Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Kebahagiaan Alfin


__ADS_3

Alfin masuk kedalam kamarnya namun tidak menemukan sang istri didalam kamar, Alfin berlari kekamar mandi juga tidak menemukan istrinya, Alfin berpindah kekamar Inez dan hasilnya pun sama, Sheila tidak ada disana. Alfin berjalan lesu dan duduk disisi ranjang, tiba-tiba matanya menangkap sosok wanita yang sangat dia kenali didepan matanya. Alfin mendongak lalu memeluk istrinya yang entah muncul darimana, "Beby..." Alfin memeluk Sheila sambil menangis.


"Kamu dari mana?" Alfin menangkup pipi Sheila.


Sheila terdiam dia hanya memandang Alfin sambil menahan airmata yang ingin jatuh dari tempatnya, Alfin merasa sesak dalam dadanya melihat istrinya mendiamkannya.


"Mas akan menjelaskan semuanya, Beby. tolong percayalah kepada Mas." Alfin menuntu Sheila agar mau duduk disofa kamar Alfin.


"Ku mohon jangan menangis dan mendiamkan Mas seperti ini, Beby." Alfin mengusap airmata Sheila yang sudah terjatuh dari tempatnya.


"Jika Kamu sudah bosan dengan pernikahan ini, Aku mohon ceraikan Aku dan menikahlah dengan Ellena, dia sedang mengandung anakmu." ucapan Sheila menghujam jantung Alfin, sesak dalam dadanya semakin terasa.


"Demi apapun, Mas tidak mencintainya, Beby, Mas dijebak sama Ellena dan Adit. percaya sama Mas." ucap Alfin dengan suara serak karena ingin menangis.


Sheila menunduk menangis namun dengan segera ia menghapusnya, "Mas melakukan kesalahan tanpa kesadaran, Mas juga menyesal saat Mas sadar saat bangun dan melihat dia disamping Mas, Beby...sampai kapanpun Mas tidak akan pernah menceraikanmu, tidak akan!" ucap Alfin sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Mas berbuat kesalahan dengan sadar atau tidak, pada kenyataannya anak yang dikandung Ellena tidak memiliki kesalahan Mas, dia tetap harus mendapatkan tanggung jawabmu sebagai seorang ayah." ucap Sheila penuh kesadaran.


Alfin diam berpikir, Alfin menatap istrinya yang sedang menunduk, Alfin tahu hati istrinya sangat terpukul dengan kenyataan ini, "Mas akan tanggung jawab, tapi tidak dengan cara menikahinya." Sheila mendongak mendengar perkataan suaminya.


"Mas akan biayai semua keperluan anak itu, kalau perlu Mas yang akan merawatnya ketika lahir nanti, tapi sampai kapanpun Mas tidak akan menikahinya." ucapnya lagi.


PLAAAAAAAKKK tiba-tiba tangan Sheila menampar suaminya karena merasa kesal mendengar perkataannya, "Apa Kamu tidak berpikir bahwa dia adalah seorang wanita? dia membutuhkan tanggung jawabmu! Kamu sudah memakannya lalu dengan mudahnya Kamu berkata seperti itu? Kamu pengecut Mas!" ucap Sheila kesal.


Alfin tidak menyangka bila akan mendapatkan tamparan dari istrinya, hampir 5tahun pernikahan, baru kali ini istrinya marah sampai seperti ini, Alfin akui ini semua memang karena kesalahannya karena kebodohannya.


^


Sheila keluar dari rumah Alfin saat malam-malam, Sheila meminta waktu untuk sendiri dan Alfin pun dengan berat hati mengiyakan permintaan Sheila.


Sheila menaiki mobil yang sudah Alfin berikan kepadanya saat ulangtahun pernikahannya yang ke4 beberapa bulan lalu, Sheila mengendarai mobilnya sambil menangis, tanpa sepengetahuan Sheila, Alfin mengikutinya dari belakang, karena Alfin tidak ingin terjadi sesuatu terhadap istrinya, dia harus memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.


Sheila meminggirkan mobilnya dipinggir jalanan kota, Alfin memberhentikan mobilnya jauh dari mobil Sheila. Sheila menaruh keningnya disetir mobil, Sheila menangis sejadi-jadinya didalam mobil.

__ADS_1


Alfin tahu apa yang sedang istrinya lakukan, hatinya terasa teriris melihat istrinya menangis seperti itu, suami macam apa dirinya? membuat istrinya menangis dan tak bahagia seperti itu, walaupun dirinya sudah menjelaskan kronologi kejadiannya, tetap saja hati seorang istri akan merasakan sakit.


Sheila keluar dari mobil dan berjalan kearah taman sendirian, dirinya duduk sendirian ditaman ditemani lampu taman yang berwana-warni membuat keindahan taman dikota itu sangat indah, namun sayang keindahan itu tak seindah hatinya saat ini.


"Maafkan Mas, Beby..." ucap Alfin dikejauhan.


"Apa hatiku akan kuat menerima wanita lain dirumahnya nanti?


Apa hatiku akan kuat melihat kebersamaan mereka setiap saat?


Apa hatiku akan kuat melihat perhatiannya terbagi dengan wanita lain?


Apa hatiku akan kuat melihat senyuman wanita lain kepadanya?


Ya Allah apa hatiku sekuat itu?


Sheila memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan, rasanya lelah sekali hatinya untuk bekerjasama agar semua terlihat baik-baik saja.


Alfin membawa Sheila kerumah sakit, berkali-kali Alfin melirik istrinya yang sedang pingsan itu, berkali-kali juga Alfin mengutuk dirinya sendiri, "Bertahan Beby." Alfin mengusap kepala Sheila dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi memegang setir mobil.


"Dokter!" teriak Alfin saat sudah sampai didepan rumah sakit, suster yang mendengar teriakan Alfin langsung menghampiri sambil membawa troli pasien.


Alfin berjalan mondar-mandir didepan ruangan dimana Sheila sedang diperiksa, hati dan pikirannya kini berdoa kepada Allah agar istrinya baik-baik saja.


Alfin duduk diruang tunggu, Alfin mengusap wajahnya, kecemasan terlihat jelas diwajah lelaki itu.


"Bagaimana keadaan istri Saya, Dok?" tanya Alfin yang melihat dokter keluar.


"Kita bicarakan didalam ya, Tuan." Alfin masuk kedalam dan duduk didepan dokter.


"Selamat Tuan, istri Anda sedang hamil." Alfin terkejut bahagia mendengar pernyataan dokter.


"Istri Saya hamil, Dok?" tanya Alfin, wajahnya mendadak terlihat bahagia.

__ADS_1


Dokter itu mengangguk, "Tetapi, tolong jangan buat istri Anda setres Tuan, karena itu bisa mempengaruhi kesehatan bayi Anda." Alfin mengangguk mendengar pesan dokter.


"Istri Tuan harus dirawat beberapa hari kedepan ya, sampai kondisi ibu dan janinnya lebih baik." pesan dokter.


"Baik Dok, terimakasih." Alfin tersenyum bahagia.


Alfin duduk disisi ranjang sambil mengusap pipi istrinya, "Terimakasih Sayang," ucap Alfin sambil mencium tangan istrinya karena terharu, penantiannya kini berhasil, seketika Alfin melupakan masalahnya dengan Ellena.


Hampir pagi, Sheila mengerjapkan matanya, perlahan penglihatannya terlihat jelas, Sheila melihat suaminya yanh sedang tertidur disisi ranjang sambil memegang tanganny, "Mas..." panggil Sheila dengan suara lirih.


Alfin tersadar karena mendengar suara istrinya, Alfin mendongak dan melihat istrinya sudah sadar, "Beby...Kau sudah sadar? maaf Mas ketiduran, Sayang." senyum Alfin mengembang dibibirnya.


"Kenapa Aku disini, Mas?" tanya Sheila yang belum ingat kejadian tadi malam.


"Kamu pingsan waktu ditaman, Beby." Sheila langsung teringat dengan kejadian itu.


"Oh..."


"Berarti Kamu mengikutiku, Mas?" tanya Sheila yang baru sadar jika Alfin yang menolongnya.


Alfin tersenyum, "Mas takkan membiarkanmu sendiri Beby, karena Mas tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anak Mas ini." Alfin memegang perut Sheila.


Sheila terbengong, "Maksud Mas?"


Alfin mendekatkan wajah Alfin kewajah Sheila, "Kamu hamil Sayang." Alfin mengecup kening Sheila.


*Lama up dikit lagi 😈😈😈😈


#hahahahahahha maafkan author 😂😉😂


* maaf maaf 😠😠😠


#sungguh author tidak sengaja 😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2