
Setelah mengobrol bersama sahabatnya Mayang pulang bersama Alex dan juga Fino, Alex juga mengajak anaknya yang bernama Tia, anaknya saat bersama Tini dulu.
Karna saat Alex ingin menjemput Mayang, Tia merengek untuk ikut, Alex pun pasrah dan membiarkan Tia untuk ikut, Tia sangat kegirangan saat itu karna bisa bertemu Alfin.
"Tininya gak ikut Mas?" tanya Mayang kepada Alex.
Alex melihat Mayang sekikas dan tersenyum "Enggak, mungkin dia bakal berhenti bekerja ditempat Alfin, biar dia kerja dirumahku saja, karna Tia maunya tinggal bersama saya," tutur Alex.
"Oh...terus sudah bilang sama Alfin Mas soal itu?" tanyanya lagi.
"Katanya sih sudah, lewat telepon tadi pagi," jawab Alex. Mayang menganggukan kepalanya.
Dibelakang Tia sedang tersenyum-senyum "Yes! aku bisa bertemu Alfin setiap hari, secara kan ada Papah, uh senengnya," batin Tia dalam hati.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri, sudah gila!" seru Fino sinis.
Tia membuang muka dan tidak menghiraukan ocehan Fino "Kurang ajar! awas aja kalau aku jadi kakak iparmu!" seru Tia dalam hati.
Mayang turun dari mobil saat mobil Alex sudah sampai didepan rumah Alfin "Makasih Mas," ucap Mayang saat turun dari mobil.
"Sama-sama Mayang," Alex tersenyum.
Mayang melihat teman-teman Sheila berkumpul didepan pintu, hati Mayang sempat was-was takut bila rencananya bersama sahabatnya itu ketahuan terlebih dahulu.
"Eh itu ibumu Shei!" Yeni menunjuk Mayang.
Semua melihat arah tunjuk Yeni, Sheila langsung maju kedepan melihat ibunya sudah pulang "Mamah..." Sheila menyalami tangan Mayang.
"Kenapa pada kumpul disini?" tanya Mayang.
"Kita mau pulang Bu," saut Hevi.
"Sudah pada mau pulang?" pertanyaan Mayang diangguki teman-teman Sheila.
"Ya sudah hati-hati ya, kalian naik apa pulangnya?" tanya Mayang.
"Dianter kita Bu!" seru Andri dan Dani kompak.
"Dianter aku juga," saut Fino.
__ADS_1
Mayang tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Ya sudah hati-hati, jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai ya," tutur Mayang. Teman-teman Sheila menyalami Mayang dan yang lain.
"Hati-hati ya, maaf sudah merepotkan, dan terimakasih buat semuanya," ucap Sheila saat berpelukan dengan teman-temannya.
"Iya Yem, jaga dirimu baik-baik, kalau ada apa-apa kabarin aku," ucap Hevi.
"Siap komandan!" Sheila mengangkat tangannya kekening memberi hormat.
Semua tertawa dengan sikap Sheila "Lebay!" Alfin mengacak-acak rambut Sheila.
Teman-teman Sheila pun pulang dianter teman-teman Alfin. Alfin melihat Tia tiba-tiba dirumahnya "Ngapain kamu kesini!" sinis Alfin.
Tia tersenyum-senyum dan menghampiri Alfin, Tia ingin memegang tangan Alfin namun Alfin menghalaunya "Jangan pernah sentuh aku!" seru Alfin membuat Tia merengut
"Memang kenapa sih Fin? kenapa sih kamu itu benci banget sama aku? padahal dari dulu aku kan sangat menyukaimu!" Tia merengut dan melipatkan kedua tangannya didepan perutnya.
"Kamu masih tanya kenapa? setelah apa yang kamu lakukan dulu pada Angel! masih berani tanya kenapa?" geram Alfin.
"Fin...harus berapa kali aku bilang sama kamu, aku tidak lakuin apapun sama Angel, itu ulah dia sendiri!" Tia juga geram karna sampai saat ini Alfin tidak mempercayainya.
"Kenapa sih marah-marah?" tanya Sheila yang melihat Alfin dan Tia sedang marah.
Tia menghentakkan kakinya karna kesal dengan sikap Alfin yang masih belum percaya padanya "Aku harus cari bukti kalau aku tidak melakukan apapun! sial Angel aku dijadikan kambing hitam atas ulahmu sendiri! coba kalau kamu masih hidup!" seru Tia dalam hati.
"Kenapa sih Mba?" tanya Sheila melihat wajah Tia sangat kesal.
"Bukan urusanmu adik tiri!" seru Tia yang tau kalau Sheila adalah adik tirinya dari ibunya kemarin.
Sheila menghembuskan nafasnya "Jangan begitu sama adikmu Tia, Papah gak suka!" tutur Alex membuat Tia menciut.
"Maaf Papah,"
"Minta maaf sama Sheila bukan sama Papah, kamu itu harus jadi kakak yang baik dan memberi contoh yang baik pula," tutur Alex
Dalam hati Tia sangat kesal karna Sheila mendapat pembelaan dari Alex, namun tidak ada pilihan lain selain meminta maaf kepada Sheila, karna Tia takut tidak boleh tinggal bersama Alex papahnya "Maafkan aku adikku," Tia tersenyum paksa.
"Iya Mba gak papa," ujar Sheila membalas senyuman Tia.
"Sheil...Mamah keatas dulu ya, mau istirahat," pamit Mayang, Sheila pun menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Tia..ayo kita pulang!" perintah Alex.
"Kok cepet banget Pah, Papah gak nginep lagi disini?" tanya Sheila yang masih ingin berada dirumah Alfin.
"Enggak sayang, ayo kita pulang, sudah mau malem nih!" seru Alex, Tia pun pasrah dan ikut pulang bersama Alex.
Alex berpamitan kepada Sheila, lalu Sheila mengantarkan Alex dan Tia sampai depan pintu rumah Alfin "Hati-hati Pak Alex dan Mba Tia," ucap Sheila sambil menyalami Alex dan Tia.
"Iya sayang, kamu istirahat ya, salam buat ibumu," Alex tersenyum dan mengusap kepala Sheila. Tia yang melihatnya sangat jengah, dan segera menyuruh Alex untuk pulang.
Sheila melambaikan tangannya kepada Alex dan Tia, lambaian tangan Sheila pun dibalas Alex, Sheila lalu masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya, Sheila langsung naik keatas kekamar baby Inez.
Sheila bermain sebentar bersama baby Inez lalu menidurkan baby Inez yang sudah mengantuk karna kelelahan bermain. Setelah baby Inez tertidur Sheila duduk disisi ranjang, Sheila kepikiran dengan sikap Alfin tadi "Aku samperin gak ya?" gumam Sheila.
Setelah mempertimbangkan Sheila akhirnya memutuskan untuk menghampiri Alfin dan mencoba bertanya langsung kepadanya, Sheila membuka pintu kamar Alfin yang berada dikamar baby Inez "Mas..." sapa Sheila ketika membuka pintu.
Sheila melihat sekeliling kamar Alfin namun Alfin tidak ada, Sheila mencoba mencari dikamar mandi juga tidak ada, setelah jengan mencari Alfin, mata Sheila melihat seseorang dibalkon kamar Alfin sedang berdiri didepan pagar balkon.
Sheila menghampiri seseorang tersebut yang dia yakinj itu adalah Alfin "Mas..." panggil Sheila ketika sudah berada dibelakangnya.
Alfin melihat kearah Sheila dan tersenyum "Kenapa Beby?" Sheila melihat ada kesedihan dimata Alfin.
"Mas kenapa?" tanya Sheila ingin tahu.
Alfin menarik Sheila untuk berdiri dipagar balkon, tangan Alfin mengunci Sheila agar tidak bisa pergi, kini Sheila bersandar dipagar balkon dan berhadapan dengan Alfin.
Wajah Alfin menghadap langit, Sheila melihat ada kesedihan dimata Alfin "Apa yang Mas rasakan?" tanya Sheila lagi.
"Aku hanya merasa bersalah dulu pada Angel," ujar Alfin tanpa mengalihkan pandangannya.
Dalam hati Sheila ada rasa sakit ketika Alfin menyebut wanita lain, namun Sheila juga sadar siapa wanita itu dan siapa dirinya "Memang apa yang kamu lakukan? dan kenapa tadi marah-marah sama Mba Tia?" tanya Sheila ingin tahu.
Alfin beralih menatap Sheila, melihat mata wanita yang kini berhasil mengisi hatinya mengusir kedukaan didalam hatinya "Dia melakukan sesuatu yang hampir membuatku berpisah dengan Angel," tutur Alfin.
"Memang apa yang Mba Tia lakukan? bukannya tadi Mba Tia bilang dia tidak melakukan apapun?" pertanyaan Sheila mendapat tatapan insten dari Alfin.
"Aku hanya ingin tau," ucap Sheila lirih lalu menundukan kepalanya.
(besok lagi 😁😁)
__ADS_1
#Semangat sahurnya jangan lupa berdoa sebelum makan 😂😂