Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Pertahankan aku


__ADS_3

Alfin senang sekali bila menggoda Sheila, saat Alfin sedang asyik bercengkrama dengan Sheila, teriakan Hevi membuat Alfin kesal "Shit! ganggu aja!" umpat Alfin.


"Dia temanku Mas," Alfin mendapat lirikan Sheila.


Alfin terkekeh "Aku temui dia dulu ya Mas," Sheila ingin meninggalkan Alfin namun tangan Alfin menghalanginya.


"Kiss dulu sini!" Alfin menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya, perintah Alfin membuat wajah Sheila bersemu merah.


"Apaan sih!" Sheila memukul lengan Alfin lalu pergi menemui Hevi. Alfin tersenyum lalu merebahkan dirinya diatas kasur "Rasanya sangat berbeda."


Hevi menggerutu karna Sheila lama sekali "Abis ngapain sih lama banget!" kesal Hevi.


"Abis ngompres Mas Alfin Mba," Sheila mengajak Hevi untuk turun kebawah.


Sampai dibawah Sheila bergabung dengan kedua temannya dan baby Inez, Sheila mengambil baby Inez dari pangukan Santi "Makasih ya sudah jagain baby Inez," Sheila duduk dan memangku baby Inez.


"Yem..." panggil Hevi.


"Hem..." Sheila menjawab dengan berdehem.


"Bener kamu mau dijodohin? sama siapa?" tanya Hevi sangat penasaran.


Kembali Sheila teringat dengan masalahnya saat ini, wajah Sheila langsung sendu "Iya Mba, aku juga tidak tau akan dijodohkan dengan siapa, Mamah hanya bilang aku akan dijodohkan dengan anak sahabat Mamah," Sheila kembali bersedih, membayangkanya saja Sheila tidak sanggup bila harus bersanding dengan orang lain.


Teman-teman Sheila terkejut "Ko bisa Sheil?" tanya Yeni antusias.


Sheila hanya mengangkat bahunya, rasanya malas sekali untuk membahasnya "Hati-hati loh Sheil nanti kamu dijodohin sama orang yang tua," saut Yeni lalu tertawa.


Santi dan Hevi langsung memelototkan matanya, Yeni langsung diam dan terkekeh "Bercanda Sheil," ujar Yeni karna takut.


"Terus gimana dengan Alfin?" tanya Hevi.


"Aku gak tau Mba," ujar Sheila pasrah.


Hevi menarik nafasnya dalam-dalam "Kasihan Alfin Sheil, tadi aja sampai berantem sama Andri, padahal Alfin sudah memohon-mohon sama ibumu, tapi gak berhasil juga," ucap Hevi merasa kasihan dan salut sama Alfin.


"Alfin sampai kaya gitu Mba?" Sheila terkejut dengan penuturan Hevi.


"Dia bahkan sampai bersimpuh didepan ibumu," ucap Hevi menatap Sheila.


Sheila merasa sedih dengan kenyataan yang ada, terkadan Sheila juga merasa bingung dengan apa yang ibunya lakukan, padahal dia dan Alfin satu sama lain, tapi kenyataannya itu tidak bisa merubah keputusannya.

__ADS_1


"Aku heran sama ibumu kali ini Sheil, seperti bukan ibumu, aku yakin ibumu itu adalah orang yang baik, tetapi kali ini aku rasa ibumu sangat berbeda," ucap Hevi sambil mengelengkan-gelengkan kepalanya.


"Aku juga merasa seperti itu Mba, sekarang ibuku mana Mba?" Sheila melihat sekeliling tapi ibunya sepertinya tidak ada.


"Tadi dia pamit pergi Sheil, dan diantar sama Pak Alex dan Fino," saut Santi.


"Pergi? pergi kemana?" tanya Sheila penasaran.


Teman-teman Sheila kompak mengangkat bahu memberi sinyal kalau mereka tidak tau ibu Mayang pergi kemana.


"Andri sama Dani mana Mba?" tanya Sheila yang juga tidak melihat mereka diruang keluarga.


"Mereka kekamar Sheil," Sheila membulatkan mulutnya.


"Oh iya kita juga sebentar lagi mau pulang, besok kan kita kerja lagi," ucap Santi.


Sheila merengut "Yah aku sendirian lagi dong," muka Sheila menjadi redup.


"Kapan-kapan kita main lagi, kan kita harus kerja buat makan Yem," ujar Hevi memberikan pengertian, Sheila pun akhirnya menganggukan kepalanya mengerti keadaannya.


"Ya udah kita mau mandi dulu ya Sheil," ujar Santi, Sheila pun mengiyakannya.


Mereka pergi kekamar dan bersiap-siap untuk pergi untuk kembali ketempat mereka masing-masing, Sheila membawa baby Inez kekamarnya karna baby Inez sekarang tertidur pulas dipangkuan Sheila.


"Awas ah, gak enak dilihat sama orang nanti," Sheila mencoba melepaskan pelukan Alfin namun cengkraman Alfin sangat kuat.


"Biarin aja! aku mau seperti ini!" ucap Alfin lembut sambil mencium rambut Sheila yang harum dihidung Alfin.


"Gak enak kalau dilihat sama teman-temanmu dan teman-temanku Mas, entar mereka mikir macem-macem," kesal Sheila.


"Biarin aja! siapa suruh lihat!" ujar Alfin tambah mengeratkan pelukannya.


Sheila menghembuskan nafasnya kesal "Rambutmu wangi Beb," puji Alfin.


"Pakai sampho apa?" tanya Alfin ingin tau.


"Gak tau!" sungut Sheila, Alfin terkekeh dan membalikan badan Sheila untuk menghadap kepadanya.


Sheila memonyonkan bibirnya karna kesal dengan kelakuan Alfin namun Alfin malah justru gemas ingin menggitnya "Aku gigit bibirmu kalau bibirmu seperti itu," Alfin tersenyum menggoda Sheila.


Sheila langsung menormalkan bibirnya "Gak usah iseng deh!" Sheila memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Aku serius gak iseng Beb," Alfin tersenyum senang.


"Mas...udah deh, awas aku mau kebawah!" Sheila berusaha menghindar karna Sheila kini sungguh sudah tidak karuan lagi karna selalu digoda Alfin.


Alfin malah tambah mengeratkan cengkraman dipinggang Sheila membuat wajah mereka sangat dekat "I Love U," bisik Alfin lalu memeluknya dengan erat seakan takut Sheila akan pergi.


Wajah Sheila menjadi sendu mendengar ungkapan Alfin "Makasih sudah mau mencintaiku Mas," suara Sheila parau menahan tangisnya.


"Pertahankan Mas Sheil," ucap Alfin dengan suara lirih.


Sheila akhirnya menangis tidak tau harus menjawab apa, Alfin memeluk Sheila dan memejamkan matanya, mereka saling hanyut dalam keadaan seakan-akan ini adalah pelukan terakhir untuk mereka.


"Pertahankan Mas dalam keadaan apapun, jangan hilangkan perasaanmu untuk Mas karna itu yang akan membuat Mas kuat untuk menjalani hidup Mas nanti," Sheila kini yang justru mengeratkan pelukannya sambil menangis karna ucapan Alfin.


"Berhenti berkata yang membuatku tambah takut untuk menghadapi kenyataan Mas," Sheila sesenggukan didada Alfin.


^


"Mayang..." seorang wanita memanggil Mayang sambil melambaikan tangannya dan tersenyum kearah Mayang.


Mayang berjalan cepat kearah wanita itu dan duduk dihadapannya "Berhenti bersandiwara, kasihan mereka ," Mayang langsung berbicara saat sudah duduk dihadapan wanita itu.


Wanita itu tertawa "Biarin aja Yang, biar kejutan nanti membuat mereka jantungan," ujar wanita itu lalu terkekeh.


"Kamu ini! aku gak tega sama mereka, kamu tau Alfin sampai berantem sama Andri, muka mereka lebam-lebam gara-gara saling pukul," kesal Mayang.


Wanita itu tersenyum menanggapi omongan Mayang "Biarin aja, kan mereka laki-laki Yang," enteng sekali wanita itu menanggapi.


Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya "Kamu itu dari dulu jahil jadi orang," Mayang menyenderkan badannya dikursi.


Wanita itu tertawa "Kamu masih ingat rupanya, apa kamu ingat juga saat aku menaruh kertas dibelakang punggung seorang Osis yang sekarang itu menjadi suamiku," mereka tertawa mengenang kejahilannya. Mayang tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kelakuan sahabatnya.


"Oh iya, kamu kesini sama siapa?" tanya wanita itu.


"Alex sama Fino,"


Wanita itu hanya membulatkan bibirnya "Lalu mereka dimana? kok gak ikut masuk," tanyanya lagi.


"Katanya ada urusan, nanti kesini lagi untuk menjemputku," ujar Mayang. Mereka pun berbincang-bincang dan merangkai rencana untuk Alfin dan Sheila, terkadang Mayang dibuat heran dengan rencana sahabatnya itu yang jarang dilakukan orang lain, namun Mayang tetap menyetujuinya.


(besok lagi 😁😁)

__ADS_1


#Maaf ya kaka-kaka baru Up, semalem sudah nulis beberapa ratus kata tapi ketiduran authornya 😁 untung tulisannya gak ilang 😂 semangat berpuasa kakak 😊😊


__ADS_2