Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Bertanggung jawab.


__ADS_3

Jordan menatap selembar surat permohonan cerai yang berhasil Gaby temukan dengan perasaan pilu. Apalagi saat melihat wajah bahagia Gaby saat menyerahkan kertas itu, rasanya hancur sudah hatinya. Tapi dia juga tidak ingin kehilangan wanita cantik yang selalu mengisi ruang hatinya itu.


" Maaf mengecewakan mu, Ge. Tapi surat permohonan cerai itu sudah expired. "


Gaby yang tadinya tersenyum senang kini berubah menjadi suram. Beberapa detik lalu dia seolah menemukan sebuah jalan untuk menuju masa depan tanpa Jordan. Tapi kenapa selalu seperti ini? Tuhan seolah memberinya harapan palsu yang tidak berkesudahan. Mau sampai kapan dia akan dipermainkan takdir seperti ini? apakah benar-benar tidak ada jalan untuk hidup layak tanpa Jordan?


" Ge, " Jordan meraih tangan Gaby yang masih menggantung tak bergeming. Jika saja Gaby langsung menandatangi hari itu juga, maka semua akan hancur dan mereka pasti tidak akan kembali di titik permulaan yang kelam tanpa adanya petunjuk arah. Tapi hidup tetaplah hidup yang memiliki sutradara dari semua kehidupan. Bahagia atau menderita pasti akan datang silih berganti. Hanya saja, kedukaan Gaby begitu mendalam hingga dia tidak bisa lagi menerima perasaan hangat. Karena pada ujungnya Tuhan lagi-lagi hanya membuatnya memiliki harapan tanpa adanya bukti yang nyata.


" Maka ajukan lagi. " Ucap Gaby dengan tatapan datarnya.


Jordan mengeratkan tangannya yang tengah menggenggam erat tangan Gaby.


" Maaf, Ge. Aku tidak akan melakukan itu. Aku tahu ini berat bagimu, tapi aku sudah bersumpah akan menyayangi mu seumur hidupku. Aku bersumpah bahwa tidak akan ada lagi Jordan brengsek yang waktu itu. Percayalah sekali ini saja. "


Mungkin, kekerasan fisik dan verbal yang pernah Jordan lakukan bisa untuk dia maafkan. Tapi penghianatan yang nyata di matanya, bahkan bukan hanya dengan satu gadis. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah kematian anaknya yang ia yakini adalah ulah Jordan membuatnya tak bisa memberi maaf.


" Aku tidak mau bersama mu lagi. Tolong biarkan aku pergi. " Pinta Gaby tanpa ekspresi yang tak bisa Jordan baca.


" Maafkan aku, Ge. Aku tidak bisa melepaskan mu. "


Gaby mengepalkan tangannya kuat. Mungkin selama ini dia telah larut terlalu dalam dengan kesedihan sehingga tidak memiliki keberanian untuk memberontak. Tapi semenjak dia mengenal Nino, perlahan keinginan untuk hidupnya bangkit dan menimbulkan keberanian.


" Kenapa tidak bisa?! hah?! apa kau masih memiliki muka untuk selalu menatap ku? apa kau tidak membenci dirimu yang begitu kotor itu?! "


Jordan terdiam, bukanya tidak bisa menjawab. Hanya saja tatapan kemarahan Gaby begitu jelas terlihat, apalagi suaranya sampai bergetar seolah menahan tangis saat menahan marah. Semua kata-kata Gaby memang langsung menjatuhkan Jordan dari rasa percaya dirinya yang begitu yakin akan bisa mendapatkan kepercayaan Gaby lagi.


" Maaf Ge.... "

__ADS_1


Mau apa lagi selain maaf? tentu saja hanya kata itu yang bisa mewakili seluruh perasaan bersalah dan menyesal yang Jordan rasakan. Tahu, memang dia tahu kata maaf sampai sejuta kali pun dia ucapkan, tidak akan mungkin bisa menghilangkan rasa sakit yang di rasakan oleh Gaby karena ulahnya. Tapi sebagai manusia dan suami dia hanya bisa mengalah dan Maaf yang bisa selalu dia ucapkan.


" Maaf? maaf untuk kesalahan mu yang mana?! memukulku? memakiku? menendang ku? berselingkuh dengan banyak wanita? atau membunuh anakku? "


Jordan terdiam tanpa bisa menjawab. Apakah bisa kita maaf untuk mewakili begitu banyak kesalahan yang telah ia lakukan? apakah bisa hanya dengan satu kata maaf bisa mengobati luka yang dengan brutal ia berikan kepada Gaby? apakah bisa satu kata maaf membuat Gaby merelakan anaknya? Tidak! tentu saja tidak. Jika Jordan menjelaskan bukan dia penyebab kecelakaan itu, bukankah sama saja dia juga mengambil andil sehingga kejadian naas itu terjadi?


Kalau saja aku mau mengesampingkan Ego ku dan mengantar mu kerumah sakit, kalau saja aku tidak berpura-pura tidak perduli padamu, semua kebencian mu dan rasa sakit mu pasti tidak akan separah ini. Dan anak kita, pasti masih hidup di dalam kandungan mu. Entah aku atau bukan penyebab kecelakaan itu, tapi aku adalah terdakwa dari semua kesalahan yang membuatmu mengalami kesakitan ini dan kehilangan anak kita. Maaf, Ge.


" Jika kau ingin menebus kesalahan mu, maka biarkan aku pergi dan jangan pernah muncul di hadapan ku. "


Jordan menatap manik mata Gaby yang dengan jelas dia begitu serius. Tiba-tiba rasa sakit menyeruak dari dalam hatinya hingga menjalar ke seluruh tubuh mendengar permintaan Gaby sebagai penebus kesalahannya. Tapi dia begitu mencintai Gaby dan berpisah dengan Gaby adalah hal yang begitu mustahil saat ini.


" Dari semua kesalahan ku, mana yang paling sulit kau maafkan? "


Jordan menatap manik mata Gaby yang masih terlihat berkobar kemarahannya.


Jordan terdiam dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


" Hanya anak? kita masih bisa memilikinya lagi. " Ujar Jordan masih tanpa ekspresi.


" Aku tidak sudi memiliki anak dari pria kotor sepertimu! " Kini Gaby tidak bisa lagi menahan air matanya yang sudah tertahan dari beberapa saat lalu.


Jordan kembali terdiam sembari mengingat apa saja hal bodoh yang dia lakukan di hadapan Gaby saat bersama asisten dan Selena. Benar, dia memang begitu menggelikan dan menjijikan. Tapi semua itu juga ia lakukan hanyalah untuk menambah sakit di hati Gaby.


" Aku memang kotor, tapi aku tidak sekotor itu, Ge. "


Gaby berdecih tidak percaya. Mungkin Jordan pikir dia adalah seorang bayi yang akan percaya begitu saja ucapan penuh kebohongan itu.

__ADS_1


" Jangan lupa, aku sering mendengar suara mu dan wanita mu di kamar ini. "


Jordan langsung terdiam. Benar, dia pernah melakukanya beberapa kali dengan asistennya.


" Aku sudah tidak memiliki alasan untuk bertahan dengan orang sepertimu. Aku juga tidak memiliki perasaan apapun selain perasaan benci. Jadi biarkan saja aku pergi. Dan jadilah pria bertanggung jawab dengan menikahi Selena. "


Jordan kini justru merasa kesal dan kecewa dengan semua ucapan Gaby. Mungkin dia memang brengsek, tapi dia benar-benar berada di fase yang sulit untuk menerima kenyataan dan tidak bisa mengendalikan diri yang sedang membabi buta saat itu.


" Sekarang kembalilah temui Selena. Aku akan mengemas pakaian ku. "


Baru saja tubuh Gaby berbalik, lengan Jordan kini erat memeluknya. Dan mulai membisikkan kata-kata di telinga Gaby.


" Jangan memerintah ku untuk menikahi Selena. "


" Kau harus bertanggung jawab untuk semua perbuatan mu. Bayi itu adalah bayi kalian, kau seharusnya menjaganya dengan baik. Kalau tidak, aku akan membalas kematian anakku dengan membunuh bayi kalian. "


" Lakukan saja. "


Gaby yang merasa kesal mencoba untuk melepaskan diri dan itu berhasil hanya dengan satu gerakan memberontak. Tapi senyuman menjijikan terlihat nyata di wajah Jordan.


" Jika kau tidak bisa mencintaiku seperti dulu, maka aku akan menjadi orang yang paling kau benci agar kau selalu di sampingku walau niat mu hanya ingin membunuh ku. " Jordan meraih pergelangan tangan Gaby dan menuntunnya mendekati tempat tidur lalu menghempaskan tubuhnya disana.


" Apa yang kau lakukan?! " Protes Gaby.


" Aku akan membuat kesalahan dan bertanggung jawab setelahnya. Itu sesuai nasehat mu kan? "


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2