
Sebelum pagi menyapa Sheila terbangun dari lelap tidurnya dan melihat sekelilingnya "Kamar Inez?" gumam Sheila bingung.
"Aku pasti ketiduran!" Sheila bangkit ingin mengambil airminum dibawah, Sheila memandang Inez sebentar untuk memastikan bahwa Inez masih terlelap dalam tidurnya.
Saat didapur Sheila mengambil gelas dan menuangkan air lalu Sheila meneguk airnya dalam satu tegukan "Alhamdulillah." ucap Sheila setelah meneguk air putih.
"Lagi ngapain?" suara Alfin mengagetkan Sheila yang sedang ingin menaruh gelas bekas pakai Sheila minum tadi.
"Minum," jawab Sheila.
Alfin mendekat dan mengambil gelas yang yang dipegang Sheila, lalu Alfin menuangkan air putih lalu meminumnya.
Sheila memelototkan matanya, terkejut dengan apa yang Alfin lakukan "Itu kan gelasku! kenapa tidak ambil lagi tadi," Sheila mengambil kembali gelasnya.
"Memangnya kamu yang beli gelas itu?" ledek Alfin.
Sheila menghembuskan nafasnya jengah "Mas Alfin..aku tau aku tidak membelinya, tapi gelas itu kan tadi sudah ak..." Sheila tidak bisa melanjutkan kata-katanya karna jari telunjuk Alfin kini berada dibibirnya membuat bibir Sheila bungkam.
"Sheil..." Alfin mendekatkan diri, membuat Sheila mundur namun Alfin menahannya dengan tangannya yang melingkar dipinggang Sheila, Sheila kaget dan takut "Mas mau apa?" dengan suara takut Sheila berucap.
"Tatap mataku," suara Alfin membius Sheila, Sheila menatap mata Alfin, ada rasa gemuruh dalam hati Sheila saat menatap mata hitam Alfin.
Alfin menyelipkan rambut Sheila yang terurai kebelakang telinganya "Apa kamu tau, kalau kamu akan dijodohkan?" ucap lirih Alfin, tangannya mengusap lembut rambut Sheila.
Dalam keadaan hati Sheila yang sedang gemuruh, Sheila juga terkejut dengan perkataan Alfin "Siapa yang bilang? Mamah belum bicara denganku," sergah Sheila.
"Bagaimana Ibu Mayang mau bicara denganmu, saat kamu pulang, kamu langsung tidur dipundak Hevi," ucap Alfin jarinya beralih mengusap pipi merah Sheila.
Sheila diam tak menghalau jari Alfin, logikanya Sheila ingin menghindar tapi hatinya merasa nyaman "Ada apa dengan hatiku ini." batin Sheila.
"Andri yang berbicara kepadaku, saat dia menjemput ibumu dihotel waktu itu, ibumu mendapatkan telfon dari sahabatnya, Andri mendengarkan pembicaraan ibumu dan sahabat ibumu, dari pembicaraan itu, sahabat ibumu minta dirimu untuk menjadi menantunya," Alfin menatap Sheila dengan penuh cinta tangannya tidak berhenti mengusap rambut Sheila.
"Apa kamu akan menerima perjodohan itu?" wajah Alfin berubah menjadi sendu.
Sheila menatap Alfin, tidak tau apa yang harus dia jawab "A-ku tidak tau," Sheila berucap dengan lirih.
Mendengar jawaban Sheila, Alfin mengeratkan tangannya yang memeluk pinggang Sheila "Jangan terima bodoh!" tegas Alfin namun dengan suara lirih.
__ADS_1
Sheila mengernyitkan keningnya "Memang kenapa?" Sheila ingin melepaskan cengkraman Alfin namun tenaganya kalah kuat dengan Alfin.
"Apa kamu tidak merasakan perasaanku padamu?" serius Alfin berucap.
"Perasaan apa?" tanya Sheila polos.
Alfin tersenyum "Apa kamu tidak pernah ditembak sama laki-laki selama ini, atau kamu memang belum pernah pacaran ya?" ledek Alfin, seketika wajah Sheila bersemu merah.
"Aku tidak punya waktu buat pacaran!" Sheila memukul dada Alfin pelan, Alfin pura-pura mengaduh kesakitan membuat Sheila Khawatir namun seketika Alfin tertawa karna berhasil mengerjai Sheila.
"Ih apaan sih gak lucu!" Sheila memalingkan wajahnya karna malu.
Alfin memegang dagu Sheila untuk menghadapnya "Will you merry me?" ucapan Alfin membuat Sheila terkejut.
"Mak-sudnya?" Sheila ragu dengan ucapan Alfin.
"Menikahlah denganku Sheila Putri," Alfin melamar Sheila.
Sheila tersenyum kecut, matanya berkaca-kaca "Gak usah bercanda untuk hal seperti ini Mas, gak lucu!" Sheila berucap sambil menunduk.
Alfin mengangkat dagu Sheila lagi "Aku gak bercanda! tatap mataku, apa kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan?"
"Aku Mencintaimu Sheila," bisik Alfin ditelinga Sheila.
"Menikahlah denganku, aku takkan bisa melihatmu bersanding dengan orang lain," suara Alfin menjadi sendu membayangkan jika Sheila bersanding dengan orang lain.
"Bukankah Mas sendiri yang bilang, kalau Mas tidak akan jatuh cinta padaku yang hanya seorang pengasuh," Sheila mengingat perkataan Alfin dengan Dani dulu.
Alfin mengangkat kepalanya dan menatap Sheila yang sudah berkaca-kaca "Sejak saat itu aku tidak berani untuk menaruh perasaan kepada siapapun, karna aku sadar siapa diriku," perkataan Sheila menghujam hati Alfin, Alfin mengingat perkataanya dengan Dani waktu itu.
Alfin memeluk Sheila "Aku minta maaf atas perkataanku waktu itu, aku sungguh minta maaf, tapi aku tidak bermain-main tentang perasaanku ini Sheil," ucap Alfin dengan suara parau ingin menangis.
Sheila terdiam dengan perkataan Alfin, airmata pun tanpa sadar keluar dari tempatnya.
Alfin memegang pipi Sheila "Aku serius, menikahlah denganku, jadilah ibu sambung untuk anakku," Alfin menatap lekat-lekat wajah Sheila yang kini mengisi hatinya.
Sheila menangis tanpa suara, hanya airmata yang mengalir, Alfin mengusap airmata Sheila dengan ibu jarinya "Mau kan?" tanya Alfin lagi.
__ADS_1
Sheila tetap membisu, lidahnya kelu untuk berbicara, rasanya terlalu dini untuk menikah "Aku ingin kuliah Mas," ucap Sheila.
Alfin mengusap rambut Sheila dan tersenyum "Kamu bisa kuliah sampai lulus, aku akan mendukungmu," Alfin berusaha meyakinkan.
"Mas gak bohong," ucap Sheila tidak percaya.
Alfin menggelengkan kepalanya "Gak, aku tidak akan melarangmu untuk kuliah," Alfin meyakinkan.
"Bagaimana dengan orangtuamu? kamu dan aku tidak sama Mas, aku orang ya..." Alfin membungkam bibir Sheila dengan jari telunjuknya.
"Kebahagiaanku adalah kebahagiaan mereka," jawab Alfin dengan senyuman.
"Kenapa kamu memilihku, banyak wanita yang lebih dariku diluar sana Mas," Sheila menunduk malu.
"Karna kamu yang membuat hatiku kembali hidup, bahkan lebih terang dari apa yang pernah aku rasakan dulu," ucap Alfin, tangannya mengusap pipi Sheila yang sedang bersemu merah.
"Jangan banyak bertanya, jawab pertanyaanku!" Alfin mencubit hidung Sheila gemas.
"Ih apaan sih!" Sheila tersenyum malu.
Sheila lalu menganggukan kepalanya "He'em," Sheila langsung menunduk.
"Memang kaya gitu jawaban?" ledek Alfin.
Sheila memukul dada Alfin pelan "Ih...ya udah gak jadi!" Sheila pura-pura kesal.
Alfin tertawa dan langsung mengangkat tubub Sheila dan berputar, Sheila menjerit dengan apa yang Alfin lakukan, Alfin pun berhenti lalu tersenyum senang "Ih...ini masih malem, kasihan mereka nanti bangun, aku mau tidur, ngantuk!" Sheila memukul lengan Alfin dan ingin pergi dari hadapan Alfin, karna saat ini hatinya tidak karuan lagi rasanya.
Alfin menarik tangan kedalam pelukannya "Biarin, aku ingin seperti ini sebentar denganmu," Alfin memeluk Sheila dengan bahagia.
"Aku bahagia, terimakasih, aku akan memberitau orangtuamu besok," ucap Alfin dalam pelukan Sheila.
Sheila terdiam, hanyut dalam suasana dan hati yang sedang berbunga-bunga.
"Em..em," deheman seseorang membuat Alfin melepas pelukannya.
(besok lagi 😁😁)
__ADS_1
sehat selalu kaka-kaka dan jangan lupa dan bosan dengan karya author yang receh ini 😚😚