Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Pecat?


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirumah sakit akhirnya Sheila di ijinkan untuk pulang karena kondisinya sudah cukup membaik.


"Langsung pulang Bos?" tanya Andri yang mengantar Alfin.


"Iya. Memangnya mau kemana lagi!" jawab Alfin.


Andri terkekeh "Kirain mau makan siang dulu gitu Bos?" celetuk Andri.


"Cih! makan siang dirumah!" jawab Alfin ketus.


"Iya Bos Iya!" Andri mengalah.


Selama diperjalanan Sheila hanya diam dan memandang keluar jendela, Alfin merasa sedih ketika melihat sang istri kini tidak seceria dulu "Beby..." panggil Alfin dengan suara lembut.


Sheila menoleh kearah suaminya, Alfin mengusap pipi Sheila "Jangan bersedih. Mungkin belum saatnya," ucap Alfin.


Sheila tersenyum paksa dan menganggukan kepalanya "Tidurlah sini." Alfin menepuk dadanya menyuruh Sheila untuk bersandar didadanya.


Sheila menuruti perintah Alfin, Sheila menenggelamkan kepalanya didada suaminya.


Andri merasa kasihan dengan bosnya baru merasakan kebahagian kini sudah diuji lagi dengan keadaan istrinya yang keguguran.


"Kamu tahu tugasmu kan Ndri?" ucap Alfin ketika melihat istrinya tertidur.


"Tahu Bos." jawab Andri yakin.


Andri kini ekstra memikirkan cara bagaimana mengetahui pelaku yang sudah membuat Sheila keracunan.


Setelah kurang lebih setengah jam Andri mengendarai mobilnya kini mereka sampai didepan rumah Alfin, Alfin terbangun saat merasakan mobil berhenti begitupun dengan Sheila "Apa perlu Mas gendong?" tawar Alfin.


"Aku baik-baik saja!" seru Sheila.


Alfin terkekeh lalu keluar dari mobilnya, Alfin menggandeng tangan istrinya "Selamat datang..." teriak orang-orang yang sudah berdiri saat pintu terbuka.


Sheila terkejut dengan hadirnya keluarga besarnya dan keluarga besar suaminya menyambutnya, bahkan teman-teman Sheila pun ada disitu, mata Sheila terharu dan langsung memeluk ibunya dan yang lain.


"Makasih." ucap Sheila untuk semua.


"Berjanji untuk semangat lagi!" ucap Yeni sambil menggenggam tangannya dan menggerakannya keatas.


Sheila dan semua tertawa "Iya!" seru Sheila.


Tia memeluk Sheila dan memberikan kekuatan kepadanya "Kakak janji tidak akan mengampuni siapapun yang melakukan ini kepadamu!" Tia melirik Ellena yang sedang berdiri disamping Hevi.


Ellena menangkap mata Tia "Kurang ajar! coba saja kalau kamu bisa membuktikan!" batin Ellena.


"Mommy!" teriak Inez yang langsung berlari menuruni tangga karena mendengar suara Sheila, James mengikuti Inez dari belakang.

__ADS_1


"Jangan lari sayang!" teriak Sheila yang takut bila Inez jatuh.


"Inez kangen Mom..." Inez menangis digendongan Sheila.


Sheila mengusap kepala Inez "Maafkan Mommy sayang..." ucap Sheila serak menahan tangisnya.


Alfin menghampiri istri dan anaknya "Come on. Inez gendong Daddy, Mommy tidak boleh kecapaian dulu sayang," Alfin merentangkan tangannya, Inez menurut dan langsung berpindah gendongan.


"Mommy masih sakit Dad?" tanya Inez, Alfin pun mengangguk.


"Makanya Inez jangan minta gendong dulu sama Mommy, Oke." ucap Alfin, Inez pun langsung menganggukan kepalanya "Anak pinter!" Alfin mengusap-usap rambut Inez.


"Ayo semua kita makan bersama!" ajak Mayang kepada semuanya.


Semua berjalan menghampiri meja makan dan mengambil makanan dan membawanya keruang tamu karena kursi dimeja makan tidak cukup ditempati.


Mayang menghampiri anaknya yang masih berdiri "Sayang...ini yang masak Mamah." ucap Mayang seakan tahu apa yang Sheila pikirkan.


Sheila melihat ibunya lalu tersenyum "Makasih Mah." ucap Sheila.


"Beby..." panggil Alfin.


Sheila menoleh kearah suaminya "Mana Inez?" tanya Sheila yang tidak melihat Inez digendongan Alfin.


"Itu?" Alfin menunjuk Inez yang sedang makan bersama teman-temannya, Sheila tersenyum melihat kebersamaan mereka.


"Oh iya Mah...Fatih mana? kok Sheila tidak melihatnya?" tanya Sheila saat duduk.


"Fatih sedang tidur dikamar Inez sayang," jawab Mayang.


Sheila membulatkan mulutnya, Alfin mengambilkan makanan untuk istrinya lalu menyuapinya "Aku bisa makan sendiri Mas," ucap Sheila yang merasa malu karena banyak orang.


"Mas mau menyuapimu!" seru Alfin.


"Anak Mamah memang suami idaman," puji Novi membanggakan Alfin.


Alfin menoleh kearah ibunya "Bapaknya siapa dulu?" ucap Alfin sambil melirik sang ayah.


"Wah anak Papah memang luar biasa memuji Papahnya," ucap Purnomo tertawa.


Ellena melihat kebersamaan keluarga Alfin dengan tatapan benci "Kalian masih bisa tertawa seperti itu? setelah membuat kedua orangtuaku tiada? tidak akan lama lagi kalian akan menangis!" batin Ellena.


James memerhatikan Ellena dari kejauhan "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh lagi El!" batin James.


Tia melihat tatapan Ellena yang mengarah pada keluarga Alfin dan Sheila yang sedang makan sambil bercanda "Aku yakin wanita ini menyembunyikan sesuatu!" batin Tia.


"Makan yang banyak sayang..." ucap Alex kepada Sheila.

__ADS_1


"Iya Pah..." jawab Sheila sambil tersenyum kepada Alex yang kini menjadi ayahnya.


"Oh iya...Sita mana?" tanya Sheila karena tidk melihat Sita dirumahnya.


Alfin menatap ibunya dan papahnya "Oh iya! Sita kok gak ada?" tanya Alfin.


"Dia sudah Mamah pecat sayang..." ucap Novi membuat Sheila sedikit terkejut.


"Pecat? kenapa?" tanya Sheila.


Novi menghembuskan nafasnya "Dia yang melakukan itu semua sayang..." ucap Novi memberi alasan.


Sheila menggelengkan kepalanya "Tidak mungkin! Sheila tidak yakin Sita melakukan itu Mah," mata Sheila berkaca-kaca.


"Maafkan Mamah sayang, Mamah juga awalnya tidak percaya, namun karena buktinya ada ya Mamah percaya."


"Bukti apa Mah?" tanya Alfin.


"Botol racun itu ada dikamarnya Fin," jawab Purnomo.


Sheila terperanjak dengan perkataan mertuanya dalam hati Sheila tidak yakin bila Sita yang melakukannya "Tidak mungkin Sita melakukan itu," ucap Sheila tidak percaya.


Alfin menatap kedua orangtuanya "Kenapa Mamah tidak memberitahu soal ini kepada Alfin Mah?" kesal Alfin.


"Maafkan Mamah sayang...Mamah waktu kemarin tidak kepikiran karena Mamah kecewa dengan Sita," tutur Novi.


Alfin menghembuskan nafasnya "Awalnya Papahmu melarang waktu Mamah mengusir Sita, tapi setelah kita dari rumah sakit waktu itu, kita meriksa kamar Sita dan menemukan botol racun didalam kamarnya, jadi Papah setuju buat memecap Sita Fin," ujar Purnomo


"Ha! padahal Alfin sudah memerintahkan Andri untuk menyelidiki semua ini Mah...Pah..." ucap Alfin menyesal.


"Aku yakin Sita tidak salah Mas," ucap Sheila.


"Tapi buktinya sudah ada Sayang," ucap Alfin.


Sheila menatap suaminya "Kalau Sita yang melakukan ini, kenapa tidak dari dulu Mas!" seru Sheila.


"Dia temanku Mas, tidak mungkin dia menyakitiku," ucap Sheila.


Alfin menarik nafasnya "Sudahlah jangan dipikirkan, Mas akan menyelidikinya lagi." ucap Alfin menenangkan istrinya.


Tia mendengar percakapan mereka lalu Tia melirik Ellena dengan tajam, begitu pula dengan Ellena yang menatap Tia dengan tajam.


James menghampiri Ellena "Makanlah cepat aku ingin berbicara denganmu!" perintah James kepada Ellena.


Ellena menoleh kearah James dan mentapnya dengan tajam "Hem!" jawab Ellena dengan berdehem.


Ellena berpura-pura masih berhubungan baik dengam James agar tidak ada yang curiga bila kini dirinya dan James sudah tidak ada hubungan apapun.

__ADS_1


(besok lagi 😄😄)


__ADS_2