
Jordan semangat menunggu Gaby dan putrinya pulang. Dia bahkan tak henti-hentinya tersenyum membayangkan bagaimana bahagianya bisa melihat langsung wajah istrinya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Ditambah lagi, sebentar lagi dia akan bertemu langsung dan ini pertama kali baginya melihat wajah putrinya. Entah bagaimana menggambarkan rasa bahagia yang kini Jordan rasakan. Dia bahkan tidak lelah mondar mandir sembari celingukkan siapa tahu istri dan anaknya sudah pulang.
Sembari menunggu, Ron yang tidak bisa teralihkan dari wajah dua anak kembar itu kini semakin tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya. awalnya dia pikir, kemiripan wajah mereka hanyalah sepintas saja. Tapi anehnya, semakin diperhatikan, wajah mereka justru semakin mirip dengan wajah seseorang yang ia kenal meskipun hubungan mereka tidak baik.
" Ngomong-ngoming, Ayah kalian dimana? " Tanya Ron selembut mungkin karena takut mereka akan bereaksi kurang menyenangkan.
" Kami tidak punya Ayah. " Jawab Deon.
Jordan kini teralihkan dan sontak menatap sepasang anak kembar itu.
" Tidak punya Ayah? " Tanya Ron bingung. Begitu juga dengan Jordan.
" Jadi kalian hanya tinggal bersama Ibu kalian? " Tanya lagi Ron yang semakin berani saat menyadari jika anak kembar itu tidak keberatan dengan pertanyaan semacam itu.
" iya. " Jawab Leon.
" Tuan, aku tidak yakin ini benar atau salah, tapi aku jadi penasaran tentang ini. " Ron kini menatap Jordan seolah meminta pendapat darinya.
Jordan nampak berpikir sejenak memikirkan apakah tindakan ini tepat atau tidak. Tapi dia sendiri juga penasaran apakah dugaannya benar atau hanya sekedar mirip saja.
" Lakukan saja kalau mereka mengizinkan. Tapi saran ku, lebih baik kau katakan yang sebenarnya saja. Lagipula mereka sudah hampir remaja. Mereka pantas untuk tahu. Tapi jangan dibiarkan memiliki harapan yang terllau besar. "
Ron mengangguk dan kembali fokus dengan sepasang anak laki-laki yang memiliki wajah tampan itu. Sungguh Ron tidak menyangka akan menemukan anak kembar dengan fisik yang begitu menawan. Apalagi rambutnya yang blonde itu selalu mengingatkan dia dengan seseorang yang ia kenal.
" Begini anak-anak, paman mencurigai seseorang sebagai Ayah mu. "
" Benarkah? " Tanya mereka yang kini mulai terlihat antusias.
__ADS_1
" Tapi ini kan hanya kecurigaan saja. Tapi kalian mau tidak membantu paman untuk mencari kebenarannya? "
" Mau! " Jawab mereka semangat.
" Baiklah, paman hanya butuh beberapa helai rambut kalian saja. Apa boleh? "
" Rambut? kenapa rambut paman? "
Ron tersenyum dan mencoba untuk menjadi lebih sabar lagi agar bisa menjelaskan segalanya dengan baik.
" Jadi begini, anak-anak. Kalau kalian memberikan rambut kalian, paman akan mencocokkannya dengan rambut atau darah Ayah kalian. Bagaimana? "
" Kami tidak mengerti, paman. "
Ron menghela nafas kasarnya karena malas menjelaskan hal-hal seperti ini kepada anak-anak. Tapi maklum sajalah, mereka hidup di pesisir pantai dan hanya memiliki satu tetangga saja. Pastilah cara berpikir mereka tidak seluas kebanyakan anak yang hidup di tengah kota dengan fasilitas yang lengkap.
Meski masih belum paham, Leon dan Delon memutuskan untuk mengikuti ala yang dikatakan oleh Ron. Entah mengapa juga mereka begitu yakin kepada Ron yang terlihat baik dan sepertinya tidak akan melakukan ha yang macam-macam kepada mereka. Setelah mencabut beberapa helai rambut mereka, dengan wajah polos mereka menyerahkan rambutnya kepada Ron. Ron tersenyum dengan senang hati menerima rambut itu dan menyimpannya baik-baik di saku celananya setelah dibungkus dengan saputangan yang selalu ada di sakunya.
Langit mulai gelap, deburan angin laut membawa hawa dingin yang mulai merasuk ke kulit mereka. Sebenarnya Leon dan Deon sudah mempersilahkan mereka masuk, tapi karena takut tidak melihat Gaby, Jordan dengan tegas menolak dan lebih memilih untuk tetap berada di teras rumah mereka yang begitu minimalis. Ron yang tidak tega melihat Jordan juga ikut menemaninya disana. Yah, meskipun sebenarnya dia begitu kedinginan.
" Kenapa mereka belum pulang juga ya? apa tidak apa-apa para wanita berjalan di jam ini? jalan menuju pesisir pantai ini kan sangat jarang orang lewat. "
Jordan semakin gelisah menunggu Gaby yang entah dimana dan belum juga pulang.
" Paman, masuk saja dulu. Saat Ibuku pulang nanti, bibi juga pasti akan pulang. Lagi pula mereka sudah terbiasa pulang malam saat berbelanja kebutuhan dapur. Nanti akan ada paman Samuel yang mengantar mereka pulang, kok. "
Jordan dan Ron kompak mengeryit menatap Leon yang berucap begitu.
__ADS_1
" Samuel? siapa itu Samuel? " Tanya Jordan.
" Paman Samuel adalah pemilik salah satu kios makanan di pusat kota. Biasanya Ibuku dan Bibi akan pulang bersama paman Samuel. Rumah paman Samuel ada di ujung sana. " Tunjuk Leon yang entah apa yang ada di sana. Selain penerangan yang kurang, disana juga masih banyak pepohonan yang menghalangi jarak pandang.
Semoga saja yang namanya Samuel itu tidak berniat kepada istriku.
Waktu menunjukan pukul dua puluh waktu negara A. Jordan masih setia menunggu kedatangan Gaby dan putrinya. Hingga samar-samar terdengar suara mobil yang sepertinya berhenti di jalan utama. Jordan bangkit seketika untuk melihat siapa yang turun dari mobil itu.
Dua wanita dan satu anak kecil perempuan yang ada di gendongan seorang pria. Meski penerangan yang terbatas, tapi dari bentuk tubuh dia bisa memastikan jika itu adalah Gaby. Wanita yang selama ini ia rindukan. Tapi saat matanya melihat ke arah seorang pria, hatinya mulai bergerumuh kesal. Bagaimana tidak? pria itu tengah menggendong seorang anak perempuan yang ia yakini bahwa itu adalah putrinya dengan Gaby.
Tidak Jordan! jangan melakukan hal gila lagi. Sudah cukup. Jangan lagi melalukan kekerasan di depan istrimu dan mengingatkannya dengan semua luka di masa lalu.
Jordan masih diam di tempatnya dan menunggu Gaby menuju rumahnya, barulah dia akan menyusulnya. Setelah pria yang tak lain adalah Samuel menyerahkan Ele kepada Gaby, dia langsung kembali ke mobil untuk menuju ke rumahnya. Gaby, Rose dan Ele juga berjalan bersamaan menuju rumah mereka masing-masing.
" Itu siapa ya? " Tanya Rose yang tentu bisa dengan jelas melihat seorang pria berdiri di teras rumahnya. Sayangnya penerangan yang terbatas itu membuat mereka tidak bisa degan jelas melihat wajah dari pria itu.
" Mungkin, dia pria mu. " Ujar Gaby tersenyum meledek.
" Tidak mungkin. Dia tidak akan mungkin menemui ku. Biarpun dia datang, aku akan mengusirnya pergi seberapa banyak pun dia datang. "
Gaby menatap Rose yang terlihat begitu mendendam dengan Ayahnya Leon dan Deon.
Melihat pria itu itu beranjak dan berjalan menuju ke arah mereka. Baik Rose maupun Gaby hanya bisa menatap tubuh tinggi besar itu semakin mendekati mereka. Hingga tepat berada di hadapan mereka dan sedikit jelas untuk dilihat wajah dari pria itu.
" Ge? "
TBC
__ADS_1