
Gaby menatap Jordan yang kini sudah terlelap sembari memeluk putrinya. Apa yang dikatakan Jordan beberapa saat lalu benar-benar membuat hatinya menjadi kacau. Benar, Jordan sudah menyakiti dirinya. Tapi kenapa Selena memperparah keadaannya? selama menjadi anggota keluarga Tuan Arnold, tidak sekalipun dia membantah apa yang di inginkan Ayah angkatnya itu. Dia juga tidak pernah mengatakan apapun saat dia dijadikan kambing hitam oleh Selena dan juga Tuan Arnold yang menjadi Ayah angkatnya selama ini. Mulai dari di doktrin agar menjadi kambing hitam untuk menghancurkan saingan bisnisnya, dijadikan pion untuk menopang hidup, dijadikan alat untuk kelangsungan hidup keluarga angkatnya, kenapa semua seolah tidak pernah cukup? kenapa dia harus di arena yang dama untuk melawan Selena? bukanya tidak mampu mengalahkan gadis manja yang pemarah itu, dia hanya tidak mau menyakiti hati Selena. Walau dia adalah saudara angkat, tapi Gaby benar-benar memeperlaulkukan Selena seperti saudari kandungnya sendiri. Miris! miris sekali hingga dia tidak mampu untuk terus memikirkan hal ini.
Sesekali Gaby menghela nafas karena masih saja tidak bisa tidur memikirkan tentang keluarga angkatnya.
" Tidurlah, ini sudah larut. " Ucap Jordan yang ternyata juga belum tidur.
" Kau belum tidur? " Tanya Gaby.
" Tidur. Tapi aku mendengar helaan nafas mu tadi. "
" Maaf. "
" Tidurlah. Kemoterapi pertama mungkin akan menimbulkan efek di luar dugaan kita. Takutnya besok Ele rewel, jadi kita harus tidur selagi dia tidur. " Gaby mengangguk paham. Benar, untuk apa memikirkan masalah yang sudah lalu? sekarang ini ada Ele ya g jauh lebih penting dari apapun.
Gaby meraih satu tangan Ele dan mulai memejamkan mata. Perlahan lahan akhirnya dia bisa juga tertidur. Begitu juga dengan Jordan. Meskipun otak dan hatinya tengah kacau balau karena memikirkan keadaan putrinya, setidaknya dia perlu tidur untuk menjaga putrinya esok pagi.
Pagi hari.
Sesuai dengan apa yang ditakutkan Jordan. Sedari bangun tidur, Ele sama sekali tidak berhenti menangis. Bahkan matanya juga mulai bengkak. Tubuhnya juga terlihat lemas dan berkeringat dingin. Panik? tentu saja mereka panik. Tapi Dokter juga sudah menjelaskan tentang efek samping dari kemoterapi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain merawat Ele bersamaan dengan telaten dan sabar.
" Sayang, makan bubur nya ya? " Pinta Gaby sembari menyodorkan sesendok bubur apel kesukaan Ele. Sayang, meski gadis kecil itu begitu tergiur, mual yang parah membuatnya tidak sanggup menelan makanan apapun.
" Ok baiklah, jangan terlalu memaksakan ya sayang. Sekarang coba minum susu dulu ya? " Jordan memberikan sebuah cangkir berwarna pink milik Ele yang sudah terisi penuh susu coklat di dalamnya.
Meski masih saja mual, tapi syukurlah susu itu bisa terminum hampir separuh gelas.
" Bagus Tuan putri, Ayah. Sekarang duduk lah sebentar dengan Ibu mu ya? Ayah akan menyiapkan buah segar untuk mu. Ayah juga akan membuat milk pie untuk mu. Bagaimana? "
" Tidak mau! tidak mau! " Dengan nada bicara yang tersendat-sendat, Ele memegang erat baju Jordan.
" Ele, Biarkan Ayah memasak ya? "
" Tidak mau! " Ele menjadi semakin histeris tapi sama sekali tidak memberontak kan tubuh. Dia hanya bisa memegang erat kain baju Ayahnya. Sakit? tentu saja sangat sakit melihatnya. Ele hanya bisa menangis kencang tapi tubuhnya begitu lunglai. Sedari pagi dia juga tidak berhenti mual dan merintih.
" Baiklah. " Jordan mengambil kain panjang untuk menggendong Ele kebelakang.
" Kau mau apa? " Tanya Gaby bingung.
__ADS_1
" Memasak. "
" Dengan posisi ini? "
Jordan mengangguk.
" Tidak apa-apa. Ele tidak akan jatuh. Aku sudah mengikat kainnya dengan benar. "
" Biarkan saja aku yang membuat milk pie. " Pinta Gaby yang merasa kasihan melihat Jordan begitu kasihan harus menggendong putrinya sembari memasak, lalu apa yang akan dia lakukan? menonton saja begitu?
Jordan tersenyum menatap Gaby.
" Jangan lupa, kau tidak ahli dalam memasak. "
Gaby terdiam menahan kekesalannya. Memnag ia dia tidak ahli memasak. Tapi dia juga sudah berusaha dengan baik untuk menyajikan makanan. Lagi pula bukan salah dia juga tidak bisa memasak. Selama ini dia kan hanya di didik untuk menjadi sapi pekerja.
" Biarkan aku membantu. " Akhirnya, hanya ini lah yang bisa Gaby lakukan. Lagi pula dia juga bisa sembari menjaga putrinya yang berada di gendongan belakang Jordan kan?
" Baiklah, Ayo. " Jordan dan Gaby bersamaan berjalan ke dapur dan mulai menyipakan bahan-bahan untuk membuat milk pie.
" Masukkan tepung terigu, lalu aduk-aduk. " Titah Jordan.
" Lalu? " Tanya Gaby.
" Lakukan dulu, baru tanya langkah selanjutnya. "
Gaby menaikkan sisi bibirnya karena sebal. Tentu saja Jordan melihatnya. Pria itu hanya bisa tersenyum menanggapi Gaby.
" Bagaimana lagi setelahnya? " Tanya Gaby setelah adonan terlihat sempurna.
" Masukkan ke dalam cetakan kalau adonannya sudah tidak lengket. " Gany mengikuti lagi apa yang diucapkan Jordan.
" Sudah. Lalu apa lagi? "
" Membuat vla. "
" Bagaimana cara nya? "
__ADS_1
Jordan mengambil semua bahan-bahan yang sudah disiapkan tadi.
" Masak susu cair, gula pasir, garam, susu kental manis, vanili dan tepung custard. Aduk secara perlahan hingga susu dan gula larut merata dan mendidih. Kecilkan api, lalu Tambahkan telur kemudian aduk dengan cepat. Jika sudah tercampur rata, matikan apinya. "
Gaby terperangah menatap Jordan kesal.
" Kau sedang menguji kesabaran ku ya? "
" Tidak. Aku hanya menjawab pertanyaan mu tadi kan? " Sungguh, memang itu lah yang Jordan lakukan. Dia sama sekaki tidak memiliki niat lain.
" Kau pikir, memasak itu mudah? aku baru memasukkan susu cair ke teflon, dan kau sudah meneruskan langkah selanjutnya yang begitu banyak. Jordan, tidak semua orang memiliki ingatan sebaik dirimu. "
Jordan tersenyum menatap Gaby. Entah apa yang sedang di pikirkan Gaby. Tapi di mata Jordan, Gaby sudah sedikit mirip Gaby yang dulu sebelum semua masalah menyakitkan terjadi kepada mereka.
" Maafkan aku. Baiklah, aku akan menunggu mu dan memberi tahu apa yang harus kau lakukan sampai satu persatu selesai. "
Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk membuat milk pie kesukaan Ele. Setelah beberapa saat, milk pie nya sudah jadi. Dengan semangat Gaby menyiapkan milk pie karena Ele pasti akan memakannya.
" Jangan lupa untuk memberikan buah jeruk ya? " Pinta Jordan saat Gaby mulai menyipakan milk pie untuk Ele.
" Tapi Ele tidak suka jeruk. "
" Coba saja dulu. Kemoterapi membuat tenggorokannya kering. Ditambah lagi, dia menangis terus seharian ini. Berikan saja, jeruk yang aku beli kemarin semuanya manis. Dia pasti akan menyukainya. " Gaby mengangguk mengerti dan mulai mengupas jeruk untuk Ele.
" Ayo sayang, coba milk pie buatan Ayah dan Ibu ya? " Pinta Gaby sembari mengusap pipi Ele. Gadis itu mengangguk meski sembari merintih tiada henti.
Dengan telaten Jordan mulai menyuapkan milk pie. Cukup banyak Ele memakannya, lalu Jordan mencoba untuk memberikan jeruk kepada Ele. Tentu awalnya dia menolak, tapin karena Jordan terus meyakinkannya, akhirnya Ele mau memakannya dan syukurlah... ternyata dia mulai menyukai buah itu.
" Bagaimana? enak kan? " Tanya Gaby bahagia karena putrinya lumayan banyak makan.
" Ayah dan Ibu harus memasak bersama. " Pinta Ele yang sudah mulai berhenti merintih.
" Tentu saja. Ayah dan Ibu akan memasak bersama untuk mu. " Jawab Gaby.
" Meskipun tidak ada aku, Ibu dan Ayah juga harus memasak bersama. " Ucap Ele yang membuat Jordan Dan Gaby kompak menatap kaget ke arah Ele.
Bersambung...
__ADS_1