Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Kemarahan, Tuan Edward


__ADS_3

" Tuan Edward, kenapa mulut anda tidak bisa berhenti mengancam? aku benar-benar tidak tahan hingga ingin memotong lidah anda. " Ucap Gaby lalu menyeringai dengan menyeramkan.


Tuan Edward yang merasa geram dengan mulut Gaby hanya bisa menatap tajam tanpa bisa mengatakan apapun. Sungguh dia tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk bisa menghadapi dan melawan setiap ucapan yang keluar dari mulut Gaby. Benar, dia memang hanyalah seorang wanita. Tapi kalau dia sudah bertindak, semua yang ingin dia lakukan pasti akan berhasil. Sejujurnya inilah yang lebih menarik dari seorang wanita cantik bernama Gaby. Ambisi dan kelicikannya benar-benar sangat di butuhkan di dunia bisnis. Semakin memikirkan akan hal ini, Tuan Edward jadi kembali memiliki hasrat untuk memiliki Gaby.


" Nona, tidakkah kau berpikir ucapan mu barusan terlalu kejam? walau bagaimanapun, kita sudah hampir menikah. " Tuan Edward tersenyum seolah tak terlihat takut dengan ancaman Gaby.


" Jaga ucapan mu! " Jordan yang merasa tak terima dan jijik dengan kata-kata itu sontak berdiri dan menatap tajam penuh kemarahan. Rasanya sudah cukup sabar di menghadapi kegilaan Ayahnya sendiri. Tapi, kali ini adalah Gaby. Wanita yang telah menjadi istrinya dan Ibu dari tiga anak nya. Tentu Jordan juga paham apa maksud dari ucapan Ayahnya dan arti dari tatapan penuh keinginan itu. Sungguh si tua yang hobi berfantasi liar.


" Tuan Edward, aku sungguh beruntung karena di culik oleh Jordan. Kalau tidak, bagaimana aku bisa menghadapi dunia karena menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi Ayah ku? Lagi pula, aku adalah wanita yang cukup bersemangat di atas ranjang. Dengan usia anda ini, aku pasti akan terus merasa kesal karena tidak mendapatkan kepuasan. " Gaby tersenyum dengan maksud menghina. Tuan Edward memang terkenal dengan kekejaman dan arogansinya, tapi bagi Gaby ketakutan terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Karena sampai kapan pun, manusia tidak akan pernah menang melawan dirinya sendiri.


" Pft....! " Jordan yang tadinya sudah merasakan amarahnya sampai ke ubun-ubun, kini menahan tawa dan hilang semua rasa marah itu dengan seketika. Sementara Tuan Edward kini semakin tidak bisa mengontrol kemarahannya. Tapi, dia juga tahu kalau Gaby sengaja melakukan itu agar ia terpancing dan meluap-luap emosinya.


" Kau mau bukti? " Tuan Edward menyeringai.


" Aku tidak membutuh kan itu, Tuan Edward. Karena Jordan memiliki kekuatan yang sungguh jauh di luar ekspetasi anda. Dia sama sekali tidak lelah saat pagi siang dan malam melayani ku. Bahkan di saat bekerja juga dia selalu mengutamakan kebutuhan biologis ku. Tuan Edward, aku juga tidak menyukai ukuran yang kecil loh. " Jordan lagi-lagi menahan tawanya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau istrinya begitu pandai membungkam dan menindas orang melalui kata-kata super pedasnya. Bahkan, dia sama sekali tidak menunjukkan sedikit saja celah untuk orang lain mengetahui kebohongannya.


" Apa kau sadar apa yang kau bicarakan? " Tanya Tuan Edward yang dengan jelas terlihat tidak bisa lagi menahan emosinya.

__ADS_1


" Oh? tentu saja aku tahu. Ruan Edward, aku sangat bersemangat saat membicarakan hal-hal semacam itu. "


Tuan Edward yang sudah tidak tahan lagi dengan tajamnya mulut Gaby memutuskan untuk pergi tanpa mengatakan apapun untuk berpamitan. Bahkan, dia sampa lupa membawa surat penyerahan tanah miliknya.


" Hahaha....... " Jordan memegangi perutnya karena merasa tidak tahan lagi. Sungguh, perutnya sampa sakit karena begitu keras tertawa. Maklum saja, selama ada Ayahnya, dia menahan tawa yang seperti sudah penuh di tenggorokannya.


" Apa begitu lucu? " Gaby keheranan melihat suaminya tertawa sampai seperti itu. Ini benar-benar pertama kalinya Gaby melihat Jordan tertawa sampai terpingkal-pingkal. Cukup lama Jordan menghabiskan waktu untuk terus tertawa, dan kini mulai lah dia bisa sedikit tenang.


" Sayang, ini benar-benar pertama kalinya melihat si tua itu terdiam tidak bisa berkutik dan memilih untuk pergi loh. Padahal, biasanya orang lain yang akan pusing dan memilih untuk pergi. " Jordan melingkarkan lengannya memeluk pundak Gaby yang saat ini duduk sembari menatap layar ponselnya.


" Kalau begitu, mari kita lanjutkan pekerjaan kita. " Gaby bangkit dari duduknya lalu menuju ke kursi nya sendiri. Hah! lagi-lagi bertingkah dingin. Batin Jordan sebal.


" Ayolah, Presdir Jordan. Kita tidak boleh lembur lagi ya? anak-anak pasti akan kecewa kalau sampai kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. " Ucap Gaby lalu membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaan yang sedang ia fokuskan untuk menyelesaikannya dalam dua minggu ini.


Jordan kembali ke meja kerjanya dan memfokuskan diri. Benar, semalam dia sudah menghabiskan malam nya untuk membahas pekerjaan. Meskipun ada Ibunya yang selalu menemani ke tiga anaknya bermain, tapi tetap saja penting bagi nya dan Gaby untuk meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk mereka. Apalagi Mark juga sangat penuntut dan kritis dalam bertanya kalau orang tuanya terlalu sibuk.


Setelah kepergian Tuan Edward, tidak ada lagi yang mengganggu mereka hingga pukul lima sore. Tepat di jam itu, Gaby dan Jordan tidak akan lagi bekerja dan mengharuskan diri mereka untuk pulang ke rumah. Seperti biasa kalau jam kerja habis, Gaby akan memperlakukan Jordan penuh cinta. Memberikan ciuman sebelum keluar dari ruang kerja, dan menggandeng mesra tangan Jordan.

__ADS_1


" Jordan? " Panggil seorang gadis yang tidak asing suaranya ditelinga Jordan. Sontak, Jordan dan Gaby menoleh ke arah yang sama. Hah! sepertinya waktu untuk bertemu ketiga anak mereka akan tertunda beberapa saat.


" Shisil? " Shisil adalah wanita yang dulu Jordan gunakan untuk membalas dendam kepada Gaby. Enam tahun sudah dia tidak pernah melihat gadis itu lagi sejak terakhir dia melemparkan sekoper uang dan meninggalkannya.


" Jordan, apakah kau sama sekali tidak pernah mengingat ku? " Pelupuk wanita itu kini mulai di penuhi dengan air mata. Bibirnya juga bergetar karena menahan tangis yang selama pecah.


" Pergi dan selesaikan urusan kalian. " Ucap Gaby dengan wajah datarnya sembari melepas genggaman tangannya.


" Sayang, kau tidak mau ikut? "


" Tidak. "


Jordan tahu benar kalau Shisil adalah sala satu masa lalunya yang berhubungan dengan sakit hati Gaby. Tapi meluruskan masalah ini juga amat penting bagi dirinya dan keluarganya nanti. Saat Jordan dan Shisil melangkah, Gaby menghentikan mereka.


" Tunggu, Aku ikut! " Gaby berjalan mendekati Jordan dan berada di tengah-tengah untuk menjaga jarak Jordan dari Shisil. Gaby tersenyum miring sembari melirik Shisil lalu menggandeng lengan Jordan.


" Sepertinya aku tertarik dengan pembicaraan kalian. "

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2