
Alfin memasuki ruang dimana ibunya berada tanpa mengetuk pintu "Hai...Mah!" ucap Alfin ketika membuka pintu dan melihat Novi sedang duduk bersila dikursi yang ada diruang tersebut.
"Anak nakal, yang sopan dikit pada Mamahmu!" gemas Novi.
Alfin bersandar dipundak sang Mamah "Kenapa Mamah panggil Alfin kemari Mah?" tanya Alfin yang sedari tadi penasaran.
Novi menghela nafasnya "Kenapa kamu tidak jadi melamar Sheila tadi?" ucap Novi dengan serius.
Degggg Alfin kaget kenapa Mamahnya bisa tau soal ini, padahal dirinya juga ingin memberika kejutan padanya bahkan pada semua orang "Ini pasti kerjaan Andri, mulut ember!" Alfin mengutuk Andri dalam hati.
"Kenapa diem, jawab pertanyaan Mamah Fin!" tegas Novi.
Alfin membenarkan duduknya "Darimana Mamah tau kalau Alfin hari ini akan melamar Sheila? pasti dari Andri ya, karna setau Alfin cuman Andri yang tau soal ini Mah," Alfin balik bertanya.
"Jawab dulu pertanyaan Mamah!" Novi berbicara dengan serius.
"Hemm...Alfin gak tau harus ngomong apa sama Mamah, kalau Mamah tau hari ini Alfin ingin melamar Sheila, Mamah juga pasti tau alasan kenapa Alfin gagal hari ini," Alfin menyandarkan dirinya kembali di bahu sang Mamah.
"Apa perlu Mamah berbicara kepada orangtua Sheila?" Novi mengusap kepala anak sulungnya itu dengan kasih sayang.
Alfin menggeleng-gelengkan kepalanya "Percuma Mah."
"Anak Mamah ini putus asa ceritanya? baru segini sudah putus asa? sebenernya kamu beneran suka sama Sheila enggak sih? Mamah jadi ragu!" ledek Novi.
Alfin membenarkan duduknya dan menatap Mamahnya dengan heran "Gak usah ledekin Alfin Mah, dah tau anaknya lagi galau diledekin bukan dikasih semangat!" Alfin berpura-pura ngambek.
"Mamah sudah mau bantuin loh ya, tapi kamunya yang putus asa begitu," Novi mencubit hidung Alfin membuat Alfin mengaduh.
"Sakit Mah!" Alfin mengusap-usap hidungnya.
"Jadi mau Mamah bantuin apa enggak? sok-sok'an mau ngelamar orang tidak memberi tau orangtua, jadi kualat kan?" Novi masih meledek Alfin.
Alfin tertawa mendengar perkataan Mamahnya "Bukan begitu Mah, Alfin hanya ingin memberi kejutan untuk semua," Alfin berucap sambil terkekeh.
Novi tertawa "Tapi gagal kan, kasihan anak Mamah," Novi mengacak-acak rambut Alfin.
"Ih udah dong Mah, udah sekarang bantuin Alfin Mah," Alfin menggelayut pada Mamahnya.
Novi mengusap kepala anaknya dan tersenyum, dalam hati Novi bersyukur Alfin bisa kembali mencintai seseorang dan tidak lagi larut dalam kepergian Angel, dan menurut Novi mencintai Sheila tidak lah salah. Tapi Novi juga mempunyai rencana yang tidak biasa pada anaknya sulungnya itu "Kalau mau bantuan Mamah, kamu harus berjanji turuti rencana Mamah!" pinta Novi.
__ADS_1
Alfin mendongak "Rencana apa?" Alfin langsung penasaran, Novi tersenyum.
^
Alfin keluar dari ruangan dan kembali ketempat acara, Alfin keluar dengan wajah yang lebih ceria dari yang sebelumnya terlihat kusut, Andri melihat perubahan dari wajah bosnya langsung menghampirinya begitu pun Dani yang daritadi sudah menunggunya kembali "Dapet apa bos? muka jadi sumringah begitu!" tanya Andri saat sudah berhadapan dengan Alfin.
"Kalau dapet sesuatu jangan lupa bagi-bagi bro!" Dani menyaut dan merangkul pundak Alfin.
Alfin terkekeh "Gak dapet apa-apa!" Alfin berlalu meninggalkan sahabat-sahabatnya dan menghampiri Sheila yang sedang menggendong baby Inez yang tertidur dalam gendongan Sheila sambil menonton Band yang sedang menyanyi diatas panggung bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya.
"Inez tidur?" Alfin hendak mengganti menggendong baby Inez, namun dihalau oleh Inez.
"Ntar bangun pak!" Sheila mengusap-usap punggung baby Inez.
Alfin berfikir sejenak "Ya sudah kalau begitu bawa keruang privat aja, disana ada tempat tidurnya," pinta Alfin.
"Tempatnya dimana?" tanya Sheila karna dirinya tidak tau dimana tempatnya.
"Ayo aku antar," Sheila meminta ijin kepada ibu dan sahabat-sahabtnya untuk pergi sebentar menidurkan baby Inez.
Alfin berjalan mendahului Sheila, sesekali Alfin melihat kebelakang untuk menengok Sheila "Ha aku pasti sudah gila, tapi aku suka." Alfin geli sendiri dengan kelakuan dirinya, Alfin senyum-senyum sendiri.
Saat Sheila ingin keluar Alfin menghalanginya membuat Sheila sedikit kesal "Bapak Alfin! aku mau keluar!" kesal Sheila.
Alfin tersenyum miring sambil melipatkan tangannya didada "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," Alfin menatap Sheila tanpa berkedip.
"Andai yang dihadapanku ini bukan bos Allah, aku pasti sudah melawannya." batin Sheila, Sheila menghela nafasnya "Bapak mau ngomong apa? kan bisa diluar, disini gak ada orang takut jadi fitnah, mending kita obrolin diluar Pak," Sheila merasa tidak enak harus berduaan diruangan dengan bos.
Alfin semakin kagum pada Sheila dengan pemikirannya "Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu," Alfin menyentil kening Sheila.
Sheila mengaduh dan mengelus-elus keningnya "Tetep aja aku gak enak Pak," Sheila tetap menolak.
"Mau di enakin?" ucap Alfin sambil menahan tawanya, Alfin berjalan mendekati Sheila, namun Sheila mundur selangkah bila Alfin maju mendekatinya.
Sheila deg degan dengan perilaku Alfin saat ini "Ya Allah lindungilah aku." batin Sheila was was.
Sheila berjalan mundur hingga mentok,dirinya menabrak dinding dan tak mampu untuk bergerak lagi, hati Sheila semakin was was "Aduh ini kenapa ada tembok disini sih."
Alfin ingin sekali tertawa melihat kekhawatiran Sheila, Alfin berdiri tegak dihadapan Sheila sambil melipatkan tangannya didada "Sudah jalan mundurnya?" ledek Alfin membuat wajah Sheila bersemu merah karna malu dan ingin marah.
__ADS_1
"Bapak jangan macem-macem deh!" Sheila berucap dengan was was.
Alfin tertawa "Aku cuman pingin satu macam kok!" tangan Alfin menyentuh dinding membuat jarak Sheila dan Alfin hanya beberapa centi.
"Apa?" Sheila menyerah untuk melawan.
"Jangan panggil aku Bapak!" perintah Alfin.
Sheila mengernyit heran "Terus siapa? Aden? kaya Bi Tini memanggil Bapak?" jawab Sheila.
"Gak mau!" Alfin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sheila menghela nafasnya "Terus mau dipanggil apa?" nyerah Sheila.
Alfin tersenyum "Mas!" Alfin menyebut dengan sumringah.
Sheila terkejut dengan apa yang baru saja Sheila dengar "Mas?" Sheila bertanya dengan heran.
Alfin mengangguk "Bisa kan?" tegas Alfin.
Sheila akhirnya terkekeh dan merasa lega karna pikiran kacaunya tadi tidak terjadi "Bapak cuman mau bilang itu? lucu sekali, masa bos minta dipanggil Mas?" Sheila masih terkekeh dengan permintaan Alfin.
"Aku gak bercanda Sheila!" Sheila langsung terdiam mendengar Alfin berbicara dengan nada tegas.
Sheila menghela nafasnya "Terserah Bapak lah kan Bapak bosnya, saya mah apa cuman bawahan yang harus nurut kan?" sindir Sheila.
Alfin tersenyum menang "Pinter!, mulai sekarang panggil aku Mas, jangan lupa itu!" perintah Alfin.
"Hem...iya Mas Bapak Alfin!" ledek Sheila.
"Gak pakai Pak! Mas aja!".
Sheila menghela nafasnya lagi "Iya Mas Alfin, puas!" kesal Sheila.
"Jangan pakai kesel begitu," Alfin tersenyum dan mengusap kepala Sheila.
Sheila menurunkan tangan Alfin dari kepalanya "Bukan Muhrim! jangan pegang-pegang!" kesal Sheila.
Alfin tertawa mendengar perkataan Sheila "Sebentar lagi juga jadi," Alfin mengedipkan satu matanya kepada Sheila membuat wajah Sheila kembali bersemu merah karna malu.
__ADS_1
#jangan lupa untuk like dan Vot nya kaka untuk dukung Author 😊 terimakasih yang sudah membaca karya saya yang receh ini 😚😚😚