Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Lima Pasien


__ADS_3

Satu jam sudah Gaby berada di ruang operasi. Sammy masih saja berjalan ke kanan dan ke kiri karena merasa panik. Iya, pria yang biasanya tenang itu kini tengah panik dan dan bingung sendiri. Sebisa mungkin dia mengontrol dirinya agar tetap tenang dan memikirkan bagiamana angkat selanjutnya. Iya, saat Gaby kesakitan beberapa saat yang lalu, Dokter menyarankan untuk segera melahirkan bayinya lebih cepat. Alasannya karena Kondisi Gaby yang syok membuat nya mengalami kontraksi secara tiba-tiba. Ditambah lagi keadaan fisik dan jiwanya yang sedang kacau, membuat tekanan darahnya sangat rendah. Jadi mau tidak mau dia hanya bisa melahirkan bayinya lebih cepat dengan proses sesar. Segera setelah persetujuan dari Gaby, Sammy langsung menghubungi Rose dan beberapa pengawal untuk membawa Ive ke rumah sakit.


Sekarang Sammy harus benar-benar fokus dengan tiga orang penting yang berada di rumah sakit. Jordan, Gaby, dan Ele. Oh, tunggu! bahkan akan segera lahir dua bayi lagi yang berarti ada lima pasien. Ini benar-benar seperti sejarah langka yang luar biasa. Satu keluarga tengah di rawat di rumah sakit dengan kasus yang berbeda.


Setelah operasi selesai, Dokter menyampaikan kepada Sammy bahwa kedua bayinya masih memerlukan perawatan intensif sementara waktu ini sampai jantung dan paru-parunya siap. Gaby yang di bius separuh tubuh nya kini tengah berlinangan air mata melihat kedua bayi nya yang telah lahir ke dunia. Bayi kembar berjenis laki-laki itu menangis lirih. Awalnya Gaby memang merasa takut kalau akan terjadi sesuatu dengan bayi nya, tapi berkat Dokter yang terus mengajak nya berbicara dan menenangkannya, dia akhirnya bisa sedikit rileks. Apalagi operasi donor darah tali pusat untuk Ele juga akan segera di laksanakan setelah Ele menjalani beberapa tes hari ini.


Sammy mengikuti perawat yang tengah membawa dua bayi milik Tuannya itu terus tersenyum bahagia. Kelahiran bayi kembar laki-laki ini akan membuat banyak hal berubah. Seperti kesembuhan Ele, kebahagiaan juga pasti akan akan bertambah di keluarga Jordan. Sesampainya di ruang NICU, Sammy terus memantau dua bayi itu yang kini tengah di baringkan di dalam inkubator. Beberapa alat juga sudah lengkap terpasang di tubuh dua bayi mungil itu. Setelah semua nya selesai, Sammy kembali menghubungi pengawal yang menjaga ruang Gaby untuk segera berpindah ke ruang NICU. Sadar sih, tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruang NICU, tapi Tuan Arnold adalah pria licik. Akan lebih baik kalau berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu. Karena target pria itu adalah kelemahan Nona Gaby agar bisa mengendalikannya lagi. Jadi kalaupun ruangan Gaby tidak di jaga, tidak akan ada yang terjadi dengannya.


Setelah dua pengawal berjaga di ruang NICU, Sammy sekarang beranjak menuju ruang Jordan. Iya, katanya Jordan sudah sadarkan diri beberapa saat laku.


" Selamat sore, Tuan. " Sapa Sammy setelah membuka pintu lalu tersenyum seperti biasanya saat menyapa Jordan.


" Sammy, bagaimana dengan Ele? apa dia menangis menunggu ku? " Tanya Jordan panik. Jordan memang belum tahu apapun karena dia belum lama tersadar.


" Tuan, bukan hanya Ele saja yang menangis. " Ucap Sammy. Jordan tertunduk lesu merasa bersalah.


" Gaby apa dia tahu apa yang terjadi dengan ku? " Jordan menatap selimut yang menutup' sebagian tubuhnya itu dengan perasaan sedih. Sungguh dia sama sekali tidak bisa kalau harus melihat Gaby dan Ele menangis. Tapi semua ini juga terjadi dengan tiba-tiba. Dia sungguh tidak bisa menghindarinya lagi.


" Tuan, tenanglah, sebentar lagi semua akan baik-baik saja. "


Sammy tersenyum menatap Jordan setelah menepuk pundak Jordan beberapa kali.


" Aku telah mengecewakan Ele. Aku tidak datang dan memenuhi janji ku padanya. Bagaimana aku bisa baik-baik saja? "


" Tuan, semua keinginan Ele hari ini akan benar-benar terpenuhi. " Ucap Sammy serius.

__ADS_1


Jordan menegakkan tatapannya menatap Sammy dengan mengeryit menandakan kalau dia tengah bingung. Sammy menghembuskan nafas nya laku tersenyum.


" Tuan, operasi donor tali pusat akan dilaksakan pukul enam sore nanti. "


Jordan mengeryit lagi karena masih belum paham.


" Maksud mu? bagaimana bisa itu terjadi? "


" Tuan, kedua bayi kembar mu sudah lahir. "


Jordan terdiam dengan tatapan tidak percaya.


" Apa kau bilang? "


" Iya, kedua putra anda sudah lahir, Tuan. "


" Sammy, bawa aku menemui Gaby dan anak-anak ku. Aku juga harus menemui Ele. Alu harus meminta maaf. Tolong. " Pinta Jordan dengan tatapan memohonnya.


" Tuan, tapi anda baru saja sadar, tunggu saja beberapa saat lagi. " Pinta Sammy.


" Sammy, tolong. Sangat penting bagiku untuk berada di sisi mereka. Aku ingin memberikan semangat juga meminta maaf. Aku tidak bisa tenang kalau tidak bertemu dengan mereka. "


Sammy menghembuskan nafas kasarnya. Benar-benar keras kepala. Kalau dituruti, dia khawatir dengan kondisi Jordan. Kalau tidak, di turuti, di pasti tidak akan bisa tenang. Bisa-bisa, Jordan nekat dan berusaha menemui anak dan istrinya sendiri, dan itu sangat bahaya bagi kesehatannya. Akhirnya Sammy mengalah dan meminta izin kepada Dokter. Tentu saja dia perlu memohon dan membujuk memberi pengertian, barulah Dokter memberikan izin degan syarat-syarat tertentu.


" Ge? " Panggil Jordan pelan karena Gaby tengah tertidur di Brangkarnya. Sungguh dia tidak bermaksud untuk membangunkan Gaby, tapi tangannya begitu tidak tahan untuk menyentuh kepala Gaby dan mengusap nya pelan.

__ADS_1


" Jordan? " Gaby mulai terbangun saat sebuah tangan mengusap kepalanya. Gaby berusaha bangkit meski bagian perutnya terasa sakit. Dengan cepat Jordan menahan tubuh Gaby agar tetap berbaring.


" Jangan bangun. Aku tahu kau kesakitan. "


Gaby dan Jordan saling menatap dan saling menahan tangis. Tapi karena merasa tida tahan lagi, akhirnya mereka menangis bersamaan. Jordan yang saat itu tengah duduk di kuris roda hanya bisa menggenggam tangan Gaby lalu memberikan kecupan disana.


" Maaf, Ge. Maaf karena tidak menemani mu saat kau berjuang melahirkan bayi kita. "


Gaby menggeleng pelan dengan air mata yang masih membasahi sudut matanya.


" Ini semua bukan salah mu, Jordan. Jordan, terimakasih karena kau baik-baik saja. Terimakasih karena tidak meninggalkan kami. "


Jordan mengusap tetesan air mata yang mengalir dari ekor mata istrinya.


" Aku tidak akan mati semudah itu. Aku pasti akan menyesal kalau mati secepat itu dan meninggalkan istri secantik dirimu. " Jordan dan Gaby tersenyum bersamaan sembari menyeka air matanya.


" Kau istirahat lagi? aku ingin menemui Ele, setelah itu baru menemui bayi kembar kita. Sebentar lagi kita akan di pindahkan ke ruangan yang sama. " Gaby tersenyum lalu mengangguk.


Setelah keluar dari kamar Gaby, Sammy dan Jordan kini menuju ke Ele.


" Sammy, aku tahu kecelakaan ku tidak sesederhana itu. Siapa yang melakukanya? " Tanya Jordan.


" Awalnya kami menduga itu Tuan Arnold. Penguntit yang terus membuntuti Anda juga sudah berhasil di tangkap. Ternyata benar, Tuan Arnold dalang dari semua ini. "


" Pria tua itu benar-benar sudah bosan melihat matahari terbit dan tenggelam rupanya. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2