Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Where are you?


__ADS_3

Gaby duduk di pinggiran tempat tidur. Bukan di kamarnya tapi dikamar Jordan. Entah harus apa dia sama sekali tidak perduli sekarang. Semenjak kakinya masuk kembali ke rumah besar itu, semangat dan kebahagiaan yang sempat ia rasakan seolah musnah begitu saja. Dia tidak lagi memiliki ke harapan untuk bahagia. Hatinya kembali membeku dan tak lagi perduli entah tubuhnya mati atau hidup. Bagi Gaby, dia telah mati bersama anaknya saat kecelakaan itu.


" Aku bantu kau mandi ya? " Sadar Gaby tiba-tiba kembali tak bersuara dengan tatapan putus asa, Jordan perlahan membantu Gaby untuk mandi karena tubuhnya lengket setelah berlarian menghindarinya tadi. Perlahan dia mengangkat tubuh Gaby yang mirisnya sangat ringan. Jordan seakan ingin menangis saat merasakan tubuh istrinya tak berbobot hingga tangannya gemetar.


" Sementara pakai sampo milikku dulu ya? besok baru kita beli barang kebutuhan mu. " Gaby tak menjawab.


Perlahan Jordan menyalakan kran Shower dan mulai memandikan Gaby. Jujur saja sebagai laki-laki normal tentulah dia bereaksi saat melihat tubuh polos istrinya. Tapi melihat keadaan yang yang tak begitu mendukung, Jordan hanya bisa menahannya sekuat mungkin.


Selesai sudah kegiatan Jordan memandikan Gaby. Kini ia dengan telaten membantu Gaby memakai pakaian tidurnya.


" Tunggulah di sini. Aku akan memanggil pelayan untuk membawa makan malam mu. " Gaby masih diam dengan tatapan kosong.


Jordan memegangi dadanya saat keluar dari kamarnya. Mungkin ini adalah hukuman baginya karena menyia-nyiakan istrinya. Tapi dia juga sudah menguatkan dan memantapkan hatinya terus bersabar hingga istrinya kembali seperti sedia kala. Kembali menjadi Gaby yang tersenyum manis dan cerewet. Gaby yang dulu memiliki tubuh ideal bak model terkenal dan wajah yang tak setirus sekarang ini.


" Ge, ini makanan mu. " Ucap Jordan saat memasuki kamar dengan sepiring makanan ditangannya.


Tak mendapatkan jawaban, Jordan akhirnya duduk disamping Gaby dan mulai menyodorkan sesendok nasi. Nihil, Gaby sama sekali tak merespon atau bahkan terlihat menghela nafas. Jordan sebentar memutar otak. Dia memasukkan makanan ke mulutnya lalu memindahkannya ke mulut Gaby. Tetap saja, Gaby hanya diam dan tak terlihat menguyah apalagi menelan makanannya. Cukup lama itu terjadi hingga Jordan benar-brnar frustasi. Bukan frustasi karena marah, tapi dia merasa sangat frustasi karena Gaby begitu enggan menelan nasi. Jordan kembali memikirkan cara agar istrinya mau memakan makanan walau hanya sedikit. Benar, dia teringat dengan bayi yang didekap Gaby saat di panti tadi.


" Ge, kalau kau mau makan, aku akan membawa mu menemui bayi yang tadi kau gendong. "


Gaby sontak menatap Jordan untuk memastikan apa yang dijanjikan pria itu benar atau tidak. Setelah itu, dia langsung menatap sepiring nasi yang tengah dipegang oleh Jordan. Dia langsung meraihnya dan menghabiskannya dengan cepat. Entah itu enak atau tidak dia benar-benar tidak perduli karena yang paling penting adalah bisa bertemu dengan Nino.

__ADS_1


Jordan menatapnya sendu.


Kau pasti sangat terpukul atas kematian anak kita. Aku berjanji padamu, Ge. Aku akan menghukum siapapun orang yang sudah melakukan kejahatan ini.


" Makanlah perlahan, besok pagi kita akan pergi ke sana. " Ucap Jordan sembari mencoba mengelus kepala Gaby. Tapi yang terjadi, Gaby justru menutup kepalanya menggunakan satu telapak tangannya seolah sedang melindungi kepalanya agar tidak terkena pukulan dari Jordan.


Jordan menurunkan tangannya dengan perasaan sedih yang begitu dalam. Gaby benar-benar sudah begitu terbiasa menerima perlakuan buruk dan siksaan darinya. Bahkan saat ingin berlalu lembut kepada Gaby, dia justru sudah membentengi dirinya karena Jordan tidak akan menjadi sosok baik di mata Gaby.


Aku berjanji padamu, Ge. Tidak akan ada Jordan brengsek itu lagi. Aku tidak tahu pantas atau tidaknya aku meminta maaf, tapi aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki segalanya meski aku tahu ini tidak akan mudah.


Tok Tok


Jordan bangkit untuk membuka pintu setelah beberapa kali ketukan.


" Maaf mengganggu Tuan, ini barang milik Nona Gaby. "


Jordan menerima barang-barang milik Gaby dan menyuruh pelayan itu untuk kembali ke tempatnya. Sebelum memeriksa barang milik Gaby yang terbungkus tas hitam itu, Jordan memutuskan untuk menunggu pemiliknya tertidur.


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Gaby mulai tertidur dengan posisi miring membelakangi Jordan. Perlahan Jordan mengambil tas hitam milik Gaby dan membukanya. Tidak ada yang spesial rupanya. Tapi mata Jordan terpaku saat benda terakhir yang ia keluarkan.


Ini surat cerai yang aku berikan.

__ADS_1


Jordan langsung membuka amplop itu dan membukanya. Setelah terbuka dan melihatnya, dia kini bisa bernafas lega karena ternyata Gaby belum menandatanganinya. Walau sebenarnya, Gaby yang dalam keadaan kacau tidak memikirkan surat cerai atau apapun itu. Fokusnya hanya ada pada bayinya yang meninggal karena keteledorannya dan anggapannya bahwa bayinya mati karena ulah Jordan.


" Bayiku,... " Gaby yang baru saja tertidur beberapa menit sudah mulai gelisah dan mulai mengigau tentang bayinya.


" Ge, aku tahu ini berat bagimu. Tapi terimalah kenyataan bahwa bayi kita sudah kembali kepada Tuhan. Kita akan memiliki bayi lagi setelah ini. " Jordan meraih tubuh istrinya dan memeluknya, dia benar-benar berharap akan membawa ketenangan bagi istrinya. Tapi dia melupakan sesuatu. Dia adalah orang yang membuat Gaby mengingat semua kepahitan yang sulit untuk ia terima dengan ikhlas.


***


Setelah mendengar kabar jika Gaby dijemput seseorang yang mengaku suaminya, Rendy kini tengah berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Gaby dan pria yang mengaku suaminya itu. Situasi yang tidak mendukung ternyata mempersulit usahanya. Mulai dari kamera pengawas yang sudah satu minggu rusak, kurangnya interaksi antara pengruss panti dan pria yang mengaku suaminya Gaby. Pengurus panti hanya menyebut satu nama yaitu, Ron. Tapi, itu tidak mungkin, karena Ron yang ia kenal belum memiliki istri.


" Dimana dia berada sekarang? " Rendy menyenderkan kepalanya di senderan kursi kerjanya. Meski ia tahu rasa itu salah, tapi dia juga tidak bisa memaksa hatinya untuk tidak khawatir kepada wanita cantik yang bernama Gaby itu.


" Jika benar dia sudah memiliki suami, mana mungkin dia sekacau itu? disaat terpuruk karena kehilangan calon bayinya, seharusnya ada suami yang bersamanya kan? itu pasti bohong. " Rendy kembali menegakkan tubuhnya. Sungguh sulit menghilangkan bayang-bayang wajah Gaby yang seolah meresap ke dalam otak nya.


" semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang memungkin kan untuk kita berdua ya? " Rendy tersenyum mengingat kembali wajah cantik Gaby yang begitu natural. Bahkan dalam keadaan yang begitu lusuh, kurus dan nampak putus asa dia masih saja begitu cantik.


" Aku penasaran, seperti apa saat kau masih baik-baik saja. "


Rendy mencoba membuka Google dan mengetik nama Gaby. Memang ada beberapa gadis selebriti dengan nama itu, tapi mata Rendy tertuju pada seorang gadis yang kini telah hengkang dari dunia modeling. Yaitu, Gaby Razita.


" Ini kau? jadi kau benar-benar orang yang memiliki riwayat di dunia entertainmen ya? kau benar-benar sangat cantik rupanya. "

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2