
Pada tengah malam Sheila terbangun mendengar baby Inez menangis Sheila segera membuat susu untuk baby Inez.
setelah menyusu baby Inez kembali tertidur Sheila menunggu baby Inez hingga terlelap.
"Kok perasaan aku semalam ada yang gendong ya?" gumam Sheila.
"Perasaan semalem aku masih baca novel? tapi ko tadi aku bangun disebalah baby Inez ya? aku pasti ketiduran semalam, tapi siapa yang memindahku? masa pak Alfin? ah gak mungkin!" Sheila bingung sendiri dengan pertanyaanya.
Sheila akhirnya tidur kembali tidak mau memikirkan macam-macam apalagi berpikir bahwa Alfin yang telah memindahkannya baginya itu tidak mungkin, anggap aja mungkin Sheila semalem mengigau dan berpindah sendiri. ha.. itu juga mustahil pikirnya.
"Ah sudahlah lebih baik aku tidur masa bodolah kenapa aku bisa disini!" ucap Sheila sebelum kembali tidur.
Adzan subuh mulai menggema diseluruh kota Sheila mulai terbangun dan membersihkan diri setelah itu ia menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba Allah.
setelah selesai dengan rutinitasnya Sheila turun ke bawah untuk membantu Bi Tini menyiapkan sarapan mumpung baby Inez masih terlelap dengan tidurnya.
"Pagi Bi," sapa Sheila.
"Pagi nak, pagi sekali bangun nak, apa Inez rewel?" tanya Bi Tini.
"Ah tidak bu, abis Shalat subuh tadi aku gak bisa tidur lagi, jadi aku kebawah untuk bantu Bi Tini bolehkan? soalnya Inez juga masih tidur." ijin Sheila.
"Gak usah nak lebih baik kamu istirahat pekerjaan kamu jauh lebih berat daripada Bibi nak, dari dulu tidak ada yang betah disini, entah sudah berapa kali den Alfin mengganti pengasuh dalam beberapa waktu saja," kata Bi Tini dengan panjang lebar.
"Kenapa mereka gak betah Bi?" tanya Sheila
"Mereka pada ganjen nak, mentang-mentang punya bos ganteng jadi mereka berusaha menggodanya, jadi den Alfin tidak menyukainya!" tutur Bi Tini.
"Oh..." jawab Sheila dengan manggut-manggut kan kepalanya.
__ADS_1
"Sekarang Bibi seneng sudah ada yang bener-bener bisa ngasuh non Inez, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu sudah bekerja dengan umur yang masih kecil nak bahkan kata Den Alfin belum berumur 17tahun," tanya Bi Tini.
"Hehe.. bentar lagi juga umur 17tahun ko Bi, bulan depan," jawab Sheila
"Oh...terus kenapa kamu kerja nak?" tanya lagi Bi Tini.
" Em...dari kecil aku dan ibu saya sudah ditinggal sama ayah Bi." jawab Sheila sedih.
"Maaf Nak Bibi membuatmu sedih, semoga ayahmu bahagia disurga-Nya Allah ya Nak," hibur Bi Tini.
"Aku aja gak tahu Bi apa ayahku masih hidup atau nggak." ucap Sheila.
"Loh kirain Bibi, ayah Nak Sheila pergi ninggalin kalian karna meninggal." kaget Bi Tini.
"Enggak Bi, dia pergi bersama perempuan lain padahal waktu itu ibuku lagi mengandung adikku Bi, tapi dia tega meninggalkanku dan ibuku sampai sekarangpun tak pernah menengok kami!" jawab Sheila sedih
" Maafkan Bibi ya nak, Bibi tak tahu," ucap Bi Tini merasa bersalah.
"Kamu anak yang kuat Nak, Bibi bangga sekali, sedangkan Bibi punya anak selalu saja mengeluh." tutur Bi Tini sedih.
"Memang kenapa dengan anak bibi?" tanya Sheila
"Ya dia tak pernah bersyukur dengan apa yang dia punya bahkan dia mengaku kalau dia malu punya ibu dan bapak yang hanya jadi pesuruh orang seperti ini, padahal dia bisa kuliah karna ibu bekerja disini, sedangkan kamu mau jadi tulang punggung keluarga dan tak malu untuk bekerja seperti ini." jawab Bi Tini meneteskan airmata mengingat kelakuan anaknya.
"Bi.. semua manusia pasti akan mengalami cobaan dan ujian yang berbeda-beda mungkin Allah sedang menguji Bibi dengan anak Bibi, Bibi yang sabar yah pasti anak bibi bisa berubah dan menjadi anak yang bisa Bibi banggakan nanti, dah jangan nangis lagi ntar cantiknya hilang loh," hibur Sheila.
" Kamu ini bisa saja bikin bibi tertawa Nak, masa Bibi udah tua gini masih dibilang cantik," ucap Bi Tini dengan sedikit tertawa.
"Semua perempuan cantik lah Bi hehe," canda Sheila.
__ADS_1
" Iya juga ya," timpal Bi Tini.
Mereka pun asyik mengobrol dan menyiapkan sarapan, setelah beberapa waktu sarapan telah selesai semua telah tersaji dimeja makan.
Sheila pamit ingin melihat baby Sheila bibi pun mengiyakan.
Sheia berjalan dengan pikirannya, bagaimana mungkin ada seorang anak yang tak bersyukur seperti itu padahal dia sudah memiliki ibu dan bapak yang baik kepadanya dan juga dia bisa merasakan pendidikan tanpa harus bekerja keras.
Sheila menggeleng-gelengkan kepalanya, bodoh itu anak, pikir Sheila.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
#jangan lupa like ya kaka kaka😊😊
__ADS_1
semoga kalian bahagia selalu 😊😊😊