
" Ayah ku mencurigai Ibuku berselingkuh dan mengira aku bukanlah anak kandungnya. Meskipun hasil uji DNA mengatakan bahwa aku putranya, dia tetap saja tidak percaya dan justru sibuk menuduh Ibuku memanipulasi hasil tes DNA nya. "
Gaby mengeryit bingung mendengar ucapan Jordan. Apalagi saat melihat wajah suaminya, seperti ada luka yang amat dalam tertimbun di masa lalunya. Gaby meraih tangan Jordan lalu menggenggamnya erat. Rasanya dia ingin mengatakan jika tidak perlu melanjutkan apa yang ingin dia dengar. Tapi, dia sungguh harus mengetahui permasalahan ini agar bisa lebih bijak dalam bertindak nantinya. Karena ini bukan hanya masalah uang saja, tai juga ada hubungan darah yang kental antara Jordan dan Ayahnya yang tidak bisa Gaby sepelekan.
" Sayang, sedari kecil aku dan Diana selalu melihat Ayahku menindas Ibuku. Makian, cacian, bahkan siksaan kami juga ikut merasakan itu semua. Bukan hanya aku yang ia curigai sebagai anak dari hasil selingkuhan, tapi dia juga menganggap Diana sama sepertiku. Padahal, Diana begitu mencintai Ayahnya. Diana sering sekali menangis diam-diam karena menginginkan kasih sayang Ayah nya. Tapi apa yang kami dapatkan? tiba-tiba pria itu datang dan membawa dua anak laki-laki dan menyatakan kepada Ibuku, bahkan juga kepadaku dan Diana bahwa kedua anak laki-laki itu adalah anak nya. Usiaku belum cukup sepuluh tahun, tapi dendam di hatiku begitu bertumbuh bahkan lebih besar dari apa yang aku bayangkan. Ayah ku menyiksa Ibuku dengan tidak menceraikannya dan membiarkan Ibuku melihat nya menikahi banyak wanita dan memiliki banyak anak. Ibuku memang istri sah secara negara. Tapi, Ibu ku selalu di anggap tidak memiliki arti. " Jordan menghela nafasnya menahan tangis. Bukan sedih karena tidak mendapatkan kasih sayang, tali dia sedih mengingat bagaimana Diana dan Ibunya menangis setiap saat. Bahkan Ibunya juga sering memohon agar Ayahnya melepaskan dia dan membiarkan mereka pergi agar bisa hidup dengan bahagia. Tapi sayang, yang di dapatkan oleh Ibunya Jordan hanyalah siksaan yang tak berujung.
" Saat usiaku tujuh belas tahun, aku nekat kabur dari rumah itu lalu membuka usaha kecil-kecilan dengan uang yang aku curi dari Ibuku. " Jordan terkekeh mengingat itu. Dia menggeledah tas Ibunya lalu kabur dengan segala cara nya.
" Kau, ternyata sudah pintar mencuri ya? " Ucap Gaby lalu mencubit pelan pipi Jordan. Rasanya sudah tidak perlu dilanjutkan lagi karena sepertinya Jordan juga tidak ingin mengingat semua itu. Dari tatapan Jordan saat membicarakan Ayahnya, sungguh sama sekali tidak terlihat kasih sebagai seorang anak. Tapi ini juga sungguh bukan salahnya. Jordan meraih tangan Gaby lalu mengecupnya. Tetu saja di paham kalau istrinya ingin menghiburnya. Jordan memeluk tubuh Gaby erat. Sebenarnya dia sudah tidak terlalu sedih. Tapi kapan lagi bisa bermesraan dengan Gaby saat berada di kantor?
" Jadi, kau tidak akan keberatan jika bisa saja Ayah mu akan mengalami hal menyakitkan? " Tanya Gaby.
" Tidak. Bahkan aku tidak perduli sama sekali. Tolong jangan mengingatkan bahwa dia adalah Ayah ku. Karena dari awal, yang tidak mau mengakui adalah dia. Sayang, ha yang tidak bisa aku maafkan adalah tangisan Ibu dan juga Diana akibat ulahnya. Jadi, jangan mengingatkan bahwa dia adalah ayahku. "
Gaby tersenyum lalu mengangguk. Mereka benar-benar tidak mengubah posisi mereka yang sedang berpelukan. Hingga Jordan tanpa sadar terbawa suasana dan mulai menghirup wangi tubuh istrinya dan mulai menjalankannya ke bagian favorit nya.
__ADS_1
" Presdir Jordan, anda lupa ini ada dimana? " Tanya Gaby yang tujuannya adalah mengingatkan Jordan agar tidak bertindak lebih mengingat mereka harus bekerja agar tidak ada waktu lembur karena waktu untuk anak-anak juga sangat penting.
" Sayang, aku ini sedang sedih. Kau sebagai seorang istri, tugas mu adalah menghibur kan? " Jordan sudah mulai menjalankan tangannya mengusap punggung Gaby. Tentu saja Gaby sebisa mungkin menghindari Jordan yang sudah begitu terbawa suasana. Tai mau bagiamana lagi? Jordan adalah pria mesum yang memiliki keahlian untuk membius Gaby agar ikut masuk kedalam suasana yang menuju ke arah hubungan suami istri.
" Kau benar-brnar menyebalkan, Jordan. " Ucap Gaby sembari membenahi pakaiannya. Jordan yang masih setengah tiduran di sofa hanya bisa cekikikan karena merasa marah Gaby begitu lucu.
" Saat marah kau selalu saja memanggil nama ku. Sayang, ternyata melakukan kegiatan suami istri di sela-sela bekerja sangat manjur untuk memperbaiki suasana hati loh. "
" Maksud mu, suasana hati mu saja kan? " Gaby melirik kesal sembari membenahi tatanan rambutnya.
" Memang suasana hatimu tidak membaik? " Jordan kembali terkekeh lalu kembali menjatuhkan tubuh Gaby kedalam pelukannya. Dielusnya pelan kepala Gaby lalu sebuah kecupan juga ia berikan di sana.
Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, Jordan dan Gaby memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Tapi karena Gaby merasa ingin buang air kecil, Gaby akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet dahulu. Apa yang ingin dia lakukan sudah dia lakukan. Tapi sebelum keluar dari toilet, Gaby sejenak memperbaiki penampilannya.
" Wah, kita bertemu lagi, Nyonya. " Ga y tak menjawab dan melihat saja siapa orang yang berbicara dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Maria. Wanita itu berjalan mendekati wastafel yang ada di samping Gaby lalu tersenyum penuh maksud. Awalnya Gaby tidak ingin menanggapi apapun yang dikatakan wanita itu. Tapi sepertinya Maria masih saja mengajak Gaby berbicara.
__ADS_1
" Nyonya, saya menyapa anda dengan begitu sopan dan lembut, tapi ada sama sekali tidak menanggapinya ya? " Maria tersenyum seolah puas mengolok Gaby.
" Padahal, menyapa juga bukan hanya tentang citra baik loh. Apakah kalau yang menyapa anda adalah klien penting anda, anda juga akan diam seperti ini? "
Gaby tersenyum lalu mengubah posisi tubuhnya untuk menatap Maria yang asik aja berceloteh kesana kemari tak jelas apa tujuan intinya.
" Aku akan memperlakukan orang bagaimana dia memperlakukan ku. Dan menghadapi wanita sepertimu, aku rasa tidak penting untuk berbosa basi seperti ini. "
Maria menatap kesal bola mata Gaby yang begitu terlihat tegas dan arogan. Dia memang tidak memiliki kemampuan berbisnis yang hebat seperti Gaby. Tapi kekesalan akan beberapa hal membuatnya tak mengenal rasa takut.
" Nyonya Gaby yang terhormat, saya hanya mencoba untuk mengajarkan tentang cara menyapa yang baik. Jika anda memang membenci seseorang, seharusnya ada tidak begitu jelas memperlihatkannya. Karena pada nyatanya, belum tentu orang itu menyukai anda dan memilih untuk menyimpan perasaan tidak sukanya untuk menghargai anda. "
" Pft....! " Gaby menutup mulutnya yang menahan tawa dengan punggung tangannya.
" Aku adalah orang yang transparan. Membenci, artinya aku membenci dan aku tidak akan menjadikan muka ku menjadi beberapa buah. Cukup gunakan satu wajah dan biarkan orang lain melihatnya secara langsung. Entah orang akan memilih untuk menyukainya atau membencinya, semua adalah hak manusianya sendiri. Kau juga lelah kan harus menjaga citra mu dan menjadikan dirimu munafik setiap saat? "
__ADS_1
Bersambung
Bersambung