
Dikantor Alfin tidak fokus untuk bekerja, pikirannya melayang-layang entah kemana, hatinya selalu merasa cemas karena kesalahan yang dia perbuat, hidup yang dipenuhi teror dan ancaman dari Ellena membuat hidup Alfin tambah runyam.
Seperti siang ini, Alfin harus menemani Ellena makan siang sesuai permintaannya pada pesan yanv dikirim ke Alfin dan Alfin pun menuruti sesuai perintah James untuk menuruti kemauan Ellena saat ini.
"Sayang." panggil Ellena untuk Alfin.
"Jangan memanggilku sayang." ketus Alfin.
"Beby." Ellena memanggil dengan sebutan lain.
"Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu!" seru Alfin sambil meletakkan garpu dan sendoknya karena kesal.
Ellena hanya tersenyum sinis, "Aku tidak perlu ijinmu untuk memanggilmu apa." ucap Ellena.
Alfin menghembuskan nafasnya dan membuang mukanya, "Terserah!" seru Alfin.
"Kalau sudah selesai makannya. pergi sekarang juga, aku masih banyak kerjaan." kata Alfin.
"Aku ingin menunggumu dikantor, bolehkan?" Alfin menatap Ellena dengan tajam.
"Oke baiklah, Aku akan pulang." Ellena berdiri dari kursinya dan berhenti disamping Alfin.
Ellena membungkukan badannya lalu mencium pipi Alfin, "Sampai jumpa besok lagi." bisik Ellena membuat Alfin sangat kesal.
"Shit!" umpat Alfin sambil mengusap-usap pipinya dengan tisu yang berada dimeja restoran.
Alfin berdiri lalu membayar semua tagihan makanannya setelah itu dia kembali kekantor.
Sampai dikantor Alfin melihat James sudah berada diruangannya, "James." panggil Alfin.
James menoleh kearah Alfin, "Bagaimana?" tanya Alfin langsung duduk bersemangat ingin mendengar kabar dari James.
James mengeluarkan sebuah foto dihpnya, "Kau sangat mengenalnya." ucap James membuat Alfin penasaran dan langsung mengambil ponsel James agar lebih jelas.
"Brengsek! jadi Ellena bekerja sama dengan lelaki ini?" umpat Alfin.
"Sepertinya Ellena memanfaatkan kekalahan Adit waktu itu untuk mau bekerja sama." tebak James yang sudah tahu dengan sifat-sifat Ellena.
Alfin menghembuskan nafasnya, "Lalu bagaimana rencana kita selanjutnya?" tanya Alfin yang otaknya serasa buntu.
"Tidak ada cara lain, kita butuh teman-temanmu yang lain." Alfin melirik James penuh tanda tanya.
"Ajak Andri, Dani dan Fino." jelas James.
Alfin sedikit terkejut dengan saran James untuk mengajak teman-temannya, "Kau bercanda? sama saja Aku cari mati Jam!" seru Alfin tidak setuju.
"Mereka juga pasti mengerti! percayalah!" tegas James.
Alfin mengacak rambutnya, "Ha! ini sungguh membuatku gila James!" kesal Alfin.
James hanya memberikan simpatinya lewat tepukan dipundaknya.
^
"Mamah sangat senang kamu main kerumah Mamah sayang." ucap Mayang kepada Sheila yang pagi itu datang kerumah diantar oleh Alfin.
__ADS_1
Alfin pun meminta ijin kepada mertuanya agar bisa tinggal dirumah mereka selama beberapa hari, dan itu sukses membuat Mayang bahagia karena hal itu sudah sangat lama Mayang nantikan.
Lain dengan ibunya, Sheila justru merasa ada yang aneh dengan suaminya karena akhir-akhir ini sikapnya sangat membuatnya merasakan kecurigaan.
"Sheila juga senang Mah, Sheila bisa main bersama Fatih." ucap Sheila menutupi kegelisahan hatinya.
Mayang tersenyum dan mengusap kepala anaknya dengan kasih sayang, "Mamah bahagia melihat rumah tanggamu terlihat sangat bahagia sayang, semoga Kamu tidak seperti Mamah yang harus merasakan pahitnya perpisahan dan membesarkanmu tanpa seorang ayah." mata Mayang berkaca-kaca saat mengenang masa lalunya kembali.
"Mah..." Sheila ikut sedih bila sudah mengingat masa lalunya yang tidak seperti anak-anak yang lain, tapi sekarang Sheila bersyukur impian-impian kehidupannya satu-persatu terwujud.
"Apa Kak Tia sering main kesini Mah?" tanya Sheila yang rindu dengan kakaknya.
"Tadi Mamah memberi kabar kalau Kamu dan Alfin main kerumah Mamah dan bakal menginap disini, dan kata Kak Tia habis pulang kerja nanti dia bakal kesini." Sheila menganggukan kepalanya mendengar perkataan ibunya.
"Sheil..." mendengar ibunya memanggil Sheila langsung menoleh.
"Kenapa Mah?" tanya Sheila.
"Waktu Alfin marah dipernikahan Kak Tia apa berlanjut sampai rumah Sayang?" tanya Mayang penasaran dengan kejadian itu.
Sheila menggelengkan kepalanya, "Tidak kok Mah, sampai rumah Mas Alfin tidak marah hanya mencemarahi Sheila agar tidak dekat-dekat dengan Kak Adit." ujar Sheila sedikit berbohong.
Mayang bernafas lega, "Syukurlah kalau memang begitu, Mamah takut sekali kalau sampai Alfin memarahimu dirumah Sayang." ucap Mayang.
"Sekarang istirahatlah dikamar Sayang, Mamah juga mau menidurkan Fatih dulu, nanti makan malam bersama jika Papah dan Alfin pulang." Sheila mengangguk lalu mereka keatas bersama.
Dikamar, Sheila termenung dibalkon kamar yang sedang dia tempati dirumah papah Alex, Sheila menelisik hatinya yang merasa gelisah dengan keanehan sikap Alfin akhir-akhir ini.
Pikirannya menerawang jauh tentang suaminya, tapi sebisa mungkin Sheila mengusir rasa-rasa cemas itu agar tidak menjadi masalah kedepannya apalagi semua prasangka buruknya tidak memiliki bukti apapun.
"Semoga firasatku selama ini salah Ya Allah dan semoga engkau selalu melindungi Mas Alfin." doa Sheila sambil menerawang luasnya langit yang saat ini sedang cerah.
Saat selesai berdandan Sheila mengetuk pintu kamar ibunya, "Ada apa sayang?" tanya Mayang saat membuka pintu.
"Sheila mau berangkat kuliah dulu Mah." Sheila menyalimi tangan ibunya.
"Diantar sama Pak Joni ya Sheil?" Sheila mengangguk mengerti lalu berlari turun kebawah.
Mayang memandang kepergian anaknya dengan perasaan haru karena tidak menyangka bila anaknya bisa sekoah diperguruan tinggi, Mayang bersyukur dalam hati atas nikmat-Nya yang sudah dia berikan kepada keluarganya saat ini.
^
Saat Sheila ingin masuk kedalam kelasnya tiba-tiba dirinya dihadang oleh 3orang wanita, "Permisi." Sheila berusaha melewati mereka namun langkah kakinya selalu dihadang oleh mereka.
"Kamu yang bernama Sheila." ucap wanita yang berada dihadapan Sheila saat ini.
Mereka adalah Andin,Cantika dan Gia Mahasiswi Seni yang merasa harga dirinya jatuh ketika mendapat kabar bahwa Sheila lah yang akan berduet dengan Adit saat ulangtahun kampus nanti.
"Iya." Cantika langsung memajukan langkahnya untuk lebih dekat dengan Sheila.
Cantika menatap benci Sheila dan menatap penampilan Sheila dari atas sampai bawah, lalu Cantika tersenyum sinis, "Wanita sepertimu disuruh bernyanyi diacara kampus nanti?" Cantika menggelengkan kepalanya melihat penampilan Sheila yang terlihat biasa-biasa saja.
"Bu Rina pasti sudah salah memilih orang? dan lagi pula didari fakultas akuntasi? Bu Rina benar-benar tidak waras sepertinya Can!" seru Andin yang berada dibelakang Cantika.
"Bener banget! harusnya kan kamu yang berduet dengan Adit bukan wanita seperti ini, sangat tidak pantas." ucap Gia menambah kobaran api dihati Cantika.
__ADS_1
"Katakan kepadaku kenapa kamu bisa terpilih berduet dengan Adit!" ucap Cantika dengan sedikit menekan.
Sheila menatap mereka satu-persatu, "Kamu tanya saja sama Bu Rina, Aku sudah menolaknya untuk mengisi acara kampus nanti, tapi Bu Rina tetap mengotot agar Aku ikut dan berduet dengan Adit. jelas kan? sekarang minggir, Aku mau lewat." saat Sheila ingin pergi tangan Sheila ditarik oleh Andin dan Gia.
"Lepaskan!" teriak Sheila.
"Hei! lepaskan Sheila!" teriak Santi dan Yeni bersamaan, mereka langsung berlari kearah Sheila dan melepaskan pegangan tangan Andin dan Gia.
Yeni berkacak pinggang dihadapan mereka, "Siapa kalian? beraninya keroyokan seperti itu! sini maju kalau berani! lawan aku sini!" tantang Yeni kepada mereka bertiga.
"Cih!" Cantika berdecak kesal.
"Urusanku dengan Sheila, bukan denganmu!" Cantika menunjuk hidung Yeni.
Yeni memelintir jari telunjuk Cantika hingga Cantika merasa kesakitan dibuatnya.
"Berani sekali Kau ini! Kamu belum tahu siapa Aku? ha!" ucap Cantika sambil merintih kesakitan.
"Aduh Can...Kamu gak papap kan?" tanya Gia langsung melihat jari Cantika.
Andin menghadap Yeni, "Jelas itu menjadi urusanku karena yang kalian ganggu itu adalah temanku! apa kalian mengerti!" teriak Yeni sambil menunjuk Andin yang sekarang berada didepannya.
Sheila maju menghampiri Yeni, "Sudah Yen...ayo kita pergi, mereka sedang gila! jangan dihiraukan!" ucap Sheila menarik tangan Yeni agar pergi dari sana dan masuk kedalam kelas.
"Awas gangguin Sheila lagi!" Yeni dan Santi menunjuk dan menatap mereka dengan tajam.
"Sial!" kesal Cantika saat kalah dari mereka.
"Sabar Can, kita masih punya waktu untuk menggagalkan Sheila agar tidak berduet dengan Adit." ucap Gia menenangkan Cantika.
^
Diruangan Alfin sudah ada Dani, Andri, Fino dan juga James yang sedang berkumpul karena perintah Alfin.
"Kenapa kita dikumpulkan seperti ini?" tanya Dani yang merasa ada sesuatu.
"Kita butuh bantuan kalian untuk permasalahan yang sedang Alfin hadapi sekarang." ujar James membuat Fino sang adik sedikit terkejut.
"Kakak punya masalah? masalah apa?" Fino bertanya kepada sang kakak yang terlihat diam sejak tadi.
"Masalah yang Alfin hadapi sekarang cukup berat dan aku mohon kepada kalian agar bisa mendengarkan penjelasan Alfin dahulu sebelum kalian bertindak." Andri yang sedang duduk dihadapan Alfin merasa ada yang tidak beres.
"Ada apa sih Bos? serius banget?" tanya Andri penasaran.
"Kau tidak sedang bunuh orang kan Fin?" terka Dani yang mendapat sorotan tajam dari yang lain.
Dani terkekeh, "Aku hanya menebaknya saja." ucap Dani sekenanya.
#besok lagi 😂😂😂
*tanggung sih thor 😕😕
#author juga lagi tanggung 😅
*tanggung ngapain? 😦😦
__ADS_1
#tanggung mau tidur 😂😂😂😂
*kurang asem lu thor 😈😈😈