
Akhirnya masa masa ujian bagi anak SMA kelas 3 sudah berakhir, tampak wajah bahagia dari pada siswa dan siswi yang lega karena berhasil sampai pada akhir masa sekolah mereka, hanya tinggal menghadapi ujian masuk universitas atau pemilihan universitas yang mereka inginkan, ada beberapa yang tidak melanjutkan sekolah lagi karena keterbatasan biaya tapia da juga yang kerja sambil berkuliah.
Aiyana baru saja melangkahkan kakinya keluar dari kelas sambil membaca pesan masuk yang dia terima.
“Ai!” Langkah kaki Aiyana berhenti karena panggilan Keyla dan putri.
Aiyana berbalik dan memberikan tatapan bertanya pada Keyla dan putri.
“Besok kan libur, elo ada di rumah gak?” tanya Keyla.
Aiyana berpikir sebentar lalu membaca pesan dari Alvan lagi.
‘Mas agak telat jemputnya, tunggu aja bentar ya sayang, nanti kita langsung pergi ke puncak, semua barang sudah mas siapkan di mobil’ isi pesan dari Alvan.
“Gue liburan ke puncak, emangnya kenapa?” tanya Aiyana.
Keyla dan putri saling berpandangan lalu mengangguk pelan seolah olah sedang merencanakan sesuatu, “Kalau gitu kita bisa ke rumah elo gak sebentar aja, sekarang atau besok gitu?” tanya Keyla lagi.
“Gue langsung menuju puncak gak pulang ke rumah, ini nunggu jemputan dan langsung capcus ke puncak” ucap Aiyana jujur.
“Yaahhh berarti gak bisa dong kita main bareng lo lagi Ai, bisa ajakan kita misah pas kuliah kan belum tentu kita lulus bareng di universitas yang sama” ucap Keyla lesu.
“hmmm, nanti deh gue kabari kalau gue udah balik, gue juga mau cerita satu rahasia gue sama kalian, tapi setelah gue balik ya” ujar Aiyana.
“rahasia? Rahasia apa Ai?” tanya putri kali ini.
‘ting’
‘Mas udah ada di depan gerbang sekolah’ Aiyana tersenyum membaca pesan masuk dari suaminya.
“Nanti aja deh, gak sempat certain sekarang, soalnya ceritanya panjang banget, gue udah di jemput, gue duluan ya” Aiyana segera berlari menuju gerbang, sementara itu Putri dan Keyla berlari mengejar Aiyana dan terdiam di depan gerbang saat melihat Aiyana langsung memeluk Alvan, Aiyana juga masuk ke dalam mobil yang alvan.
Kejadian itu begitu cepat, Alvan menunggu di depan gerbang, Aiyana berlari memeluk pria itu dan alvan menangkapnya lalu mencium kening Aiyana.
“I-itu pak Alvan kan?” gumam Keyla.
“i-iya pak Al-van, bu-bukannya mereka saudara sepupu?” Putri menolehkan wajahnya menatap Keyla meminta jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
“I-iya saudara sepupu, tapi tadi kok seperti itu, apa jangan jangan..” Keyla langsung menutup mulutnya sendiri tidak mau berasumsi apapun, takut salah tebak dan jatuhnya fitnah.
“Key, ap akita kasih tau fajri?” usul putri.
Keyla menggeleng pelan, “nanti aja kalau udah pasti apa hubungan mereka” ujar Keyla.
“tapi key, tadi mereka gak kayak hubungan saudara, gue yaki nada sesuatu di antara Aiyana dan pak Alvan, kalau di ingat ingat lagi, hubungan mereka itu dekatnya gak kayak saudara key” ungkap putri yang semakin curiga dengan hubungan Aiyana dan Alvan.
“ya udah lah, nanti ai pasti cerita ke kita, kita tunggu aja” ujar Keyla, otak gadis itu masih pusing dengan ujian yang baru berakhir dan sekarang langsung ditambah misteri hubungan Aiyana dan Alvan.
...🍔🍔🍔🍔🍔...
“Ommas, ai laperr” rengek Aiyana begitu mobil baru di jalankan.
Alvan menoleh sebentar lalu mengelus pipi Aiyana dengan lembut, “laper?? Mau makan apa?”
“hmm, sushi!” seru Aiyana dengan senyum yang sudah mengembang.
“baiklah, kita ke sana_” Alvan langsung terdiam menatap deretan nomor yang baru saja menelponnya, memang tidak ada nama tapi Alvan tau siapa yang menelpon.
“Kenapa gak diangkat ommas??” tanya Aiyana penasaran.
Baru beberapa saat telepon itu dimatikan Alvan, ponsel itu kembali berdering membuat Aiyana semakin penasaran.
“Angkat aja ommas, siapa tau penting” usul Aiyana.
“Gak penting sayang, ini gak penting sama sekali” ujar Alvan dengan ekspresi serius, membuat Aiyana semakin penasaran.
5 kali telepon Alvan berbunyi nyaring, dan berkali kali pula Alvan menekan tombol mati pada ponselnya.
“Kita ke mall cari ponsel baru aja ya” usul Alvan tiba tiba.
“Terserah” ujar Aiyana ketus, dia mulai kesal karena Alvan tidak menjelaskan apapun pada nya.
Melihat istrinya yang ngambek Alvan segera menepikan mobilnya, “Kenapa marah?” tanya alvan lembut.
“gak ada” elak Aiyana, wanita itu tidak mau menatap alvan sedikitpun.
__ADS_1
Alvan menghela nafas sedikit lebih panjang, “mas mau jelaskan nanti, tapi sepertinya istri mas udah marah duluan, tatap mas dong, biar mas bisa jelaskan semuanya sama kamu” Alvan menarik tangan Aiyana dan mencium tangan Aiyana yang dia tarik.
“Jelaskan sekarang, siapa itu?” Aiyana akhirnya mau menatap Alvan tapi dengan wajah yang cemberut.
“Mantan calon istri mas, mas gak tau kenapa dia telepon mas, sejak menikah hingga saat ini, baru hari ini dia menelpon mas, jadi jangan salah paham” jelas Alvan sambil mengelus pipi Aiyana agar istrinya itu tidak ngambek lagi.
“Ngapa dia telepon lagi?” Aiyana mulai terisak kecil.
“mas juga gak tau sayang, kok nangis sihh, kan udah mas jelaskan tadi” Alvan mulai merasa bersalah melihat istrinya yang menangis.
“Ommas mau balikan sama dia ya” tangisan Aiyana semakin kencang, wanita itu semakin takut kehilangan Alvan.
“Ya allah sayang, mas kan udah bersumpah hanya kamu satu satunya yang mas cintai, makanya mas mau ganti ponsel aja, sekalian ganti nomor” ujar Alvan, dia masih berusaha membujuk Aiyana.
“Tapi tadi kenapa ommas gak angkat? Takut ai ikut dengar dia bicara apa?” rengek Aiyana.
“Bukan sayang, mas gak mau berurusan lagi sama dia bukan mas takut kembali jatuh cinta pada dia, mas hanya tidak mau berurusan apapun lagi dengan dia, mas ketemu dia lagi mas juga gak akan jatuh cinta lagi sama dia” ungkap Alvan, ingin sekali dia menarik Aiyana ke dalam pelukannya tapi saat ini dia ada di pinggir jalan bisa bahaya jika Alvan bermesraan di pinggir jalan, bakal dikira sedang berbuat mesum.
“Nanti kalau dia telepon angkat aja! Ai juga mau dengar” lirih Aiyana.
Alvan mengangguk sambil terus membersihkan sisa air mata Aiyana yang membasahi pipinya. “baik, akan mas angkat di depan kamu, kalau perlu kamu saja yang pegang ponsel mas, kalau takut mas angkat ponselnya diam diam” Alvan menyodorkan ponsel miliknya dan meletakkan diatas paha Aiyana.
Aiyana mengambil itu dan langsung meletakkan dalam tas nya, “ommas gak nyesal?” tanya Aiyana sebelum betul betul menyimpan ponsel milik Alvan.
“Tidak, kamu saja yang simpan sayang” ujar Alvan sekali lagi.
“Ya udah jalan, ai lapar” perintah Aiyana yang sudah tidak menangis tapi masih terisak kecil.
Alvan tertawa kecil lalu mengelus puncak kepala Aiyana, “imut banget sihhh istri mas cemburunya” gumam alvan.
“Itu tandanya cinta ommas!” pekik Aiyana sambil menyedot ingus yang tadi hendak keluar.
Alvan semakin tertawa keras melihat tingkah laku Aiyana, “kalau sekarang udah gak imut lagi sayang” kekeh Alvan.
“Tapi tetap cintakan?” tanya Aiyana.
“masih cinta, banget malah” balas Alvan.
__ADS_1
...🥐🥐🥐🥐🥐...