Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Kesakitan Sheila


__ADS_3

Alfin mendengus kesal mendengar suara nyaring anaknya yang selalu menganggu aktifitas Alfin dan Sheila dipagi hari.


"Anak Mommy sudah pulang, dianter siapa?" tanya Sheila memeluk Inez dengan gemas.


"Omah, Opah dan Om Fino." jawab Inez dengan semangat.


"Ayo Mom...Dad kita turun!" perintah Inez membuat Alfin tergelak dengan ulah anaknya.


"Ayo turun sama Mommy, Daddy biar mandi dulu," ajak Sheila.


Sebelum Sheila pergi dari kamar Alfin tak lupa untuk mencium pipi Sheila dihadapan Inez, membuat wajah Sheila merah karena malu.


"Kamu itu! ada Inez!" bisik Sheila namun tegas.


"Memang kenapa? gak papa kan Inez, kalau Daddy cium Mommy?" tanya Alfin kepada Inez, membuat Sheila mendengus kesal.


"Inez juga mau Daddy!" Inez melompat-lompat ingin dicium oleh Alfin.


"Uh...anak Daddy irian banget sih, sini..sini," Alfin memeluk Inez dan menciumnya, Inez begitu girang mendapatkan perlakuan dari Alfin.


"Sudah sana turun! Daddy mau mandi dulu! oke!" perintah Alfin.


"Oke Daddy!" celoteh Inez dengan semangat.


Saat Sheila dan Inez membuka kamar, mereka berpapasan dengan James dan Ellena yang juga mau keluar dari kamar.


Ellena menatap tajam mata Sheila, Sheila juga menatap Ellena walapun tidak setajam Ellena menatapnya.


"Mommy...siapa?" Inez menunjuk kearah James dan Ellena.


"Teman Daddy sayang," jawab Sheila dengan senyuman.


James menatap Inez dengan mata yang berkaca-kaca "Ya Tuhan...itukah anakku? cantik sekali!" batin James yang ingin sekali memeluk buah hatinya namun dia harus menahannya.


James mendekat kearah Sheila dan Inez "Ini anak Alfin denganmu?" tanya James memastikan.


"Tepatnya dengan istrinya dulu," ucap Sheila hati-hati agar Inez tidak mendengarnya.


Mendengar penjelasan Sheila, James bersimpuh didepan Inez "Siapa namamu?" tanya James dengan mata yang berkaca-kaca ingin menangis namun James berusaha untuk menahannya.


"Inez Om," jawab Inez dengan polos.


"Kamu cantik sekali," puji James tangannya mengusap kepala Inez dengan lembut.


"Aku cantik dari lahir kata Daddy Om," jawaban Melati mengundang tawa Sheila dan James, sedangkan Ellena masih diam mematung didepan kamar.


"Boleh Om peluk?" pinta James.


Inez terdiam dan mendongak kearah Sheila, Sheila menganggukan kepalanya "Kata Mommy boleh Om," tanpa banyak kata James langsung memeluk Inez.


Dibalik pelukkan Inez, airmata James mengalir namun dengan cepat James langsung menghapusnya karena takut bila ada yang curiga "Makasih sudah ijinkan Om peluk Inez," Inez hanya menganggukan kepalanya.


"Ya sudah ayo kita turun," ajak Sheila kepada Inez.


"Kita turun dulu ya," ijin Sheila kepada James, James pun menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Sepeninggal Sheila dan Inez, James mendongakkan kepalanya karena ingin menangis "Ya Tuhan..." gumam James.


"Jam..." panggil Alfin yang baru keluar dari kamarnya.


"Eh..Fin.." gugup James.


"Ada apa didepan kamarku?" tanya Alfin.


James menengok kekanan dan kekiri baru sadar jika dirinya masih didepan kamar Alfin "Em..gak..ta-di cuman...mau kebawah..iya mau kebawah," jawab James gugup.


Alfin mengangkat alisnya merasa ada yang aneh dengan James "Oh..." Alfin meninggalkan James yang masih diam mematung didepan kamar Alfin.


"Ayo kita sarapan bersama Jam!" seru Alfin sambil berjalan menuruni tangga.


"Aku akan menyusul!" teriak James agar Alfin dengar.


Ellena diam mematung dipintu kamarnya, melihat Alfin yang sekarang membuat hatinya tidak karuan "Kenapa sekarang dia terlihat begitu tampan!" batin Ellena.


"Mau sampai kapan kamu berdiri disitu!" seru James kepada Ellena.


Ellena segera menyingkir lalu turun kebawah meninggalkan James, James melihat kepergian Ellena "Aku yakin kamu pasti sekarang menyukainya." gumam James lirih, yang sudah membaca gerak-gerik Ellena. James masuk kedalam kamar ingin membersihkan diri terlebih dulu.


^


Diruang keluarga, keluarga Alfin sedang asyik bercengkrama dan bercanda ria, tiba-tiba pandangan Novi menangkap seorang wanita yang sedang berjalan lalu duduk disofa tidak jauh dari tempat duduknya Novi, melihat wanita lain dirumah anaknya, hati Novi merasa tidak enak dan berpikir macam-macam kepada anaknya.


Tiba-tiba Alfin dijewer oleh sang ibu, Alfin menjerit kesakitan "Aduh...Apaan sih Mah! apa salah Alfin?" tanya Alfin tangannya memegang telingannya yang dijewer oleh ibunya.


Purnomo dan Fino malah tertawa melihat Alfin dijewer oleh Novi, mereka tidak menyadari jika ada seorang wanita yang sedang duduk disofa tidak jauh dari mereka.


"Kamu masih tanya kenapa! itu apa!" teriak Novi sambil menunjuk Ellena yang sedang duduk, semua mata mengarah kepada arah tunjuk Novi.


"Kakak!" teriak Fino dan melakukan hal yang sama seperti ayahnya.


Alfin mendengus kesal "Ya ampun...Ha! dia kekasihnya James! kalian pikir aku punya selingkuhan begitu...oh ya ampun!" Alfin menyandarkan tubuhnya disofa.


"Oh kekasih James...maaf sayang kirain kamu itu menduakan Sheila, ha! Mamah sudah syok tadi!" Novi memegang dadanya karena merasa lega.


"Cih! lain kali tanya dulu Mah..jangan asal jewer!" kesal Alfin, Novi, Purnomo dan Fino tertawa karena mereka salah menuduh.


"Maafkan Papah Fin," ucap Purnomo sambil terkekeh.


"Aku juga Kakak." saut Fino.


"Ha! kalian ini sungguh menyebalkan!" sungut Alfin, mereka tertawa.


"Mommy...Inez laper," celoteh Inez.


"Oke...ayo kita sarapan bersama," ajak Sheila


Inez melompat-lompat kegegirangan "Ayo Mom!" Inez menarik tangan Sheila.


"Ayo sarapan Mah, Pah, Fin." ajak Sheila kepada keluarga Alfin, semua pun mengiyakan ajakan Sheila.


"Kok Mas gak diajak! jahat!" Alfin melipatkan kedua tangannya diatas perut dan mencemberutkan wajahnya.

__ADS_1


Sheila menyuruh Inez untuk pergi kemeja makan bersama Novi dan yang lain, Sheila menghampiri suaminya yang sedang cemberut "Ayo Mas kita sarapan," Sheila berbicara dengan suara lembut dan manja.


Alfin menahan tawanya mendengar suara Sheila yang terdengar sangat manja "Oh ya ampun...suaranya merdu sekali, Mas jadi ingin memakanmu," goda Alfin.


Sheila memukul lengan Alfin "Ih!" Sheila berpura-pura kesal, padahal Sheila sengaja ingin memanasi Ellena yang masih duduk ditempatnya.


"Ayo..." Sheila menggandeng tangan Alfin.


Ellena jengah melihat kedekatan Sheila dan Alfin, Sheila berhenti didepan Ellena "Ayo Mba..kita sarapan bareng," ajak Sheila menatap Ellena dengan penuh maksud.


"Duluan saja!" ucap Ellena senyum paksa.


Sheila dan Alfin pun meninggalkan Ellena yang hatinya kini sedang kesal "Awas kamu!" gumam Ellena lirih sembari tangannya mengepal kearah Sheila.


"Aku punya ide." Ellena tersenyum sinis.


Ellena pergi kekamar lalu kembali kebawah dan duduk dimeja makan "Siapa namamu?" tanya Novi yang melihat kekasih James itu duduk.


"Ellena tante," jawab Ellena sambil tersenyum.


"Oh...silahkan makan," ajak Novi.


"Terimakasih tante," Ellena tersenyum.


Ellena melirik kearah Sheila dan tersenyum sinis "Temanmu mana?" tanya Sheila yang tidak melihat James.


Alfin celingukan mencari temannya namun tidak ada dimeja makan "Mana James?" Alfin bertanya kepada Ellena.


"Dia sedang berganti pakaian, sebentar lagi turun," tutur Ellena memberikan senyuman manisnya kepada Alfin.


"Oh..." Alfin membulatkan mulutnya tanpa bersenyum balik kepada Ellena.


"Ini minuman yang kamu minta Sheil," Sita menaruh minuman didepan Sheila.


"Makasih ya Ta, maaf merepotkan, biasanya aku bikin sendiri," ucap Sheila merasa bersalah karena sudah menyuruh Sita.


"Kamu itu, ini sudah tugasku Sheil," jawab Sita.


James turun dan bergabung dengan yang lain "Hai Tante,Om.." sapa James.


"Hai Jam...lama tidak bertemu," saut Purnomo.


" Gimana kabar Om sama tante?" tanya James.


"Kita baik Jam, kamu sendiri bagaimana?" tanya balik Novi.


James ingin menjawab namun tiba-tiba Sheila mengaduh kesakitan, seketika semua orang panik "Beby...kamu kenapa?" Alfin menepuk-nepuk pipi Sheila.


Sheila memegang perutnya yang sedang kesakitan, keringat dingin sudah bercucuran didahinya "Sakit Mas." rintih Sheila yang kini berada dipelukan Alfin karena sudah lemas.


"Mommy kenapa Mommy?" ucap Inez sambil menangis melihat Sheila kesakitan.


"Fin! ayo bawa kedokter!" Purnomo langsung berdiri dan mengambil kunci mobil.


"Ya Allah sayang...kamu kenapa?" Novi panik melihat Sheila kesakitan.

__ADS_1


Sheila tak sadarkan diri karena rasa sakit yang tak tertahankan, Alfin tambah panik "Sayang...bangun." Alfin menepuk-nepuk pipi Sheila, mata Alfin sudah berkaca-kaca melihat Sheila yang kini sudah tidak sadarkan diri.


(besok lagi 😂😂)


__ADS_2