
Aiyana dan Alvan sedang tampak menikmati waktu bersama keluarga Aiyana, Alvan memang sengaja membawa Aiyana untuk menginap di rumah gadis itu, jika di ingat ingat lagi istri Alvan itu masih 17 tahun, Alvan tidak mau membuat gadis itu bersedih karena menikah dengannya dia tidak bisa lagi bertemu dengan keluarganya, maka dari itu Alvan ingin berlaku adil dengan membawa Aiyana ke rumah orang tuanya sesekali.
“Ai, kamu tidak membuat suami kamu marah lagi kan?” tanya Ayah Abraham.
Aiyana menoleh dengan mulut penuh dengan donat yang baru bunda vania buat karena kedatangan putri kesayangannya. Gadis itu menggelengkan kepala sambil menatap Ayah Abraham dengan wajah polos.
“beneran?” ulang tanya ayah Abraham.
“beneran ayah, Aiyana udah gak ada minta cerai lagi kok” Aiyana berusaha untuk membuat ayah Abraham percaya dengan ucapannya.
“iya yah, Ai udah jadi istri baik kok, iya kan ai” Alvan membantu tapi mata pria itu memberikan sebuah isyarat hadiah untuk bantuan yang dia berikan.
Aiyana tanpa sadar meneguk saliva nya dan mengangguk cepat, ‘mati gue’ batin Aiyana berteriak.
“Benar sudah jadi istri yang baik?? Udah bisa melayani suami dong” canda Ayah Abraham.
Aiyana melongo dan membulatkan mulutnya tidak percaya sang ayah yang selama ini melarang dia untuk berpacaran sedang mengajarkan hal hal yang tidak baik pada putri semata wayangnya, “Ayah! Ai masih 17 tahun, masak ayah mengajarkan yang tidak tidak pada putri ayah yang polos ini” Aiyana berteriak memprotes candaan yang ayah Abraham lontarkan.
“Kalau dulu 17 tahun belum menikah sayang, kalau sekarang 17 tahun sudah menikah, jadi ada bedanya, wajar ayah harus bisa mengajarkan secara perlahan pada mu hal hal seperti itu” ungkap ayah Abraham.
Aiyana segera menyilangkan tangannya di dada dan menatap horror sang ayah, “Ayah tega, apa ayah tega menjual anak ayah yang cantik ini, dan belajar dewasa di saat belum waktunya dewasa?” Aiyana berbicara seperti nada suara film dalam roma irama.
Ayah Abraham memukul jidatnya sendiri melihat kelakuan putri satu satunya, sementara itu bunda Vania dan Alvan tertawa memperhatikan perdebatan dua orang itu.
“Bukan maksud ayah seperti itu anakku, tapi kamu sudah menikah, kamu harus bisa memenuhi kebutuhan suamimu atau dia akan lari pada wanita lain anakku” Ayah Abraham yang sama gilanya dengan sang putri, mengikuti cara bicara Aiyana dan mulai berakting sedih.
“bunda!” Aiyana memeluk bunda Vania dan berpura pura menangis dalam pelukan bunda Vania, “Bunda bantu Ai, ayah telah meracuni ai dengan hal hal yang tidak boleh di pelajari anak umur 17 tahun, hiks hiks”.
__ADS_1
‘Tak’ bukannya mendapatkan bantuan bunda vania malah menjentik kening putrinya.
“Bicaranya biasa aja ai, bunda sakit perut liat tingkah kalian berdua” ujar bunda Vania di sela tawa.
Aiyana mengelus elus jidatnya yang di jentik oleh bunda Vania, “bunda gak bisa di ajak bercanda nih, Ai masih 17 tahun bunda, ayah! Belum saatnya gadis polos ayah ini untuk belajar begituan” ulang Aiyana kali ini dengan nada serius.
“Dosa loh gak patuh dengan ucapan suami” Bunda Vania mulai menggunakan cara terakhir yang paling ampuh buat Aiyana untuk tidak membantah lagi.
Terbukti sekarang Aiyana diam dengan wajah cemberut, “Emang harus ya bunda?” lirih Aiyana.
Bunda Vania dan Ayah Abraham kini tertawa pelan, “Gak harus, tapi setidaknya kamu sudah bisa tau hal hal seperti itu, jangan takut dan jijik jika suami kamu meminta sesuatu padamu” ucap ayah Abraham dengan suara lembut.
Jujur jika ditanya tentang hal hal yang berhubungan dengan hal dewasa Aiyana yang masih polos dan terjaga tentu saja takut dengan hal hal itu, dia bahkan takut untuk melihat jamur milik suaminya, entah kenapa gadis itu merasa merinding membayangkan, dan melihat hal seperti itu, mungkin karena Ayah Abraham dan Bunda Vania terlalu menjaga putrinya yang polos, jadi hal itu bisa saja terjadi.
Aiyana mengambil nafas panjang, memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangannya ke udara, “baiklah Ai akan belajar tentang budidaya Jamur” teriak Aiyana dengan keras.
Aiyana menatap ketiganya dengan wajah polos, “iya, budidaya jamur yang itu” Aiyana menunjuk ke arah jamur yang terletak di antara paha Alvan.
Kompak tiga orang itu tertawa terbahak bahak setelah mengikuti apa arah kemana Aiyana menunjuk.
Ayah Abraham menutupi mulutnya berusaha menahan tawanya namun tetap tidak bisa, “kalau tentang cara budidaya jamur itu urusan kamu sama suami, ayah sama bunda cuma bisa nasehati, Ai tidak boleh jijik ataupun takut saat melihat jamur nanti” ucap Ayah Abraham di sela tawanya.
“i-iya iya Ai akan berusaha tidak takut, Ai akan berusaha menonton cara budidaya jamur” ujar Aiyana dengan sangat polos.
“Itu juga gak boleh dek, belajar sendiri di kamar saat hanya ada kamu dan suami, nanti mengerti sendiri cara budidaya jamurnya” tambah bunda Vania yang sejak tadi berusaha untuk menahan tawanya.
“kan Ai belum pernah bunda, jadi harus cari tau caranya dong” protes Aiyana.
__ADS_1
“Itu betul tapi nanti suami kamu yang ajarkan caranya, jangan belajar dari orang lain” sela bunda Vania.
Aiyana segera menatap Alvan, “ommas udah sering budidaya jamur ya?? Jadi ommas mahir?” tanya Aiyana spontan.
Alvan yang ditanya langsung terbatuk batuk, hampir saja dia tersedak, kerana tadi dia sedang minum dan Aiyana langsung bertanya seperti itu padanya.
“mas tidak pernah budidaya jamur” balas Alvan.
“Ayah! Bunda liat kan, gimana Ai dan ommas bisa budidaya jamur kalau tidak ada yang ngajarin” protes Aiyana sekali lagi.
“Setiap pria ada insting di dalam kepalanya, jadi mau dia belum pernah sekalipun, tetap saja nalurinya sebagai pria akan muncul begitu sudah dihadapan istrinya, jadi Ai tidak perlu belajar dari siapapun karena suami kamu yang akan mengajarinya” jelas ayah Abraham.
Aiyana akhirnya menganggukkan kepala, “oohhh begitu”.
“gak percaya sayang?” tantang Alvan.
Aiyana menatap alvan lalu mengangguk, “mana mungkin mas bisa kan” sibdir Aiyana tanpa sadar.
“Ohhh meremehkan dia yah, sekarang juga Alvan ambil Aiyana buat belajar budidaya jamur ya, yah” canda Alvan.
Aiyana dengan cepat menyilangkan tangannya di bagian dada dan melotot pada Alvan, “Ayaahhh ommass mesummm, masak ajak budidaya jamur di depan orang tua, masih sore lagi” teriak Aiyana meminta pertolongan sang ayah.
Sementara itu Ayah Abraham hanya menggeleng gelengkan kepala dan tertawa keras, “lahh, salah kamu sendiri yang nantangin suami, Ayah gak bisa apa-apa” Ayah Abraham mengangkat kedua tangannya ke atas tanda tidak dapat melakukan apapun.
“Ayo sayang, ayah sudah memberikan izin” Alvan sudah berdiri dan berjalan perlahan mendekati Aiyana.
“Ayyaaahhhh ommasss mesuummm” teriak Aiyana sambil berlari menghindar dari tangkapan Alvan.
__ADS_1
...🥧🥧🥧🥧🥧...