
Waktu istirahat Aiyana langsung mengambil kesempatan bersama teman temannya menuju kantin. Wanita itu memesan banyak makanan dan terlihat tidak peduli dengan pandangan orang orang yang tertuju padanya.
“hai Aiyana, akhirnya aku tau namamu” Damar datang bersama teman temannya dan duduk di hadapan Aiyana.
Aiyana sendiri hanya cuek dan sibuk memakan bakso yang dia pesan.
“Aku tidak menyangka kalau gadis cantik itu makannya banyak, akan aku teraktir kamu makan” damar kembali berbicara agar mendapat perhatian Aiyana.
“tidak perlu, kalau kurang aku bisa minta bayarin suami aku” ujar Aiyana dengan nada terdengar santai.
Damar dan teman temannya tertawa keras mendengar ucapan Aiyana. Mereka sama sekali tidak percaya dengan ucapan Aiyana, karena tidak banyak orang yang menikah setelah lulus SMA, apa lagi gadis secantik Aiyana tidak cocok untuk menikah muda.
“Cukup bercandanya Aiyana, kalau kamu bilang paca raku masih bisa percaya tapi suami, itu mana mungkin” ujar Damar di sela tawanya.
“Dia benaran udah punya suami kak” celetuk putri yang duduk di sebelah Aiyana.
Kali ini tawa damar dan teman temannya berhenti, mereka kompak terdiam dan menatap Aiyana dengan wajah kebingungan.
“bohongkan?” damar berusaha mencari kebohongan dari kata kata Aiyana dan putri.
Baru saja Keyla dan putri mau berbicara, sang suami yang dikatakan akhirnya muncul. Alvan berjalan mendekati meja dimana Aiyana dan teman temannya makan.
“Ehh pak alvan, selamat siang pak, mau makan siang disini pak?” tanya Damar sekedar basa basi.
Alvan menggeleng pelan, tersenyum singkat pada Damar sebagai balasan pertanyaan pria itu lalu memandang istrinya yang tampak cuek menikmati makanannya.
“uang yang mas kasih kurang atau cukup?” tanya Alvan.
Aiyana tidak menjawab karena mulutnya masih penuh dengan makanan, wanita itu hanya mengeluarkan sisa uang dari dalam sakunya yang berjumlah 40 ribu.
__ADS_1
“Putri dan Keyla udah diteraktirkan?” tanya Alvan lagi.
Putri dan Keyla serentak menganggukkan kepalanya, “udah pak, ini kami pesan yang mahal mahal” kekeh Keyla.
“Ya udah, mas tinggal ya, teman mas ajak makan diluar, kamu mau ikut?” tanya alvan pada Aiyana.
Aiyana cepat cepat menelan makanan yang ada di mulutnya, “mau kemana?”
“makan di luar kampus, mau ikut mas?” tawar Alvan sekali lagi.
“gak ada cewekkan?? Cuma ommas dan kak ridho?” selidik Aiyana.
“Gak ada, Cuma mas dan ridho aja, ngapain mas bawa cewek lain?” Alvan tertawa pelan sambil mencubit pipi Aiyana, semua interaksi Aiyana dan Alvan disaksikan oleh seluruh mahasiswa yang ada disana, bahkan Damar terdiam mendengarkan setiap percakapan andata Alvan dan Aiyana.
“ya udah pergi sana, ai masih mau habiskan makanan ai” usir Aiyana.
Alvan kali ini mengelus pucak kepala Aiyana, “ya udah mas pergi” pamit alvan, ingin rasanya pria itu mencium bibir Aiyana namun sayang itu adalah halaman kampus, walau dia dibolehkan menikah tapi tetap saja harus menjaga kesopanan di lingkungan kampus.
Dari interaksi Aiyana dan Alvan, mereka mulai curiga hubungan alvan dan Aiyana bukanlah hubungan kakak atau adik, malah lebih terlihat seperti sepasang kekasih, tapi mereka masih ragu untuk mengutarakan isi pemikiran mereka.
“Yang tadi suaminya Aiyana kak” celetuk Putri, karena sejak tadi Damar dan teman temannya terdiam bagaikan patung.
“APA?!!” bukan hanya Damar dan teman temannya, seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kampus itu kompak berteriak keras dan menatap Aiyana.
“Gak mungkin, dia masih kecil, umur dia dan pak Alvan berbeda jauh” Damar masih menolak percaya dengan kenyataan yang dia baru saja dapatkan.
“benar, setahuku, pak alvan sudah menikah 1 tahun yang lalu, tidak mungkinkan dia menikah saat masih SMA?” tambah teman damar.
Aiyana tidak menjawab pertanyaan mereka sama sekali dia masih asik makan dan hanya mengedikkan bahu acuh.
__ADS_1
“Ai, ditanyain tu, mereka gak percaya lo udah nikah ai” Keyla mencolek lengan Aiyana agar wnita itu lebih fokus pada orang orang yang sedang bertanya padanya, masalahnya bukan hanya damar dan teman temannya, para senior lain juga menatap meja mereka menunggu jawaban dari Aiyana.
Aiyan akhirnya berhenti makan dan mengeluarkan ponselnya mencari foto pernikahan yang dia simpan lalu menunjukkan foto itu pada damar dan teman temannya.
“Aku menikah 1 tahun yang lalu dengan pak Alvan, sudah percaya?” ucap Aiyana akhirnya.
Damar tanpa sadan meneguk salivanya dan wajah pria itu terlihat sedikit pucat, “jadi kamu benar benar sudah punya suami?”
“hmmm” Aiyana menganggukkan kepalanya sambil berdeham pelan.
“Kenapa mau menikah saat masih SMA?” tanya Damar lagi.
“tanya orang tua ai sana, kenapa menikahkan ai sama pak alvan, yang pastinya bukan karena hubungan badan” jawab Aiyana santai.
“menikah terpaksa?” tanya Damar lagi.
Aiyana kini menatap Damar dengan mata memicing, “kakak kenapa sih mau tau urusan rumah tangga orang lain? Mau ai menikah terpaksa mau ai menikah karena perjodohan, ataupun alasannya itu bukan urusan kakak kan? males tau jawab hal hal seperti itu sementara kita saja tidak kenal dekat, kecuali kakak sudah dekat dengan ai, baru ai akan jawab semua pertanyaan kakak dengan detail” omel Aiyana, wanita itu kembali melanjutkan makanannya yang tadi sempat tertunda karena rasa penasaran para seniornya.
“Aku memang orang lain, tapi setahuku pernikahan yang di landasi dengan keterpaksaan akan berakhir tidak bahagia, aku Cuma ingin memberi nasehat sebagai orang dewasa” ujar Damar.
Aiyana tersenyum sinis pada damar, “terima kasih tapi mustahil aku tidak jatuh cinta pada suami seperti pak alvan dan mustahil pak alvan tidak jatuh cinta dengan wanita secantik aku? kakak juga tertarik padakukan? Jadi jangan sok menjadi dewasa dan menasehatiku, hidupku sudah bahagia dengan suamiku sekarang” ucap Aiyana tegas.
Damar baru saja merasakan tertampar dengan ucapan Aiyana, memang benar yang wanita itu katakan kalau dia tertarik juga pada Aiyana, bahkan dia sudah sangat tertarik dengan Aiyana dan nasehatnya barusan bertujuan untuk membuat goncangan pada rumah tangga Aiyana tapi wanita itu malah bersikap acuh dengan nasehar yang dia berikan.
“setahuku pak Alvan punya kekasih yang seorang model?” celetuk Damar, dia masih berusaha membuat Aiyana goyah.
“Iya benar, tapi dia bukan lagi kekasih tapi mantan kekasih, dan aku adalah istrinya sekarang, tidak ada wanita yang bisa mendapatkan pak alvan, karena aku akan mengikatnya dengan sangat kuat” Aiyana menghentikan makannya, menyisakan banyak makanan tapi dia sudah tidak nafsu untuk makan, wanita itu tegak dan menatap kedua sahabatnya, “kalian masih disini atau ikut aku? nafsu makanku hilang karena senior senior ini” umpat Aiyana terang terangan.
“ahh! Kami ikut ai” putri dan Keyla Bersiap siap dan tegak mengikuti Aiyana, tidak lupa mereka berpamitan dengan sopan pada para senior yang masih menatap Aiyana.
__ADS_1
...🍩🍩🍩🍩🍩...