
Aiyana merasa dirinya seperti sedang berada di awan awan. Tapi untuk membuka matanya itu terasa sangat berat. Bahkan tangannya sulit untuk di gerakkan, Apa dia sudah mati? Tapi kenapa seolah ia bisa merasakan detak jantungnya. Ia juga masih bernafas.
Lalu dekarang dimana dia? Kenapa matanya masih terlalu sulit untuk di buka, sekujur tubuhnya masih terasa nyeri terutama pada bagian leher dan lengan, kemudian ia samar samar mendengar suara, ada suara yang sangat ia kenal.
“Sampai kapan?” terdengar suara frustasi dan itu adalah suara… Alvan, suaminya.
“Tenang, Tuan, masa kritisnya sudah lewat, tinggal menunggu ia siuman dari pengaruh obat” Aiyana yakin itu adalah dokter yang memeriksanya, ingin sekali dia membuka mata dan mengatakan dia sudah sadar, tapi seluruh tubuhnya tidak dapat bergerak, bahkan untuk menggerakkan kelopak matanya terasa sangat sulit.
“Bayi.. apa bayi kami__”
Aiyana sudah tidak dapat mendengar suara alvan lagi, kepalanya kembali terasa berat, padahal dia ingin sekali tau apakah anak dalam perutnya masih ada ataukah keguguran. Semakin memikirkan itu, sesak di hatinya semakin membuat Aiyana tidak bisa mempertahankan fungsi pendengarannya lagi, dia kembali masuk kedalam alam bawah sadarnya.
.
Alvan manatap sendu istrinya yang masih terlelap. Dokter dan perawat baru saja keluar dan tinggal dia berdua bersama sang istri, alvan menggenggam tangan istrinya yang tidak terkena tembakan, mencium punggung tangan itu berkali kali dan terus berdoa dalam hati agar Aiyana kembali membuka matanya.
‘ceklek’
Pintu ruangan itu kembali terbuka, kali ini bukan dokter melainkan keluarganya dan keluarga Aiyana. Alvan sama sekali tidak menolehkan kepalanya dia hanya terus fokus menatap Aiyana yang terus memejamkan matanya.
“Aiyana pasti akan sadar, kamu tenang saja, putri ayah itu kuat” ujar ayah Abraham sambil menepuk bahu alvan dengan pelan.
“hmmm, makasih yah” gumam Alvan pelan.
“Makanya alvan jadi tentara saja, tidak akan ada yang berani mendekati istrimu jika tau kamu adalah seorang jendral” celetuk kakek Alvan.
__ADS_1
Alvan menoleh dan tersenyum pada kakeknya, “ayolah kek, alvan sudah tidak cukup umur untuk mendaftar untuk menjadi tentara dan alvan lebih cinta istri alvan di banding membela negara ini” kekeh alvan pelan.
“yahh siapa tau kamu tertarik, apa cicit kakek akan jadi tentara nantinya? Kakek siap mengajarkan” ujar kakek alvan sekali lagi, dia masih belum terima kepintaran dan kehebatan alvan tidak di manfaatkan untuk menjadi seorang tentara, padahal dulu saat alvan masih kecil mereka sangat akrab dan sering latihan di hutan bersama untuk menjadi seorang tentara.
Alvan dan yang lainnya tertawa kecil, “Nanti alvan pasti akan mengajarkan anak anak alvan ilmu bela diri, tapi alvan tidak akan memaksa anak anak alvan untuk menjadi tentara kek, ayolah kan ada paman dan yang lainnya untuk terus menjalankan silsilah tentara kakek, alvan sangat sangat tidak bisa jauh dari istri alvan, menjadi tentara harus siap untuk jauh dari istri kapanpun waktunya kek” keluh alvan.
“Iya pa, jangan terlalu memaksa alvan pa” tambah papa Hamdi.
“Ya sudah kakek cuma sedang mencoba lotre saja, siapa tau kamu tertarik, kalau tidak apa boleh buat, kalau gitu kakek pulang dulu, semoga istrimu cepat sembuh” ucap kakek dengan tulus, pria tua itu berjalan di bantu putranya untuk keluar dari kamar inap Aiyana.
“Maafkan alvan kek” ucap alvan sebelum kakek Huznul benar benar pergi.
...🍗🍗🍗🍗🍗...
Aiyana kembali tergerak untuk membuka matanya yang sepertinya memang enggan membuka dengan mudah. Matanya masih terasa berat dan tubuhnya masih terlalu kaku untuk digerakkan tapi dia yakin dirinya kembali sadar hanya saja seperti patung yang tidak bisa bergerak kesana kemari. Entah apa yang terjadi pada dirinya hingga ia sulit sekali melakukan apapun yang dia inginkan, tapi dia bisa merasakan kehadiran orang orang di ruangannya, walau terkadang dia juga benar benar tidak sadarkan diri.
“Alvan hanya ingin ai sadar alvan ada di sisinya, hanya itu” potong alvan. Tegas tidak terbantahkan, kemudian terdengar suara helaan nafas panjang dari mama Haura.
“Makan van, setidaknya kamu makan, mama tidak melihatmu makan sama sekali, sudah dua hari van, mama khawatir melihatmu seperti ini, setidaknya saat istrimu sadar kamu juga sehat bukannya malah jatuh sakit karena kamu tidak mengurus dirimu sendiri, mama mohon alvan” suara mama haura terdengar sedih dan lembut, penuh kasih sayang pada putra keduanya.
Hati Aiyana teriris sakit mendengar nada suara mama haura yang terluka melihat Alvan seperti ini. Aiyana sudah berusaha untuk menggerakkan tangan atau sekedar membuka kelopak matanya, semua usaha dan tekadnya seolah sia sia, tubuhnya tidak mau mengikuti pikirannya.
Bahkan kata mama haura, sudah dua hari dia terbaring.
‘Ya allah bantu aku untuk sadar’ batin Aiyana menjerit.
__ADS_1
“Alvan masih mau disini ma, alvan juga belum lapar ma” tolak alvan lembut.
“baiklah, apa tadi mertua mu datang van?” tanya mama Haura.
“hmm mereka datang, tapi Aiyana bahkan tidak mau membuka matanya ma” jawaban alvan yang sangat pelan dan sedih itu membuat Aiyana ingin bangkit dan berlari kea rah alvan untuk memeluk pria itu, tapi sayang saat ini dia masih belum mempunyai tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.
‘Ceklek’ Tiba tiba Aiyana mendengar suara pintu terbuka pelan.
“Apa menantu papa masih belum bangun?” sekarang Aiyana mendengar suara mertuanya yang terdengar lembut.
“Belum pa, dia masih betah tidur, si putri tidur ini tidak kasian lihat suaminya menderita seperti ini” lirih alvan. Aiyana ingin sekali membuka mulut dan menjawab alvan tapi sekeras apapun dia berusaha tetap saja tidak ada yang bisa dia lakukan.
“Sabar Van, dokter juga sudah bilang sebentar lagi Aiyana akan bangunkan” ucap papa hamdi.
“Iya tapi kapan pa, alvan tidak sanggup melihat dia seperti ini, luka luka itu, seandainya alvan datang lebih cepat ai pasti tidak akan mengalami ini pa” lirih alvan.
Aiyana dapat merasakan tangannya di genggam erat oleh alvan dan dia merasakan ada sesuatu yang basah mengenai tangannya.
Apa alvan menangis? Apa dia sudah membuat suaminya tersiksa?
Aiyana tanpa sadar mengeluarkan air matanya tapi tubuhnya masih belum bergerak sama sekali.
“Van lihat ai menangis!” seru mama Haura.
“Sayang kamu mendengar suaraku kan? bangun sayang aku mohon bangun, jangan siksa aku seperti ini” lirih alvan.
__ADS_1
Tapi sayang Aiyana sudah kembali tidak sadarkan diri, dia sudah tidak bisa mendengar panggilan alvan, entah karena mengeluarkan air mata butuh tenaga yang kuat atau karena dia sudah terlalu lama untuk sadar, apapun itu sekarang Aiyana benar benar kembali kea lam bawah sadarnya.
...🍛🍛🍛🍛🍛...