
“Hai alvan” suara gizhi menghentikan Langkah kaki alvan, pria itu menatap sinis Gizhi, “Tolong dengarkan aku dulu van” sambung gizhi untuk menghentikan Langkah kaki alvan yang hendak berbalik.
“Ada apa lagi?” alvan akhirnya berbicara walau suaranya terdengar dingin.
“van boleh gak kita bicara berdua aja, untuk terakhir kalinya, gue mohon lo gak sejahat itu kan? ini anak gue ngidam van, lo tega sama ibu hamil seperti gue” ujar Gizhi panjang lebar karena alvan tidak ada suara sejak tadi, hanya menatap dia sinis, tapi wajah sinisnya hilang saat melihat perut Gizhi yang terlihat buncit.
“Baiklah, bicara sekarang” ucap Alvan, mungkin kasian melihat Gizhi.
Gizhi menoleh ke kiri dan kanan, jalan yang kosong tanpa orang orang Gizhi akhirnya menghembuskan nafas sedikit berat, “gue sedang ngidam pengen dimasakkin makanan sama elo, boleh gak gue minta dibuatkan makanan sama elo van? Hanya sekali ini aja, gue gak punya siapa siapa untuk gue mintak tolong, bapak dari anak gue juga ninggalin gue, tolong van gue mohon sekali ini saja” gizhi berkali kali memohon pada Alvan untuk di tolong dan dibantu oleh Alvan, karena gizhi tau alvan itu keras kepala dan sulit untuk di bujuk, apa lagi kalau menyangkut wanita.
“baiklah, ayo ikut aku” alvan akhirnya mengajak Gizhi menuju apartemennya.
.
“Mas alvan! Kenapa bawa dia kesini!” teriak Aiyana yang ternyata ada di dalam apartemen.
“Ai, dengarin mas dulu” ujar alvan.
“GAK! AI GAK MAU DENGAR!” Teriak Aiyana.
“Ai, dengarin mas_”
“GAK MAU AI GAK MAU!” teriak Aiyana yang kini mulai menangis teriak.
...🥞🥞🥞🥞🥞...
“Ai, Ai sayang, Ai” panggil alvan berkali kali sambil menggoyang badan Aiyana.
“Gak mau! Gak!” Aiyana yang terus mengigau membuat alvan semakin panik, Aiyana juga keringat dingin dan terlihat ketatakutan dengan mata yang masih terpejam.
“Sayang bangun sayang” panggil alvan sekali lagi tapi dengan suara sedikit lebih kuat.
__ADS_1
Sepertinya berhasil karena mata Aiyana perlahan mulai terbuka.
Alvan langsung memeluk tubuh Aiyana sambil mencium kening Aiyana berkali kali, “syukurlah, kamu bangun sayang” ucap Alvan lega.
Aiyana yang mulai sadar langsung mendorong tubuh alvan menjauh darinya, “mana dia!” teriak Aiyana sambil sibuk melihat ke kiri dan kanan mencari sosok gizhi, wanita itu masih belu terlalu sadar jika tadi dia bermimpi tentang gizhi, mungkin karena terlalu sayang dengan alvan serta tadi ada bertemu dengan gizhi, dia jadi memimpikan hayalan yang selama ini dia takutkan.
“Siapa sayang?” tanya alvan kebingungan, saat dia mulai mendekati Aiyana, wanita itu mundur, alvan akhirnya berhenti mendekat dan mencoba berbicara dengan Aiyana.
“Mana dia! Mas jahat sama ai!” Aiyana mulai terisak kecil.
Melihat istrinya menangis alvan langsung menarik Aiyana dan mendudukkan istrinya itu di pangkuannya, dia berusaha menahan pergerakan Aiyana yang terus memberontak untuk dilepas. “Sayang tenang dulu ya, coba lihat sekarang kita ada dimana?” ucap alvan lembut.
Aiyana mulai tenang dan melirik seluruh penjuru ruangan, mencari wanita yang masuk ke dalam mimpinya, tapi tidak ada, kamar itu gelap dan hanya ada lampu tidur yang menyala, membuat Aiyana akhirnya sadar jika dia bermimpi.
“hiks hiks mas jangan tinggalin ai” Aiyana langsung memeluk alvan dan menangis keras di dada bidang suaminya.
“Tidak akan, mas tidak akan pernah meninggalkan ai, siapa yang masuk ke dalam mimpi ai?” tanya alvan pelan, dia tau Aiyana bermimpi buruk hingga membuat dia seperti itu, otak alvan langsung terpikirkan gizhi tapi dia masih belum percaya seratus persen.
Alvan mengangkat dagu Aiyana agar menatapnya, pria itu memajukan wajahnya dan mulai mencium bibir Aiyana dalam, hingga membuat Aiyana terdiam dan sedikit melenguh.
“Siapa yang membuat istri mas seperti ini?” ucap alvan setelah melepaskan ciumannya dari bibir Aiyana.
“tan-te gi-zhi” ucap Aiyana pelan.
Mau tertawa tapi tertahan karena Aiyana bisa saja salah paham dengan tawanya, “Dia apakan kamu sayang?” alvan mulai menghapus jejak air mata istrinya.
“Ommas membawa dia pulang ke sini, huaaa” Aiyana kembali menangis keras mengingat mimpinya.
Alvan kembali memeluk istrinya, mengelus punggungnya dengan lembut dan terus membisikkan rasa cintanya pada Aiyana agar wanita itu berhenti menangis.
“Percayalah, apapun yang terjadi mas tidak akan pernah kembali padanya, mas sangat mencintai Aiyana” bisik alvan tepat di telinga Aiyana. “mas sangat mencintai Aiyana” ulang alvan sekali lagi.
__ADS_1
“Ba-gaimana ka-lau dia ngidam, dan mengidam mendekati ommas” lirih Aiyana pelan.
“Mengidam itu bisa dikabulkan bisa tidak, mas tidak akan mengabulkan apapun permintaan dia, hanya kamu yang mas sayangi, percayalah sayang” balas alvan.
Alvan mulai melepaskan pelukannya, dia kini menidurkan Aiyana di tempat tidur, tanpa ragu alvan menarik wajah Aiyana dan memberikan ciuman panas dan dalam kepada istrinya. Aiyana mulai terengah engah karena lidah alvan masuk dan mulai bermain dengan lidahnya. Tangan pria itu tidak tinggal diam, dia mulai melucuti satu persatu pakaian Aiyana dan juga pakaiannya.
Setelah alvan melepaskan semua pakaian yang mereka kenakan, pria itu baru melepaskan ciumannya dari Aiyana, “Mas akan tunjukkan pada mu seberapa cintanya mas padamu, hari ini akan menjadi malam panas kita, lebih panas dari malam pertama kita sayang” ucap alvan sambil kembali mencium bibir Aiyana.
Mata Aiyana yang basah mulai terpejam merasakan sentuhan yang alvan berikan padanya, Aiyana menggigit bibirnya menahan desahannya untuk keluar saat alvan bermain dengan tubuhnya.
Seprai tempat tidur itu mulai terlihat berantakan karena tarikan Aiyana yang menahan dirinya. Alvan kembali mencium bibir Aiyana untuk membuat wanita itu membuka mulutnya.
“dengar sayang, tidak akan ada wanita yang akan merasakan sentuhan ini”.
“Ahhhh~ maasss~” lengguhan Aiyana akhirnya keluar juga, wanita itu mulai mendesah keras.
Alvan dengan terampil membuka kaki istrinya dan mulai bermain di sana.
Malam yang panas kembali terjadi hingga berjam jam, alvan berhenti saat mendengar suara mengaji dari masjid yang ada di dekat apartemen itu.
Sementara Aiyana sudah tampak sangat kelelahan ditempat tidur.
“Mandi dulu sayang, sebentar lagi azan subuh” ujar alvan yang mulai sadar bahwa dia sudah kelewatan pada istrinya yang sedang hamil.
“Gendong~” lirih Aiyana. Dia memang sudah tidak kuat untuk menggerakkan kakinya.
Alvan langsung menggendong Aiyana yang tidak mengenakan satu helai baju, pria itu membawa Aiyana ke bathup.
“masih tidak percaya sama cinta mas?” tanya alvan sambil mengelus wajah Aiyana.
“percaya~” ucap Aiyana pelan, dia masih terlalu lelah dan masih ingin memejamkan mata, dia bahkan tidak sadar sudah memejamkan mata di dalam bathup yang berisi air hangat.
__ADS_1
...🍞🍞🍞🍞🍞...