
“Bun~ kok ommas lama” rengek Aiyana.
Wanita hamil itu merengut sambil terus memasukkan buah apel yang dikupaskan bunda Vania pada nya.
“sabar sayang, ketempatnya perlu setengah jam belum bicaranya lagi, apa lagi pulangnya, jadi kamu harus sabar” jelas Bunda Vania dengan lembut.
“Tapi ommas gak akan balikkan sama nenek sihir itu kan bun?” lirih Aiyana.
Bunda Vania tersenyum kecil sambil mencubit pelan hidung mancung putrinya, “tidak akan, suami kamu sudah bersumpah kemarin dihadapan bunda dan ayah kalau dia mengatakan mencintaimu, jadi tenang dulu ya”.
Aiyana memang sudah diberitahu dengan pertemuan Gizhi dan Alvan yang akan ditemani papa hamdi dan mama Haura, awalnya Aiyana ingin ikut juga, tapi atas permintaan Alvan dan kedua orang tua Aiyana, ibu hamil itu akhirnya setuju untuk menunggu alvan kembali.
“hmm~ baiklah” ucap Aiyana pasrah, wanita itu kembali berbaring sambil memasukkan sepotong buah apel lagi ke dalam mulutnya, “bun, kapan ai boleh pulang? Ai pengen di rumah aja, kan ai udah sehat” lanjut Aiyana.
“Nanti ya sayang, kita tanya dokternya” jawab bunda Vania. Wanita paruh baya itu memang sangat lembut pada putrinya, dia tidak pernah marah, saat marahpun selalu berusaha meredam amarah itu.
.
Di café, dimana Gizhi ditinggal sendirian oleh alvan dan orang tuanya. Gizhi menjadi pembicaraan orang satu café, beberapa dari mereka secara terang terangan menghina Gizhi, bagaimana mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, gizhi saja sudah membuat perhatian public tertuju padanya dengan cara dia bersujud di hadapan Alvan.
Awalnya pandangan public tertuju pada Gizhi, mereka merasa kasian dengan wanita itu tapi lama kelamaan mendengar pembicaran dari meja itu, para tamu tidka lagi kasian yang ada malah merasa pantas gizhi mendapatkan perlakuan seperti itu.
Wanita yang kabur di hari pernikahannya, malah membuat alasan tidak jelas untuk meminta kembali pada pria yang dia tinggalkan.
“kasian deh, makanya jangan membuat alasan yang gak jelas” umpat salah satu pengunjung café.
Gizhi hanya bisa memandang sinis pengunjung itu, karena dia tidak mau bertengkar di dalam café itu. Kepala gizhi kini menoleh mencari meja yang diduduki brandon, tapi sayang pria itu sudah menghilang tidak tau dimana keberadaannya, sudah sejak Alvan dan keluarganya pergi pria itu juga pergi meninggalkan gizhi, ingin membuat rencana terbaru untuk menyakiti Alvan.
__ADS_1
.
“Alvan! Mulai saat ini ganti semua nomor teleponmu! Mama gak mau kamu mengangkat telepon dari wanita ular itu lagi” umpat mama Haura kesal sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
“Ma~ tenang, alvan udah ganti kok, mama tenang aja alvan tidak akan terpengaruh omongan dia lagi” Alvan sejak tadi berusaha menenangkan mama Haura tapi wanita paruh baya itu masih tampak emosi dan marah dengan tuduhan yang diberikan padanya.
“Van, sebaiknya kamu cari tau asal usul Gizhi, papa curiga dia bukan hanya mendekatimu karena memanfaatkan hartamu, tapi seperti ada hal lain yang dia sembunyikan, tadi papa perhatikan pria yang ada bersama gizhi duduk tidak jauh dari meja kita, memang dia memakai topi dan kacamata, tapi papa yakin itu pria yang sama dengan yang ada di foto” celetuk papa Hamdi.
“Tidak perlu! Jangan cari cari tau tentang dia! Mama gak mau alvan berurusan lagi dengan wanita ular itu!” bantah mama Haura.
Papa Hamdi menghela nafas sedikit berat, “Ma~ menyelidiki bukan berarti alvan akan papa biarkan kembali pada wanita itu, karena alasan wanita itu sangat berbelit belit, papa yaki nada sesuatu yang menjadi pemicu dia berbuat seperti itu, salah salah menantu kita yang sedang hamil bisa dia ganggu, kalau wanita itu tidak disingkirkan dari hidup alvan selamanya, maka dari itu kita harus menyelidiki rahasia dia sampai ke akarnya” jelas papa Hamdi.
Sejak masuk Café papa Hamdi memang diam, tapi pria paruh baya itu sedang memperhatikan keselilingnya dan mendengarkan dengan seksama semua ucapan yang dia dengar di café tadi.
“Tapi pa, mama gak mau alvan jatuh cinta pada wanita ular itu lagi” lirih mama Haura.
“papa benar ma, alvan juga penasaran sebenarnya apa alasan dia melakukan itu pada alvan, bukan karena alvan masih mencintainya, tapi lebih karena ingin tahu, apa dia punya dendam pada alvan, kalau memang itu dendam, alvan harus menyingkirkan dia sejauh mungkin dari hidup alvan” sahut alvan mengiyakan ucapan papa Hamdi.
“nah itu maksud papa, kalau sekedar kekayaan alvan itu tidak mungkin, karena pria yang menjadi kekasihnya juga pria yang kaya raya seperti alvan, pasti ada alasan, dan itu yang perlu dicari tau” tambah papa hamdi.
“Ya udah terserah, tapi mama gak mau kamu sampai kembali padanya, ingat alvan kamu sudah bersumpah tidak akan menceraikan istrimu” pringat mama haura.
Alvan tertawa pelan sambil mengangguk, “tanpa sumpah pada mama dan papa alvan sudah bersumpah pada diri alvan akan selalu mencintai istri alvan ma” ucap alvan tulus.
...🥞🥞🥞🥞🥞...
Aiyana merentangkan tangannya lebar lebar begitu melihat suaminya ada di depan pintu masuk.
__ADS_1
“ommas~ sini!” ucap wanita hamil itu dengan senyum yang terlihat sangat menggemaskan.
Alvan tidak peduli ada orang tuanya dan mertuanya di ruangan itu, pria itu segera memeluk istrinya dan mencium pipi dan kening Aiyana beberapa kali.
“ai kangen” bisik wanita itu.
Alvan kembali mendekap erat istri kecilnya, “mas apa lagi” balas alvan. Semua orang yang ada diruangan itu hanya bisa tertawa dan geleng geleng kepala lihat pasangan suami istri yang masih mirip seperti pasangan pengantin baru.
“Ai pengen pulang” rengek Aiyana setelah pelukan mereka terlepas.
“baiklah mas tanya sama dokternya, tapi janji akan mematuhi setiap perintah dokter jika mau pulang” peringat alvan sebelum memanggil dokter yang bertugas menjaga Aiyana. Pasalnya Aiyana tidak mau makan obat ataupun vitamin yang berbentuk obat yang diberikan padanya, wanita itu tidak bisa memakan obat obatan, lebih memilih di suntik dari pada diberi obat.
“harus makan obat?? Gak bisa suntik aja” Aiyana mulai menunjukkan mata puppy eyes nya untuk meluluhkan Alvan.
“kalau gak mau obat tablet atau pil, bagaimana dengan jamu” tanya alvan.
“isss apa lagi itu! Ai gak suka” rengek Aiyana.
“jamu itu bagus buat kandungan kamu sayang, pahit sedikit gak papa, asal sehat” bunda Vania berusaha membantu alvan untuk membujuk Aiyana.
“tapi jamu itu pait bunda” rengek Aiyana lagi.
“mau tambah dosa nya atau minum jamu untuk Kesehatan?” ancam bunda Vania kali ini.
“baiklah” jawab Aiyana pasrah, memang jalan satu satunya untuk membujuk Aiyana hanya itu, mereka semua tertawa pelan melihat Aiyana yang sudah pasrah dengan keputusan bunda Vania.
...🧇🧇🧇🧇🧇...
__ADS_1