Impian Kehidupan (Pernikahan)

Impian Kehidupan (Pernikahan)
Pernikahan


__ADS_3

Alfin duduk didepan cermin saat jas sudah melekat dibadannya, Alfin mneggunakan jas berwarna crem dan kemeja berwarna putih.


Dia tersenyum memperhatikan dirinya didepan cermin, tampan memang terlalu tampan malah.


Novi masuk kedalam kamar anak sulungnya itu tanpa mengetuk pintu "Alfin..." suara Novi yang lembut tidak terdengar ditelinga Novi, dia masih asyik melihat penampilan dirinya didepan cermin.


Novi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Alfin yang sedang tersenyum-senyum didepan cermin, Novi menghampiri Alfin "Gak usah ngaca terus nanti gantengnya hilang," ledek Novi.


Alfin langsung berputar menghadap ibunya sambil tersenyum kuda "Mamah ih!" Alfin berpindah duduk disisi ranjang untuk memakai sepatunya.


Novi mendekat kearah Alfin dan membenarkan kerah jas yang Alfin kenakan "Anak Mamah memang tampan, pantas semua wanita terpesona sama anak Mamah ini," puji Novi lalu tersenyum.


"Kecuali Sheila Mah," ucap Alfin tetap fokus memakai sepatunya.


Novi menaikan alisnya "Oh ya? Sheila berani menolak pesona anak Mamah ini?" tanya Novi penasaran.


Alfin mengangguk lalu tersenyum "Dia wanita satu-satunya yang menolak duduk sama Alfin waktu itu Mah," Alfin menggelengkan kepalanya dan tersenyum mengingat perjalanannya dengan Sheila.


Novi tersenyum melihat anaknya yang kini selalu mengumbar senyum, kebahagiaan terpancar dari wajahnya "Jaga Sheila baik-baik, jangan sesekali membuat hatinya terluka," Novi memberi nasehat kepada anaknya.


Alfin tersenyum dan menganggukan kepalanya "Pasti Mah." ucap Alfin dengan semangat.


"Kalau kamu membuat Sheila terluka, Mamah tidak akan memaafkanmu!" ucap Novi lalu menyentil hidung Alfin, Alfin mengaduh pelan.


Setelah selesai Alfin dan Novi turun kebawah untuk berangkat kerumah Alfin yang dimana acara akad nikah akan dilangsungkan, acara kali ini sangat sederhana. Sheila yang ingin pernikahannya diadakan secara sederhana. Mayang dan Novi pun paham dengan alasan Sheila, mereka pun menurut acaranya hanya akan dihadiri oleh kerabat keluarga saja.


Purnomo dan Fino pun telah siap mengantar calon pengantin, mereka telah menunggu didalam mobil, saat Alfin dan Novi sudah masuk kedalam mobil, Purnomo langung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah.


Alfin duduk dibelakang disamping Fino "Andri mana Fin?" tanya Alfin kepada adiknya, karna dirinya tidak melihat Andri dirumah tadi.


"Dirumah Kakak, bantuin menyiapkan acara akad nikahnya Kakak lah," jawab Fino tanpa melihat Alfin karna Fino sibuk dengan handphone nya, Alfin pun menganggukan kepalanya mengerti.


"Anak Papah udah siap nih nikah lagi?" ledek Fino tertawa kecil.


"Papah ih!" Alfin mendengus kesal lalu menyandarkan punggungnya dikursi mobil. Alfin melihat jalanan yang saat ini dilaluinya.


^

__ADS_1


Dikamar Sheila yang sedang didandani sudah beberapa kali menangis, meskipun Sheila selalu ditegur oleh perias namun Sheila tetap menangis. Walau begitu riasan Sheila pun selesai dengan sempurna dan sangat cantik "Jangan menangis lagi ya Non, nanti riasnya luntur lagi," ucap wanita yang merias Sheila. Sheila hanya menunduk tidak menjawab.


Sheila memakai gaun yang berwarna putih dan bercorak bunga warna hitam menjadi paduan yang sangat apik, apalagi dengan rambut yang dikepang miring memberi kesan sederhana dan elegan untuk Sheila, riasan yang tidak terlalu tebal menambah kemanisan diwajahnya.


Setelah Sheila selesai dirias para perias pun meminta ijin untuk pulang karna masih ada yang akan menggunakan jasa-jasa mereka, Sheila duduk disisi ranjang sambil terus menunduk dan memainkan kakinya yang tidak menyentuh lantai.


Beda dengan Alfin yang selalu tersenyum didepan cermin, Sheila justru tidak mau menghadap cermin karna Sheila tidak peduli dengan penampilannya saat ini "Ya Allah kuatkan aku." batin Sheila.


^


Sedangkan dibawah tepatnya diruang tamu disulap menjadi tempat pernikahan walaupun sederhana, Dani dan Andri pun sudah berada dirumah Alfin. Pak penghulu pun sudah siap dengan tugasnya, Para kerabat dan teman-teman Sheila dan Alfin pun sudah berada disini untuk menyaksikan akad Alfin dan Sheila.


Sunari pun sudah siap untuk menjadi walinya, Tini,Alek dan Tia pun sudah datang ingin menyaksikan pernikahan Alfin dan Sheila. Walaupun sebenarnya hati Tia belum bisa menerima semua ini, tapi dengan nasehat Alex, Tia berhasil ikhlas dan keluar dari perasaan dan obsesinya.


"Gimana sudah bisa deketin Hevi Dan?" tanya Andri mengusir kebosanan karna menunggu Alfin yang belum datang.


"Dia susah buat dideketin Ndri, cuek abis jadi cewe, tapi aku suka, itu akan menjadi tantangan buatku!" Dani menjawab dengan semangat.


"Berjuang bro! pasti kecantol nanti," Andri menepuk pundak Dani untuk memberikan semangat. Dani pun menganggukan kepalanya.


"Pengantin sudah datang," ucap Andri yang melihat mobil Alfin tiba dirumahnya.


Alfin tersenyum dan menganggukan kepalanya, lalu berjalan mendahului Dani dan Andri. Novi, Purnomo dan Fino pun langsung berjalan masuk kedalam rumah.


Alfin langsung duduk didepan penghulu dan juga Sunari, Pak penghulu pun segera memulai akad nikahnya karna Alfin pun telah siap. Alfin pun mengucapkan ijab qabul dengan yakin dan lantang, saat Alfin telah selesai mengucapkan ijab qabulnya serentak semua yang jadir mengucapkan kata sah. Dan Alfin pun merasa lega lalu berdoa dan mengaminkannya.


"Selamat Fin!" Dani merangkul Alfin dan memberikan selamat.


"Selamat bos!" Andri pun melakukan seperti Dani.


"Makasih, kalian cepat lah menyusul, aku aja sudah dua kali, masa kalian belum," ledek Alfin kepada kedua temannya yang belum juga menikah.


"Sial kau bos!" kesal Andri langsung memukul lengan Alfin.


Mayang dan Tia masuk kedalam kamar Sheila dan mengajak Sheila untuk turun "Ayo sayang kita turun menemui suamimu," ucap Mayang mengulurkan tangannya dan tersenyum.


Sheila menatap ibunya dan juga kakak tirinya "Aku sudah menjadi istri Mah?" Mayang menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu tahu Sheil? suamimu itu sudah sangat tua!" ucap Tia menakut-nakuti Sheila.


"Mah..." rengek Sheila kepada ibunya.


"Sudah ayo turun, kamu lihat sendiri nanti, kakakmu itu hanya iseng," Tia tertawa melihat muka Sheila yang percaya akan kata-katanya tadi.


Sheila pun berjalan ditengah-tengah ibu dan kakaknya, selama berjalan Sheila hanya menunduk tidak berani mengangkat kepalanya, Alfin tersenyum melihat Sheila turun dari tangga, sedangkan Sheila hanya menunduk sedih.


Alfin menghampiri Sheila dan mengganti posisi Tia untuk menggandeng Sheila, Sheila mendongak "Mas?" Sheila terkejut melihat Alfin berada disini.


Alfin tersenyum dan menaik-turunkan alisnya, Sheila langsung melepaskan gandengannya "Jangan sentuh aku, aku sudah jadi istri orang," Sheila berucap lirih menahan tangis.


Alfin dan Mayang menahan tawanya, Mayang ingin menjelaskan kepada Sheila namun dihalau oleh Alfin "Memang kenapa? aku cuman mau mengantar kamu kepanggung pengantin," Alfin kembali menggandeng Sheila.


Sheila kesal namun pasrah, setelah sampai dipanggung Sheila melepaskan tangan Alfin "Sudah! sana pergi!" ucap Sheila tak menatap Alfin, namun Alfin masih tetap berdiri disamping Sheila sambil menahan tawa.


Keluarga Alfin dan Sheila berbaris untuk memberikan selamat "Selamat ya sayang semoga kalian bahagia selalu," ucap Novi memeluk Alfin.


"Pasti Mah,"


"Kok muka menantu mamah ini cemeberut, gak cantik dong," goda Novi lalu memeluk Sheila dan memberi pesan untuk Sheila dan Alfin.


Sheila sangat terkejut dan menyipitkan matanya kearah Alfin, Alfin tertawa lalu memeluk Sheila "Maafkan aku Beb, ini semua kerjaan Mamah," ucap Alfin melirik ibunya.


Sheila melihat kearah mertuanya segera Novi mengangguk dan tersenyum, Sheila berganti melihat kearah ibunya "Mamah..." Mayang segera menghampiri Sheila dan memeluknya.


"Maafkan Mamah sayang ini kejutan untukmu," Mayang tersenyum dan membelai pipi Sheila.


Sheila menangis dipelukan ibunya "Gak lucu tahu Mah," protes Sheila, Mayang dan yang lain tertawa.


Satu persatu para tamu mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin ini "Selamat Nak, semoga kalian bahagia selalu," ucap Sunari saat memeluk Sheila.


"Makasih Pak," Sheila menangis dipelukan ayah kandungnya.


Setelah acara selesai dan para tamu sudah pulang, tinggal keluarga Alfin dan Sheila "Mah biar Sheila gendong Inez, dari tadi pagi aku tidak menggendongnya," Sheila merentangkan tangannya ingin menggendong baby Inez namun dihalau oleh Novi.


"Tidak usah sayang, biar Inez Mamah yang jaga, kamu pergilah keatas untuk istirahat," tutur Novi.

__ADS_1


"Bener kata Mamah, lebih baik kita keatas, Inez biar sama Mamah," Alfin tersenyum nakal, muka Sheila langsung bersemu merah.


(besok lagi 😊😊😊)


__ADS_2