
Suara deru mobil menandakan Alfin telah pulang dari kantor, Sheila melihat jam diatas dinding tempat dia bermain bersama baby Inez "Masih sangat sore? kenapa pak Alfin sudah pulang? tumben?" tanya Sheila dalam hati.
Sheila melihat dari jendela ternyata benar Alfin yang datang.
Alfin segera masuk kedalam rumah dia ingin melihat Sheila dan memastikannya baik-baik saja "Sheil... Sheil..." teriak Alfin saat memasuki rumah.
Sheila yang mendengar teriakan Alfin langsung menghampiri Alfin yang masih berada di dekat pintu "Kenapa gak sekalian Bapak pake speker biar tetangga semua denger!" tegur Sheila.
Alfin yang mendengar suara Sheila segera menghampiri "Kamu gak papa?" Alfin begitu khawatir
"*P*ak bos khawatir sama saya?" batin Sheila.
Sheila hanya mengangguk, bingung dengan pertanyaan bosnya.
"Terus kenapa nomer hp kamu tidak aktif? kamu tau sahabatmu Hevi tadi menelponku dia khawatir karna nomer hp mu tidak aktif!" tutur Alfin menjelaskan.
"Astagfirullah, iya saya lupa Pak dari tadi siang aku tidak pegang hp," Sheila kaget mendengar Alfin bahwa Hevi begitu khawatir.
Sheila memberikan baby Inez kepada Alfin sang bos "Pak pegang baby Inez dulu sebentar!" Sheila segera berlari menuju kamarnya.
Alfin geleng-geleng kepala melihat kelakuan pengasuh anaknya.
Alfin memberikan tas kerja pada Andri "Taro ditempat kerja Ndri!" perintah Alfin.
Andri segera pergi keruang kerja menaruh tas kerja Alfin, setelah menaruh tas Alfin , Andri segera berlalu turun kebawah untuk menemani bosnya yang sedang bermain bersama anaknya.
"Bos yang tadi pengasuh Inez?" tanya Andri saat sudah berada didekat Alfin dan bergabung bermain bersama baby Inez.
"Iya kenapa memangnya?" bailk tanya Alfin.
"Cantik ya bos," Andri mengedipkan satu matanya kepada Alfin.
"Cih! jangan ganggu dia!" ancam Alfin.
Andri terkekeh mendengar perkataan Alfin "Memang kenapa bos? kelihatannya dia belum berpengalaman pacaran, boleh lah," goda Andri.
"Berani kau dekati dia, aku akan menggantungmu di mobil nanti!" Alfin berusaha tenang menutupi gejolak hatinya yang panas mendengar perkataan Andri.
__ADS_1
"Kau cemburu ya bos?" ledek Andri tertawa melihat wajah Alfin yang memerah menahan marahnya.
"Cih kau ini! pulang saja kau sana, bikin rusuh saja!" usir Alfin
"Sory sory bos, aku gak mau pulang, aku mau nginep sini ya bos,aku bosen dirumah sendirian bos, disini kan ada Sheila dan juga Inez," kata Andri mengedipkan satu matanya kepada baby Inez.
"Kau ini!" Alfin melempar mainan squisy yang dipegangnya ke Wajah Andri
Andri hanya terkekeh mendapatkan perlakuan sang bos, baginya dia bukan hanya sekedar bos tapi dia adalah penyelamat hidupnya, karna dulu Alfin lah yang menolongnya saat dirinya sedang dalam kesusahan.
Andri dulu sebenarnya sudah memegang perusahaan sendiri saat dirinya masih jaya pada waktu itu, namun na'as karna kebodohan Andri tertipu oleh rekan bisnisnya dan perusahaannya mengalami kerugian besar, sejak saat itu hidupnya satu persatu runtuh dari orangtua yang meninggal karna mengalami syok berat dan dari sahabat-sahabatnya yang sudah tidak mau mengenalnya lagi karna dirinya sudah tidak mempunyai apapun.
saat Andri dalam kebingungan Alfin datang memberikan bantuan namun Andri menolaknya, Andri justru menawarkan diri sebagai pekerjanya dikantor dan Alfin pun menyetujuinya dan memberikan posisi Asisten pribadinya.
Andri tidak menerima bantuan dari Alfin karna bagi Andri semua sudah tidak berarti karna orangtuanya sudah tidak ada, Andri hanya ingin hidup dan punya teman yang sejati yang selalu berada disisinya disaat susah maupun senang, bukan disaat dirinya menjadi orang yang kaya saja. dan itu adalah Alfin sang bos sekaligus tempatnya bersandar.
^
Dikamar Sheila mencari keberadaan hp nya dan saat menemukannya ternyata hp nya lawbet "Yah lawbet, pantesan!" keluh Sheila
Sheila segera menelpon sahabatnya untuk memberikan kabar kepadanya.
"Hallo yem, kamu kemana aja? aku telfonin juga, aku khawatir tau!" Hevi segera bertanya kepada Sheila saat mengangkat panggilan dari Sheila.
"Hehe sory mba aku lupa cas hp! tadi bos aku pulang dan kasih tau kalau kamu telfon aku tadi, baru inget aku gak pegang hp dari tadi siang, pas aku lihat ternyata hpnya lowbet." jawab Sheila menjelaskan.
"Syukurlah kalau kamu gak papa soalnya perasaan aku gak enak dari tadi siang kepikiran kamu mulu!" tutur Hevi
Sheila menangis mendengar perkataan sahabatnya namun Sheila berusaha untuk tenang "Aku gak papa ko Mba, kamu tenang aja aku disini baik-baik aja," ucap Sheila mencoba menetralkan suaranya.
"Iya aku cuman khawatir aja abisnya perasaan aku gak enak yem sama kamu!" Hevi menghembuskan nafasnya lega rasanya bisa mendengar suara Sheila karna dari tadi Hevi mencemaskan keadaan Sheila.
"*Ma*kasih Mba kamu selalu saja tau saat aku sedang dalam masalah, tapi ini bukan waktunya aku cerita ke kamu Mba, nanti saat kita bertemu aku akan menceritakan masalah ini, aku gak mau kamu khawatir sama aku Mba" batin Sheila dalam hati.
"Maaf ya Mba dah buat kamu khawatir, aku disini bahagia ko dan itu berkat kamu Mba," ucap Sheila menenangkan sahabatnya.
"Iya Yem, aku lega rasanya denger suara kamu sekarang, aku jadi gak khawatir lagi sama kamu, ya sudah aku tutup dulu ya, aku mau jalan ada perlu sama temen aku," Hevi mematikan telfonnya setelah mereka berdua saling berpamitan.
__ADS_1
Sheila kembali menangis karna dirinya merindukan sahabatnya yang selalu memberikan kekuatan padanya. Sheila mengehembuskan nafasnya dan mengeluarkannya dengan perlahan dan menghapus airmatanya dengan ibu jarinya.
Sheila kembali turun kebawah dan saat Sheila melewati kamar Bi Tini, Sheila berpapasan dengan Pak Sunari yang tak lain adalah bapak kandungnya.
mereka saling tatap untuk beberapa saat dan saat Sheila sadar Sheila segera memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan Pak Sunari yang masih termenung didepan pintu kamar Bi Tini "*ke*napa perasaan ada sesuatu ya kalau dekat dengan anak itu,ah mungkin perasaan aku aja" batin pak Sunari.
Pak Sunari segera menghampiri istrinya didapur "Bu bikinin Bapak kopi ya!" perintah pak Sunari pada istrinya.
Bi Tini segera membuatkan kopi untuk suaminya dan meletakkannya diatas meja didepan suaminya "Ini pak kopinya." bi Tini mendudukan dirinya dikursi yang kosong didepam suaminya.
"Gimana kabar Tia pak?" tanya Bi Tini pada suaminya.
"Ya begitu lah bu, anak itu selalu saja mengeluh dan mengidolakan Den Alfin Bu" jawab Pak Sunari pada istrinya.
"Hemmmm, kenapa anak kita tidak seperti Sheila ya Pak, dia anaknya baik dan mau bekerja keras untuk ibu dan adiknya," ucap Bi Tini, Pak Sunari hanya diam mendengarkan karna sejatinya dia bukan anaknya karna Pak Sunari menikahi Bi Tini seorang janda beranak satu.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
#kejar mimpi kalian walaupun itu tak didukung sekalipun karna dukungan akan datang saat kalian meraih mimpinya 😊😊 jangan lupa like dan vot untuk dukung author ya kaka kaka semua 😊😊
__ADS_1