
Bruk....!
Gaby menjatuhkan tubuhnya begitu saja setelah Jordan menceritakan semua yang terjadi dengan penyakit Ele. Tentu saja dia sangat sedih dan hancur. Jordan sontak memeluk tubuh Gaby untuk menguatkan Ibu dari anaknya itu. Sama, di juga sangat sedih. Kalau saja sakit itu diberikan padanya, semua pasti akan baik-baik saja. Tidak ada Gaby yang begitu bersedih, tidak Ele yang merintih kesakitan, dan tidak akan ada lagi luka bagi ke dua wanita yang ia cintai sepenuh hati.
" Ge, aku tahu ini menyakitkan. Tapi Ele sangat membutuhkan dukungan dari kita. Maafkan aku karena menyembunyikan ini dari mu. Aku hanya ingin kau terlihat bersemangat agar Ele juga bersemangat. Aku sungguh tidak memiliki niat lain. "
Gaby masih saja menangis dan tak bisa mengatakan apapun untuk menanggapi ucapan Jordan. Memang benar dia sangat tida terima dengan sakit yang di derita anaknya. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Jordan. Tapi dia ingin sekali marah. Marah kepada Tuhan yang sudah menyakiti nya lagi.
" Ge, aku tahu ini tidak mudah. Tenangkan dirimu dan mari saling menguatkan. " Ucap Jordan sembari mengusap punggung Gaby.
" Kenapa? kenapa Tuhan selalu jahat padaku? " Gaby tanpa sadar memukuli dada Jordan terus menerus.
" Kenapa semua ini tidak ada hentinya? kenapa Tuhan terlalu membenci ku? pertama, dia mengambil Ayah, Ibu dan kakak ku. Lalu mengirim ku ke keluarga Iblis yang menyeramkan. Lalu dijadikan alat balas dendam yang aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus menerima hujatan dan kebencian dari banyak orang, lalu aku bertemu dengan mu, mengalami lagi kesakitan baru yang membuat ku tidak sanggup untuk hidup, lalu Tuhan mengambil anak pertamaku, dan sekarang dia juga ingin mengambil putriku? memang apa salah ku? kenapa semua ini tidak ada hentinya? apa Tuhan lupa kala aku hanya manusia biasa? apa Tuhan lupa kalau aku juga bisa putus asa? apa dia tidak tahu kalau aku sudah banyak menderita? apa jangan-jangan Tuhan itu buta? "
" Cukup, Ge. Cukup. " Jordan yang tidak sanggup lagi hanya bisa memohon agar tidak lagi Gaby mengatakan itu. Jujur dia sendiri juga sangat membenci perbuatannya. Jika saja mesin waktu itu ada, sedetik pun dia tida akan pernah menyakiti wanita malang yang di juluki ratu antagonis di dunia nyata itu.
Gaby melepaskan tubuhnya dari pelukan Jordan. Dia menatap Jordan dengan tatapan penuh harap dan memohon.
" Jordan, tolong katakan pada Tuhan untuk jangan mengambil putriku. Tolong katakan padanya jangan ambil putri kita. Dia boleh mengambil nyawaku saja sebagai gantinya. Katakan padanya! Tuhan sangat membenci ku hingga tidak ada satu pun doa ku yang dia dengar. Jadi kau saja yang memohon kepada Tuhan, ya? " Gaby mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggosok nya dengan tatapan memohon yang begitu memelas.
Jordan tidak sanggup lagi menahan air matanya. Dia ikut menangis melihat Gaby yang begitu menderita. Dia sadar, penderitaan Gaby sekarang ini berawal dari dirinya. Jadi mana mungkin dia akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Jordan meraih tangan Gaby yang masih mengatup dengan tangan gemetar.
" Ge, maafkan aku. Aku tahu semua terjadi karena ku. Aku janji akan melakukan segala cara agar putri kita sehat kembali. Aku tahu aku tidak pantas di maafkan. Tapi untuk sekarang, mari kita saling menguatkan untuk kesembuhan Ele. Aku janji, kalau Ele sembuh nanti, aku tidak akan pernah menemui kalian lagi agar kalian tidak menderita karena ku. "
__ADS_1
Gaby tidak menjawab pertanyaan dari Jordan dan hanya terus menangis. Iya, dia hanya perlu menangis sebanyak mungkin sampai puas sebelum masuk kembali ke dalam rumah. Karena kalau sudah bertemu dengan Ele, satu tetes pun tidak boleh ada yang jatuh dari matanya.
Jordan kembali memeluk tubuh Gaby dengan erat.
" Menangis lah sepuas mu. Tidak apa-apa. "
Setelah cukup lama mereka berada di luar sembari menangis, akhirnya Jordan mengajak Gaby untuk segera masuk ke dalam rumah karena cuaca yang sudah mulai mendung.
" Kita masuk ya? " Ajak Jordan.
Gaby mengangguk dan mengusap air matanya. Dia mengipas-ngipas wajahnya sembari mengatur nafas agar terlihat baik-baik saja.
" Ayo! " Ajak Jordan sembari menyodorkan tangannya.
" Jangan menyalahkan dirimu sendiri karena penyakit Ele. Karena sakit Ele adalah faktor keturunan. Maka itu bukanlah salah mu. " Ucap Gaby dengan wajah datarnya. Jordan tak bereaksi dan hanya bisa diam dengan pemikirannya sendiri.
Perlahan kaki mereka melangkah saat masuk ke dalam rumah. Tentunya karena tidak ingin mengganggu tidur Ele yang sangat pulas itu. Karena tadi Gaby tidak jadi membuat makan siang, akhirnya mereka bersama-sama membuatnya. Seperti kemarin, Gaby mengikuti titah Jordan degan seksama. Mulai dari hari ini, mereka memutuskan untuk lebih fokus kepada Ele dan menguatkan hati bersama. Tentu tujuannya hanyalah untuk Ele. Entah seperti apa masa depan untuk mereka nanti, yang pasti mereka akan menghabiskan waktu untuk Ele dan mengesampingkan urusan yang lain.
" Bagaimana? " Tanya Gaby Jordan mencicipi sup apel yang baru saja mereka masak.
Jordan tersenyum lalu mengangguk.
" Enak. Baiklah, kita langsung saring saja. Sepertinya sebentar lagi Ele bangun. "
__ADS_1
Jordan dan Gaby kembali bekerja sama untuk menyelesaikan sup apelnya. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka bisa mendesah lega karena sup apel nya sudah bisa di hidangkan untuk Ele dan mereka juga tentunya.
Benar saja, baru lima menit mereka istirahat, Ele menangis saat bangun dari tidurnya. Gaby dan Jordan bergegas masuk ke dalam kamar. Tadinya Gaby ingin menggendong Ele, tapi gadis kecil itu lebih memilih untuk bersama Ayahnya. Gaby menghela nafas. Lagi-lagi dia di acuhkan oleh putrinya sendiri semenjak hadirnya Jordan. Tapi sungguh, dia sangat bahagia melihat Ele dan Jordan saling menyayangi seperti ini.
Jordan membawa Ele untuk mencuci wajahnya lalu barulah dia membawa Ele untuk makan siang.
" Baiklah tuan putri Ayah, sup apel ini sangat enak loh. Makan ya? "
Jordan mendudukkan Ele lalu meraih mangkuk yang sudah berisi sup apel.
" Ayah membuat ini? " Tanya Ele.
Jordan tersenyum.
" Ayah dan Ibu. " Jawab Jordan yang akhirnya membuat Ele tersenyum. Perlahan, Ele mulai menerima suap demi suap sup apel yang di berikan oleh Jordan. Sungguh ini benar-benar membahagiakan bagi Jordan dan Gaby. Akhirnya Ele sudah mulai menerima makanan tanpa harus di muntah kan lagi. "
" Ayah, aku mau makan cake boleh? " Tanya Ele setelah semangkuk sup apel masuk ke dalam perutnya.
" Tentu saja boleh. " Jawab Jordan yang di angguki oleh Gaby.
" Ye.....! kalau begitu, Ayah dan Ibu harus membuatnya untukku! "
Bersambung...
__ADS_1