Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Negeri Dongeng


__ADS_3

Hari telah berlalu dan berganti minggu, minggu juga berganti bulan, bulan kini telah berganti tahun. Semua masih sama bagi Jordan. Pria itu kini semakin dingin dan tidak mengenal kasih. Setiap berbicara dia hanya akan menatap kesal laku diam atau sekedar Hem. Sudah semua cara ia gunakan untuk mencari keberadaan Gaby. Tapi semua selalu berujung mengecewakan. Jika pagi hari sampai sore hari Jordan akan menjadi pria dingin dan gila kerja, tapi saat malam dia kan berubah mnejadi pria rapuh yang selalu menangisi ketidak adanya Gaby disisinya. Empat tahun sudah berlalu, tapi rasanya bahkan seperti ratusan tahun lamanya Jordan menjalani hari.


Disebuah ruangan yang memiliki penerangan terbatas, Jordan duduk termenung di sudut ruangan. Tidak ada suara apapun, dan yang terdengar hanyalah suara nafasnya sendiri.


" Ge, berapa lama lagi aku harus menunggumu? aku tida tahan lagi, Ge " Jordan meringkuk memeluk photo Gaby. Ini adalah rutinitas Jordan saat malam. Mematikan semua lampu dan menangisi istri yang dulu ia sia-siakan.


" Ge, apa kau dan anak kita baik-baik saja? apa anak kita laki-laki atau perempuan. Apa kalian menjalani hidup dengan baik? apa kalian tinggal di tempat yang layak? "


Jordan mengusap wajahnya yang basah karena air mata yang berjatuhan membasahi pipinya. Perlahan dia bangkit lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Ron. Pria yang sekarang ini sudah seperti sahabat serta keluarga kandungnya sendiri.


" Ron, bagaimana? "


Masih sama Tuan.


" Apa Rendy melakukan pergerakan yang berhubungan dengan Gaby? "


Tidak ada, Tuan. Sepertinya, Tuan Rendy juga tidak tahu keberadaan nona Gaby. Ada beberapa informasi yang mengatakan jika Tuan Rendy memang sengaja menutup semua informasi tentang nona Gaby. Bahkan dia juga tidak berniat mencarinya, jadi sudah pasti dia tidak mau tahu tentang nona Gaby.


" Kau yakin? laki-laki itu plin-plan. Kau tahu kan? "


Iya, Tuan. Aku akan mengerahkan lebih banyak mata-mata untuk mengawasinya, Tuan. Semoga kita tidak akan kecolongan nantinya.


" Baiklah, semoga kita bisa mendapatkan informasi tentang istriku secepatnya. "

__ADS_1


Semoga saja, Tuan.


Jordan kini melangkahkan kaki perlahan menuju tempat tidurnya. Dia membaringkan tubuh ke arah tempat dimana biasa Gaby berbaring disebelahnya. Sungguh, rasa kehilangan itu begitu besar hingga ia tidak sanggup untuk menghadapinya. Terkadang dia juga masih tak bisa menerima kenyataan bahwa dia adalah orang yang memiliki peranan besar atas kepergiannya Gaby. Jika saja waktu bisa di putar, maka dia ingin sekali memperbaiki sikapnya terhadap Gaby. Wanita yang dengan jelas ia sakiti dari dua sisi. Verbal dan fisik yang berimbas kepada luka hati yang tidak mudah untuk disembuhkan. Terkadang Jordan berpikir jika kepergian Gaby adalah sebagai bentuk hukuman serta pengujian cinta untuknya, maka dia akan dengan kerelaan hati menerimanya. Tapi urusan cinta tetap tida mau mengerti. Dia tanpa mengenal lelah masih terus berusaha mencari keberadaan wanita terkasih beserta anak yang sama sekali belum pernah ia lihat.


" Selamat malam, istri dan anakku. Mimpi indah ya? " Jordan meringkuk sembari memeluk photo Gaby erat.


***


Di sebuah rumah sederhana yang berada di pinggiran pantai. Seorang anak berusia tiga tahun lebih, tengah berlarian dengan wajah yang begitu ceria. Rambut hitam berkilau sebahu itu membuat wajah cantik gadis kecil yang bernama Velerie Joreby, atau biasa di panggi Ele.


Iya, Ele adalah anak dari Gaby dan Jordan. Gadis kecil itu tumbuh menjadi anak yang periang dan sedikit manja. Tapi dibalik sifat manjanya itu, Ele juga begitu mandiri dan penyayang.


" Ibu.... Ibu....." Ele berlari mencari keberadaan Ibunya yang kini tengah membuat kerajinan tangan berupa tutup saji. Ini adalah kegiatan Gaby selama berada disana. Dan ini juga adalah salah satu mata pencahariannya. Meski tidak lagi hidup dengan kemewahan, nyatanya hidup sederhana seperti ini mampu membuatnya hidup bahagia bersama Ele.


" Lihat Ibu, lihat ini. " Ele menunjukkan sebuah kerang cantik berwarna putih yang tidak sengaja ia temukan di pesisir pantai.


" Wah, ini cantik sekali. " Gaby meraih kerang putih itu dan mengaguminya meski sebelumnya sudah biasa melihat kerang putih seperti itu, tapi karena ini dari Ele, tentulah menjadi kerang paling indah yang ia temui.


" Ibu suka? " Tanya Ele yang merasa bahagia saat melihat Ibunya begitu menyukai temuannya.


" Tentu saja Ibu menyukainya. " Gaby menyentuh ujung hidung Ele lalu tersenyum kepadanya.


" Baiklah, ambil saja. Itu untuk Ibu. "

__ADS_1


" Terimakasih, Ele. Ibu akan baik-baik menyimpannya. " Ele mengangguk bahagia.


" Baiklah anak manis, ini waktunya untuk makan siang. " Gaby meraih tubuh Ele dan menggendongnya menuju meja makan minimalis dan terlihat begitu sederhana. Baik meja, kursi, bahkan dinding rumahnya juga terbuat dari kayu.


Dengan telaten Gaby mencuci wajah, tangan serta kaki Ele yang terkena pasir tadi. Setelah itu barulah dia mendudukkan Ele di kursi meja makan untuk menikmati makan siang mereka.


" Ayo buka mulutnya, sayang. A... " Ele membuka mulutnya dan memakan suapan demi suapan yang Ibunya berikan. Beruntunglah hari ini Ele tidak memprotes menu makan siangnya yang belum berubah dari pagi. Karena biasanya dia akan menolak makanan yang sama dalam waktu satu haru. Ele memang mudah bosan tentang apapun, termasuk mainan apalagi makanan. Tapi ini bukan menjadi masalah bagi Gaby. Meski pendapatannya hanya cukup untuk biaya makan Ele, dia tetap menikmati hidup dengan bahagia dan semangat.


Satu jam setelah makan siang, ini adalah waktunya bagi Ele untuk tidur siang. Gadis kecil itu kini sudah berbaring sesuai titah sang Ibu yang memintanya untuk tidur.


" Baiklah, dongeng apa yang ingin kau dengar? " Tanya Gaby sembari meraih buku cerita yang terletak tak jauh dari tempat tidur Ele.


" Ibu, semua dongeng selalu ada Ayah dan Ibu. Apa Ayah hanya ada di dongeng saja? " Tanya Ele dengan wajah yang terlihat begitu polos tanpa ekspresi.


" Sayang, kenapa tiba-tiba menanyakan ini? " Sebenarnya, hati Gaby kini benar-benar terasa tersentil hingga dadanya nyeri. Dia tahu kalau momen seperti ini pasti akan terjadi. Dia terlalu sibuk hingga tidak mau lagi pusing memikirkan tentang hal ini. Sosok yang pasti akan dicari atau ditanyakan kehadirannya oleh Ele.


Ele, bagaimana Ibu harus menjawab pertanyaan mu? Maafkan Ibu yang akan terus berbohong tentang Ayah mu.


" Aku hanya penasaran, Ibu. " Gaby tersenyum lalu memeluk tubuh Ele. Entah bisa dibilang beruntung atau tidak. Rumah yang ada di pesisir pantai itu hanya ada dua. Semetara yang lainya berada di pinggiran jalan utama yang lumayan jauh dari pesisir pantai. Hanya ada rumah Gaby dan Ele, lalu rumah seorang janda dengan dua putra nya yang sudah mulai remaja. Namanya adalah Rose, tetangga sekaligus satu-satunya teman Gaby untuk berbagi suka maupun duka bersama.


" Ibu, kalau aku menginginkan Ayah, apa Ayah akan ada untukku? rasanya aku ingin hidup di negeri dongeng. Agar memilik Ayah dan Ibu. "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2