I Love You Professor

I Love You Professor
100. Tante


__ADS_3

“Tante pernah bertemu bunda?” tanya Aiyana dengan wajah polosnya.


Ridho, alvan dan beberapa orang yang ada disana langsung tertawa mendengar panggilan Aiyana untuk Gizhi.


“Bisakah jangan memanggilku tante? Aku kira kamu memanggil itu cuma untuk mengejek, tapi jadi panggilan sehari hari” protes gizhi.


“tapi umur tante kan sama dengan ommas” balas Aiyana, sebenarnya dia tidak ada maksud untuk mengejek gizhi dengan nama panggilan seperti itu, tapi memang Aiyana menggunakan nama seperti itu untuk memanggil beberapa orang yang berbeda umurnya yang lumayan jauh darinya.


“Ommas?” beo gizhi.


“hmmm, aku di panggil ommas sama dia, anggap saja panggilan sayangnya lain dari pada yang lain” kata alvan datar.


“oke baiklah, dan ralat ai, umurku setahun lebih muda dari alvan, tapi terserah mau panggil apa” ujar gizhi pasrah dia tidak mau mencari masalah dengan alvan.


“Untuk apa tante cari bunda?” tanya Aiyana.


Gizhi memegang perutnya yang memang sudah lumayan besar, “sebentar lagi aku akan melahirkan, dan aku tidak punya siapapun untuk bertanya tentang persalinan, dan bagaimana menjaga bayi, bapak dari bayiku juga tidak punya keluarga, makanya aku sedang melakukan pertaruhan untuk datang kesini” ungkap gizhi.


Aiyana menatap perut gizhi yang lebih besar dari perutnya, “umurnya berapa bulan?” tanya Aiyana lagi.


“beberapa minggu lagi akan lahir, sepertinya anak kitab isa menjadi teman” kata gizhi.


Aiyana menatap suaminya, “ommas ambilkan ponsel ai” pintanya lembut.


Alvan tidak bergerak dari duduknya dia malah memberikan ponsel yang dia punya, “mas juga punya nomor bunda” tebak alvan.


Aiyana tersenyum senang lalu menunjukkan nomor bunda Vania pada gizhi, “semoga lancar lahirannya tan” ucap Aiyana tulus.


“makasih, kamu juga, semoga anak kitab isa menjadi teman” ucap Gizhi.


.


“Oke satu masalah sudah kelar” alvan menatap maria yang sejak tadi berdiri di sebelah gizhi, “kamu mau apa kesini?!” tanyanya dingin.

__ADS_1


“jangan emosi dulu van, aku kesini Cuma mau nemani gizhi, takutnya kamu akan mengusirnya, liat dia sedang hamil jadi aku jaga jaga agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi” ucap maria sambil mengangkat tangannya ke atas.


“mengenai ujian Aiyana apa akan dilakukan di rumah sakit atau di kampus?” sela ridho karena suasana ruangan itu cukup mencekam.


“Disini saja” ucap alvan cepat, “mengingat istri dan bayiku masih belum sepenuhnya pulih, bisakan seperti itu” alvan bukan bertanya tapi itu sebuah perintah yang baru saja dia berikan pada ridho.


Hati Aiyana berdesir dengan panggilan istri dan bayiku, alvan sangat menjaga dia dan anaknya, cinta alvan sangat besar pada mereka berdua.


“hmmm baiklah pak dosen, tapi ingat kau tidak bisa menemani Aiyana ujian, kau harus datang ke kampus untuk mengawasi ujian kelasmu” ucap ridho pasrah. “dan ai, selamat datang kembali, untung kamu cepat sadar dari koma mu” tambah ridho.


“terima kasih pak” Aiyana mengangguk pelan.


“kau tau ai, aku sangat khawatir kalau kau tidak bangun, maka suamimu tidak tahu apakah sekarang masih hidup atau tid_”


“Ridho!” alvan menyela dan memberikan tatapan peringatan.


Aiyana tersenyum simpul, dia masih gugup sampai saat ini, “emm.. terima kasih” tatapannya kini beralih pada kedua temannya yang masih menatap Aiyana dengan pandangan bersalah. “aku sudah baik baik saja, kalian berdua tidak bersalah kok” ujar Aiyana pada kedua sahabatnya.


“Tapi ai, kami harusnya bisa menolongmu, dan kamu tidak akan seperti ini kalau saat itu kitab isa membawa mobil, atau melarikan diri bersamamu” lirih Keyla.


“Hmm, jadi bagaimana kondisimu ai?” putri dan keyla akhirnya mengalah dan tidak menyalahkan diri lagi.


“Sudah lebih baik, aku senang kalian berdua tidak apa apa” ucap Aiyana tulus, Aiyana sedikit menoleh kesampingnya, dan wanita itu sedikit tersentak saat sadar suaminya sedang menatapnya.


Deg deg deg


Aiyana merasa nafasnya terhenti, sejak kapan alvan menatapnya seperti itu, dengan jarak yang sangat dekat. Tatapan pria itu begitu dalam dan intens, jantungnya kini berdebar semakin keras, sorot mata alvan seolah sedang mengisyaratkan sesuatu, seperti memuja dan penuh kasih sayang serta cinta.


Mereka berdua masih bertatapan seperti sedang menyalurkan perasaan masing masing, tidak sadar jika beberapa pasang mata kini menatap interaksi keduanya. Alvan menarik dagu Aiyana untuk sedikit mendongak ke padanya. Dan Aiyana semakin ingin mati saja saat melihat alvan tersenyum sekilas padanya sebelum alvan memejamkan matanya dan Aiyana sudah merasakan bibir lembut dan lembab alvan sedang menekan bibirnya. Alvan kembali mencium Aiyana singkat. Lalu tiba tiba dia menjauhkan bibirnya.


Pria itu menyudahi ciuman kilatnya yang penuh perasaan. Aiyana membuka matanya merasa kehilangan kewarasannya sesaat tadi. Ciuman barusan membuat Aiyana bahagia sekaligus gugup. Aiyana mengalihkan tatapannya dari tatapan intens alvan. Pasti wajahnya kembali memerah sekarang, apa lagi Aiyana ingat sekarang masih banyak orang dan alvan terang terangan menciumnya.


Kemudian suara dehaman keras Andra membuyarkan tatapan memuja dan penuh cinta alvan yang ditujukan pada Aiyana.

__ADS_1


“ohh lihat lah anak ini bisa terang terangan membuat aku iri!” umpat andra.


“Abang kenapa kesini sih kalau Cuma mau mengomel seperti mama” kata alvan terdengar menyindir.


“Untuk menghalangimu seperti sekarang!” jawab andra.


Alvan kembali mencium sekilas bibir Aiyana, “coba saja kalau abang bisa menahanku” tantang alvan.


“wuaaahhhh, benar benar aku aduin sama mama kamu van” umpat andra.


...🥯🥯🥯🥯🥯...


Setelah dari rumah sakit, kini Gizhi dan maria melangkah menuju penjara. Gizhi baru saja mendapat panggilan dari brandon yang ingin bertemu dengannya, dan gizhi meminta maria menemani dia untuk bertemu dengan brandon.


“kenapa memanggilku kemari” ujar gizhi to the point.


Brandon tersenyum kecut lalu menatap perut besar gizhi, “sudah berapa bulan umurnya?”


Gizhi memegang perut buncitnya yang di lihat oleh brandon.


“beberapa minggu lagi akan lahir” jawab gizhi.


“Laki laki atau perempuan?” tanya brandon lagi.


“Laki laki”.


“Apa aku boleh bertemu dengannya nanti saat aku keluar dari sini?” kini brandon menatap mata gizhi dengan lekat.


Gizhi diam beberapa saat sebelum menjawab, “tentu saja, kau adalah papanya, yaaahhh jika kau percaya ucapanku” kata gizhi sedikit canggung.


Air mata brandon mulai tumpah, ingin sekali tangannya memegang perut gizhi tapi sayang dia terlalu gengsi untuk mencoba meminta itu, “terima kasih” ucapnya pelan.


“Cepatlah keluar dari sini, aku yakin uangmu banyak untuk membayar denda, kami menunggumu di rumah” ucap gizhi tulus.

__ADS_1


Kali ini brandon tidak dapat menahan tangisannya dia mengangguk dengan mata yang sudah berair, “terima kasih” gumam brandon.


...🍞🍞🍞🍞🍞...


__ADS_2