Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Divorce


__ADS_3

Jordan kini terduduk merenung diruang tunggu. Dia sudah hampir satu jam berada disana dengan banyaknya hal yang ia pikirkan. Dilain sisi, dia juga begitu terpukul dengan kejadian ini. Konyol? iya. Jordan sangat paham tentang itu. Dia mencintai Gaby tapi terus menyiksanya. Dia sendiri juga tidak bahagia melakukan itu. Tapi saat mengingat dia lebih memilih menikahi Ayahnya, rasanya jiwa frontal nya tidak bisa dihindari. Dia berpikir, dengan menyiksa Gaby akan membuatnya puas dan bahagia. Tapi, hal itu justru membuatnya ikut menderita.


Jhon meraih sebuah beda pipih berwarna hitam putih yang tadi sempat Ron berikan padanya. Dia mulai menangis melihat gambar yang menunjukkan calon bayi mereka. Dia sungguh menyesal dengan kejadian ini. Dia benar-benar sadar dengan banyaknya luka yang sudah ia berikan untuk istrinya sendiri. Meski terlihat begitu tidak perduli, tapi saat Elia mengatakan dia hamil, dia begitu bahagia meski tertutupi wajah dinginnya yang terkesan masa bodoh.


" Nak, maafkan Ayah. Semua ini karena Ayah. "


" Tuan, "


Jordan memasukkan kembali gambar hasil USG itu kedalam saku kemejanya lalu mengusap wajahnya sebelum menatap Ron yang tadi memanggilnya.


" Kenapa? "


Ron memberikan selembar amplop coklat kepada Jordan. Meski dia merasa berat, tapi dia ingin memberikan apa yang Gaby inginkan selama ini.


" Pergilah. "


Ron mengangguk lalu beranjak menjauh.


Tuan, keputusan anda benar-benar salah kali ini.


Jordan masuk kedalam kamar Gaby. Dokter sudah memberi tahu bahwa Gaby sudah sadar beberapa jam yang lalu.


Jordan nampak sedikit ragu saat melihat wajah Gaby yang seperti tidak memiliki aura kehidupan. Wanita itu benar-benar duduk di Brankar tanpa bergerak sedikitpun. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapan matanya juga begitu kosong. Jordan menarik nafas perlahan sembari menguatkan dirinya.

__ADS_1


Ge, semoga kau bahagia setelah lepas dariku. Aku berharap, kau akan bertemu dengan orang yang menghargai mu dan tidak bertemu lagi dengan bajingan sepertiku.


" Tanda tangani! dan enyah lah dari hidupku. "


Gaby tak bergeming sedikitpun. Begitu juga dengan Jordan yang tidak bisa berkata-kata melihat Gaby yang tak mengatakan apapun. Jordan memilih untuk pergi.


" Maaf,... " Jordan memegangi tembok untuk menahan tubuhnya yang seolah kehilangan energi. Rasanya sangat sakit harus melepaskan Gaby. Tapi dia juga menyadari jika luka yang dia berikan sudah sangat di luar akal sehat. Meski memiliki keinginan untuk memperlakukan Gaby dengan baik, tapi itu tida akan mungkin bisa Gaby terima. Segala luka baik pada fisik juga hatinya sudah sangat menggunung. Dia bahkan begitu malu saat hatinya masih mencintai wanita tang tak henti-hentinya dia sakiti. Meskipun dia membuatnya menjadi ratu, tapi dia pasti akan terus mengingat luka batin yang amat dalam itu. Dan mau tidak mau, pilihan untuk melepaskannya dan tetap membiarkan Gaby membencinya adalah pilihan terbaik.


Sementara di dalam ruangan. Gaby kini tertunduk dengan genangan air mata yang membasahi pipinya. Sedih karena kehilangan calon bayinya. Kecewa karena tidak bisa menepati janji untuk melindungi anaknya. Mungkin, benar ini adalah hukuman. Tapi, kenapa begitu sangat sakit hingga rasanya dia tidak bisa bernafas setiap saat.


" Tuhan, kenapa kau membuatku tetap hidup? kenapa tidak membiarkan aku mati bersama anakku? "


Gaby meremas ujung selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Rasanya dia sudah muak hidup di dunia ini. Mau mencoba bunuh diri, tapi dia sudah cukup lelah melakukanya. Karena pada ujungnya, dia hanya akan sekarat tapi tidak juga kunjung mati. Seolah-olah malaikat maut juga memberikan hukuman untuk nya. Entah harus seberapa banyak lagi dia menderita agar mendapat pengampunan. Rasanya tubuh dan jiwanya menolak untuk keinginan yang berbeda. Raganya masih ingin hidup, tapi jiwanya seakan antusias menunggu ajal.


" Bayi, kenapa kau pergi? kenapa tidak membawa Ibu bersama mu? Ibu sudah mencoba melindungi mu, tapi tetap saja Ibu kehilangan mu. Apa kau tidak mau lahir dari Ibu sepertiku? " Tanya Gaby kepada dirinya sendiri dengan nada suara yang begitu pelan dan matanya terus meneteskan air mata.


Setelah malam mulai mendekati fajar, mata Gaby yang merasa lelah mulai terpejam perlahan menuju alam mimpi. Iya mimpi yang semakin menyakitinya.


Seorang anak yang tidak bisa ia lihat jelas laki-laki atau perempuan tengah menatapnya sedih.


" Ibu, kenapa Ibu membunuh ku? apa Ibu tidak menyayangiku? Ibu sudah berjanji untuk melindungi ku. Kenapa Ibu membiarkan aku mati? "


Gaby mencoba meraih tubuh anak itu tapi justru semakin menjauh darinya. Gaby menggelengkan kepalanya sembari menangis. Meski tidak jelas, ia meyakini jika itu adalah anak nya.

__ADS_1


" Tidak! Ibu tidak sengaja nak. Ibu sungguh sangat menyayangi mu. Maafkan Ibu. Maafkan Ibu yang gagal dan membuat mu pergi. Maaf... "


" Ibu membunuh ku! "


" Tidak Nak. Bukan Ibu sengaja. Ibu menyayangi mu. Maafkan Ibu. "


" Ibu jahat! Ibu berbohong! "


" Tidak! Ibu menyayangi mu, nak. kembalilah kepada Ibu. Ibu akan menjagamu dengan baik. Tolong jangan membenci Ibu. "


Gaby berlari untuk meraih tubuh anak kecil itu. Tapi sayang, tubuh itu justru semakin menjauh darinya sembari mengatakan jika Gaby berbohong dan tidak menyayanginya.


" Nyonya! "


Gaby membuka mata dengan linangan air mata yang membasahi wajahnya.


" Nyonya, apa anda bermimpi buruk? tenangkan diri anda Nyonya. Yakinlah, Tuhan punya rencana yang indah untuk anda. "


Gaby menatap kesal perawat yang membangunkannya dan menasehatinya itu.


" Tuhan? rencana indah kau bilang? apa kau tahu apa yang aku alami? Tuhan tidak ada! kalau Tuhan ada, dia tidak akan membiarkan aku seperti ini. Tuhan yang kau maksud adalah seorang pembohong besar! kau juga pembohong! " Gaby berteriak histeris sembari melempari perawat itu menggunakan bantal dan selimut yang ia gunakan.


Karena tak henti-hentinya histeris, Perawat itu memutuskan untuk memanggil Dokter. Setelah Dokter tiba, Dokter itu memberikan suntikan penenang agar Gaby dapat istirahat untuk sementara waktu. Dokter dan perawat itu juga hanya bisa sabar menghadapi Gaby yang begitu frustasi. Jika saja itu istri lain, mungkin dia akan merasa baik-baik saja karena ada suami dan keluarga yang menyemangatinya. Tapi gaby? siapa yang ada di dekatnya saat ini? tidak ada. Setiap hari dia hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk menguatkan hatinya dan memberikan semangat. Tapi hati mana yang tak akan begitu sakit. Setelah kedukaan yang membuatnya tak ingin hidup, tiba-tiba Tuhan memberikan harapan yang membuatnya bangkit dan merasa kuat menghadapi dunia. Tapi, Tuhan menjatuhkannya lagi kedalam jurang duka yang terasa berkali-kali lipat rasa sakit dari sebelumnya.

__ADS_1


" Bayi, Bayiku.... " Ucap Gaby sebelum matanya tertutup sempurna.


Bersambung.....


__ADS_2