
Beberapa hari setelah kedatangan fajri di rumah Aiyana, Keyla dan putri akhirnya mau datang untuk bertemu dengan Aiyana, Aiyana masih merasa bersalah karena telah membohongi kedua sahabatnya yang paling dekat, sudah beberapa hari Aiyana mengajak keduanya untuk bertemu, tapi mereka berdua selalu ada alasan untuk tidak bertemu dengan Aiyana.
Namun diam diam Alvan mendatangi kedua sahabat Aiyana dan meminta maaf kepada keduanya serta meminta pada keduanya untuk jangan terlalu membenci Aiyana, tidak peduli apapun yang terjadi, bagi alvan, Aiyana adalah kebahagiaannya, jadi jika melihat Aiyana yang murung Alvan juga ikut merasa sedih.
Sejak kedatangan fajri waktu itu, Aiyana mulai menjadi wanita yang pendiam, dia tidak banyak bicara dan terus merasa bersalah. Hari itu Fajri dan teman temannya pulang dengan wajah yang sedih dan kecewa, Aiyana juga hanya bisa menangis dalam pelukan Alvan. Walau Alvan sudah membujuknya Aiyana tetap merasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri, dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti perasaan teman temannya, jujur Aiyana menganggap fajri sebagai salah satu teman dekatnya.
Bagi Aiyana, Fajri sama berharganya dengan Keyla dan putri, karena selama 3 tahun mereka selalu bersama, Aiyana juga tidak ingin membuat orang lain menjadi sedih karena dirinya.
‘ting’ pesan masuk menyadarkan Aiyana yang sedang melamun. Dengan perlahan Aiyana membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
📨 ‘Jangan menyalahkan diri kamu sayang, kalau sudah selesai segera kabari mas, mas akan langsung menjemput’ pesan dari Alvan, sebenarnya alvan ingin menemani Aiyana tapi dia sudah mengambil cuti selama seminggu penuh, jadi dia tidak bisa menunda jadwal kuliah yang harus dia ajar.
“hai Aiyana” panggilan Keyla dan putri membuat Aiyana tidak jadi membalas pesan yang dikirimkan oleh Alvan. Gadis itu dengan cepat mendongakkan kepalanya dan menatap Keyla dan putri dengan senyum lebar.
“Cepat duduk, bagaimana kalau kita pesan makanan dulu, aku yang akan teraktir kalian berdua terserah pesan apa aja” Aiyana langsung berbicara panjang lebar begitu melihat kedua sahabatnya sudah ada di hadapannya, hatinya merasa sedikit bahagia karena Keyla dan putri akhirnya mau datang atas permintaannya.
“hmmm, langsung aja ai, mau bicara apa dengan kami berdua?” kata kata yang keluar dari mulut Keyla terdengar dingin. Mungkin karena mereka semua masih terlalu muda, jadi masih terlalu labil untuk menghadapi sebuah kasus penghianatan, jadi benci dan marah tetap masih ada.
Pandangan Aiyana langsung berubah sendu, gadis itu berusaha tersenyum namun yang muncul hanyalah sebuah senyum palsu. “maaf, maaf untuk semua kesalahanku, aku tidak mau kalian membenciku, hanya kalian sahabat yang aku miliki, aku mohon maafkan aku” lirih Aiyana dengan kepala yang sudah tertunduk menahan air matanya untuk keluar.
“Ka_” ucapan Keyla terhenti karena Putri menahan tangan Keyla dan menggelengkan kepalanya pada Keyla.
__ADS_1
“Ai, bisakah kamu berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari kami berdua, tentang fajri kami akui itu salah kami, kami juga minta maaf, tapi kamu juga ikut andil membuat kami salah paham, jika dulu kamu mengatakan bahwa kamu sudah menikah dengan pak alvan mungkin tidak akan terjadi kesalahpahaman ini, tapi balik lagi itu semua adalah miss komunikasi antara kamu dan kita, jadi berjanjilah jangan menyembunyikan apapun lagi dari kami, kami merasa seperti orang yang tidak berharga lagi” Ucap putri panjang lebar.
Aiyana mengangguk cepat, setitik air mata mulai mengalir di pipinya, “iya aku janji, jadi apakah sekarang kita tetap berteman?” tanya Aiyana yang mulai terisak kecil.
“hahhh! Berhenti menangis jika kita mau tetap berteman, kami terlihat seperti orang yang sedang menganiaya kamu!” celetuk Keyla, dia juga sebenarnya merasa bersalah pada Aiyana.
Sebenarnya keduanya bukan marah sepenuhnya pada Aiyana, keduanya hanya gengsi untuk bertemu Aiyana, merasa bersalah karena merekalah yang membuat kesalahpahaman fajri semakin membesar, mereka juga yang mendukung fajri untuk meminta izin dari orang tua fajri, mungkin jika fajri tidak terburu buru mereka bisa mencegah semuanya terjadi tapi nasi sudah menjadi bubur, jadi tidak akan bisa dirubah lagi.
“Hmmm iya” Aiyana berusaha mengusap matanya dengan cepat untuk menghapus air matanya, tapi bukannya berhenti air mata Aiyana semakin banyak keluar membuat Keyla dan putri mendekatinya dan memeluk Aiyana.
“udah dong, nanti kami bisa dimarahi pak alvan karena mata istrinya bengkak habis nangis” ucap putri, dia berusaha membuat sedikit lelucon agar Aiyana mau berhenti menangis.
Dan sepertinya berhasil Aiyana mulai tertawa walau bekas air matanya masih terlihat di mata Aiyana.
Kini Aiyana tertawa kecil sambil mengusap usap matanya untuk menghilangkan jejak air mata, “ihhh Key, malu tau” ujar Aiyana dengan suara pelan.
“hehehe wajar dong kami penasaran, habis kamu pulang dari liburan di gendong bak seorang putri, apa lagi ada tanda merah di leher pak alvan dan leher kamu, saat fajri datang” kekeh Keyla.
Aiyana semakin menunduk malu dengan ucapan Keyla, “itu ommas yang ajarin buat seperti itu, aku mah manggut aja apa yang diminta ommas” ucap Aiyana dengan suara pelan.
“cerita dong ke kami gimana hari hari pernikahan mu, ya kalau kamu mau” ujar putri.
__ADS_1
Aiyana mengangguk pelan, dia mulai menceritakan kenapa dia bisa menikah dengan Alvan tidak terlalu detail tapi cerita umum yang mungkin mau di dengar oleh teman temannya.
.
“Kalian tidak mau saya antar juga?” tanya Alvan saat menjemput Aiyana dengan mobilnya.
Keyla dan putri sama sama menggelengkan kepala, “tidak apa pak, kami bawa motor kesini, jadi duluan aja pak” sahut putri.
Alvan mengangguk dan tersenyum ramah, “terima kasih ya sudah mau berbaikan dengan Aiyana, kalau gitu kami duluan ya” pamit Alvan.
“dada keyla, putri” Aiyana juga ikutan berpamitan dengan melambaikan tangannya dari tempat dia duduk, wanita itu sudah bisa tersenyum senang karena kedua sahabatnya sudah mau berbicara dengan akrab padanya.
Melihat istrinya yang sudah bisa tersenyum, Alvan akhirnya merasa lega dia meraih tangan Aiyana dan mencium punggung tangan Aiyana beberapa kali menyampaikan betapa sayangnya dia pada Aiyana.
“Ommas kita mau kemana?” tanya Aiyana heran karena arah mobil alvan bukan mengarah pada jalan pulang.
“Ke kampus bentar ya, mas masih ada kerjaan di kampus, kamu tunggu di ruang kerja mas gak apa kan?” tanya Alvan.
Aiyana tersenyum senang dan mengangguk cepat, sudah lama dia penasaran dengan ruang kerja alvan dan kampus tempat Alvan bekerja, kalau bisa Aiyana ingin melihat bagaimana cara alvan mengajar, banyak yang membuat wanita itu penasaran. Jadi ajakan alvan tentu saja tidak akan ditolak oleh Aiyana, toh alvan sudah bilang tidak apa ketahuan telah menikah dengan istrinya, karena Alvan sudah memberitahukan tentang pernikahannya dengan siswi SMA sejak beberapa hari setelah mereka menikah.
...🥓🥓🥓🥓🥓...
__ADS_1
bonus pict