
Dua hari sudah Jordan dan Ron kalang kabut karena tidak menemukan Rendy ataupun kabar pasti dari Gaby. Sulit, benar-benar sulit untuk mencari kepastian dari semua ini. Entah apa yang terjadi karena tiba-tiba Jordan dan Ron mendapat kabar bahwa saat ini Rendy ada di luar negeri untuk mengurusi bisnis. Tadinya Jordan dan Ron ingin menyusul, tapi tidak tahunya Rendy sudah kembali entah kapan.
" Ron, sebenarnya Rendy sedang melakukan apa? kenapa dia begini? Pa dia menyukai istriku? " Tanya Jordan yang masih belum paham dengan maksud Rendy yang terasa aneh baginya.
" Saya kurang paham Tuan, saya sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Tolong bersabar sedikit lagi Tuan. " Pinta Ron.
Jordan menghela nafas lalu memijat keningnya yang terasa sakit dan pusing. Entah bagaimana di harus menghadapi ini. Semuanya terjadi begitu sambung menyambung seolah kompak menyakitinya tanpa henti. Adik yang selama ini tersiksa dengan pernikahannya, suami dari adiknya yang begitu tidak tahu diri dan banyak membuat ulah, Ayah dan Ibunya yang saat ini pisah, Selena yang hamil di penjara selalu mengirimi surat untuk memohon agar mendapatkan pengampunan dan di bebaskan agar bisa merawat calon adik tirinya. Ditambah lagi Gaby yang pergi meninggalkannya dengan keadaan hamil. Pukulan demi pukulan yang menyakitkan kini terpaksa Jordan terima dengan hati yang terasa tidak sanggup.
" Ron, apa Rendy sudah sampai di rumah? " Tanya Jordan.
" Kita belum mendapat kabar, Tuan. Setelah Tuan Rendy tiba di rumahnya, orang kita akan segera mengabari. "
Jordan menggelengkan kepala heran. Baru kali ini dia benar-benar kesulitan dan dibodohi mentah-mentah oleh adik ipar yang selama ini dia anggap baik hati dan menyayangi adik perempuannya.
" Bajingan itu benar-benar membuat kita kewalahan. " Jordan semakin menekan kepalanya karena terasa begitu sakit. Entah kenapa dia begitu tida berdaya saat tidak bisa melihat Gaby beberapa hari ini. Atau mungkin, semua permasalahan yang datang bersamaan ini telah menguras seluruh energi dan pikirannya.
" Tuan anda baik-baik saja? " Tanya Ron yang mulai khawatir melihat Jordan yang tiba-tiba pucat dan jelas terlihat menahan sakit.
" Tida apa-apa. Fokus saja menunggu kabar kedatangan Rendy. " Ucap Jordan yang tidak mau memperdulikan rasa sakitnya yamg sebenarnya sudah tidak tertahankan.
Semakin lama, Jordan semakin pucat dan tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang sekarang menjadi tidak jelas. Kepalanya begitu sakit, perutnya juga terasa di aduk-aduk seperti ingin muntah.
" Tuan! " Ron menahan tubuh Jordan yang tiba-tiba saja terhuyung jatuh dan langsung tidak sadarkan diri. Tak menunggu lama, Ron langsung membawa Jordan ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan.
***
Ron menjalankan kaki nya ke kanan dan ke kiri menunggu kabar dari Dokter yang masih belum selesai memeriksa keadaan Jordan. Tentulah dia merasa iba dengan banyaknya ujian hidup yang harus Jordan alami. Semuanya terjadi secara bersamaan dan semuanya berkaitan dengannya. Tiba-tiba penyesalan datang menghantam hatinya.
__ADS_1
Seandainya aku lebih awal menemukan kebenaran tentang nona Gaby, anda pasti tidak akan menderita begini, Tuan. Andai saja anda bukan putra dari Ayah anda yang begitu gila perempuan, pasti ada akan baik-baik saja sekarang ini Tuan.
Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Jordan keluar. Ron berjalan mendekat untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Tuannya saat ini.
" Bagaimana keadaan pasien Dok? " Tanya Ron khawatir.
" Pasien mangalami dehidrasi, anemia yang parah dan sepertinya Pasien dalam keadaan yang stres. Saya sarankan untuk membiarkan pasien banyak beristirahat dan penting bagi pasien agar merasa lebih baik dan melupakan stres yang berlebihan. "
Ron mengangguk mengerti. " Terimakasih, Dok. "
Ron duduk disamping Jordan yang masih terpejam tak sadarkan diri. Entah itu masih pingsan atau dia sedang tertidur. Rasa bersalahnya bertambah besar saat melihat Jordan kembali tak berdaya dengan selang infus yang tergantung di atas nya. Mungkin, Jordan bisa menerima perpisahan orang tuanya. Tapi sepertinya kehilangan Gaby dan masalah adiknya adalah pukulan terberat dan paling sakit untuk Jordan terima.
" Tuan, tolong bertahanlah dan anda harus kuat. Anda akan punya anak, Tuan. Bertahanlah untuk anak anda. " Ucap Ron menatap pilu Jordan yang masih saja tertidur di Brankar rumah sakit.
Ponsel Ron bergetar dan ternyata, itu adalah salah satu orang yang ditugaskan untuk mengawasi Rendy.
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Ron bergegas bangkit karena sudah mendapatkan kabar bahwa Rendy sudah kembali ke rumahnya. Ditatapnya lagi Jordan sebelum pergi meninggalkannya.
" Tuan, maaf kalau nanti aku akan kehilangan kendali. " Ucap Ron lalu pergi ke luar dari bangsal. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Ron memerintahkan beberapa orang kepercayaannya untuk menjaga Jordan dan jangan membiarkan siapapun mengetahui keberadaan Jordan, apalagi sampai ada orang selain Dokter yang masuk ke dalam ruangan Jordan.
Ron dan beberapa orang lainya menuju ke rumah Rendy.
Sesampainya disana, Ron mendesak penjaga rumah untuk membuka pintu utama. Memang tidak mudah masuk ke rumah Rendy jika tidak bersama Jordan. Tapi ini dia lakukan juga agar masalahnya lebih cepat diselesaikan dan Tuannya agar cepat membaik dan tidak lagi stres.
Cukup lama dia berdebat hingga akhirnya penjaga rumah itu tidak bisa lagi menolak dan terpaksa mengizinkan Ron dan yang lainya masuk untuk menemui Rendy.
" Wah...! malam-malam begini kalian begitu menyempatkan diri untuk datang, ada apa? " Rendy ruapanya sudah menyambut kedatangan Ron tanpa rasa takut sedikitpun.
__ADS_1
Ron menatap kesal laki-laki yang menjadi suami Diana. Gadis yang selaku ia lindungi layaknya adik kandungnya sendiri. Mengingat betapa dingin dan ketusnya Rendy saat berbicara dengan Diana melalui sambungan telepon kemarin, rasanya amarah Ron semakin naik dan bertambah setiap detik nya.
" Dimana kau menyembunyikan Nona Gaby? " Tanya Ron yang tidak mau berbosa-basi. Apalagi melihat wajah yang tersenyum dengan begitu bajingan itu, dia malah semakin ingin memukulnya.
" Aku tidak menyembunyikannya. " Rendy tersenyum lalu menenggak segelas wine yang sedari tadi berada di tangannya.
" Kau pikir aku akan percaya? " Ron semakin menatap kesal wajah Rendy yang justru terlihat meremehkan saat ini.
" Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya membantunya untuk tidak bisa ditemukan oleh Jordan. "
Ron yang sedari tadi menahan diri tiada henti, akhirnya menyerah dan langsung berjalan cepat ke arah Rendy. Ron langsung mencengkram baju Rendy. Menariknya dan langsung memukul Rendy.
" Apa kau sadar apa yang kau lakukan?! " Bentak Ron lalu mendorong Rendy mundur dengan kasar.
" Kenapa? aku hanya membantu Gaby bebas dari penjara kejam yang membelenggunya. "
Ron kembali meraih baju Rendy yang tidak berkerah itu. Tatapannya tajam menatap Rendy yang begitu menyebalkan baginya.
" Kau begitu perduli dengan kakak ipar mu. Tapi kau mengacuhkan istrimu sendiri?! huh?! kau pikir kau siapa?! "
Rendy menepis tangan Ron kasar.
" Urusan antara aku dan Diana, tidak perlu kau mengurusnya. "
" Dasar bajingan! "
Bersambung...
__ADS_1