
Sheila pun menuruti sang guru, Sheila berusaha untuk fokus pada kertas ujiannya walau sebenarnya hati dan pikirannya sedang tidak sejalan namun Sheila tetap berusaha agar dia bisa mengerjakan ujian dengan baik.
setelah ujian selesai para peserta mulai mempersiapkan diri untuk pulang, satu persatu peserta ujian keluar dari ruang ujian, begitu pula dengan sang guru yang sudah berada di ruang guru.
tinggal Sheila dan dua temannya yang masih didalam ruangan "Kamu gak dikasih libur Sheil?" tanya Santi sambil menaruh tas dipundak kirinya.
"Gak bisa, anak asuhku masih kecil San," ucap Sheila lemas.
"Kan ada ibunya Sheil, masa libur selama ujian gak boleh," kata Santi berdiri disamping Shela.
"Iya Sheil, minta ijin lah terus kita jalan bareng, makan-makan gitu Sheil, siapa tau ketemu cogan kan," ucap Yeni yang tiba-tiba berdiri disamping Santi sambil mengedipkan satu matanya dan tersenyum.
Santi yang mendengar ucapan Yeni menyenggol lengan Yeni dan memelototkan matanya "Cowok mulu yang ada dipikiranmu!" geram Santi.
"Hehe," Yeni hanya membalas dengan tertawa kecil.
"Masalahnya ibu dari anak yang aku asuh itu udah meninggal, dan aku tidak tega buat ninggalin dia terlalu lama, karna aku mengasuh dia dari bayi berumur 3bulan," Sheila memberikan alasan.
Santi kaget mendengar penuturan Sheila "Memang bosmu belum nikah lagi?" tanya Santi. Sheila hanya menggelengkan kepalanya.
Yeni yang melihat Sheila menutup mulutnya dengan kedua tangannya karna kaget "Kenapa kau ini tutup mulut begitu?" hardik Santi.
"Cih kau ini, aku hanya kaget lah, itu suami pasti setia banget," Yeni mengucapakannya dengan memejamkan matanya membayangkan punya suami yang setia.
Santi yang geli melihat tingkah Yeni menjitak kepalanya "Aduh, kau ini selalu saja menggangguku kalau sedang mengkhayal!" kesal Yeni memonyongkan bibirnya.
"Sudah sudah lebih baik kita pulang sekarang!" Sheila berdiri dari tempat duduknya dan mulai berjalan keluar yang diikuti oleh Santi dan Yeni.
Mereka akhirnya pulang, Santi dan Yeni manaiki angkutan umum dan melambaikan tangannya kepada Sheila yang masih didepan gerbang sekolah, karna sang bos dan Asisten bos yang menjemputnya sudah terparkir didepan gerbang.
Alfin memang sengaja untuk menyuruh sang Asistennya untuk mengantar jemput Alfin karna dirinya sangat malas sekali untuk menyetir saat ini.
Sheila ingin membuka pintu depan namun tidak bisa karna dikunci dan Alfin yang merencanakannya karna dirinya ingin duduk di samping Sheila.
Alfin hanya tersenyum miring dan membuka jendela mobil "Disamping tidak dikunci," kata Alfin berusaha menahan senyumnya.
__ADS_1
Sheila merasa kesal dengan bosnya namun hanya bisa pasrah "*D*asar menyebalkan." batin Sheila sambil berjalan kepintu samping mobil.
Alfin menahan ketawanya karna melihat wajah Sheila yang sedang kesal baginya itu sangat menggemaskan.
Andri yang melihat tingkah bosnya hanya mengeleng-gelengkan kepalanya "*P*asti pak bos sudah jatuh cinta sama pengasuh anaknya." tebak Andri dalam hati.
^
setelah sampai rumah Alfin tidak langsung turun menunggu Sheila turun, dan saat Sheila sudah turun Alfin membuka jendela mobilnya "Hus.. hus.. bukain," pinta Alfin sambil menaik turunkan alisnya.
Sheila yang hendak berjalan kepintu rumah membalikan badannya, Sheila menatap bosnya "*H*ais kenapa dengan bosku ini, hari ini sangat menyebalkan!" gerutu Sheila dalam hati.
namun Sheila tetap mematuhi perintah Alfin, ya memang sudah seharusnya.
"Good". ucap Alfin memuji Sheila dan berjalan dengan gagah kedalam rumah.
"Hi... untung anda bos!" maki Sheila saat bosnya sudah tidak kelihatan dari pandangannya.
"Sudah ayo masuk jangan maki-maki bos mulu!" ajak Andri berhenti sejenak disamping Sheila dan tersenyum, lalu Andri menyusul Alfin kedalam rumah.
Sheila masuk kedalam rumah dan disambut teriakan dari baby Inez yang tengah digendong oleh Alfin "Mam ma Mam ma." celoteh Inez saat melihat Sheila masuk kedalam rumah.
"Hehe, iya aku lupa Pak, aku akan cuci tangan sebentar," Sheila ingin pergi mencuci tangannya namun dia tetap ditempatnya dan memandang tangannya yang masih dipegang oleh Alfin "*G*imana caranya aku cuci tangan kalau begini"." batin Sheila.
"Pak." ucap Sheila lirih sambil matanya melihat kebawah dimana tangan Alfin masih memegang tangan Sheila.
Alfin mengikuti arah mata Sheila dan Alfin tersadar atas apa yang dia lakukan "Pergilah!" Alfin langsung melepaskan tangannya dari tangan Sheila dan berpura-pura membuang mukanya karna malu.
"*S*hit napa aku bisa gak sadar, malu kan jadinya!" Alfin menggerutu dalam hati.
Sheila kembali ketempat baby Inez dan Alfin berada, baby Inez yang melihat Sheila berjalan kearahnya menunjukan wajah cerianya "Mam ma Mam ma." celoteh baby Inez.
Sheila merentangkan tangannya dan menggendong baby Inez dan baby Inez sangat ceria berada digendongan Sheila, Sheila membawa baby Inez kedalam kamarnya untuk beristirahat.
^
__ADS_1
Setelah baby Inez dan Sheila pergi keatas dimana kamar Inez berada, Alfin mengajak Andri untuk pergi kekantor karna sore nanti dia harus bertemu kliennya yang tak lain adalah saudara dari ayahnya yang baru pulang dari Jerman untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan Alfin.
"Kita pergi kekantor sekarang Ndri!" pinta Alfin.
"Siap laksanakan bos!" Andri berdiri dan memberi hormat kepada bosnya.
"Pantasnya kamu jadi tentara aja Ndri," ledek Alfin yang geli melihat tingkah Asistennya.
Mereka berdua akhirnya pergi dari rumah dan pergi kekantor sebelumnya mereka telah berpamitan kepada Bi Tini dan memberi pesan kepada bi Tini untuk mengatakan kepada Sheila bahwa dirinya pergi kekantor.
Bi Tini pun mengiyakan pesan majikannya itu.
Andri segera menyalakan mobilnya setelah sang bos masuk kedalam mobil, dan tak butuh waktu lama mobil Alfin pun sudah berjalan meninggalkan rumah.
"Bos.." sapa Andri kepada bosnya yang sepertinya lagi galau memikirkan sesuatu.
"Hem." Alfin menjawab dengan gumaman.
"Ada yang sedang mengganggu pikiranmu bos?" Andri memberanikan dirinya untuk bertanya pada Alfin.
Alfin menghembuskan nafasnya "Tau lah Ndri aku bingung, Inez sekarang memanggil Sheila dengan sebutan mama, apa akan nyampe dia besar akan memanggil Sheila dengan sebutan itu," tutur Alfin lirih tidak bersemangat.
"Sabar Fin, aku yakin jika Inez sudah mengerti dengan keadaan, Sheila akan bisa memberikan pengertian kepada Inez," Andri berkata sebagai seorang sahabat yang memberikan semangat saat sahabatnya sedang galau, sama seperti yang Alfin lakukan dulu kepada Andri yang terpuruk dalam hidup.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
#bantu doa agar masalah virus corona segera berakhir 😊😊 semoga Allah melindungi kita dari bahaya virus ini 😊😊