Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Memohon


__ADS_3

Gaby sekuat tenaga melawan Jordan agar tak berbuat nekat. Tapi benar begitu sulit melawan Jordan yang memiliki tubuh tinggi besar.


" Hentikan Jordan! apa kau lupa?! aku baru saja mengalami keguguran! aku masih berdarah! apa kau mau membunuh ku?! "


Jordan membeku seketika mendengar penuturan Gaby. Dia mulai beranjak menjauh dari Gaby lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sendiri tidak tahu kalau akan bertindak segila ini. Tapi apapun tindakannya, dia hanya ingin mempertahankan Gaby di sisinya. Dia juga tidak mungkin dengan mudah menerima Selena sebagai istri barunya apapun itu alasannya. Apalagi, kehamilan Selena sangat aneh. Aneh, karena dia tidak bisa mengingat kapan kejadian itu. Meskipun mabuk, dia seharusnya mengingat apa yang terjadi, sama seperti saat dia memaksa Gaby melayaninya. Dia dengan jelas mengingat semuanya saat bangun pagi hari.


" Ge, menurut lah untuk sementara ini. Aku tidak akan menceraikan mu. Aku juga tidak akan menikahi Selena. Kadi urungkan saja rencana mu untuk memberontak. Karena sampai aku atau kau menjadi bangkai, kita akan tetap terikat oleh tali pernikahan ini. "


Jordan bangkit dari posisinya dan meninggalkan Gaby sendiri di dalam kamar. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Lebih baik jika dia menjauhi Gaby agar tidak membuatnya tertekan.


Jordan kembali ke ruang tamu untuk menyelesaikan urusannya dengan Selena.


" Sayang kau kembali? " Selena hendak berjalan mendekati Jordan, seperti biasa dia akan memeluk lengan Jordan dan bergelayut manja disana. Tapi, Jordan saat ini benar-benar tidak bisa di ajak manja-manjaan. Fokusnya hanya satu. Yaitu mencegah pernikahan itu terjadi sebelum bisa membuktikan kebenaran tentang bayi yang ada dikandungan Selena.


" Berhenti dan menjauhlah dariku! " Jordan menghempaskan kasar tangan mungil Selena. Dia sudah memberikan banyak luka untuk Gaby, dia tidak ingin melukai wanita yang ia cintai itu lagi. Apapun hubungannya dengan Selena, semua itu berawal dari hubungan saling menguntungkan dan tidak ada sentuhan fisik yang terjadi. Terkecuali malam yang masih misteri bagi Jordan itu.

__ADS_1


" Kau ini kenapa? mau atau tidak, kita akan segera menikah! cobalah untuk mengerti. " Selena menatap Jordan tegas setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.


" Berhentilah bermimpi Selena Arnold. Kau pikir aku anak-anak yang hanya akan mengangguk setuju tanpa berpikir? pergilah dan jangan pernah kembali. " Jordan memanggil penjaga rumahnya untuk menyeret Selena keluar. Tentu saja gadis itu memberontak dengan kata-kata ancaman.


" Jordan kau akan menyesal! aku tidak akan membiarkan kau dan wanita sialan itu bersama! kau hanya untukku! kau tidak boleh memilihnya! aku akan membuat wanita itu menderita kalau kau tetap memilihnya! "


Ancaman itu mulai tak terdengar saat tubuh Selena semakin menjauh dari rumah itu. Jordan menghela nafasnya sesaat lalu berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Sesampainya disana, Jordan langsung meraih ponsel sebelum mendudukkan tubuhnya di kursi.


" Ron, kau sudah mendapat kabar? "


Setelah memutuskan sambungan teleponnya. Jordan menyenderkan kepalanya di senderan kursi dengan pikiran yang tengah menerawang beberapa kejadian yang masih sulit untuk ia terima. Dia kembali menegakkan tubuhnya dan membuka laci lalu mengeluarkan sebuah benda pipih berwarna hitam putih. Sebuah photo USG yang Ron berikan beberapa waktu lalu.


" Nak, berbahagialah di surga. Maafkan Ayah yang tidak melindungi mu. Maafkan Ayah yang tidak memperhatikan mu. Setelah keadaan Ibu membaik, bisakah kau kembali kepada kami? Ayah janji akan menjaga mu dengan baik. " Jordan mencium photo hasil USG itu dengan perasaan sendu. Memang inilah kenyataan hidup ya h sudah menjadi tradisi tak terelakkan, penyesalan akan datang saat kenyataan menyadarkan mu akan sesuatu yang sangat berarti.


" Ge, maaf jika mungkin aku akan menyakitimu lagi. Tapi aku hanya ingin kau perlahan-lahan mulai mencintai ku lagi. Aku akan melakukan apapun agar kau tetap bertahan dengan ku. Tolong beri aku kesempatan sekali ini saja. Aku tahu aku laki-laki bejat yang tidak mudah untuk diberi maaf. Tapi apa yang aku lakukan hanyalah ingin mendapatkan cintamu lagi, Ge. Tolong jangan semakin membenciku. "

__ADS_1


Jordan memutuskan untuk menghabiskan malamnya di ruang kerja pribadinya. Dia sebenarnya ingin sekali kembali ke kamar dan tidur memeluk Gaby. Tapi apa yang terjadi diantara mereka tadi seolah mempertebal tembok untuk kembali mendekatkan hati Gaby padanya.


***


Di dalam kamar, Gaby duduk di sofa sembari menatap jendela yang mengarah ke halaman depan.


" Kebebasan, Kebebasan, kemana aku harus mencari mu? atau, tolong hampiri aku dan biarkan aku pergi bersama mu" Gaby bernyanyi dengan nada lirih. Matanya juga terpaku ke arah luar dengan perasaan tertekan.


Gaby membayangkan betapa bahagianya dia beberapa tahun yang lalu. Saat dia dengan percaya diri memimpin sebuah perusahaan, menjadi seorang model untuk brandnya, menjadi seorang yang kuat seperti yang di inginkan Ayah angkatnya, yaitu Tuan Arnold. Tapi ada satu hal yang tidak bisa mengerti saat ini. Kenapa dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri? kenapa dia begitu terikat oleh Tuan Arnold yang jelas hanya memanfaatkannya untuk membalaskan dendam kepada keluarga Chloe. Saingan bisnis yang memulai usaha bersama dari nol. Tapi Chloe dengan waktu yang cepat sudah bisa naik level dan semakin maju dari tahun ke tahun. Rasa iri dan dengki Tuan Arnold dan mendiang Ayahnya mencoba segala cara untuk memasuki Chloe. Yaitu, dengan memungut Gaby dan menjadikannya sebagai umpan yang meyakinkan.


Gaby sudah melakukan apapun yang bisa ia lakukan, tapi kekalahan yang tidak bisa ditolak karena melawan tiga perusahaan besar, membuatnya bangkrut dan harus jatuh ke dasar yang paling dalam. Tidak hanya sudah kehilangan orang yang dia cintai, tapi dia juga sudah kehilangan segalanya. Perlahan dia menjauh dan hanya bisa memperhatikan pria idamannya diam-diam yang semakin hari semakin mesra bersama istrinya. Dia pikir, mungkin dia tidak akan merasakan kebahagiaan dicintai dan mencintai orang yang sama. Sampai akhirnya Jordan datang dalam hidupnya, perlahan-lahan dia mulai menyusup ke hatinya dan mengukir indah namanya. Sayang, cinta itu berubah menjadi kebencian dalam hitungan waktu.


Gaby memejamkan matanya karena masa lalu yang menyakitkan itu sudah berlalu, dan kini sudah digantikan dengan sakit lain yang lebih terasa perih dari sebelumnya. Berdoa pun rasanya sudah tidak ada gunanya. Karena setiap kali dia meminta, yang dayang hanyalah luka, luka, dan luka yang seolah tidak akan habis dan tidak ada ujungnya.


" Tuhan, jika kau benar-benar ada, tolong jangan begitu kejam padaku. Aku sudah menderita seperti ini, apa kau masih ingin lebih membuat ku sakit dan menderita? tolong cabutlah pedang yang kau tusukkan padaku. Biarkan aku percaya jika kau benar-benar ada dan nyata. "

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2