
Jordan yang sebenarnya sudah berdiri tak jauh dari Gaby tentulah dia mendengar semua yang dikatakan istrinya. Semua hal jahat yamg dilakukan Tuan Arnold sungguh sangat keterlaluan, dan jauh dari kata manusiawi. Apalagi saat dia mendengar bahwa dia pernah berniat melecehkan istrinya. Marah, sungguh dia marah, tapi hukuman mati adalah hukuman yang sangat ringan untuknya. Melihat tangan Gaby gemetar, Jordan dengan cepat berjalan menahan tubuh Gaby yang seperti ingin ambruk. Saat dia menoleh untuk menatap Jordan, mata uang biasanya tegas kini terlihat seperti kesakitan. Jordan menyangga tangan Gaby, lalu menggerakkan tangan kirinya untuk menatap mata Gaby.
Dor.......
Suara tembakan terdengar begitu nyaring setelah Jordan menekan jari telunjuk Gaby yang memegang kendali atas pelatuk dari pistol yang ia pegang.
" Aku, aku sudah membunuhnya? " Tubuh Gaby gemetar, bahkan dia sampai menahan tangan Jordan agar tidak menjauh dari matanya.
" Bukalah matamu, sayang. " Ucap Jordan sembari menurunkan tangannya perlahan.
" Dia? "
Gaby mengambil alih pistol yang dipegang Gaby lalu memberikan kepada Sammy.
" Sayang, sudah cukup. Aku sengaja mengalihkan arah tembakan mu. Kematian adalah hukuman yang paling ringan, biarkan dia menderita atas segala kesalahan nya, sampai Tuhan sendirilah yang mencabut nyawanya. Gaby sebenarnya ketakutan saat ini. Takut kalau dia akan menjadi pembunuh, takut kalau tangannya ternodai, dan anak-anaknya menanggung status sebagai anak dari seorang pembunuh.
" Kau tidak mengenai organ vital, dia pasti masih akan hidup. Sekarang, kita pergi kerumah sakit ya? wajahmu sudah sangat pucat, tubuhmu juga dingin. " Tak mau mendengar tanggapan Gaby, Jordan langsung memapah tubuh Gaby dan membawanya kedalam mobil.
" Nyo, Nyonya, anda masih hidup kan? " Tanya Norita yang sudah menunggu di mobil. Bibirnya gemetar menahan tangis sampai membuat tenggorokannya terasa sakit. Sebenarnya tadi dia ingin mendampingi Gaby lebih lama, tapi saat Jordan datang dan memintanya segera menyiapkan mobil, mau tidak mau dia harus segera pergi sembari berdoa terus menerus agar Bos wanitanya baik-baik saja.
__ADS_1
" Tentu saja, dia adalah istriku. Kala aku tidak mati, maka dianjuga tidak akan bisa mati. " Ucap Jordan lalu mengecup kening Gaby.
" Sayang, aku mengantuk. " Ucap Gaby yang sudah terlihat tida tahan lagi membuka matanya.
" Sayang, tetaplah sadar. Tahan rasa kantuk mu, kau tahu? Ele mengirim lukisan barunya. Dia melukis kau, aku, Mark dan Mike. Putri kita mengatakan jika ingin memberikan padamu saat kau pulang nanti. Mark dan Mike juga masih menangis dan memintamu untuk segera pulang. Mereka sangat nakal, sayang. Hari ini dia membuat dua babysiter mereka memakai sendal berbeda, dia juga mengigit jempol Ele saat Ele lembah. " Gaby terkekeh lirih, beginilah cara Jordan membuat istrinya agar tetap tersadar, menceritakan bagaimana kenakalan Mark dan Mike yang ia rekayasa sendiri sebaik mungkin agar terdengar masuk akal oleh Ibunya.
Setelah sampai dirumah sakit, Gaby langsung mendapatkan penanganan. Cukup lama menunggu operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang ditubuhnya. Susana juga semakin tidak baik saat operasi Ayahnya sudah selesai. Iya, Ayahnya kehilangan banyak darah, sama seperti Gaby. Tapi untunglah ada Jordan juga yang memiliki golongan darah sama. Berat, untuk meninggalkan ruangan operasi Gaby, tapi dianjuga perlu mentranfusi kan darahnya. Setelah transfusi darah selsai, Jordan kembali ke ruang operasi Gaby. Awalnya Dokter begitu sibuk keluar masuk ruang operasi membawa beberapa kantung darah, tapi dua puluh menit setelah itu Dokter keluar karena operasi telah selsai.
" Bagaimana Dok? " Tanya Jordan dan Norita bersamaan. Dokter itu menghela nafasnya sebentar lalu tersenyum.
" Pasien sempat drop karena kehilangan banyak darah, tapi untunglah pelurunya tidak berbelok dan tidak mengenai organ vitalnya. Untuk sementara waktu ini biarkan saja pasien istirahat. Nanti setelah sadar, barulah bisa dijenguk. " Norita dan Jordan kompak mendesah lega. Iya, setidaknya Gaby sudah baik-baik saja sekarang. Setelah melihat bagaimana Gaby dari pintu yang terdapat kaca ditengah-tengah bagian atas, Jordan akhirnya bisa lebih bernafas lega. Sekarang giliran dia datang ke ruang operasi ayahnya yang masih belum rampung. Tak lama dari Jordan datang, Dokter juga sudah keluar dari ruang operasi.
" Bagaimana keadaan Ayahku, Dokter? " Taya Diana yang sedari tadi tak bisa berhenti menangis. Jordan merangkul Diana agar adiknya sedikit lebih tenang.
" Kakak, bagaimana dengan kakak ipar? " Diana yang sedari tadi panik sampai lupa dengan kaka iparnya yang terkena tembakan juga.
" Dia juga baik-baik saja meski sempat kehilangan banyak darah. " Diana tersenyum lalu memeluk erat tubuh Jordan. Bahagia sekali rasanya.
" Semoga semua ini berakhir, kak. Aku tida ingin lagi melihat hal menakutkan semacam ini. Aku ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama kalian. Ayah, Ibu, Kakak dan kakak ipar, anak-anak kita, Rendy dan semua keluarga kita yang lain. "
__ADS_1
" Iya, setelah ini semua akan baik-baik saja. "
Setelah memastikan Ayah dan Istrinya aman, Jordan mendatangi ruangan dimana Tuan Arnold sedang dioperasi. Di sana sudah ada Sammy dan Ron yang berjaga.
" Tuan? " Sapa Sammy dan Ron.
" Bagaimana keadaannya? " Tanya Jordan.
" Sempat kritis karena kehilangan banyak darah, tapi saat ini Dokter sedang mengupayakan yang terbaik. " Jawab Ron.
" Bagaimana keadaan di TKP? " Tanya Jordan.
" Kondisi menguntungkan Nyonya, Tuan. Sebelum masuk ke dalam, Tuan Arnold sudah merusak kamera pengawas, untungnya ada satu kamera pengawas yang lolos dari pandangannya, jadi ada bukti kalau dia yang sengaja merusaknya. Tidak akan ada masalah yang terjadi kepada Nyonya. Aku akan menjelaskan kepada Polisi bahwa tembakan itu terpaksa dilepaskan karena tersangka terus berbuat membuat onar. Sniper yang disewa Tuan Arnold juga berada ditangan kita. Setelah polisi datang kemari, baru kita akan menyerahkan sendiri sniper itu ke kantor polisi. " Ucap Sammy laku menjelaskan secara detail krobologi kejadian agar tidak memberatkan Gaby.
" Terimakasih untuk kerja keras kalian hari ini. " Sammy dan Ron terdiam lalu saling menatap. Iya, tentu mereka tida tahu bagaimana menanggapi ucapan terimakasih dari Tuannya, bukankah seharusnya mereka disalahkan karena lalai dan terlambat memperhitungkan?
" Tuan, kami meminta maaf untuk kejadian ini. Kami tahu nyawa anda dan Nyonya adalah yang terpenting, jadi kami siap menerima hukuman untuk kelalaian kami yang mengakibatkan Nyonya dan Ayah anda dalam bahaya seperti sekarang ini. " Ucap Ron dengan jelas mewakili bagaimana pikiran Sammy saat ini.
Jordan tersenyum memegang kedua pundak mereka.
__ADS_1
" Justru karena kalian lah aku tidak kehilangan Istri dan Ayahku. Kalian selalu menomor satukan apapun tentangku, bagaimana bisa aku menyalahkan kalian? "
Bersambung