I Love You Professor

I Love You Professor
90. Malu


__ADS_3

Dokter akhirnya datang bersama suster setelah alvan menekan tombol panggil yang ada di ruangan itu, Alvan tadi sempat lupa ada fungsi panggil di dalam ruangannya.


Saat Alvan sedang melihat dokter itu memeriksa Aiyana, di saat itu ponselnya berbunyi nyaring. Dengan kesal bercampur cemburu, Alvan langsung mengangkat ponsel itu tanpa berpindah tempat, matanya tidak lepas dari tangan dokter pria yang sejak tadi ‘sedikit’ menyentuh tubuh istrinya yang terluka.


“YA!” bentaknya saat menjawab panggilan yang ternyata dari Ridho sahabatnya.


Dokter, suster, dan Aiyana bahkan sampai melirik ke arah alvan yang berteriak.


“Terdengar emosi sekali? Apa aku mengganggu?” suara Ridho terdengar sedikit menggodanya.


“Sangat! Saat ini Dokter sedang memeriksa Aiyana! Dan seenaknya saja dia menyentuh istriku_”


“Oh, iya? Apa istrimu sudah siuman, alhamdullillah” potong Ridho cepat, pria itu mengulum senyumnya, hanya lucu saja saat mengganggu Alvan yang sepertinya sedang cemburu akut.


Sementara itu dokter yang memeriksa Aiyana cepat cepat menarik tangannya dari lengan Aiyana yang tadi dia periksa.


“Ada hal penting apa sampai menelpon?!” tanya alvan dingin, dia masih fokus menatap istrinya sesekali tangannya mengelus pipi Aiyana dan hal itu membuat wanita itu malu dan pipinya kembali merona merah.


“Aku Cuma mau memberitahu apa jadi aku letakkan laptop di kelas yang akan kau ajar hari ini? sebentar lagi jam kelasmu, makanya aku menelpon_”


“Sudah? Hanya itu saja?! Kau hanya membicarakan ini! sial! Nanti aku telepon lagi” Alvan langsung mematikan teleponnya dengan kesal.


Aiyana hanya bisa menunduk malu, bisa bisanya Alvan cemburu pada dokter yang menanganinya, bahkan dia jadi singa yang mengamuk gara gara dokter itu.

__ADS_1


“ehem” dokter yang sepertinya sadar dengan sindiran alvan hanya bisa berdeham dan tersenyum ke arah alvan.


“Bagaimana keadaan istri saya?” tanya alvan dingin.


“Tekanan darahnya normal, bagian tubuh vitalnya juga masih kuat walau luka di leher dan tangannya masih terasa sedikit sakit, apa perut anda masih keram nyonya?” tanya dokter. Alvan terus mengamati dokter yang meletakkan tangannya di perut Aiyana.


‘Sialan dokter itu cari kesempatan’ geram alvan dalam hati.


Aiyana menggeleng pelan, “Hanya sedikit sulit menggerakkan kepalaku dan tangan juga terasa masih perih”


“Iya itu karena luka di leher dan tangan anda yang cukup dalam, tapi tidak ada yang sampai mengenai syaraf atau otot jadi pasti akan sembuh, anda benar benar hebar dan kuat nyonya” ucap dokter itu sambil mencoret coret kertas di tangannya, “dan, selamat datang kembali nyonya” ucap dokter itu lagi.


Aiyana tersenyum malu karena berkali kali di panggil nyonya oleh dokter itu. Walau rasa perih di tubuhnya masih terasa, tapi panggilan itu membuat dia sedikit senang dan bahagia.


Alvan masih diam mendengarkan dokter berbicara, pria itu sesekali membelai kepala Aiyana dan menggenggam erat tangan Aiyana, pria itu tidak sadar perawat di sebelah dokter itu justru memerah melihat cara alvan mengusap dan menggenggam erat jemari Aiyana seperti iri dan kagum akan rasa sayang alvan terhadap wanita yang kini terbaring lemah di ranjang.


“Nanti aka nada perawat yang membantu istri anda misalnya akan buang air kecil atau sekedar membersihkan tubuhnya kalau anda mungkin tidak bisa_”


“Apa?! Tidak!” potong alvan cepat, membuat dokter itu menaikkan satu alisnya kebingungan. Aiyana juga ikutan mendongak dan menatap alvan kebingungan, kenapa dengan alvan.


“Apa anda akan merawat istri anda sendiri?” tebak dokter itu sedikit ragu, kemudian mengulum senyumnya, “saya pikir orang seperti anda akan sangat sibuk dan tidak mempunyai waktu yang… ahh maafkan saya, saya hanya terkejut karena kebanyakan pria tidak mau melakukan hal seperti itu, dan saya sering menemuinya” lanjut dokter itu lagi, dia tampak kagum dengan sosok alvan yang dia lihat sekarang.


Alvan akhir akhir ini terkenal di rumah sakit sebagai suami siaga, karena dia bekerja di ruang inap istrinya, dan bahkan rumah sakit sudah menjadi rumahnya, karena alvan tidak pernah keluar dari ruang inap Aiyana, semua dia lakukan di sana, menunggu Aiyana untuk bangun dari komanya.

__ADS_1


Alvan kembali menggeratkan tangannya pada tangan Aiyana, saat istrinya itu tersipu malu, Alvan menunduk dan mencium kening Aiyana secara tiba tiba. Bahkan itu dilakukan di depan dokter dan juga perawat yang kini wajahnya semakin memerah melihat aksi alvan mencium kening istrinya. Belum lagi tangan Aiyana yang tidak terluka di bawa ke mulut alvan untuk di kecup berkali kali penuh perasaan sayang. Sudah pasti itu mengakibatkan jantung Aiyana berdetak hebat serta membuat pipi Aiyana semakin merona merah.


‘Seandainya aku bisa mendapatkan suami seperti ini’ Batin perawat itu menjerit pilu.


“Semua yang saya lakukan untuk istri saya tidak sebanding dengan apa yang sudah dia berikan pada saya” ujar alvan tenang dan pandangannya tertuju lurus pada dokter yang ada di depannya. Membuat dokter itu menatap Aiyana dan tersenyum kemudian berdeham pelan.


“Baiklah saya tinggal, semoga anda bisa lekas sembuh” kata dokter itu sambil menatap Aiyana lembut, kemudia tatapannya beralih pada alvan, “ada yang akan anda tanyakan? Biasanya semua pria akan menanyakan hal itu?”


Alvan berdeham pelan, dia sepertinya tahu arah pertanyaan dokter itu. “maksud dokter hubungan suami istri setelah kondisi kandungannya lemah?”


Aiyana melotot, bisa bisanya si pak suami terang terangan seperti itu.


Dokter itu tersenyum penuh makna, “saya akan memberitahu anda, untuk hubungan suami istri saat ini belum bisa karena kondisi kandungan istri anda yang masih lemah dan rentan, nanti akan saya kabarkan kalau sudah membaik, tenang saja bedrest untuk kandungannya hanya sampai seminggu atau kurang lebih sepuluh hari itu perkiraan saya, tidak sampai berbulan bulan, dan anda juga disarankan untuk sering melakukan itu jika mendekati kelahiran untuk mempercepat proses lahirnya” jelas dokter itu, ada semacam godaan di kalimatnya.


Alvan bergerak tidak nyaman dan hembusan nafasnya terdengar panjang, seperti ada kelegaan di sana.


Sementara Aiyana, semakin memerah mendengar penjelasan dokter yang panjang itu.


“beruntung sekali calon bayi anda dalam kondisi yang sehat dan kuat, walau ibunya hampir kehabisan darah dan sekarat, dia masih bisa bertahan untuk tetap tinggal dan istri anda benar benar hebat” puji dokter itu.


“Iya” ucap alvan, pria itu kembali menunduk dan mengecup ujung kepala Aiyana lagi. Dan itu kembali membuat Aiyana merona merah karena malu, di tambah ada perawat yang sudah bersembunyi di belakang dokter mungkin karena tidak sanggup melihat kemesraan suami istri itu.


“baik saya permisi pak alvan” pamit dokter itu.

__ADS_1


...🍝🍝🍝🍝🍝...


__ADS_2