
Jordan menatap manik mata Gaby dengan tatapan tak berdaya. Sungguh dia tidak bisa menjawab pertanyaan Gaby. Untuk Ele, tentu dia akan melakukan apapun. Tapi, kalau sampai ada anak lagi, sudah pasti dia tidak kan bisa meninggalkan Gaby dan Ele nantinya. Satu anak saja sudah membuatnya rindu setengah mati. Bagaimana kalau sampai ada dua anak? mungkin Gaby tidak akan menghalangi nya untuk bertemu anak-anaknya nanti. Tapi tentu saja tetap akan terasa berat bagi Jordan melewati hari-hari tanpa dua anaknya. Pilihan ini memang begitu membuatnya dilema.
" Ge, sejujurnya aku pernah berjanji kepada diriku sendiri untuk menjauh dari kehidupan kalian berdua. " Jordan memegang pegangan pembatas teras rumahnya.
" Aku merasa bahwa hidup mu dan Ele menderita karena ku. Aku bersedia menjauh saat Ele sembuh nanti. Aku akan mencoba sekuat tenaga memendam perasaan rindu ku untuk kalian. Tapi kalau ada anak lagi, bagaimana aku bisa menghadapinya? dilain sisi aku ingin Ele sembuh. Di sisi lain, aku takut tidak akan sanggup menjauh dari satu anak ku lagi. Kalau aku tidak menjauh, aku sangat takut kalian akan menderita. " Jordan menunduk menumpahkan air mata yang sedari dia tahan. Sungguh dia sudah tidak ingin di maafkan oleh Gaby lagi. Sudah tidak ada lagi hasrat untuk memohon agar Gaby tetap berada disisi nya bersama dengan Ele. Dia hanya ingin Gaby dan putri mereka bahagia meski dia harus rela menjauh dan menahan segala rasa di hatinya.
" Jadi, aku harus bagaimana? " Tanya Jordan dengan suara yang bergetar dan terlihat begitu tidak berdaya.
Gaby menatap punggung Jordan dengan tatapan nanar. Jujur, apa yang dilakukan Jordan di masa lalu memang sangat menyakitinya. Tapi sekarang, ada Ele dan dengan jelas menunjukkan bahwa dia sangat mencintai Jordan sebagai Ayahnya. Gaby juga bisa melihat dengan jelas betapa cintanya Jordan dengan Ele. Marah, mendendam, dan rasa sakit bukanlah apa-apa yang bisa dibandingkan dengan rasa sakit Ele. Gadis kecil itu tentu jauh lebih penting dari apapun. Meski hati masih memiliki bekas rasa sakit, maka Ele adalah obat dari segala rasa sakit. Jadi biarkan Ele hidup dan melihatnya terus tersenyum pasti semua akan baik-baik saja.
Gaby perlahan berjalan mendekati Jordan. Ditatapnya lagi punggung bidang yang hanya beberapa jengkal dari wajahnya. Pria itu memang terlihat tenang, tapi Gaby tahu jika tengah menangis dan mencoba untuk menutupinya. Gaby mengepalkan kedua tangannya sembari menelan salivanya. Biarkan saja semua menghilang bersama angin yang berhembus menerpa kulit mereka. Hanya cukup bertekad dan biarkan semua luka pergi menjauh bersamaan dengan hembusan angin.
Grep....!
__ADS_1
Gaby memeluk tubuh Jordan dari belakang. Sungguh dia bisa merasakan kehancuran yang dirasakan Jordan. Tapi ini bukan salahnya. Semua ink terjadi karena faktor keturunan yang di dapatkan Ele dari Nenek dan Pamannya.
" Berhentilah menyalahkan diri mu sendiri. Ini bukan hanya salah mu, tapi juga salah ku. Tidak perlu lagi takut memikirkan masa depan yang belum tentu sesuai dengan yang kita bayangkan. Mari lihat saja Ele. Dia adalah satu-satunya obat luka yang aku miliki selama ini. Dan Ele, dia juga adalah putri mu yang pasti akan membuat mu merasa bahwa kau adalah Ayah yang serba bisa. Maka hanya ingat Ele dan jangan memprediksi apapun yang belum tentu akan terjadi. "
Jordan terdiam sesaat lalu mengangguk. Dia meraih tangan Gaby yang memeluknya erat. Dia menggenggam tangan itu agar merasa lebih kuat lagi. Jika saja bukan karena sakit Ele, mereka pasti tidak akan pernah berada di posisi seperti sekarang ini. Saling menguatkan, memasak bersama, berjalan-jalan bersama, tertawa bersama, melakukan hal dengan tujuan yang sama dan hidup untuk alasan yang sama.
" Ge, aku tahu ini tidak akan bisa menggantikan apa yang sudah kau lakukan demi Ele. Tapi aku ingin berterimakasih padamu. Terimakasih karena sudah melahirkan putriku, terimakasih karena mengajari putriku sopan santun yang baik, terimakasih karena merawat putriku dengan baik, terimakasih karena masih sudi mencantumkan nama ku untuk putri kita. Terimakasih untuk semua perjuangan mu untuk hidup Ele. "
Gaby semakin mengeratkan dekapannya sembari menangis. Dia benar-benar tidak menyangka kalau akan mendengar itu semua dari Jordan. Lagi pula Ele adalah putrinya yang pasti akan dia jaga dengan sangat baik. Tapi entahlah, kata-kata Jordan barusan seperti sebuah sentuhan yang menyentuh hatinya lembut dan membawa rasa haru.
" Ini adalah kali pertama aku melihat senyum mu yang begitu indah setelah sekian lama. " Ucap Jordan sembari memandangi wajah Gaby yang masih lah sama seperti dulu. Wanita yang di juluki wanita antagonis di dunia nyata karena masa lalunya yang sudah bukan rahasia lagi.
Perlahan-lahan Jordan menundukkan wajahnya mendekati bibir Gaby. Canggung memang yang dirasakan Gaby. Tapi semua ini harus terjadi agar nyawa Ele juga bisa lebih cepat tertolong.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Jordan akhirnya berhasil mendaratkan bibirnya di bibir wanita yang selama ini ia rindukan. Sungguh tadinya hanya ingin menciumnya sebentar untuk mengurangi rasa rindunya. Tapi saat Gaby merespon ciumannya, semua jadi berubah tujuan. Jorda dan Gaby sama-sama terlihat agresif hingga akhirnya terus menyesap dengan begitu rakus.
Jordan dan Gaby menghentikan ciumannya sesaat untuk mengambil nafas. Mereka juga baru menyadari jika ternyata mereka berada di teras. Tak mau menunggu lama, Jordan akhirnya menuntun tubuh Gaby untuk masuk kedalam rumah dan melanjutkan apa yang seharusnya mereka lanjutkan.
***
Rose tersenyum melihat Gaby dan Jordan yang sepertinya sudah saling memaafkan. Iya, kalau tidak mana mungkin mereka seperti hewan buas begitu?
" Baguslah, kalian memang terlihat berjodoh. Aku tahu, banyak sekali kesalahan yang tidak bisa dengan mudah di maafkan. Tapi apa yang terjadi di antara kalian adalah kesalah pahaman yang begitu panjang. Kalau aku bertemu dengan dia lagi, mungkin aku bahkan tidak akan sudi melihatnya. " Rose kembali tersenyum bahkan hampir cekikikan saat Jordan dan Gaby terus berciuman sembari masuk kedalam rumah.
" Aku benar-benar berharap kalian bahagia bersama. Ge, Jordan tidak berniat meninggal mu. Dia mencari mu kemana pun. Tapi aku? dia senagaja meninggalkan aku. Tentu saja aku akan memaafkan jika aku adalah dirimu, Ge. "
Rose kembali menatap langit sembari menikmati hembusan angin yang terasa begitu menyejukkan. Sudah empat belas tahun, dan dia masih saja seperti ini. Mau sampai kapan sebenarnya? sebentar lagi pasti sudah akan sulit menjawab pertanyaan Leon dan Delon.
__ADS_1
" Haih.... Tidak tahu lah. Lebih baik main selancar saja. Pikiran ku jadi kemana-mana karena melihat Jordan dan Gaby tadi. Hah! benar-benar derita single parent. "
Bersambung...