I Love You Professor

I Love You Professor
53. Kampus


__ADS_3

Aiyana menatap kagum pada bangunan megah yang sudah ada dihadapannya, memang saat ini dia masih di dalam mobil menatap ke kiri dan kanan dimana tempat Alvan mengajar.


“Ommas, apa Ai bisa masuk ke universitas ini, ujiannya pasti susah” lirih Aiyana.


Alvan tampak mengulum senyum, dia menarik dagu Aiyana untuk di cium sambil sedikit menggigit pelan bibir bawah Aiyana, “yang mengajarkan kamu adalah professor terkenal di kampus ini, mustahil kamu tidak masuk ke sini sayangku” ucap alvan.


Aiyana langsung mengembangkan senyumannya lebar lebar, “benar juga, ayo kita pergi pak dosen”.


“kenapa saat kamu mengatakan pak dosen mas jadi ingin menciummu” Alvan semakin mendekatkan wajahnya pada Aiyana, kata kata istrinya seperti tarikan erotis untuk mendekati Aiyana, entahlah Alvan selalu punya alasan untuk mencium dan menggoda Aiyana.


Badan Aiyana mundur dan wanita itu segera keluar dari mobil, “kita sedang di kampus pak dosen” Aiyana menjulurkan lidahnya ke arah Alvan dan tertawa senang karena Alvan tidak berhasil mencium bibirnya.


Alvan ikutan tersenyum, pria itu akhirnya ikutan keluar dari dalam mobil dan kembali mendekati Aiyana, “jangan jauh jauh dari mas” ucap Alvan sambil mengganggam tangan Aiyana.


“Ommas, apa Aiyana sudah cantik??” tanya Aiyana tiba tiba.


Kedua orang itu menghentikan Langkah mereka, Alvan menatap Aiyana dan berpura pura sedang berpikir keras, “kenapa tiba tiba?? Apa kamu berniat menggoda mahasiswa di sini?”


Aiyana semakin tertawa lebar, “ommas kan jalan sama ai, gimana kalau orang orang liat istri pak alvan gak cantik, nanti pasti akan banyak yang membicarakan kita” gumam Aiyana.


“hmmm… benar juga, coba kita periksa” Alvan memegang pipi Aiyana sambil menatapnya lekat tapi Aiyana malah membuat ekspresi jelek diwajahnya, “nilainya 8 setengah, kenapa hari ini istriku terlihat jelek” canda Alvan, pria itu melepaskan tangannya dari Aiyana dan tertawa menyebalkan dari arah jauh.


“Ommas nyebelinnn!” Aiyana langsung berusaha menggapai Alvan yang baru saja mengejek dirinya.


Kedua orang itu kejar kejaran di luar gedung kampus, untung saja saat ini tidak ada mahasiswa yang melihat sepasang suami istri itu sedang berlarian di jalan.


“Ehemmm ehemm” Dehaman Ridho membuat Alvan dan Aiyana berhenti berlari, keduanya kini mendekat pada Ridho.


“udah selesai kelas?” tanya alvan spontan seperti orang yang tidak ada masalah.


“jangan mengalihkan pembicaraan, ngapain kalian lari larian di sini, ingat pak dosen ini masih wilayah kampus, bisa bahaya banyak mata yang memandang” tegur Ridho.


“Maaf” ucap Aiyana cepat sambil tertunduk sedih, karena dialah yang membuat alvan berlari.


“Berisik aja lo dho, bilang aja lo iri gak bisa seperti gue” Alvan segera merangkul Aiyana dan mulai bercanda dengan ridho.

__ADS_1


“Ciihhh tau aja, jangan bikin orang iri kalau sudah tau alasannya” Ridho yang tau Aiyana merasa bersalah segera meralat ucapannya mengikuti alur yang dibuat alvan. “Apa kabar Ai?” Ridho tersenyum untuk menyapa Aiyana.


“jangan panggil Ai, dalam bahasa mandarin itu artinya sayang” protes Alvan.


“Ya allah van, sejak kapan lo jadi pecemburuan” Ridho tertawa keras sambil geleng geleng kepala.


Aiyana mau tidak mau ikutan tersenyum mendengar ucapan Ridho.


“Istri gue secantik ini, jelas gue cemburu kalau ada yang panggil dia Ai” tekan Alvan sekali lagi.


Ridho kembali tertawa keras, “Ai, suami kamu ini terlalu berlebihan cemburunya, jelas jelas orang tua kamu memberikan nama Aiyana, pasti biasanya orang orang manggil Ai, jadi manggil apa lagi kalau gak itu”.


“Ada kak, nama panjang ai itu Aiyana Keylovly panggil Lov juga gak apa” kekeh Aiyana.


Wajah Alvan langsung berubah masam, “enak aja, cukup panggil ana atau yana atau key itu sudah cukup” bantahan Alvan, membuat Ridho dan Aiyana kembali tertawa.


“Oke oke pak dosen, gue pergi dulu, Ai-yana kakak pergi dulu ya” pamit Ridho, pria itu memang sengaja menjeda nama Aiyana, untuk menggoda Alvan yang sangat mudah cemburu.


“Udah gak ada kelas?” tanya Alvan sedikit dengan nada tinggi karena Ridho sudah semakin menjauh.


Alvan masih tersenyum melihat ke arah perginya Ridho lalu tersenyum ke arah istrinya, “Ayo sayang kita segera ke ruangan mas” ajak Alvan sambil mengulurkan tangan pada Aiyana.


Aiyana mengangguk dan menyambut tangan Alvan, “kok sepi ya?” tanya Aiyana penasaran, karena tidak ada orang yang ada disekitarnya.


“Udah saatnya masuk ke kelas, mas sedikit terlambat” ujar Alvan.


“Kalau gitu ommas duluan aja mengajarnya, ai akan mencari sendiri ruangan ommas” ucap Aiyana merasa sedikit bersalah pada suaminya.


Kepala Alvan menggeleng, “tidak apa, mereka pasti senang sesekali mas datang telat” balas Alvan sambil terus menggenggam tangan Aiyana menuju ruangannya.


Tidak sampai lima menit, kedua orang itu sampai di ruangan cukup besar untuk dikatakan ruangan tempat konseling Alvan. Di sana biasanya para mahasiswa datang untuk melakukan konseling tentang proposal atau skipsi mereka secara face to face dengan Alvan.


“Disini dulu ya, mas mungkin agak lama, tidak apa mas tinggalkan?” tanya Alvan lembut.


Aiyana menganggukkan kepalanya dengan cepat, “iya tidak apa, ommas duluan ngajar sana, udah telat tadi katanya” Aiyana berusaha mendorong tubuh Alvan agar pria itu segera keluar dari ruangan itu. “Ai boleh liat liat ke sekitar gak??” lanjut Aiyana.

__ADS_1


“Hmm, boleh tapi tidak boleh menarik perhatian pria pria, jangan bicara ataupun menggoda mereka” ujar Alvan tegas.


“Ommas Ai keliling bukan untuk mencari pacar, tapi pengen tau lingkungan kampus” ralat Aiyana.


Alvan berbalik dan menatap lekat Aiyana, memegang kedua pipi istrinya dan berkata, “kamu terlalu cantik sayangku, mas yakin akan banyak pria yang berusaha mendekatimu, dan mereka lebih muda dari mas” nada suara Alvan sedikit memelan di akhir kalimatnya, membuat Aiyana tertawa kecil.


“Ommas, mau setampan apapun atau semuda apapun pria yang mendekati Ai, tidak akan ada yang bisa mendekati Ai, hati ai hanya untuk ommas”.


‘Cup’ Alvan mencium bibir Aiyana dengan sedikit ganas, “Mas mencintaimu, ingat itu” bisik Alvan.


Aiyana mengulum senyumnya, “iya tau pak dosen, jadi sana cepat pergi, jangan telat terlalu lama” usir Aiyana.


‘Cup’ sekali lagi Alvan mencium bibir Aiyana tapi kali ini sedikit lebih lama dan menggunakan lidahnya yang masuk kedalam mulut Aiyana, “entah kenapa kata kata pak dosen membuat mas menjadi lebih bersemangat untuk mencium dan menjatuhkan mu, sayangku” bisik Alvan seduktif.


Aiyana dengan cepat menutup mulutnya, tidak lagi mendorong alvan tapi melotot pada pria itu, “Alasan ommas terlalu banyak, udah sana pergi” usir Aiyana sekali lagi.


“Sekali lagi ya sayang, baterai mas belum full” Alvan berusaha mendekat sambil menunjukkan angka satu melalui tangannya.


“gak mau! Nanti Ai bilang sama mama baru tau rasa” ancam Aiyana.


“Ahhhh” Alvan menghela nafas panjang, “baiklah tenaga mas hanya terisi setengah tidak apa” Alvan berucap pelan sambil berjalan keluar dengan Langkah gontai.


Aiyana tersenyum dan menahan tawanya melihat itu, tapi dia tetap tidak mau mencium alvan lagi, suaminya itu hanya selalu mencari cari alasan untuk mencium dirinya.


...🍱🍱🍱🍱🍱...


bonus pict :





__ADS_1


__ADS_2