
Aiyana sudah terbangun dari tidurnya, begitu diberitahu alasan kenapa dia ada di sana Aiyana bukan merasa sedih seperti yang diperkirakan mama Haura, wanita itu malah tersenyum senang dan bersyukur karena bisa memberikan kedua orang tuanya teman bermain, tidak ada penolakan sama sekali dari Aiyana, penyesalan juga tidak tampak dari raut wajahnya.
Hal itu sangat disyukuri oleh semua orang, termasuk alvan. Sebenarnya mereka semua sudah mempersiapkan kata kata untuk membujuk Aiyana agar tidak menyesal dengan kehadiran bayi di dalam perutnya, tapi semua kata kata itu tidak disampaikan karena Aiyana malah senang bisa mempunyai bayi.
“tinggal tunggu 8 bulan lagi, teman main ayah sudah tiba” itu kata kata yang sangat diingat alvan saat dia menyampaikan pada Aiyana, istrinya itu malah bersemangat untuk menghadirkan buah cinta mereka pada kedua orang tuanya.
.
“Ommas~ ai pengen makan rujak” ujar Aiyana tiba tiba.
Alvan langsung melotot dan melihat jam yang bertengger ditangannya, waktu menunjukkan pukul 11 malam dan di tengah malam seperti ini apa masih ada penjual rujak yang berkeliaran. “apa sayang?” alvan berusaha memastikan sekali lagi bahwa permintaan Aiyana itu memang rujak atau telinganya salah dengar.
“Ai pengen makan rujak! Ai pengen rujak!” teriak Aiyana sekali lagi.
Bunda Vania, mama Haura tersenyum melihat Aiyana yang mulai mengidam.
Alvan menatap bunda vania dan mama Haura yang masih menemani Alvan menunggu Aiyana di rumah sakit, Alvan memelas menatap kedua ibunya yang masih tersenyum, bukan alvan tidak mau, tapi dia tidak tau dimana ada orang yang menjual rujak tengah malam seperti itu.
“Beli saja buah buahnya di supermarket yang buka 24 jam van, biar bunda yang buatkan rujaknya” Bunda vania akhirnya angkat bicara karena kasian melihat wajah Alvan yang sedang meminta pertolongan.
“Baik bunda!” Alvan langsung Bersiap siap pergi, tapi Langkah kakinya terhenti saat mau keluar, “buah apa aja bun?” tanya alvan dengan wajah kebingungan.
Bunda Vania tertawa kecil, kini dia menoleh menatap Aiyana yang sedang menahan tawanya, “Ai mau buah apa aja?”.
“Hmmm, jambu, kedondong, papaya, bengkuang, sama mangga muda” Aiyana menyebutkan satu persatu buah yang ingin dia makan, dan membuat wanita itu meneguk air liurnya membayangkan buah buah yang baru saja dia sebutkan.
Alvan mencatat semua buah yang Aiyana inginkan ke dalam note di dalam ponsel, sebenarnya dia khawatir tidak semua buah ada di supermarket yang akan dia datangi takutnya Aiyana akan marah kalau buahnya tidak pas, “sayang, kalau buahnya tidak lengkap, gak apa ya” izin alvan sebelum berangkat.
__ADS_1
Wajah Aiyana yang tadinya tersenyum bahagia kini cemberut, “ya udah gak apa, tapi ai pengen mangga mudanya harus ada” rengek Aiyana.
Alvan kembali menatap mama Haura dan bunda Vania meminta pertolongan.
“Ya udah bunda ikut aja, kalau mangga mudanya gak ada di supermarket kita bisa ambil di depan rumah, bunda punya pohon mangga nya” Ujar bunda Vania sambil Bersiap siap mengambil tas nya.
“Kalau gitu bun, buatnya disini aja ya, ai pengen liat proses potong buah dan tumbuk kuahnya” sela Aiyana dengan cepat.
“Iya, tunggu sebentar ya” ujar bunda vania dengan lembut.
Alvan mendekat pada Aiyana dan mencium kening Aiyana, “mas pergi dulu, sama ayah dan bunda, kalau ada apa apa minta sama papa dan mama ya” ucap Alvan lembut.
“Iya, cepat belikan~ ai pengen banget ini” rengek Aiyana.
...🥮🥮🥮🥮🥮...
Sayangnya tidak ada buah mangga yang jatuh atau letaknya dibawah, ada beberapa buah mangga, tapi harus naik pohon karena ayah Abraham tidak punya alat untuk mengambilnya dari bawah.
Berkali kali Alvan menatap jam ditangannya sambil melihat beberapa buah mangga yang masih muda dan berada di atas pohon.
“yah, apa alvan harus memanjat dan mengambil itu?” Alvan kini menatap mertuanya yang tegak di sebelahnya.
“ini permintaan istri kamu, ayah sih terserah kamu” jawab ayah Abraham sambil mengedikkan bahu dan mengulum senyumnya.
“tapi ini udah jam 12 malam yah, mana ada orang manjat pohon tengah malam begini yah” keluh Alvan tanpa sadar, bukan dia tidak bisa manjat pohon, tapi mengingat jam 12 malam harus manjat pohon yang sangat tinggi.
“Ada, para suami yang sayang sama istrinya yang sedang ngidam, ayah dulu juga begitu, tujuan ayah tanam pohon mangga di dekat rumah karena hal seperti ini, jadi tidak perlu minta mangga tetangga” kekeh Ayah Abraham.
__ADS_1
Alvan mengambil nafas panjang dan siap siap memanjat pohon itu, lengan bajunya sudah dia angkat sedikit tinggi, agar bisa leluasa memanjat pohon, “demi istri apapun akan dilakukan” ucap alvan sebelum memanjat pohon.
.
Pukul 1 malam Alvan baru kembali ke rumah sakit bersama kedua mertuanya. Pria itu sudah berganti baju dengan baju milik ayah Abraham karena tadi ada insiden jatuh dari pohon mangga, berhubung malam dan baru habis hujan, dahan pohon mangga tentu saja licin, alvan yang kesulitan melihat di malam hari akhirnya tidak sengaja memilih dahan yang kecil hingga tidak kuat menahan bobor badannya dan akhirnya dia terjatuh.
Bunda Vania dan ayah Abraham tertawa kecil melihat menantunya yang sudah bercampur becek, keduanya akhirnya menyuruh alvan berganti baju dengan baju milik ayah Abraham sebelum kembali berangkat ke rumah sakit.
Namun sayang begitu alvan sampai sang istri yang sedang ngidam rujak buah sudah tertidur dengan lelapnya.
“Lahh, ai tidur, tadi katanya ngidam rujak” seru Alvan melihat Aiyana yang sudah tertidur.
“Udah simpan saja dalam kulkas, kan belum dibuka buah buahnya, jadi bisa buat besok pagi” ujar mama Haura.
“Ma, mama gak tau pengorbanan alvan buat cari ini ma” keluh alvan sambil menunjuk dua kantong yang berisi buah buahan yang Aiyana inginkan.
“baru segitu udah ngeluh van, belum kamu bawa bayi kamu selama 9 bulan, jangan mengeluh” tegur papa Hamdi.
“alvan gak ngeluh pa, Cuma bercerita aja, tujuannya sih biar dipuji sama istri gitu, tapi kalau gini udah gak berlaku lagikan pujiannya” kekeh Alvan.
Mama haura ikutan tertawa mendengar ucapan putranya, “emang minta pujian kenapa?” tanya mama Haura.
“dia jatuh dari pohon mbak, tu liat tangannya lecet” celetuk bunda Vania.
Papa hamdi dan mama Haura kompak tertawa, untung saja Aiyana itu tipe orang yang tidak mudah bangun jika sudah tertidur kecuali sudah waktunya dia bangun, jadi suara ribut seperti itu tidak membangunkannya.
“kasian kamu van” ucap mama Haura dan papa Hamdi serentak.
__ADS_1
...🥗🥗🥗🥗🥗...