
“Iri banget liat saudara seperti pak alvan, Aiyana beruntung banget ya” celetuk meli tiba tiba.
“kalau iri sana minta saudara elo mirip seperti pak alvan” komentar radit begitu mendengar ucapan Meli.
Fauzan menyenggol lengan Fajri yang sedang melamun menatap kemana Alvan menggendong Aiyana, “jangan lo berbuat hal yang Aiyana tidak suka” bisik Fauzan.
“Gak akan” balas fajri singkat.
Tidak lama Alvan kembali ke ruang dimana teman teman Aiyana sudah duduk dan membuka buku mereka, Alvan memberikan beberapa lembar kertas bewarna putih pada mereka semua, tidak ada yang tidak dapat kertas itu. Di sana terdapat soal soal yang sudah alvan buat sendiri, “untuk soal umumnya kalian hapalkan sendiri, saya sudah memberikan jawaban di sana, kalian jawab saja soal matematika, kumpulkan pertanyaan yang kalian tidak mengerti cara menjawab baru saya akan menerangkan bagaimana caranya” ujar Alvan setelah membagikan kertas yang dia pegang pada semua teman teman Aiyana.
“Baik Pak” jawab mereka semua serentak, dan mereka langsung mencoba menyelesaikan soal yang diberikan Alvan.
.
Sekitar 30 menit kemudian Aiyana berteriak keras dan berlari menuju ruang tamu, dia terkejut melihat teman temannya sudah datang dan sedang mendengarkan penjelasan Alvan.
“Ommas!” pekik Aiyana kesal. “Kenapa gak bangunin Aiyana?!” sambungnya sambil duduk di sebelah putri, mata Aiyana masih terlihat merah karena masih mengantuk.
Alvan tertawa kecil dan tersenyum ke arah Aiyana, “Udah jangan marah marah, ambil buku dan kita mulai belajar” perintah Alvan.
Aiyana tidak mengomel lagi dan mengambil bukunya untuk mulai belajar bersama teman temannya.
.
Sekitar dua setengah jam Alvan habiskan untuk memberikan penjelasan pada murid murid yang dia ajar.
Keyla, putri, ilan bahkan teman teman cewek Aiyana tampak semakin tampak kagum dengan sosok Alvan, carap ria itu menjelaskan dan wajah tampan alvan membuat para wanita semakin tersihir oleh Alvan.
__ADS_1
“Baiklah semua sudah saya berikan pada kalian, sekarang bagaimana kalian memanfaatkan ilmu yang saya berikan, saya sudah membelikan makanan buat kalian semua, jadi makan dulu sebelum pulang ke rumah kalian” ujar Alvan.
Meli mengangkat tangannya untuk bertanya pada Alvan, “pak Alvan, saya boleh minta nomor bapak tidak? Soalnya saya mau masuk ke universitas di tempat bapak mengajar, siapa tau ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan, apakah boleh pak?”
Aiyana langsung menatap sinis meli yang meminta nomor telepon suaminya, memang sih saat ini status Aiyana sebagai saudara sepupu, jadi dia tidak bisa menyindir Meli yang mulai memberikan perlawanan untuk mendekati Alvan. Bahkan sekarang Aiyana semakin kesal karena sadar meli menggunakan pakaian yang sedikit terbuka saat datang ke rumahnya.
“Maaf tidak bisa, saya sudah bilang ini terakhir kalinya saya mau memberikan pelajaran pada kalian, saya punya istri dan saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya, saya mau mengajarkan kalian hari ini karena permintaan dari adik sepupu saya, jika tidak maka saya tidak akan mau melakukan pelajaran secara cuma cuma” jawab Alvan tegas.
“berarti kalau di bayar mau dong pak?” celetuk fajri, entah kenapa pria itu tidak suka sejak awal dengan Alvan, tapi dia mau datang karena penasaran dengan rumah Aiyana.
Alvan tersenyum sinis pada fajri, “Saya tidak semiskin itu untuk meminta uang pada kalian anak anak yang belum menghasilkan apapun, sebaiknya kamu jaga cara berpikirmu” sindir Alvan.
“Maaf pak al, dan terima kasih telah mau memberikan pengajaran pada kami” potong Putri sambil memberikan peringatan pada fajri.
Alvan mengangguk pelan, dia tidak membantah permintaan maaf dari putri, “kalian makanlah dulu, baru pulang” perintah Alvan.
“baik pak” jawab mereka semua kecuali fajri dan Aiyana, kalau fajri karena tidak suka melihat Alvan sedangkan Aiyana, tidak mau memanggil pak pada suaminya sendiri.
“Senang tuhhh di idolain sama cewek cewek SMA” sindir Aiyana begitu teman temannya sudah pulang.
Saat ini memang kedua orang tua Aiyana sedang tidak ada di rumah karena ada acara pesta teman sekolah papa hamdi dan ayah Abraham. Makanya hanya ada Aiyana dan Alvan di rumah itu.
Alvan menarik pinggang Aiyana dan mendudukkan istrinya di pangguannya. “siapa yang buat mas jadi idola teman teman kamu?” sindir Alvan.
Aiyana menunduk malu karena dirinya lah yang memaksa Alvan untuk mengajarkan teman temannya sendiri. “tapi ai gak tau kalau orangnya sebanyak itu” gumam Aiyana pelan, “tapi kenapa ommas mengajarkan dengan karisma sekeren itu, orang harusnya ommas biasa aja mengajarnya” protes Aiyana lagi.
Alvan tertawa kecil sambil mencubit gemas pipi Aiyana, “memang seperti itu cara mas mengajar sayangku, makanya jangan pamerkan kepintaran suami kamu ini, maka akan banyak wanita yang mengantri untuk mengejar mas” ledek Alvan.
__ADS_1
Aiyana langsung memeluk Alvan dengan kuat, “Ai sayang sama ommas” ucap Aiyana tiba tiba.
“Mas juga sayang bangeeett sama Aiyana” balas Alvan dan dia juga balik memeluk Aiyana.
“Jangan tinggalin Aiyana” lirih Aiyana yang mulai terisak kecil, semakin Aiyana jatuh cinta pada Alvan maka semakin takut dia kehilangan Alvan, pria itu sangat sempurna dan banyak disukai wanita, memikirkan bagaimana cara alvan mengajar, Aiyana mulai takut Alvan tertarik pada para mahasiswi yang lebih cantik darinya.
“Sayang, kok nangis??” Alvan melepaskan pelukannya secara perlahan dan menghapus jejak Air mata yang mulai membasahi pipi Aiyana. Pria itu tau apa yang Aiyana takutkan, dia sangat tau hingga tidak mengerti cara membuat istri kecilnya percaya bahwa Alvan tidak akan pernah meninggalkannya.
“Gak tau, Ai takut ommas meninggalkan Ai” isak Aiyana.
“Mas tidak akan meninggalkan Ai, mas sudah bersumpah, apa perlu mas bersumpah didepan Ai agar Ai tenang dan tidak takut mas lari kepada siapa saja?” tanya Alvan lembut.
Aiyana menggeleng dan kembali memeluk Alvan, “gak perlu, Ai cuma takut ommas pergi saja, ai sangat sayang sama ommas” ucap Aiyana dengan suara pelan.
“Mas juga sangat sayang sama Ai, jangan pernah takut karena mas akan selalu bersama dengan Ai, mas tidak akan pernah meninggalkan Ai” bisik Alvan untuk menenangkan Aiyana yang masih terisak kecil.
Alvan menggendong Aiyana secara tiba tiba dan membawa Aiyana menuju kamarnya.
“om-ommas! Mau kemana??” pekik Aiyana karena secara tiba tiba badannya terangkat ke atas.
“kamar, kita budidaya jamur lagi, kamu baru saja membuat jamur mas kembali tegang” kekeh Alvan.
“lagi?! Emang ommas gak capek?” pekik Aiyana.
Alvan menggeleng sambil tertawa, “Kalau dengan kamu mas gak pernah capek, malah mas ketagihan” ucap alvan sambil mencium Aiyana, sedangkan Aiyana hanya bisa pasrah dengan nafsu suaminya yang selalu tinggi maklum dapat jatah cuma setiap hari libur saja, apa lagi mertua alvan sedang tidak ada di rumah, fantasi alvan semakin menjadi saat rumah itu kosong.
...🍨🍨🍨🍨🍨...
__ADS_1
Bonus pict