I Love You Professor

I Love You Professor
104. Kontraksi


__ADS_3

Bulan ke 9,


“IKUT!” teriak Aiyana sambil menahan alvan yang hendak pergi mengajar di kampus.


“Sayang, di sini aja ya, beberapa hari lagi kamu akan melahirkan loh” tolak alvan dengan suara lembut. Dia tidak ingin ada bahaya yang terjadi pada Aiyana selagi dia mengajar.


“gak mau ai mau ikut, ai bosan di rumah aja” rengek Aiyana sambil memperlihatkan wajah memelasnya.


“udah lah van, bawa saja istrimu, kasian dia cuma nonton aja kalau di rumah, mending ikut kamu kerja mungkin itu bawaan bayinya yang gak mau lepas dari kamu, biasanya juga kamu nempel terus sama istri kenapa sekarang tidak mau?” sindir papa Hamdi.


“bukan gitu pa, alvan khawatir ai akan mengalami kontraksi, apa lagi ai sudah memasuki usia 9 bulan, kalau di rumah kan ada banyak orang yang ngawasin, kalau di kampus ai harus tunggu di ruang kerja alvan, sendirian, mana bisa alvan konsen ngajar sementara istri alvan sendirian di ruang kerja alvan” jelas alvan sambil mengelus puncak kepala Aiyana.


“Susah banget bawa aja ai ke dalam kelasmu, lagian istrimu bukan anak kecil yang akan berteriak keras untuk mengganggumu mengajar” usul mama Haura.


Alvan langsung menoleh pada istrinya begitu mendapatkan usul dari mama Haura, “janji sama mas ai harus ikut kemanapun mas pergi? Gak boleh pergi dari mas” Alvan mengangkat tangannya dan mengarahkan jari kelingkingnya pada Aiyana.


Sebenarnya Aiyana ingin berkeliling kampus atau jajan di kampus tapi sepertinya tidak bisa karena permintaan suaminya, mau tidak mau Aiyana harus menyambut jari alvan dan berjanji pada pria itu untuk selalu menempel pada alvan, “baiklah” ucap Aiyana pasrah, setidaknya berada di dekat alvan lebih menyenangkan dari pada menonton drama korea seharian, semua drama korea sudah habis dia tonton bersama bunda vania dan mama Haura, dia sampai bosan mau menonton apa lagi.


“kalau gitu alvan pergi semua” alvan dan Aiyana langsung menyalami kedua orang tua alvan dan orang tua Aiyana, setelah berpamitan dengan semuanya baru alvan dan Aiyana berangkat ke kampus.


.


Kelas tempat alvan mengajar menjadi gaduh karena kedatangan alvan sambil memapah wanita hamil yang masih sangat muda dan cantik ke dalam kelasnya. Bagaimana tidak bisa dikatakan muda, Aiyana saja masih berumur 18 tahun.


Alvan dengan sangat hati hati memapah Aiyana ke kursi tempat dia biasanya mengajar sementara dia tegak untuk menerangkan pada semua mahasiswa nya.


“kalau ada apa apa bilang sama mas, kalau perut ai sakit atau pengen ke kamar kecil” peringat alvan sebelum membuka kelasnya pagi itu.


“Ai lapar” ucap ai dengan suara pelan dan senyum lebarnya.


“tadikan udah sarapan sayang, masih lapar?” tanya alvan.

__ADS_1


“pengen beli sandwich apa boleh?”


Alvan menghela nafas sedikit lebih panjang, “hasan!” panggil alvan pada siswa yang menurutnya kekurangan dalam hal keuangan.


“ya pak” hasan mengangkat tangan dan menyahuti ucapan alvan.


“kemari” panggil alvan.


Dengan patuh pria itu mendekat kea rah alvan.


“Ini tolong belikan dua buah sandwich dan satu air mineral untuk istri saya, sisa uangnya boleh buat kamu” ucap alvan sambil memberikan uang 200 ribu pada pria berkacamata itu.


“tapi uangnya lebih banyak pak” ujar hasan.


“udah ambil aja, anggap upah udah lari buat belikan makanan buat istri saya”.


“baik pak” dengan cepat hasan berlari menuju kantin untuk membeli sandwich yang diinginkan oleh istri alvan. Lumayan uang kembaliannya bisa buat dia makan 2-3 hari di warteg bahkan mungkin bisa lebih.


Alvan menatap Aiyana, “udah puas sayang?”


.


Selama mengajar alvan sesekali memperhatikan istrinya yang memainkan ponsel miliknya, tidak hanya alvan, banyak mahasiswa dan mahasiswi juga memperhatikan Aiyana, selain karena kagum dengan kecantikkan Aiyana mereka juga tidak percaya dosen killer bisa bersikap manis di depan istrinya.


“kenapa sayang?” tanya alvan tiba tiba, karena saat dia menoleh melihat Aiyana raut wajah wanita itu terlihat seperti orang yang sedang kesakitan.


“gak ada” bohong Aiyana, padahal sebenarnya dia mulai merasakan kontraksi, tapi dia takut mengatakannya pada alvan karena masih beberapa hari lagi, dan takut itu hanya kontraksi palsu, karena sudah beberapa hari ini dia mengalami kontraksi palsu dari si bayi.


Alvan kembali mengajar tapi kepalanya menoleh ke arah Aiyana lebih sering, karena melihat raut wajah Aiyana yang mirip orang kesakitan.


“Maaaasss kon-trak-si” ucap Aiyana terbata sambil memegangi perutnya yang terasa semakin sakit.

__ADS_1


“Ya allah, bentar sayang, ini benaran kontraksi?’ tanya alvan panik, tidak hanya alvan semua mahasiswa dan mahasiswi di sana juga tampak cemas melihat Aiyana yang meringis kesakitan.


“Beneran mas, ini sakitnya beda dari biasanya” lirih Aiyana, kali ini dia mencengkram erat lengan alvan berusaha menyalurkan sakitnya pada tangan alvan.


“bentar sayang” alvan segera mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.


“Dho! ke parkiran sekarang juga, bantu gue bawa mobil, istri gue sedang kontraksi” ucap alvan cepat begitu teleponnya diangkat ridho.


“masss! Sakiitttttt!” teriak Aiyana keras, air matanya sudah mulai keluar karena tidak kuat menahan sakit yang terasa.


“kelas di bubarkan, hasan tolong letakkan semua barang saya ke ruangan saya” ucap alvan cepat sambil menggendong Aiyana dan berlari menuju mobil tempat dia parkir.


Di sana memang sudah tampak Ridho sang sahabat yang menunggunya, dengan gerakan cepat alvan melempar kunci mobil yang ada di tangannya pada ridho, lalu masuk ke dalam mobil cakaran dan remasan di tangannya yang mulai terasa erih alvan biarkan saja, dia tidak tau bagaimana rasa sakit istrinya, jika dengan mencubit mencakar atau mencengkram lengannya bisa mengalihkan rasa sakit Aiyana maka alvan akan membiarkan hal itu terjadi.


.


Aiyana sampai dirumah sakit hanya dalam waktu 15 menit, entah itu keberuntungan karena memang jarak rumah sakit dengan kampus tempat alvan mengajar sangat dekat, apa lagi ridho membawa mobil dengan laju yang cukup lumayan.


Sampai di rumah sakit sudah tampak 3 orang dokter dan beberapa perawat yang menunggu alvan di depan rumah sakit, alvan memang sudah mengabari pihak rumah sakit dan keluarganya, keluarganya mungkin masih dalam perjalanan tapi kalau dokter pasti akan langsung menunggu pasien VVIP yang akan mereka tangani.


.


“baru pembukaan 5, jadi tunggu sebentar ya tuan, nyonya” ucap dokter yang menangani Aiyana.


“Sakit maasss” lirih Aiyana dengan keringat yang sudah bercucuran.


“Ini istri saya sudah kesakitan, operasi saja biar dia gak kesakitan” teriak alvan murka.


“gak mau, ai maunya normal!” tolak Aiyana sambil terus meringis kesakitan.


“tapi sayang kamu kesakitan” alvan menggenggam tangan Aiyana dan mencium punggung tangan istrinya itu beberapa kali.

__ADS_1


“Gak apa ai kuat” jawab Aiyana.


...🌮🌮🌮🌮🌮...


__ADS_2