
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Aiyana melewati masa ujiannya di rumah sakit, untung saja alvan membantunya dalam belajar hingga dia mampu melewati masa ujiannya dengan nilai yang bagus. Sejak menikah dengan alvan, Aiyana mulai rajin belajar karena takut mendapat bully an dari kampusnya. Aiyana juga ingin membuktikan kalau keberadaannya di kampus itu bukan hasil sogokan suaminya tapi hasil kerja kerasnya sendiri.
“Sayang, sudah si-ap_” Alvan terdiam begitu melihat istrinya sedang berias di depan cermin rias. Pria itu langsung mendekat dan mencium pipi Aiyana.
“Ommas~ jadi berantakan lagi kan” Protes Aiyana sambil mendorong tubuh suaminya sedikit menjauh.
Bukannya menjauh Alvan semakin mendekat dan menatap Aiyana dengan lekat, malah pria itu sekarang duduk bersandar dekat meja rias Aiyana sambil menatap istrinya itu. “Istri mas cantik banget kalau pakai hijab, mas suka deh liatnya” puji alvan.
“Iya kan acara 7 bulanan dedek bayi, gak sopan aja orang orang pada pakai baju muslim ai gak pakai” Memang saat ini Aiyana sedang melakukan selamatan 7 bulanan untuk bayinya, kedua orang tuanya bersih keras mengadakan di acara itu secara besar besaran sampai mengundang beberapa anak panti asuhan untuk ikut acara itu.
“Iya mas tau kok, mas Cuma muji istri mas yang makin cantik ini” Alvan memegang dagu Aiyana dan mencium bibir istrinya itu singkat.
“Luntur lipstick ai jadinya” protes Aiyana sambil menepuk tangan alvan yang ada di dagunya.
“Gak apa, masih cantik kok, tu bibir sexy banget makanya mas kecup” kekeh alvan.
“kecup kecup, emang susah punya suami omes” gerutu Aiyana sambil kembali memperbaiki hijab yang dia gunakan lalu tegak dari duduknya. “omes udah siap?” canda Aiyana.
“yank~ jangan panggil itu dong, banyak orang dan ibu ibu loh yank, malu mas” protes alvan sambil berlari kecil mengikuti Aiyana.
“bisa malu juga suami ai, biasanya gak punya malu, cium cium di depan orang bahkan teman teman ai” sindir Aiyana dengan senyum mengejeknya.
“Hmmm kalau itu sengaja, untuk tunjukkin seberapa cinta nya mas sama kamu, tapi sekarangkan banyak ibu ibu yank, bisa di gossipin satu kampung, kalau istrinya manggil omes atau ommas” bela alvan.
“Baiklah sayangku, ayo kita keluar” Aiyana segera merangkul lengan suaminya sambil sedikit menarik pria itu.
.
Bunda Vania dan mama Haura tampak senang karena acara tujuh bulanan cucu mereka berlangsung tanpa hambatan.
Sekarang di rumah keluarga alvan itu hanya tersisa kerabat dekat dan keluarga saja, karena kebanyakkan tamu sudah pulang.
__ADS_1
“Ai bagaimana tanganmu yang terkena tembakkan?” tanya kakek pada cucu menantunya.
“Alhamdulillah udah sehat kek, kakek kan tentara, apa pernah kena tembak juga kek?” tanya Aiyana penasaran.
Kakek alvan mulai menceritakan cerita heroiknya tentang bagaimana dia melawan ******* dia juga menunjukkan bekas tembakkan yang mengenai dirinya, semua orang yang ada di sana mendengarkan dengan serius bagaimana kakek alvan bercerita.
📳📳
“ahh maaf” bunda Vania segera menunduk malu karena suara ponselnya yang terdengar sangat nyaring. Wanita paruh baya itu permisi keluar sambil membawa ponsel yang sejak tadi berbunyi.
Tidak lama Bunda Vania kembali dan ikut bergabung kembali dengan semua orang yang ada di sana.
“Siapa yang telepon bun?” bisik ayah Abraham penasaran.
Bunda Vania mendekatkan wajahnya pada telinga ayah Abraham “gizhi, dia baru saja melahirkan dan anaknya cowok” bisik bunda Vania.
Memang sejak Aiyana memberikan nomor ponsel bunda Vania pada Gizhi, wanita itu selalu menghubungi Bunda Vania untuk bertanya tanya masalah yang dia alami selama melahirkan dan dia juga bertanya apa saja yang harus dia persiapkan sebelum dia melahirkan, gizhi merasa seperti mempunyai orang tua kedua setelah diperbolehkan menelpon bunda Vania.
“jenguk siapa bun?” celetuk Aiyana yang memang tidak sengaja mendengar ucapan ayah Abraham yang terakhir. Kini semua mata tertuju pada ayah Abraham dan bunda Vania.
“Ahh.. i-itu kenalan bunda mu baru saja melahirkan, jadi ayah sama bunda mau menjenguknya di rumah sakit” jawab ayah Abraham sedikit canggung, karena tidak bisa berbohong dan mencari alasan yang tepat.
“umur berapa bram? Kalau seumuran kalian cukup tua untuk memiliki anak” celetuk kakek.
“benar juga siapa itu bram?” tambah papa Hamdi, bram adalah panggilan kecil ayah Abraham memang sejak papa hamdi dan ayah Abraham kecil mereka sangat akrab sampai sudah seperti saudara.
“Masih muda, seumuran alvan, dia tidak punya keluarga jadi bertanya tentang kehamilan pada istri saya pa” jawab ayah Abraham.
“Tante gizhi?” sela Aiyana tiba tiba.
“Iya sayang dia gizhi” bunda vania mengangguk mengiyakan ucapan Aiyana.
__ADS_1
“Gizhi itu mantannya alvan kan? yang melarikan diri dari pernikahan itu?” Rina istri andra tiba tiba ikut bertanya.
“Kalian berhubungan dengan wanita jahat itu?!” tanya kakek alvan dengan nada sedikit tinggi.
“Iya pa, tapi papa jangan marah dulu, istri bram Cuma kasian dengan wanita itu, hanya itu saja tidak lebih, dia memang pernah menjadi masa lalu alvan tapi dendam dan benci tidak boleh selamanya ada bukan? Apa salahnya membantu untuk orang yang membutuhkan?” ujar ayah Abraham lembut.
“jadi dia sudah menikah?” tanya andra kali ini.
Bunda Vania diam untuk beberapa saat karena bingung harus menjawab apa.
“Belum, dia bahkan masih mengejar alvan saat dia sedang hamil” jawab mama Haura.
“Wanita jahat seperti itu kenapa masih kalian kasihani bram!” murka kakek kembali.
“Pa~ dia memang salah karena hamil diluar nikah, tapi itu bukan berarti kita sesama manusia tidak boleh memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan, dosa dia biar dia yang membayarnya sendiri, kita tidak perlu menambah dosa dengan menghina sesame mahkluk ciptaan allah, dia sudah menyesali semua perbuatannya, tapi tidak mungkin dia menggugurkan anak yang sudah ada di dalam perutkan? Dia juga merasa sangat senang karena memiliki anggota keluarga, biarlah masa lalu berlalu begitu saja, jangan ada hinaan atau kebencian lagi, kasian. Dia bisa seperti itu jugakarena tidak ada sosok orang dewasa yang mengajarkannya cara melindungi diri” jelas bund avania dengan nada lembut.
“ai gak marahkan bunda baik sama mantanya suami kamu?” tanya ayah Abraham.
“hmmm… bunda lebih sayang ai atau tante itu?”
“tentu saja putri bunda nomor satu” ucap bunda Vania tegas tidak terbantahkan.
“kalau gitu ngapain ai marah, bundakan sedang menebar kebaikan” ucap Aiyana dengan senyum lebarnya.
...🍲🍲🍲🍲🍲...
bonus pict
istri cantik alvan pakai hijab
__ADS_1