
“Bangun, sayangku.. bangun..” Aiyana merasakan kecupan bibir alvan berulang kali di punggung tangannya yang dalam genggaman tangan Alvan. “Kumohon, sayangku, aiyana..” bisikan pilu alvan terdengar sangat menyakitkan, membuat Aiyana merasa sesak di dadanya.
Entah ini hari keberapa tapi Aiyana masih seperti beberapa hari sebelumnya yang belum bisa menggerakkan tubuhnya tapi dia sudah bisa merasakan sentuhan yang diberikan orang pada tubuhnya.
“Sayang, bangun..” sekali lagi suara alvan terdengar sangat tulus dan penuh kasih sayang walau terdengar begitu serak seperti alvan sedang Manahan gejolak emosinya.
Aiyana merasakan bibir hangat alvan mendarat di kedua pipinya lalu di kedua matanya, tepat saat bibir alvan mendarat di dahinya, Aiyana merasakan bibir alvan bergetar disana. Sepertinya pria itu akan menangis.
Sebelum Aiyana berhasil menerka, ia merasakan basah di matanya, bukan dari air matanya, tapi tetesan air mata alvan.
‘Aiyana, kau baru saja membuat suamimu menangis, bangun Aiyana, bangun! Kau harus bisa membuka kelopak matamu, kau harus bisa menghadapi kenyataan, apa bayimu masih ada atau tidak… Aiyana kau harus bangun, dia menangis karena dirimu, dia sedang membutuhkanmu, dia terluka, dia kehilanganmu hingga tidak ada minat berbuat apa apa lagi, dia tidak peduli pada apapun kecuali padamu, ia selalu ada di sisimu, dia sangat menyayangi dan begitu menyukaimu ai, bangun dan katakana kau sangat mencintainya dan tidak akan pergi darinya, dia sedang rapuh karenamu aiyana’ Batin Aiyana berteriak keras.
Dada Aiyana bergemuruh dan terasa sesak sekaligus hatinya terasa hangat. Sel syaraf otaknya bekerja dengan cepat membangun kesadaran penuh. Ia harus bangun, demi alvan, suami tercintanya.
“Sayang, mas mohon bangun sayang, bangun sayangku…” bisik alvan sekali lagi, lebih serak dan tidak salah lagi, ia menangis.
Pria yang selalu terlihat dingin itu menangis dengan Aiyana yang masih terbaring di ranjang. Pria seperti alvan yang selalu terlihat sempurna, dingin, tegas, sekarang terlihat begitu rapuh, tidak berdaya.
Aiyana kemudian merasakan sentuhan hangat dan lembab di bibirnya. Alvan mencium tepat di bibirnya, selain perasaan bahagia, seperti saat alvan menciumnya, ia merasakan, bibir alvan masih bergetar. Alvan menahan sesak didadanya, mendiamkan bibirnya di tekan lembut oleh alvan. Aiyana sekali lagi merasakan tetesan air mata alvan, satu tetes, dua tetes, tiga tetes, air mata alvan telah membasahi pipinya.
Aiyana masih terdiam, dan tangannya masih dalam genggaman alvan. Aiyana ingin segera merenguh tubuh alvan. Tiba tiba ia merasakan wajah alvan menyeruak di lekukan lehernya memeluknya dengan deru tangis alvan yang terdengar semakin menyayat hatinya. Pria yang tidak pernah Aiyana sangka menangis kini menangis pilu karena dirinya yang masih terbaring koma.
Aiyana merasakan pundaknya mulai basah oleh air mata suaminya. Begitu hebatkah menangisnya alvan? Aiyana bahkan tidak pernah mendengar tangisan alvan yang seperti itu, sebelumnya bahkan Aiyana tidak pernah membayangkan seorang alvan bisa menangis sepilu itu, terdengar sangat mustahil.
Aiyana mulai sadar bahwa keberadaannya mampu membuat seorang alvan menjadi segila itu.
__ADS_1
Tangisan pilu alvan, menyiratkan perasaan kehilangan yang begitu mendalam, perasaan kasih sayang yang alvan pendam selama ini, perasaan frustasi dan merasa bersalah yang begitu besar, Alvan mungkin akan benar benar depresi seperti yang dikatakan brandon jika Aiyana hilang dari hidupnya.
Belum reda tangisan alvan, Aiyana mendengar bisikkan alvan di sela sela isak tangis pria itu, tepat di telinga Aiyana.
“Bangun sayang, dan dengarkan aku bicara, ku mohon…” bisikkan itu mulai membuat Aiyana kembali berusaha untuk menggerakkan tubuhnya.
Aiyana berusaha membuka matanya dan menggerakkan tangannya untuk menyentuh punggung alvan. Walau terasa berat, ia harus bisa, harus mendengar apa kata yang ingin alvan ucapkan. Setidaknya Aiyana ingin mengatakan pada alvan jangan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi padanya, Aiyana tidak pernah merasa alvan penyebab dia menjadi seperti itu.
Saat Aiyana akan menggerakkan tangannya, ia mendengar suatu bisikan lembut dan begitu tulus yang membuatnya ingin hidup selamanya bersama Alvan dan tidak akan pernah meragukan pria itu lagi.
“Aku mencintaimu Aiyana”.
Aiyana perlahan bisa melihat siluet putih di depan matanya tampak sinar lampu yang menyilaukan walau pandangannya mengabur karena ia juga menahan air mata di pelupuk matanya dan beberapa sudah menetes melalui sudut matanya, bahkan alvan masih belum menyadarinya.
Usapan tangan Aiyana yang perlahan, membuat alvan seketika terperanjat, ia menatap Aiyana dan betapa terkejutnya ia melihat Aiyana sudah sadar. Wanitanya kini tersenyum manis ke arahnya.
“Sa-sayang, sayang kamu_”
“Mas menangis?” bisik Aiyana lemah dan suaranya terdengar serak.
Alvan sadar matanya masih basah, seketika ia menggerakkan tangannya untuk mengusap mata dan pipinya yang masih basah akibat tangisnya yang pecah karena ia merasa putus asa Aiyana akan meninggalkannya.
Tangan Aiyana terangkat untuk mengusap wajah alvan yang terlihat sangat kacau, bahkan Aiyana bisa merasakan bulu halus yang mulai tumbuh di dagunya. Wanita itu menatap alvan dengan lembut dan sendu, dia juga tersenyum manis, membuat alvan tidak tahan untuk ia menangis lagi, ralat ia akan berusaha menahan sebisanya.
“itu, aku hanya flu ringan sayang” jawab Alvan pelan dengan suara seraknya. Ia berbohong dan Aiyana tahu itu.
__ADS_1
Alvan masih menikmati sentuhan lembut tangan Aiyana di wajahnya, kemudian ia membawa tangan Aiyana ke mulutnya, mengecup punggung tangan istrinya berulang ulang kali dengan penuh perasaan.
“Terima kasih sayang, terima kasih”
“SSttts” bisik Aiyana menghentikan ucapan alvan, “Sayang, aku juga_”
“Aku akan memanggil dokter sayang” potong alvan.
“mas, dengarkan dulu” Aiyana kembali mencegah Alvan untuk berdiri dan meninggalkannya.
“Sayang, kamu baru bangun, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, jadi biarkan aku memanggil dokter ya” bujuk alvan.
“Mas, ai juga sangat mencintai mas” ucap Aiyana cepat. Dia tidak mau menunggu waktu lagi, Aiyana ingin menyampaikan bahwa dia sangat mencintai alvan seperti alvan yang sangat mencintainya, Aiyana tidak ingin menunda itu, karena dia takut akan menghilang dan tidak punya kesempatan untuk mengatakan itu.
Alvan terdiam lalu pria itu mendekatkan wajahnya pada Aiyana, pria itu mulai mengecup bibir Aiyana, bibir basah alvan mulai mencumbu Aiyana dengan lebih dalam. Alvan menggerakkan bibirnya bertautan dengan bibir atas bawahnya bergantian, Aiyana menutup matanya, Aiyana mengikuti ******* lembut bahkan sangat lembut bibir alvan memanggut bibirnya, seolah Aiyana adalah sesuatu yang begitu rapuh dan berharga.
Bunyi kecupan antara bibirnya dengan bibir alvan terdengar begitu indah di telinganya membuat Aiyana semakin menghangat.
Menghentikan tautan bibirnya, alvan mengambil nafas sejenak, melihat Aiyana semakin lekat, Aiyana sendiri langsung menunduk dan saat itu dia melihat perutnya yang masih terlihat besar, senyum gadis itu langsung mengembang, perlahan dia mengelus perut besarnya, Aiyana bersyukur dia masih ada bersama mereka.
“iya dia masih bertahan bersama kita, padahal ibunya sudah jingkrak jingrak kesana kemari” ujar alvan seperti membaca isi hati Aiyana.
Wanita itu menunduk dan rona merah semakin keluar di pipinya, dia malu dengan ucapan alvan.
...🍤🍤🍤🍤🍤...
__ADS_1