
Di sebuah pesta peresmian sebuah perusahan yang diselenggarakan oleh kenalan bisnis Jordan dan Tuan Edward. Seperti yang sudah di jadwalkan, hari ini Jordan, Gaby dan Ron menghadiri acara itu. Bak perebut panggung utama, Gaby mampu mengubah fokus dari si pemilik acara dan menguasai tatapan kagum dari para pembisnis yang menghadiri undangan. Tak terkecuali, Tuan Edward. Tatapan matanya brnar-benar sulit untuk dikontrol karena pesona Gaby yang menyihir matanya. Jordan yang kini terus menggenggam tangan Gaby juga semakin khawatir saat mendapati mata para lelaki terus tertuju kepada istrinya.
" Sialan! aku ingin mencongkel mata mereka. " Gumam Jordan dengan nada suara pelan. Kesal, dan juga emosi. Ditambah lagi dia juga melihat Ayah nya sendiri menatap istrinya penuh hasrat.
" Sayang, besok kalau kita akan menghadiri acara yang akan dihadiri banyak pria, jangan berdandan terlalu cantik dan jangan menggunakan baju terbuka seperti sekarang ini. " Ucap Jordan pelan yang hanya bisa di dengar oleh Gaby dan juga Ron saja.
Gaby menghela nafasnya lalu tersenyum. Mau bagaimana lagi? banyaknya uang yamg diberikan Jordan kembali membangunkan jiwa materialistis nya. Keinginan untuk memakai baju indah dan mahal juga sulit untuk dia tahan, maka jangan salahkan selera yang sudah kadung mendarah daging itu.
" Iya, aku tidak bisa janji sayang. " Jawab Gaby yang juga tersenyum menatap nya.
Gaby dan Jordan berjalan di tengah kerumunan dengan begitu menawan. Jordan dengan setelah jas berwarna hitam, Gaby dengan dress panjang dan bagian atas yang lumayan terbuka. Bagian dadanya juga memperlihatkan bentuk V di tengah-tengahnya. Kalung berlian yang berantai kecil itu tersemat cantik menghiasi lehernya. Anting-anting yang juga adalah edisi terbaru dan terbatas indah mempercantik daun telinganya. Senyum anggun dan menawan juga begitu sejuk dipandang mata. Tatanan rambut Curly di bagian ujungnya menambah ayu wajah cantik yang sudah tersapu make up tipis itu.
" Selamat Tuan Haris, atas resminya perusahaan baru anda. " Ucap Jordan yang membuyarkan kekaguman si pemilik perusahaan yang bernama Haris itu.
" Ah? I iya. Terimakasih karena telah memenuhi undangan dari kami. " Ucap Tuan Haris sembari menahan malu karena sedari tadi, dia terus saja menatap wajah cantik istri dari kenalan bisnisnya yaitu, Jordan.
" Sebuah kehormatan juga untuk kami bisa mendapatkan undangan dari anda. " Balas Jordan. Gaby yang tak terlalu tertarik untuk berbicara hanya menimpali ucapan suaminya dengan senyum di bibirnya.
Setelah cukup lama Jordan berbincang dengan Tuan Haris, kini giliran Jordan, Gaby dan Ron berbaur dengan rekan bisnis yang ia kenal di sana. Jordan dengan bangga mengenalkan Gany sebagai istrinya, dan Ron sebagai asisten sekaligus saudara nya juga.
Seperti yang direncanakan oleh Tuan Arnold dan Tuan Edward, seorang pelayan yang sudah dibayar itu mengantarkan dua gelas anggur untuk Jordan dan Gaby. Tanpa curiga sebelumnya, Jordan dan Gaby menerima anggur itu. Berbeda dengan Gaby, Jordan langsung meminum sedikit anggurnya. Gaby awalnya memang tidak menaruh curiga, tapi saat melihat Ron yang tidak diberikan anggur, Gaby mulai berpikir dan sedikit menaruh curiga. Dia mencoba mengendus anggur miliknya dan memastikan kalau tidak ada bau obat. Ternyata tidak ada. Sontak dia meraih anggur Jordan dan mengendusnya. Gaby mengeryit begitu juga dengan Jordan.
__ADS_1
" Sayang ada apa? " Tanya Jordan yang tidak paham dengan apa yang dilakukan istrinya.
" Ada obat di anggur mu. " Ucap Jordan yang membuat Ron tersentak kaget.
" Apa?! " Ucap Jordan dan Ron bersamaan.
" Tidak tahu obat apa, tapi lebih baik kau berjaga-jaga. Aku rada ini bukan obat yang mematikan, tapi ini hanya dugaan saja. " Ucap Gaby.
" Apa kita harus kerumah sakit? " Tanya Ron yang mulai terlihat khawatir.
" Tidak. Kau cari pelayan yang tadi mengantarkan minuman untukku, lihat obat apa yang dia masukkan tadi. " Titah Jordan kepada Ron.
Ron yang terbiasa sigap langsung menghubungi pihak CCTV setelah mendapatkannya dari Sekretaris Tuan Haris tadi. Setelah lima menit menunggu, akhirnya Ron mendapatkane photo wajah si pelayan yang mengantarkan minuman kepada Jordan dan Gaby. Dengan segera dia menuju ruang penyajian dan mencari ke beradaan di pelayan itu. Untunglah, pelayan itu belum pergi dari sana. Dengan langkah cepat, Ron berjalan mendekati si pelayan itu. Dia meraih kerah pelayan itu dan menariknya ke tempat yang tidak banyak orang.
" Berhenti menjadi bodoh. Lihat ini dan jangan lagi mengelak. " Ron menunjukkan sebuah photo saat pelayan itu memberikan anggur kepada Jordan dan Gaby.
" Sa Saya tidak mengerti apa yang ada maksud, Tuan. "
" Kau masih ingin berbohong?! katakan padaku, obat apa yang kau masukkan? atau kau akan tahu apa akibatnya. Aku tidak akan segan-segan menyeret mu ke kantor polisi malam ini juga. "
Merasa ketakutan akan dipenjara, pelayan itu dengan cepat mengakui segalanya.
__ADS_1
" Tuan, ampuni saya. Saya hanya dimintai untuk memasukkan obat ke salah satu minuman dua orang tadi. "
" Obat apa? " Tanya Ron menuntut jawaban dengan tatapan menyelidik dan juga seakan mengancamnya agar tidak berbohong.
" Saya tidak tahu, Tuan. Tapi saya memiliki bungkusnya. " Pelayan itu memberikan kemasan obat yang tadi berada di anggur Jordan. Sebagai seorang sekretaris yang sering menghadiri pesta semacam ini, ditambah juga Jordan pernah hampir meminum obat semacam ini, tentu saja Ron sudah cukup paham apa efek dari obat yang di minum Jordan.
" Siapa yang menyuruh mu? "
" Saya tidak tahu, Tuan. Dia memakai topi dan kaca mata hitam. Dia sama sekali tidak menyebutkan nama siapapun. "
Ron melepaskan cengkraman dari kerah pelayan itu. Mungkin hanya tebakan saja, tapi siapa lagi yang memiliki akal selicik ini kecuali Tuan Arnold? kalaupun Tuan Edward terlibat, tidak mungkin juga kalau bukan karena ide dari Tuan Arnold. Meskipun menyebalkan, Tuan Edward adalah sosok yang tidak akan memikirkan hal serendah ini. Walaupun dia sudah berusia, para gadis cantik juga masih banyak yang mengejar nya karena uang dan penampilan Tuan Edward memang terbilang gagah di usianya sekarang.
Ron bergegas kembali kepada Jordan yang kini tengah terduduk. Wajahnya mulai terlihat merah dengan keringat yang mulai menetes dari wajahnya.
" Tuan, dimana Nyonya? "
" Dia pergi bersama istrinya Tuan Haris. Tidak tahu kenapa, tapi sepertinya istri Tuan Haris memaksa karena ada urusan penting. " Jawab Jordan sembari menahan sesuatu yang sudah bisa Ron tebak apa itu. Ron yang merasa gelisah kini mengusap keringat di dahinya. Dilema antara meninggalkan Tuannya untuk mencari Gaby atau tetap bertahan untuk menjaga Tuannya.
***
Gaby yang merasa aneh dengan sikap istri dari Tuan Haris hanya bisa mencari cara agar bisa pergi secepatnya dan menemui Jordan untuk melibat bagaimana keadaannya.
__ADS_1
Bersambung.