Hello, My Antagonis Wife

Hello, My Antagonis Wife
Usaha Tuan Edward


__ADS_3

Setelah sedikit membujuk Ibunya Jordan, kini mereka berempat duduk di sebuah ruangan untuk pertama kalinya. Tentu saja seperti yang sudah bisa ditebak, Jordan beserta Ibunya memasang wajah kesal dan malas saat berada di sana. Berbeda dengan Gaby yang masih bisa tersenyum manis, karena bagaimana pun damai di antara mereka benar-benar sangat di butuhkan untuk kelangsungan hidup mereka terutama kedamaian yang harus berlangsung lama.


" Kedatangan ku kesini, aku ingin meminta maaf. " Ucapan yamg sesungguhnya begitu sulit lolos dari mulutnya kini berhasil ia lontarkan dengan lancar. Meskipun mendapat tatapan tajam dari putra dan mantan istrinya, tapi niatan ini sudah benar-benar bulat dan tidak bisa lagi kalau harus di tunda-tunda, dan lagi dia juga ingin segera memperbaiki hubungan bersama anak-anaknya.


" Rencana licik apa yang sedang kau jalankan? " Tanya Ibu nya Jordan dengan tatapan heran, dan sesekali dia menaik turunkan manik mata menyelidik apa maksud pria brengsek yang telah menyakitinya dan anak-anak nya.


Tuan Edward memaksakan senyumnya tanpa berani lagi menatap bola mata mantan istri yang masih saja ia cintai sampai detik ini. Bukan takut, tapi rasa malu benar-benar membuatnya malu hingga tidak sanggup kalau harus menatap dua bola indah mantan istrinya yang terus menatapnya tajam. Bahkan, tatapan waspada juga masih saja begitu jelas terlihat, tentu saja ink menjadi sebuah pengingat akan banyaknya luka dan kejahatan yang ia lakukan sehingga tatapan waspada kepada dirinya begitu nampak dari mantan istrinya.


" Aku tidak memiliki niat lain, selain ingin mendapatkan maaf dari kalian, dan berikan sedikit kesempatan untukku agar bisa memperbaiki kesalahan ku. " Tuan Edward mengaitkan seluruh jemarinya menjadi sebuah genggaman yang ia harap dapat membuat dirinya tenang, dan air mata yang rasanya ingin sekali keluar itu tertahankan.


" Edward, meskipun saat sekolah menengah pertama kita sudah menjadi teman, tapi kau sudah jauh berubah hingga aku lupa bagaimana sifat aslimu, bagiku kau adalah Edward yang licik, arogan, dan kejam. Jika kau meminta maaf seperti ini, tidak mungkin kau tidak memiliki maksud lain. Apakah kau ingin menghancurkan putraku sampai sehancur-hancurnya? kapan kau akan berhenti? apakah ucapan mu yang dulu itu benar? kau bilang, saat melihat kami menderita kau akan bahagia, apa itu benar? " Ibunya Jordan kini mulai terlihat kesal jingga tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Rasanya sakit sekali karena melihat ayah kandung dari putranya sangat ingin menyakitinya dengan tangannya sendiri. Sudah puluhan, mungkin ratusan kali dia mengatakan jika Jordan adalah putranya juga, tapi semakin sering dia mengatakan itu, semakin semangat juga dia menyakiti Jordan.

__ADS_1


" Tidak, karena nyatanya, saat melihat kalian menderita, aku juga menderita meski aku tidak pernah menunjukkannya. Aku sungguh datang tanpa maksud apapun selain meminta maaf. Aku sungguh ingin memperbaiki hubungan, setidaknya untuk anak-anak kita. "


Ibu menatap pria yang dulu amat dia cintai, kepalanya menunduk tak berani menatap ke arahnya ataupun Jordan. Tuan Edward yang seperti ini, tiba-tiba mengingatkan dia dengan Edaward yang dulu sebangku dengannya saat sekolah. Dia sama sekali tidak berani menatap ke arahnya saat dia sedang jujur dan tulus. Sama seperti saat usia mereka delapan belas tahun, tepat dimana mereka lulus sekolah, Tuan Edward menyatakan cinta tanpa berani menatap Ibu. Bahkan suaranya juga terbata-bata dan gemetar seperti sekarang ini.


" Kau bilang anak-anak kita? apa kau mengakui kalau mereka anak-anak kita? alasan apa yang membuatmu percaya jika mereka adalah anak-anak kita? " Ibu yang melihat kejujuran dari dalam diri Tuan Edward, kini memfokuskan pertanyaan bagaimana bisa dia tiba-tiba bersikap seperti ini, dan apa alasan utamanya.


" Aku sudah tahu, aku tahu semuanya. Maaf, butuh waktu puluhan tahun untukku mengetahui kebenaran ini. " Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Tuan Edward, kini tidak bisa lagi ditahan dah sudah jatuh membasahi pipinya.


" Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi yang merasa terluka tentu bukan hanya aku aja. Jordan dan Diana yang sudah pasti kau ingat bagaimana kau menyakitinya. Kau juga menyakiti menantuku. Jadi kau minta maaf saja kepada mereka, aku masih tidak tahu harus mengatakan apa tentang ini. " Ibu bangkit lalu meninggalkan mereka semua yang tertinggal diruang tamu tanpa menoleh kebelakang lagi. Tinggallah Jordan, Gaby dan Tuan Edward disana. Lagi-lagi Gaby melihat bagaimana ekspresi suaminya yang masih juga sama. Baiklah, tentu keadaan atau hubungan yang sudah kacau begitu lama tidak mudah untuk diperbaiki. Maka Gaby hanya perlu membantu Tuan Edward agar bisa menunjukkan bagaimana caranya untuk menerobos masuk kedalam hati Jordan, Diana, dan Ibu mertuanya yang paling utama. Kenapa? karena Jordan dan Diana akan mengikuti apa yang Ibunya katakan.


" Tuan Edward, hubungan keluarga yang sudah lama kacau ini, membutuhkan kesabaran untuk diperbaiki. Semuanya akan membaik asalkan Tuan Edward tidak mudah menyerah. Tunjukkan saja kalau anda benar-benar tulus, maka Ibu dan anak-anak anda pasti akan merasa luluh. " Ucap Gaby lalu tersenyum ramah kepada Tuan Edward. Seketika itu, Tuan Edward jadi semakin bersalah kepada Gaby. Dia menyesali segala hasrat nya yang begitu menjijikkan kepada menantunya itu.

__ADS_1


" Aku mengerti, aku juga sangat tahu kalau tidak mungkin mudah mendapatkan pengampunan. " Tuan Edward kini menatap Jordan yang lebih memilih untuk menatap ke arah lain.


" Jordan, Ayah tahu kau sangat tidak ingin bertemu dengan Ayah. Tapi Ayah akan menunjukkan bahwa Ayah tidak main-main dan tidak akan dengan mudah menyerah. " Tuan Edward menatap Jordan penuh keyakinan. Itu semua benar-benar membaut Gaby merasa puas dengan hasil kerja yang mudah tapi memberikan hasil yang luar biasa seperti ini.


Setelah kepergian Tuan Edward, baik Jordan dan Ibu mertua benar-benar menjadi lebih pendiam dan banyak melamun. Terlebih Jordan yang masih saja betah menatap langit-langit saat sudah dini hari. Gaby yang tidak sengaja bangun jadi keheranan melibat suaminya yang hanya diam degan mata yang terus mengedip. Padahal, hal ini adalah hal yang bagus kan? kenapa juga malah terlihat sedih? apa lebih baik membiarkan Jordan dan Ayahnya berperang seperti kemarin saja? karena saat ingin melawan Ayahnya, Jordan nampak begitu antusias sekali. Sudahlah! dari pada memikirkan itu, mungkin mengalihkan fokus Jordan bisa membuatnya tertidur karena pagi nanti mereka harus bekerja kan.


" Sayang? " Gaby mulai memeluk Jordan.


" Ada apa? kenapa kau bangun? " Jordan memiringkan tubuhnya agar wajah mereka saling berhadapan. Bukan menjawab, Gaby justru melabuhkan ciumannya dan langusung menyesap bibir Jordan. Sebenarnya Jordan tidak dalam suasana hati yang bagus, tapi merasakan bagaimana istrinya yang begitu berinisiatif, tentu saja dia tidak bisa menolak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2