
" Tapi dia selalu mengganggu mataku. Aku sekarang penasaran, dia ini manusia atau bukan? setiap kali melihatnya, mataku seperti kemasukan banyak sampah. " Gaby mengibaskan rambutnya dengan tatapan yang masih saja begitu berani untuk menghina.
Maria melipat kedua lengannya, meletakkannya di dada, dan menatap dengan berani tatapan Gaby yang beberapa waktu lalu membuatnya takut. Selain di sana banyak orang yang akan mendukungnya, pesta yang digelar ternyata adalah pesta orang tuanya, tentulah dia beranggapan bahwa Gaby tidak akan berani melakukan apapun kepadanya. Lagi pula, dia juga sudah tidak tahan lagi melibat wanita licik seperti Gaby berlama-lama berada si sisi Jordan.
" Nyonya Presdir, cara bicara anda masih sama ya?" Maria tersenyum dengan maksud untung menghina sikap Gaby yang jauh dari kata sopan. Tapi sayangnya, Gaby sama sekali tidak merasa gentar ataupun merasa berat hati kalau harus meladeni Maria yang sepertinya belum puas juga mendengar kata-kata pedas darinya.
" Oh? barusan anda sedang bicara apa? kok saya seperti mendengar suara lalat yang sedang terbang. " Gaby tersenyum lalu memeluk mesra lengan Jordan lalu memilih untuk melanjutkan langkah kakinya. Ron yang berada di belakang mereka hanya bisa tersenyum sendiri. Sungguh dia benar-benar mengagumi istri dari Jordan yang sama sekali tidak mudah dihancurkan mentalnya, mungkin karena masa lalu yang di alami begitu menegangkan, dan juga menguras otak dan kesabaran. Jadilah, Nyonya Gaby yang seperti sekarang ini.
" Dasar sialan! selalu saja menyakiti orang dengan kata-kata mu. Lihat saja, aku akan menendang mu sampai ketempat yang seharusnya. Yaitu, tempat sampah ya g bahkan tidak bisa didaur ulang.
" Ehem... "
Maria membalikkan tubuhnya karena merasa kaget dengan suara deheman seorang wanita dari balik punggungnya. Dahinya mengeryit setelah melihat siapa wanita yang kini tersenyum kepadanya.
" Kau siapa? " Tanya Maria.
" Saya, Norita. Saya asisten sekaligus sekretarisnya Nyonya Presdir. " Norita kembali tersenyum menatap Maria meskipun dia benar-benar ingin menjahit mulut Maria.
__ADS_1
Begitu mengetahui bahwa Norita adalah bawahannya Gaby, kini wajah cantik Maria berubah masam dan menatap Norita tak suka. Iya, dia baru ingat kalau Norita adalah tangan kanan Gaby yang sangat dipercayainya.
" Kenapa kau datang kesini juga? " Maria menatap sebal Norita sesaat lalu membuang wajahnya ke arah lain.
Sialan! kalau saja aku orang kaya, orang yang akan aku beli harga dirinya adalah anda, Nona Maria. Lagak mu seperti wanita mahal, tapi mulutmu lebih buruk dari pada sendal jepit butut ku!
" Presdir, dan Nyonya presdir meminta saya untuk datang, Nona Maria. " Baiklah, tidak ada pilihan lain selain bersabar saja dan jalani takdir sebagai orang yang hanya memiliki isi dompet yang pas-pasan ini. Norita yamg ditinggalkan begitu saja oleh Maria sempat menaikkan sebelah sisi bibirnya, tapi karena suara Nyonya presdirnya terdengar memanggil namanya, sontak Norita berjalan cepat untuk menuju dimana Nyonya nya berada.
" Ada apa, Nyonya? " Tanya Norita setelah berada ditempat Gaby dan Jordan berada. Oh, didanai juga ada si manusia menyebalkan yang tak lain adalah Ron.
" Kau bersama Ron saja, khusu untuk hari ini, anggap saja kalian adalah pasangan bahagia yang saling mengasihi satu sama lain. " Gaby tersenyum menatap Norita. Sungguh, senyum Gaby barusan benar-benar membuat Norita terpana. Rasanya sangat tidak mungkin jika Gaby memiliki masa lalu yang seperti di beritakan. Cara dia mendidik bawahannya memang terkesan angkuh dan tidak kenal belas kasih, tapi saat mendapatkan hasilnya, dia menyadari jika Gaby adalah pemimpin wanita yang paling keren, dingin, dan anggun sepanjang sejarah. Apalagi, di dukung juga dengan wajah cantik serta tubuhnya yang bagus. Sungguh membuatnya iri saja.
" Eh? " Norita benar-benar mengusap bibirnya karena takut kalau sampai apa yang Ron ucapkan adalah benar. Melihat tingkah lucu Norita, sontak Jordan, Gaby dan Ron terkekeh geli.
" Aku tahu, istriku benar-benar membuat orang selalu terpana. " Ucap Jordan lalu mendaratkan sebuah ciuman di pipi kiri sang istri. Sebenarnya sedari tadi mereka tengah menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Terlebih Jordan dan Gaby yang terlihat begitu mesra dan saling mencintai satu sama lain. Tentu banyak orang bertanya-tanya, kenapa seorang Jordan memilih istri semacam itu? apa karena dia cantik? meskipun Gaby juga dikenal sebagai perfect antagonis, tapi kelebihan yang positif dari dirinya seolah tertutupi karena masa lalu yang dianggap buruk oleh hampir seluruh masyarakat.
Beberapa saat sudah berlalu, Jordan dan yang lain juga sudah mengucapkan selamat dengan hajat mereka, obrolan bersama pembisnis lain juga terjadi. Terlebih, Tuan Edward mengenalkan Jordan sebagai putranya ke beberapa rekan bisnisnya. Maka Jordan kini semakin dikenal oleh pembisnis kelas atas yang setara dengan Ayah nya.
__ADS_1
" Ayah mu benar-benar mempermudah jalan untuk Jordan's Group. Bagaimana pendapatmu, sayang? " Tanya Gaby setelah menerima suapan makanan jamuan dari Jordan.
Jordan menghela nafasnya sembari berpikir sejenak.
" Sayang, jika boleh memilih, aku tidak suka begini. Aku sudah terbiasa bertarung dan membencinya, ini benar-benar malah membuatku kesal tapi tidak tahu kesal dengan apa dan siapa. "
Gaby tersenyum lalu mengusap wajah suaminya. Benar, jika menceritakan tentang Tuan Edward, Jordan memang masih enggan. Tentu dia paham sekali meski tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disakiti oleh Ayah kandung sendiri, tali segala yamg terjadi ini juga karena kesalahpahaman dan keegoisan. Tentu juga bukan salah Jordan kalau ia membenci Ayahnya, karena Jordan adalah manusia biasa yang sulit kalau harus menyamakan hatinya dengan hati malaikat baik hati.
" Aku tahu, sayang. Apapun itu, mari kita hadapi bersama-sama. Semoga semua masalah pelik yang kita lalui ini cepat berakhir, dan masalah kita di masa depan semoga tidak seberat ini lagi. " Gany tersenyum setelah berucap.
" Amin. " Jordan meraih pinggang Gaby agar posisi mereka semakin dekat dan mengecup singkat bibir istrinya. Hah! untunglah, lipstiknya tidak mudah luntur, batin keduanya.
" Tuan dan Nyonya benar-benar tidak memiliki perasaan! " Kesal Norita lalu menyuapkan sepotong kue ke mulutnya. Kesal rasanya melihat kedua Bosnya dari jauh saling memeluk mesra dan berciuman dengan percaya dori di tempat seramai ini.
" Kenapa? " Tanya Ron yang ada disampingnya.
" Mereka main suap-suapan, lalu peluk-pekukkan, tidak cukupkah sampai harus cium-ciuman?! kalau aku iri bagaimana? masa aku harus mencium gelas? aku juga ingin disuapi, tapi terpaksa aku harus menyuapi diriku sendiri. Aku juga ingin dipeluk, tali aku hanya bisa memeluk tubuhku sendiri. Kasihan..... " Norita mengusap kepalanya pelan karena merasa kasihan dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
" Sebenarnya aku tidak mau mengatakannya, tapi kalau kau sebegitunya ingin melakukan itu, aku akan membantu mu. "
Bersambung