
Gaby dan pria yang baru ia ketahui bernama Rendy sedang duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di pelataran panti asuhan.
" Anda sering datang ke sini? " Tanya Gaby. Dia tak henti-hentinya tersenyum karena Nino ada digendongan nya. Tadi saat Gaby akan beranjak pergi, tiba-tiba Nino menangis kencang. Gaby yang tidak tega langsung menggendongnya. Benar-benar di luar ekspetasi karena Nino kembali tertidur nyenyak.
Pria nampak terdiam sesaat sebelum menjawab. " Iya. "
" Bagaimana suasana hatimu sekarang? "
Gaby tersenyum sembari mengelus pipi Nino. Bayi yang masih merah itu benar-benar nyenyak dan sama sekali tidak terganggu oleh percakapan antara Gaby dan Rendy.
" Aku merasa lebih baik. " Gaby menjawab tapi matanya tetap terpaku oleh Nino. Rendy benar-benar merasa lega karena Gaby sudah terlihat lebih baik.
" Kau menyukai Nino? "
Gaby menatap Rendy sesaat lalu mengangguk saat tatapannya kembali kepada Nino. Entah sihir apa yang di miliki bayi itu, rasanya Nino benar-benar memberikan bongkahan kekuatan yang selama ini sulit ia dapatkan dengan cara apapun.
" Jika kau yakin bisa mencintainya, kau bisa mengadopsi Nino. "
" Siapa ibunya Nino? "
Rendy menghela nafas kasarnya.
" Tidak tahu. Nino ditemukan sekitar sepuluh hari yang lalu di tempat pembuangan sampah. "
" Apa?! " Gaby menatap Rendy dengan tatapan kesal. Rendy yang menerima tatapan itu hanya tersenyum karena paham jika bukan dialah orang yang seharusnya menerima kekesalannya.
" Dasar gila! kenapa dia melakukan itu?! apa dia tidak punya hati? "
Rendy terkekeh mendengar umpatan Gaby. Sungguh, pria itu benar-benar terpesona oleh wajah cantik Gaby yang terlihat natural. Melihat bagaimana cara menanggapi masalah Nino juga menjelaskan bahwa dia wanita yang baik.
***
" Tuan! " Panggil Ron yang terengah-engah karena dia berlari untuk menuju ruangan Tuannya yang tak lain adalah Jordan.
Jordan yang saat itu sedang membahas sebuah dokumen bersama Shisil kompak menatap Ron dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
" Ada apa? " Tanya Jordan.
" Kabar tentang Nona Gaby. Ini sangat penting. "
Jordan terdiam. Bukanya dia tidak mau tahu atau tidak merindukan wanita itu. Hanya saja, rada tidak percaya dirinya membuatnya tidak sanggup mendengar nama Gaby. Yang akan ia ingat hanyalah keburukan dan kebodohannya selama bersama Gaby.
" Jangan mengatakan apapun tentang dia. " Jordan kembali menatap dokumen yang sedang ia bahas bersama Shisil.
Ron mengeraskan rahang dengan kepalan tangan yang semakin kuat.
" Tuan, anda boleh saja tidak mau perduli. Tapi aku ingin meminta cuti beberapa hari. "
Jordan mengeryitkan dahinya sembari menatap Ron penuh tanya.
" Apa yang ingin kau lakukan? ''
Ron menatap tegas manik mata Tuannya. Ini adalah kali pertama dia berani menatap manik mata Tuannya yang selalu membuatnya menunduk hormat. Tapi Masalah kali ini benar-benar tidak bisa di abaikan. Jika saja dia menuruti perkataan Tuannya, maka disaat nya nanti dia lah orang pertama yang akan disalahkan karena tidak memberikan informasi yang cepat.
" Aku ingin menemui Nona Gaby dan membantunya mengurus beberapa hal. "
Jordan menatap kesal Ron. Kali ini Ron benar-benar nekat hingga tak terlihat rada hormat atau pun sedikit saja takut padanya.
" Buka saya yang tidak waras. Tapi anda yang tidak waras. " Ron berbicara dengan nada tenang tapi tajam maksud dari ucapannya itu.
" Ron, kau sedang menguji kesabaran ku? "
Ron memberikan sebuah amplop coklat kepada Tuannya tanpa ingin menjawab.
" Lihat itu terlebih dulu, Tuan. Setelah itu anda bebas memaki saya. Atau, biarkan saya yang akan memaki anda mewakili Nona Gaby. "
Jordan mendesah kesal laku meraih amplop itu dengan kasar. Doa membukanya dengan wajah yang begitu tersulut emosi.
" Ini? " Jordan mengeryit bingung membaca isi dari sebuah surat perjanjian yang di ganda tangani oleh Ayahnya dan Ayah angkat Gaby.
" Nona Gaby dipaksa untuk menikahi Ayah anda karena Ayah anda menjanjikan suntikan dana kepada Tuan Arnold. Nona Gaby juga dimanipulasi untuk dijadikan alat sebagai penghancur keluarga Chloe yang berada di luar negara kita. Tapi karena kegagalannya, seluruh anggota Arnold menuntutnya untuk bertanggung jawab atas semua kerugian yang sebenarnya ulah mereka sendiri. Perusahaan Arnold bangkrut dalam waktu dua hari karena serangan dari Chloe, KBR, dan Dirgantara. " Ron menjeda ucapannya lalu menatap nanar Tuannya yang kini terduduk lemas.
__ADS_1
" Tuan, dari awal hingga akhir Nona Gaby lah yang menjadi korban. Anda sudah mengetahui masa kecilnya yang menakutkan bukan? dia sudah mengalami banyak luka, hingga aku dengar dia mencoba untuk loncat dari gedung rumah sakit. " Ron memberikan sebuah rekaman video yang tak sengaja tertangkap oleh kamera cctv.
Seluruh tubuh Jordan menjadi begitu gemetaran. Dia mulai mengingat apa saja yang sudah ia lakukan selama ini. Memukul, menendang, memaki, membentak, menghina, bahkan memaksa untuk berhubungan intim dengan kasar dan yang paling tak bisa ia tahan saat membiarkan Gaby pergi sendiri ke rumah sakit dan membuatnya kehilangan calon anak mereka. Dia mengangkat kedua tangannya yang gemetar itu lalu menatapnya nanar. Dia sungguh menyesali tindakan gilanya kepada wanita yang ia cintai. Namun cepat ia tepis dan lebih memikirkan keadaan Gaby sekarang ini.
" Ada dimana istriku sekarang? " Tanya Jordan dengan mata yang sudah sangat merah.
" Seseorang membawanya, Tuan."
Jordan bangkit dengan tatapan khawatir. " Siapa yang membawanya? "
" Dia bukan sekedar membawanya, tapi dia juga yang sudah menyelamatkan nona Gaby. "
" Jangan bertele-tele. Beri tahu aku dimana dan siapa yang sudah membawanya dalam keadaan tidak stabil? bisa saja orang itu akan melakukan kejahatan kan? meskipun dengan penampilan yang lusuh, istriku masih bisa menarik pria untuk mendekatinya. "
Ron menghela nafasnya sembari menatap jengah Tuannya yang tiba-tiba menunjukkan ekspresi khawatir yang berbalut emosi. Andai saja informasi ini lebih cepat di dapatkan, mungkin saja dia tidak perlu banyak menghabiskan tenaga untuk mengancam beberapa wanita yang coba masuk dalam kehidupan rumah tangga Tuannya.
Tak membuang waktu, Jordan dan Ron serta beberapa orang pengawal ikut menemani untuk mendatangi tempat dimana Gaby berada saat ini. Jordan membuka galery di handphone nya. Meski hubungannya tak baik, dia benar-benar enggan menghapus photo kebersamaan mereka sebelum kesalahan pahaman ini terjadi.
" Gege, apa kau baik-baik saja sekarang? aku akan menjemputmu dan menebus segala kesalahan ku padamu. Aku akan membuat mu bahagia dan mengobati luka yang sudah aku berikan. " Gumam Jordan sembari mengelus wajah Gaby yang masih terlihat berisi dan segar.
Satu jam perjalanan sudah di tempuh. Jordan dan yang lainya kini sudah berada di pelataran panti asuhan yang mulai terlihat sepi. Maklum saja, hari sudah mulai menjelang malam saat itu.
Ron mengetuk pintu beberapa kali dan tak berapa lama pintu akhirnya terbuka.
" Selamat malam, ada yang bisa saya bantu? " Tanya salah satu pengurus panti.
" Antar aku menemui istriku. "
" Istri? " Tanya pengurus panti yang bingung dengan siapa yang di maksud pria itu.
" Bisa biarkan kami menemui nona Gaby? "
Pengurus panti itu mengangguk lalu mempersilahkan untuk masuk.
" Dimana istriku? " Tanya Jordan yang terlihat sekali tidak sabaran.
__ADS_1
" Biarkan aku yang menemuinya. " Jordan mengikuti langkah pengurus panti yang menuntunnya hingga sampai kesebuah ruangan yang berada banyak anak-anak sedang tertidur pulas. Matanya menatap wanita yang ia cinta sedang menimang seorang bayi di gendongannya.
Bersambung......