I Love You Professor

I Love You Professor
73. Ngidam Rujak lagi


__ADS_3

Alvan sempat terdiam saat mendengar keputusan bunda Vania dan mama Haura, bukan dia mau melarang tapi takutnya kedua ibu itu akan berada dalam bahaya.


“kenapa kamu diam seperti itu? Kamu tidak mau mama pergi dan kamu sendiri yang kesana menggantikan Aiyana?” Mama haura memang masih selalu emosi setiap alvan membahas Gizhi jadi wanita paruh baya itu akan selalu berpikiran negative pada putranya.


Dulu Alvan memang selalu sering bertengkar dengan mama Haura dan papa Hamdi berkat orang tuanya entah apa yang gizhi perbuat hingga mampu membuat alvan selalu membantah mama Haura dan berakhir dengan pertengkaran hebat.


Hubungan mereka mulai membaik beberapa bulan sebelum alvan berniat menikah, alvan sengaja mengalah dengan tujuan agar pernikahannya dengan gizhi di restui, dan itu berhasil tapi ternyata nasib tidak ada yang tau, bukannya menikah dengan gizhi, alvan harus menikah dengan wanita yang di pilih mama haura.


“Bukan ma, alvan Cuma khawatir, mama kenapa kenapa waktu ketemu dia, mama selalu berpikiran negative sama alvan kalau sudah menyangkut mantan pacar alvan” kata alvan yang sedikit menggerutu kecil.


“ya salah sendiri punya pacar menyebalkan seperti itu dan kamu ingat dulu kamu selalu membela dia di depan mama” protes mama Haura.


“Iya iya alvan salah, Alvan khilaf ma, sekarang kan alvan udah sadar, jadi tolong jangan diungkit ungkit lagi, alvan tidak akan meninggalkan berlian yang mama berikan untuk apapun” tekan alvan sekali lagi.


Mama haura dan papa Hamdi saling berpandangan dan mengulum senyum, “jadi udah ngaku cinta sama istri kamu?” goda papa Hamdi.


“cinta mati malah” sahut alvan.


“Hahahha baiklah mama gak akan sindir sindir kamu lagi, tapi besok biarkan mama dan bunda yang ketemu dengan mantan pacar kamu itu, dan kamu tidak boleh melarang atau ikut, urus saja istri kamu” kata mama Haura sambil tertawa kecil.


Alvan hanya bisa menghela nafas berat, kalau mama haura sudah memutuskan tidak akan ada yang bisa membantah.


“Tapi alvan khawatir mama dan bunda dalam bahaya”.


“Tenang aja alvan, kamu tidak tau kekuatan ibu ibu, kalau mereka bertindak tidak akan ada yang bisa melawan” kekeh ayah Abraham.


“ayah!” bunda Vania mencubit suaminya sambil protes, karena sudah disamakan dengan jejeran ibu ibu yang kalau naik motor lampu sen nya kadang hidup kadang mati.

__ADS_1


**


Pagi harinya Aiyana tampak sangat senang, bagaimana tidak senang dia memasak bersama dua ibu hebat yang sangat menyayanginya, memang Andra dan keluarganya tidak ada di sana, karena andra sedan gada di luar negri untuk memperluas usaha orang tuanya, pria itu memboyong seluruh keluarganya ke sana itu sebabnya Andra dan keluarga tidak pernah ada di rumah orang tuanya.


“Bun, ai pengen makan rujak lagi, apa boleh?” tanya Aiyana tiba tiba.


“Hmm bahan bahannya hanya mangga muda yang tidak ada apa ai masih mau?” sahut mama haura yang mendengar permintaan Aiyana.


“Ai pengen pakai mangga muda ma” kata Aiyana sambil memegangi perutnya yang masih tampak rata.


Hal itu membuat mama Haura tertawa pelan, “baiklah sebentar” mama Haura berjalan menuju taman samping rumah dimana suami, besan dan putra keduanya sedang berbincang bincang. “Van, pergi ke rumah ibu Ita sana, minta mangga mudanya beberapa buah” perintah mama haura pada putranya.


“Haa? Ibu ita siapa ma?? Ngapain alvan minta mangga mudanya?” tanya alvan kebingungan.


“Rumahnya 5 rumah sebelah kiri rumah kita, di sana ada pohon mangga, ini istri kamu ngidam makan rujak lagi” mama haura mulai menerangkan letak rumah teman arisannya, dan alasan kenapa dia menyuruh alvan pergi.


“Gak apa van, namanya juga ibu hamil, dulu mama ngidam makan nasi padang tiap hari bahkan sampai 2 bulan dan papa kamu sampai eneg liat ayam pop sejak itu” ungkap mama haura yang di angguki oleh papa Hamdi, kalau diingat ingat lagi papa hamdi jadi kembali tidak mau memakan nasi padang.


“baiklah, di mana tadi rumahnya?” alvan berdiri dari duduknya.


“Rumahnya sederetan rumah kita, 5 rumah sebelah kiri, namanya bu ita, dia pasti tau kamu kok” jelas mama Haura.


Alvan mengangguk dan segera pergi mengikuti alur yang telah di tunjukkan mama haura tadi.


.


“Permisi tan!” teriak alvan pada rumah besar berpagar coklat di depannya, memang tampak pohon mangga besar yang ada di depan rumah itu tumbuh subur dan sampak beberapa buah mangga yang ada dibawahnya, alvan senang melihat buah buah itu, dia bisa mengambilnya dengan sangat mudah tidak perlu memanjat dan tidak perlu pakai acara jatuh segala.

__ADS_1


Dua orang wanita keluar melihat alvan yang berteriak di depan pintu, satunya wanita yang sudah terlihat berumur dan satunya lagi tampak beberapa tahun lebih tua dari istri alvan.


“Ehh alvan, kenapa kesini, ayo masuk” teriak ibu ita begitu melihat alvan di depan pagar rumahnya.


“Maaf ganggu waktunya tan, alvan boleh beli buah mangga tante beberapa buah gak?” tanya alvan sambil tersenyum sopan.


“untuk apa beli buah mangga? Ini belum matang loh” tanya ibu ita bingung.


Alvan menggaruk tengkuknya yang tiba tiba terasa gatal, “istri alvan ngidam tan, pengen makan rujak pakai mangga muda, alvan beli deh mangga nya”.


“Istri kamu sedang hamil?” pekik ibu ita, terlihat wajah bahagia dari wajah ibu itu tapi berbeda dengan wanita yang disebelahnya, tadinya dia terus tersenyum manis dan bertingkah genit di hadapan alvan, berusaha mencari perhatian alvan siapa tau alvan tertarik dengannya dan menjadikan dia istri kedua.


“Iya tan, hamil muda, dan lagi ngidam makan rujak, di rumah buah lainnya udah ada Cuma mangga mudanya ada yang belum ada” jelas alvan, dia berbicara hanya menatap ibu ita, tidak berniat menatap sama sekali dengan cacing kremi di sebelah ibu ita.


“Ohh silahkan van, gak perlu beli ambil aja sebanyak yang kamu butuhkan, bentar tante ambilkan plastiknya” ibu ita segera berlari ke dalam rumah untuk mengambil plastic untuk diberikan pada alvan.


“Mas alvan apa kabar” tanya anak dari ibu ita dengan gaya gaya menggoda.


“baik” jawab alvan singkat, jika saja dia tidak butuh buah mangga itu alvan tidak akan datang ke rumah cacing kremi itu.


“Mas_”


“Udah ambil aja langsung van, ini plastiknya” ucapan anak ibu ita terhenti karena suara cempreng ibunya, alvan bersyukur ibu ita cepat keluar dan membantunya mengambil buah mangga.


Setelah mengucapkan terima kasih alvan segera beranjak pamit dan berlari kembali ke rumahnya.


...🥗🥗🥗🥗🥗...

__ADS_1


__ADS_2