku mendengar pertanyaan dari seorang wanita yang sudah pasti kalau itu adalah Gaby. Perlahan-lahan Jordan mulai membalikkan tubuhnya untuk menatap Gaby. Sungguh menyedihkan. Mata Gaby sudah memerah dan banyak sekali tetesan air mata yang sudah membasahi pipinya.
" Ge, kau tidak perlu khawatir. "
" Jordan, katakan yang sebenarnya. Seberapa parah penyakit putriku? " Tanya lagi Gaby dengan tatapan menuntut meski matanya begitu banyak meneteskan air mata.
" Ge, sejak kapan kau berada di sini? " Tentu Jordan harus mematikan terlebih dulu.
" Dari pertama kau berbicara di telepon. Aku sudah mendengarnya. Jadi jangan menyembunyikan apapun dariku, Jordan. Aku adalah Ibunya. Aku juga berhak tahu meskipun itu menyakitkan. "
Jordan mengeraskan rahangnya. Sungguh dia sendiri tidak sanggup untuk mengatakan secara langsung kepada Gaby. Tapi tatapan Gaby yang seolah menegaskan bahwa tida ingin ada kebohongan lagi, mau tidak mau dia hanya bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Bersambung...