
Candra terbaring lemah di lantai penjara, wajahnya sudah babak belur, mungkin wajah hasil operasinya sudah tidak bisa di perbaiki lagi, pelakunya tidak lain adalah brandon, pria itu sekarang tersenyum sinis menatapnya, di sebelah kiri dan kanan pria itu ada petugas polisi yang sedang menahan dirinya untuk tidak memukul candra lagi.
Setelah mendapatkan kenyataan yang sebenarnya, Brandon yang kebetulan berada di satu sel yang sama dengan candra langsung memukul pria itu, dia tidak peduli dengan orang orang yang berusaha menahan dirinya, pria itu hanya memukul candra dengan membabi buta.
“tolong tenang! Tuntutan kalian akan semakin besar kalau kalian sampai membunuh di dalam penjara” ujar penjaga penjara pada brandon.
Brandon tersenyum sinis melihat candra yang sudah terkapar merintih kesakitan. “tenang aku tidak akan membunuhnya, mati terlalu mudah untuk dia, banyak wanita yang dia perkosa dan bunuh, setidaknya dia harus merasakan neraka di dunia sebelum merasakan neraka yang sesungguhnya” umpat brandon lalu berjalan mengikuti seorang penjaga penjara yang menarik dirinya, mereka takut brandon kembali menggebuki candra jadi mereka berniat untuk memisahkan dua orang itu.
Tahanan lain menatap heran brandon yang memukuli candra, mereka semua bertanya tanya alasan brandon bisa mengamuk dan memukuli tahanan candra, tapi tidak ada yang berani bertanya karena melihat bagaimana Brandon mengamuk.
“Alvan benar, pria itu tidak boleh mati dulu, dia harus tersiksa di dunia ini sebelum dia memohon ampun pada korban korbannya” gumam brandon berbicara sendiri.
...🍬🍬🍬🍬🍬...
Alvan menatap serius dokter baru yang di tugaskan untuk menjaga kondisi Aiyana, alvan memang meminta penggantian dokter menjadi dokter wanita, karena dia tidak suka ada pria lain yang menyentuh istrinya.
“Kandungannya sudah lebih baik dari kemarin” ucap dokter rini. “emm… apa masih ada bercak di ****** ***** anda nyonya?” tanyanya lagi saat membaca riwayat Aiyana di catatan yang dia pegang.
Aiyana tergagap, bercak apa? Dia sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan dokter Rini.
“Maksud saya, bercak coklat atau darah yang menempel pada ****** ***** anda, karena menurut laporan dulu sempat ada bercak darah saat anda di bawa pertama kali ke sini, walau sangat sedikit” jelas Dokter Rini. “siapa yang membantu memakaikan_”
“Aku” potong Alvan cepat, tanpa ada rasa ragu atau gugup sedikitpun. “aku mengganti dan memakaikannya” lanjut alvan.
Aiyana baru saja merona mendengar ucapan suaminya sementara dokter dan suster yang mendengar ucapan alvan tampak kagum dengan suami seperti alvan.
__ADS_1
‘Benar benar sosok suami idaman, dia sangat mencintai istrinya’ batin dokter rini dan suster.
“Anda? Oh maaf saya pikir ada perawat lain atau ibu dari istri anda” ucap dokter rini dengan pipi merona merah.
Aiyana sedikit cemberut melihat dua orang wanita di depannya yang sedang merona merah, kenapa juga suaminya selalu bisa memberi efek pada setiap wanita? Aiyana kini memutar bola matanya kesal.
“Ba-bagaimana tuan? Apa ada bercak atau apa?” ulang dokter rini, sedikit gugup saat matanya bertatapan dengan mata serius alvan walau hanya sekilas.
“Tidak ada, kenapa?” balas alvan singkat dan terkesan dingin.
“Bagus, itu tandanya kondisi bayi mulai aman, kalian berdua tidak usah khawatir. Tapi, tetap nyonya Aiyana belum boleh bergerak terlalu banyak ya” jelas dokter rini.
Alvan kini menatap Aiyana dengan lekat senyum mulai muncul dari bibir pria itu.
“kau lihat sayang, keadaanmu semakin membaik terutama bayi kita” ucap alvan terdengar sangat bahagia. Segera alvan mendekatkan wajahnya pada Aiyana lalu mencium bibir istrinya itu sekilas, dan mengusap puncak kepala Aiyana dengan lembut.
“Ai pengen pulang~ bentar lagi ai ujian” rengek Aiyana. “Ommas juga, besok pulang kerumah, dan mulai bekerja, ai udah membaik” Aiyana menatap nanar alvan yang masih belum mau meninggalkannya, rumah sakit sudah menjadi rumah kedua alvan, dia bahkan melakukan semua aktifitasnya di sana.
“Tidak!” ucap alvan tegas, “mas masih mau di sini, istri mas di sini_”
“Ommas~ setidaknya ommas tidur dengan benar selama beberapa jam, ommas harus merawat diri ommas, ai gak mau suami ai jatuh sakit karena menjaga ai” potong Aiyana. Alvan memang sudah mencukur bulu halus yang ada di wajahnya, tapi pria itu masih jarang sekali makan dan Aiyana memperhatikan itu.
Sorot mata alvan melunak mendengar Aiyana begitu khawatir dengannya.
“ommas~ ai mohon pulang dan tidur, ai khawatir! Liat ini kantong mata ommas punya kantong mata lagi, apa jangan jangan ommas tidak tidur selama ai koma?” Aiyana menangkup pipi alvan, menggunakan kedua tangannya walau yang terkena tembakkan langsung berdenyut begitu di gerakkan.
__ADS_1
“Sayang, mas_”
“Besok malam, ai akan menyuruh mama dan bunda yang akan menemani ai, jadi ommas bisa tidur dulu” kata Aiyana tidak terbantahkan.
“Ini masuk akala tau tidak, mas pernah bilang padamu, tentang ini. padahal setiap hari kita bertemu, tapi meninggalkanmu hanya sejenak saja sudah membuat mas rindu berat, mas tidak tau apa ini semua terjadi karena efek trauma atau sejak kamu koma… tapi sejak kejadian penculikkan itu…” alvan menjeda ucapannya, dia menghela nafas berat.
“Ai juga” bisik Aiyana.
Alvan langsung mengangkat kepalanya yang tadi menunduk.
“Ai juga suka rindu sama suami ai, padahal hanya beberapa jam belum bertemu, tapi ai tidak mau suami ai sakit, jadi ai mohon, istirahatlan walau cuma sebentar saja” Aiyana memajukan wajahnya, hingga bibirnya bertemu dengan bibir milik alvan, ia mengecupnya sekilas.
Alvan tersenyum samar, merasakan bibir lembut Aiyana yang menempel sekilas, “baik, istriku, mas akan melakukan permintaanmu, tapi dengan satu syarat”.
“apa?”
Alvan menunjuk bibirnya sendiri, “cium mas dengan lebih lama dan menggairahkan” alvan nyengir lebar.
Aiyana tersenyum malu malu, dia mengelus pipi alvan dengan sebelah tangannya yang tidak terluka. Sementara alvan memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan Aiyana, yang sialannya setiap Aiyana menyentuhnya, maka jantung alvan akan berdegup semakin kencang, hingga menyalurkan gelenyar ke area sensitifnya. Celana alvan sekarang mulai terasa ketat.
“Oh tidak sayangku!” tidak tahan lagi dengan sentuhan lembut Aiyana di pipi juga lehernya, alvan langsung mendekat meraih tengkuk Aiyana dan menekan bibirnya pada bibir Aiyana. Pria itu sudah tidak tahan lagi untuk ******* bibir Aiyana yang sangat lembut, manis dan penuh dengan candu, memabukkan. Alvan semakin menekan bibir Aiyana, membuatnya nyaris merasa gila jika tidak menyentuh bibir itu sehari saja. Apa lagi Aiyana sekarang juga ikut menggerakkan bibirnya untuk ganti membalas ******* bibirnya.
Perasaan alvan semakin berbunga bunga, dan dia merasa ingin melayang, merasakan bibir Aiyana yang membalas cumbuannya.
...🍩🍩🍩🍩🍩...
__ADS_1