
Prang....!
Setelah kembalinya Tuan Arnold dari perusahaan Jordan's Group, dia kini tengah berang dengan apa yang terjadi. Bukan hanya kesal karena perlakuan kurang ajar dari orang yang pernah di pungut oleh Ayahnya dulu, tapi dia baru mendapatkan kabar bahwa tender yang awalnya dia siapkan untuk merampok uang Jordan, ternyata malah berbalik imbas dan menghabisi semua modal nya yang tersisa. Benar, dia lupa jika Gaby adalah orang yang cerdik dan licik ditambah lagi Jordan juga bukan orang yang mudah untuk di tipu. Dia sama sekali kurang waspada tentang hal ini.
" Sialan! mereka benar-benar menguji kesabaran ku hingga habis. Bagaimana aku bisa tidak menyadari nya lebih awal? "
Prang....!
Entah benda kaca mana lagi yang Tuan Arnold hancurkan kali ini. Semua sudah berceceran hingga menjadi banyak kepingan di lantai. Bukan hanya benda kaca, tapi juga buku, peralatan tulis, laptop, bahkan masih banyak benda lain yang rusak karena kemarahannya.
" Kurang ajar! aku benar-benar tidak akan memaafkan kalian. Aku bersumpah, aku akan membunuh anak-anak kalian. Aku akan melihat bagaimana kalian tersiksa lalu menangis tersedu-sedu karena melihat mereka mati di depan mata kalian." Tuan Arnold menajamkan mata dan bertekad dengan sangat bulat.
***
Gaby dan Jordan kini tengah menikmati waktu bersantai bersama ketiga anak mereka setelah lelahnya bekerja seharian di kantor. Untunglah, wajah bahagia ke tiga anaknya benar-benar memberikan penawar lelah. Melihat mereka saat pulang bekerja, sungguh membuat mereka segar seperti bangun tidur lalu mandi.
" Mike, tangkap bola dariku! " Ucap Mark sembari mengoper bola kepada Mike. Mereka berdua benar-benar kompak dan tumbuh dengan saling menyayangi satu sama lain. Sedangkan Ele, gadis kecil itu lebih suka bermain dengan kuas dan kertas di sana. Meskipun hanya bunga sederhana yang ia gambar, tapi Ele benar-benar menyukai nya. Jordan dan Gaby juga mendukung apapun yang di sukai anak-anak mereka dan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan anak-anak mereka asalkan mereka tetap berada di dalam rumah yang sudah terjaga keamanannya.
" Ele, kau belum selesai? " Tanya Jordan sembari meraih sebuah kuris untuk duduk di dekat putrinya.
" Belum Ayah. Bagaimana gambar ku hari ini, Ayah? " Tanya Ele. Iya, gadis itu tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan begitu lembut. Baik secara misan maupun perbuatannya. Berbanding terbalik memang dari Gaby. Tapi beginilah cara Gaby mendidik anak-anaknya. Bagaimana pun lemahnya mereka terlihat, tapi sejujurnya mereka memiliki kekuatan mental yang sama seperti Ibu mereka.
" Ini sudah lebih baik dari kemarin, Sayang. " Jordan mengusap rambut putrinya lalu memberikan kecupan sayang di pucuk kepalanya. Sebenarnya Jordan benar-benar masih belum rela karena putri tersayangnya sudah mulai terlihat besar. Tidak tahu mengapa, dia seperti merasa akan kehilangan kalau putrinya dewasa nanti dan menikah dengan pria pilihannya lalu meninggalkannya.
__ADS_1
" Sayang, apa kau akan menyayangi Ayah saat sudah dewasa dan menikah nanti? "
Ele tersenyum. Dia meletakan kuas yang ia pegang lalu memeluk erat tubuh Ayahnya.
" Ayah, aku akan sangat mencintai Ayah. Sampai kapan pun, Ayah akan selalu aku cintai meski aku sudah dewasa nanti. "
" Kau janji? "
Ele menganggukkan kepalanya semangat.
" Aku janji, Ayah. Ayah adalah orang yang paling aku cintai di dunia ini. Aku tidak akan kehilangan rasa cintaku untuk Ayah. " Jordan tersenyum bahagia lalu mengeratkan pelukan mereka.
" Ayah! " Panggil Mike dan Mark bersamaan.
" Ehem! " Gaby yang baru datang berdehem lalu tersenyum menatap anak dan suaminya yang saling memeluk.
" Waktu nya untuk tidur, anak-anak. " Ucap Gaby mengingatkan.
" Siap, Ibu. " Ucap mereka bertiga kompak.
Setelah kepergian anak-anak ke kamar mereka masing-masing, sekarang tinggal Gaby dan Jordan yang berjalan menuju ke kamar mereka. Sesampainya di sana, Jordan dan Gaby langsung merebahkan tubuh karena sudah membersihkan diri sebelum bermain dengan anak-anak barusan. Mereka berbaring saling menghadap dengan tatapan yang begitu intens. Pandangan mata mereka juga berada di garis lurus yang sama.
" Kau pasti lelah. " Jordan mengusap kepala Gaby pelan dan membiarkan tangannya tetap berada di sana. Bibirnya tertarik melengkung membuat sebuah senyuman yang begitu manis dan lembut.
__ADS_1
" Kenapa aku harus lelah saat bekerja bersama mu? aku bahkan hanya sedikit membantu saja. " Gaby meraih tangan Jordan, lalu membuat jemari mereka saling mengait.
" Kau sungguh tidak lelah? " Tanya lagi Jordan yang kini tersenyum penuh maksud. Baiklah, Gaby sudah sangat hafal maksud dari pertanyaan dan cara Jordan menatap nya seperti itu.
" Lelah. Aku sangat lelah. "
Jordan tertawa kecil lalu mulai mendekatkan tubuh mereka hingga saling menempel. Dipeluknya erat tubuh Gaby yang mengeluarkan aroma buah peach sesuai dengan wangi sabun yang ia gunakan saat mandi tadi. Perlahan Jordan mulai memberikan kecupan di kening istrinya, lalu pipi, hidung dan bibir. Tangannya mulai bergerak menelusur bagian-bagian sensitif istrinya yang selalu menjadi bagian favoritnya.
Seperti itulah mereka saat di rumah. Tidak ada persoalan kantor yang mereka bawa ke dalam rumah terlebih didepan anak-anak mereka. Bagi Jorda dan Gaby, membesarkan anak dengan lingkungan positif adalah hal yang baik. Selian untuk membuat jiwa lolos anak-anak mereka tidak terkontaminasi, mereka juga begitu menjaga ketiga anak mereka agar tidak mengalami apa yang Jordan dan Gaby alami saat masa kecil mereka.
Pagi harinya di Jordan's Group. Hari ini adalah hari dimana rapat dewan direksi di gelar untuk membahas tentang isu anjloknya saham perusahaan setelah hadirnya Gaby disana. Rapat pada awalnya berjalan lancar dan semua terkendali dengan baik. Tapi hadirnya seorang anak dari salah satu pemegang saham di Jordan's famili mengajukan protes setelah Jordan menunjukkan bukti naiknya harga saham di perusahaannya.
" Mungkin, saham kita baik-baik saja sekarang. Tapi hadirnya Nyonya Gaby benar-benar membuat nama Jordan's Group tercoreng. Beberapa hari yang lalu, seorang gadis menceritakan kepada media kalau Nyonya dengan sengaja menginjak kakinya hingga berdarah. Tindakan seperti itu tidaklah baik untuk perusahaan. Bisa jadi, nantinya ini akan merusak reputasi perusahaan. "
Gaby tersenyum lalu meletakkan pena yang sedari tadi terselip di jemarinya. Dia terdiam mendengar tanggapan para anggota dewan direksi yang seolah mengiyakan apa yang di ucapkan oleh gadis yang bernama Maria itu.
" Sudah selesai? " Gaby menatap tajam Maria yang sama sekali tidak terlihat takut. Gaby berdiri lalu berjalan ke arah Maria. Dia duduk di meja tepat di dekat Maria dengan posisi menghadap nya.
" Gunakan lah otak mu saat kau bicara. Coba kau lihat lagi, selama aku disini, harga saham naik dua belas persen. " Gaby tersenyum sinis lalu menaikkan wajah Maria dengan menekan dagu gadis itu ke atas.
" Untuk menjadi sukses, tidak perlu memiliki nama yang bersih. Cukup gunakan otak dan kekuatan saja. Jika kau begitu memikirkan nama dan citra baik, berikan aku bukti nyata dari citra baik seperti yang kau miliki. "
Bersambung
__ADS_1